Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Tangan Qin Mu yang sudah menyentuh gagang Bilah Kembar di balik jubahnya perlahan mengendur. Di balik bayangan pilar batu raksasa yang dingin, ia menatap Han Lie.
Wajah pemuda pandai besi itu tampak lebih tirus dibandingkan lima hari lalu. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tajam, dan pakaian kasarnya dipenuhi debu perjalanan jauh, namun otot-otot di lengannya yang memeluk gagang martil besi tampak semakin keras bagai baja yang baru ditempa.
"Bagaimana dengan Paman Han?" tanya Qin Mu dengan suara sangat rendah, nyaris menyatu dengan deru angin dan keriuhan ribuan pelamar di alun-alun gerbang.
Rahang Han Lie mengeras. Pandangannya melirik sekilas ke arah kereta perang hitam Keluarga Wei yang berhenti di dekat paviliun pemeriksaan.
"Ayahku masih hidup," bisik Han Lie berat. "Malam setelah kau pergi, tungku kami belum selesai melelehkan tulang tiga preman itu ketika tanah di selatan kota berguncang hebat. Ayahku langsung tahu bahwa sesuatu yang besar telah terjadi. Dia membuka lorong bawah tanah tua di bawah landasan tempa dan memaksaku keluar dari kota saat itu juga."
Han Lie mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya berderak. "Sebelum fajar, dari atas bukit, aku melihat seluruh Distrik Barat dilalap api. Wei Canglan menutup semua gerbang dan mengumumkan bahwa Sekte Bayangan Darah telah menyusup ke pemukiman kumuh. Dia membakar ratusan rumah penduduk biasa hidup-hidup hanya sebagai alasan untuk menyisir setiap jengkal abu... demi mencari satu orang."
Han Lie menoleh, menatap lurus ke mata Qin Mu yang tersembunyi di balik tudung hitam. "Dia mencarimu, Qin Mu. Dan melihat wajahnya yang kini tertutup topeng besi itu... kau pasti membuat mereka membayar mahal malam itu."
Qin Mu tidak menjawab. Dadanya terasa dingin. Bayangan Gu Shanyin dan Penatua Luo yang berubah menjadi matahari merah di dasar terowongan kembali melintas di benaknya, namun tidak ada sedikit pun riak emosi yang bocor ke wajahnya.
"Mereka yang membayarnya, bukan aku," ucap Qin Mu datar. "Aku hanya bertahan hidup. Di mana ayahmu sekarang?"
"Dia pergi menemui kawan lamanya di perbatasan utara. Dia menyuruhku datang ke Akademi Kekaisaran karena hanya di tempat ini Klan Wei tidak bisa sembarangan memenggal kepala orang," jawab Han Lie, lalu melirik ke arah meja pendaftaran dengan kening berkerut. "Tapi lihat di depan sana. Bajingan bermuka setengah itu rupanya sudah lebih dulu menutup jalan."
Qin Mu menggeser posisinya sedikit, mengamati situasi di gerbang utama melalui celah kerumunan.
Kesalahan fatal di atas atap Penginapan Kuda Pincang telah mengajarinya satu hal: jangan pernah mencabut pedang sebelum mengetahui seluruh isi papan catur.
Di depan Gerbang Luar Akademi Kekaisaran yang menjulang setinggi sepuluh tombak, terdapat dua jalur pendaftaran yang terpisah.
Jalur pertama di sisi kiri adalah Jalur Reguler yang sangat panjang. Setiap pelamar diwajibkan menyerahkan lempeng identitas asal daerah dan diperiksa oleh empat prajurit kota sebelum diizinkan masuk ke pelataran ujian fisik. Tepat di samping meja pencatat itu, berdiri tiga pengawal bersenjata lengkap milik Klan Wei. Setiap kali ada pemuda berusia belasan tahun yang mengaku berasal dari arah barat atau Kota Linlang, pengawal Klan Wei itu langsung melangkah maju, memaksa membuka tudung mereka dan memeriksa luka di tubuh mereka.
Sementara jalur kedua di sisi kanan adalah Paviliun Rekomendasi tempat khusus bagi pemegang plakat emas atau giok untuk masuk tanpa ujian awal.
Jantung Qin Mu berdenyut dingin saat melihat seorang pria tua berjubah pengurus luar akademi di paviliun itu sedang menerima sekantung penuh Batu Roh dari kepala pelayan Wei Canglan sambil tersenyum penuh arti.
Penatua Luo tahu bahwa murid akademi dilindungi hukum kekaisaran, pikir Qin Mu tajam, tangannya meraba Plakat Akademi di balik dadanya. Tapi sebelum namaku resmi tercatat di buku induk di dalam Gerbang Dalam, aku belum berstatus murid. Jika aku menyerahkan plakat Penatua Luo kepada pengurus luar yang sudah disuap itu, dia akan menahan plakatku, dan Wei Canglan akan membunuhku tepat di luar garis formasi akademi.
"Kita tidak bisa lewat jalur biasa karena kita tidak punya surat jalan resmi yang bersih dari Kota Linlang," gumam Han Lie dengan nada frustrasi. "Jika kita menerobos paksa, dua belas kultivator Qi Gathering di dekat kereta Wei Canglan itu akan mencincang kita sebelum kita menyentuh tangga akademi."
Qin Mu tidak terburu-buru. Matanya yang tenang menyapu seluruh alun-alun, mencari celah ketiga.
Tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada sebuah keributan kecil di dekat area parkir kereta keluarga-keluarga bangsawan di sisi timur gerbang.
Tiga buah kereta kuda berukir kayu cendana dengan panji bergambar Sempoa Awan Emas berdiri terpisah dari yang lain. Itu adalah lambang Keluarga Dagang Su, salah satu konglomerat pedagang kultivator terbesar di Kerajaan Tianhe.
Di depan kereta utama, seorang gadis berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun berdiri dengan punggung tegak. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hijau pucat yang sederhana namun sangat anggun, rambut hitamnya disanggul rapi dengan satu tusuk konde giok putih. Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, namun yang paling mencolok adalah sepasang matanya yang jernih dan tenang mata seorang pedagang yang terbiasa menimbang harga nyawa dan kekayaan dalam satu tarikan napas.
Di kaki gadis itu, dua orang pendekar bayaran bertubuh kekar sedang meringkuk sambil memegangi perut mereka, memuntahkan cairan kekuningan dengan wajah membiru.
"Nona Ketiga, waktu pendaftaran kuota dagang tinggal satu dupa lagi!" seorang pelayan tua di samping gadis itu berkata dengan keringat dingin membasahi dahinya. "Jika kita tidak bisa mengirimkan tiga peserta ujian untuk mewakili cabang ketiga Keluarga Su dalam Ujian Gerbang Pertama hari ini, hak pengelolaan jalur herbal Provinsi Cangzhou tahun depan akan jatuh ke tangan Paman Pertama Anda!"
Gadis itu Su Ruyan sama sekali tidak terlihat panik meski berada di ujung tanduk. Ia berjongkok sedikit, mengamati muntahan di tanah tanpa rasa jijik, lalu mencium aroma dari cangkir air yang terjatuh di dekat kedua pendekar bayarannya.
"Paman Pertamaku memang selalu murah hati dalam mengeluarkan uang," ucap Su Ruyan dengan suara jernih dan tenang, meski ada nada dingin yang tajam di baliknya. "Bahkan pengawal yang sudah kubayar tiga kali lipat pun masih rela menelan obat pelumpuh Qi demi uang suapnya. Sayang sekali, di tempat seramai ini, semua petarung bebas yang cukup kuat sudah direkrut oleh faksi lain."
Dari balik kereta perang hitam di seberang lapangan, terdengar suara tawa serak yang rusak.
Wei Canglan menyingkap tirai keretanya lebih lebar. Mata kanannya yang tidak tertutup topeng besi menatap ke arah Su Ruyan dengan kilatan mengejek.
"Nona Ruyan, pamanku dan Paman Pertamamu sudah sepakat untuk menggabungkan jalur dagang Kota Linlang dan Cangzhou bulan depan," seru Wei Canglan dari kejauhan, suaranya sengaja dikeraskan. "Mengapa kau masih keras kepala mempertahankan kuota cabang ketigamu? Lebih baik kau kembali ke ibu kota dan mempersiapkan gaun pengantinmu. Tidak akan ada pendekar waras di alun-alun ini yang berani meminjamkan pedangnya padamu dan menyinggung Klan Wei serta Cabang Pertama Keluarga Su sekaligus!"
Para pelamar ujian di sekitar kereta Keluarga Su langsung mundur beberapa langkah, membuang muka. Tak seorang pun ingin mencari masalah dengan Wei Canglan maupun konflik internal raksasa dagang seperti Keluarga Su.
Namun di balik pilar batu, mata hitam Qin Mu justru menyipit tajam.
Ia memperhatikan satu detail krusial: seorang pemuda yang tersisa di belakang Su Ruyan memegang sebuah Lencana Kayu Cendana. Tadi, pengurus akademi sempat berteriak bahwa peserta yang mewakili kuota keluarga pedagang tidak perlu melewati meja pemeriksaan identitas daerah di gerbang kiri, melainkan langsung masuk melalui Pintu Samping Kuota Dagang!
"Han Lie," bisik Qin Mu tanpa menoleh. "Kau ingin masuk ke akademi itu?"
"Tentu saja," geram Han Lie. "Aku harus menjadi cukup kuat untuk menghancurkan tengkorak bajingan bertopeng itu."
"Kalau begitu, ikuti aku dan jangan banyak bicara."
Sebelum Han Lie sempat bertanya, Qin Mu merapatkan tudung jubah hitamnya dan melangkah keluar dari balik pilar batu. Diikuti oleh Han Lie yang memanggul martil raksasanya, keduanya berjalan membelah kerumunan yang menyingkir, lurus menuju kereta kuda Su Ruyan.
Langkah mereka seketika menarik puluhan pasang mata, termasuk tatapan tajam dari para pengawal Klan Wei.
"Berhenti!" Pengawal pribadi Su Ruyan langsung menghunus pedang setengah sarung, menghalangi langkah Qin Mu dan Han Lie tiga tombak dari majikannya.
Su Ruyan menoleh. Matanya yang jernih dan perhitungan langsung memindai kedua pemuda di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Saat melihat Han Lie, alis Su Ruyan sedikit terangkat. Otot-otot pemuda itu bagaikan besi tempa, dan cara ia membawa martil seberat empat puluh kati tanpa mengubah ritme napasnya menunjukkan kekuatan fisik Body Tempering yang sangat kokoh.
Namun saat pandangannya beralih ke Qin Mu yang bertubuh lebih ramping, berjubah hitam kusam, dan menyembunyikan wajahnya di balik tudung, keraguan melintas di mata sang nona muda.
"Jika kalian ingin melamar untuk menggantikan kuota ujianku," ucap Su Ruyan tenang namun tegas, "aku menghargai keberanian kalian. Pemuda pembawa martil ini memenuhi syarat. Tapi kau, Tuan yang bersembunyi di balik tudung... ujian Gerbang Pertama Akademi Kekaisaran bukan tempat bermain. Aku membutuhkan orang yang bisa bertahan hidup, bukan sekadar pengisi jumlah yang akan mati di langkah pertama."
Para penonton di sekitar mulai berbisik sinis, dan pengawal Klan Wei yang tadinya waspada kembali mencibir, mengira Qin Mu hanyalah pengemis gembel yang nekat mencari peruntungan.
Qin Mu tidak membuka tudungnya, dan ia juga tidak memamerkan kuda-kuda bela diri. Ia hanya menunjuk ke arah dua pendekar bayaran Su Ruyan yang masih kejang-kejang di atas tanah.
"Nona salah membaca situasi," suara Qin Mu keluar dengan nada rendah yang sedikit dibuat serak agar tidak dikenali Wei Canglan dari kejauhan. "Kedua pengawalmu itu tidak menerima suap untuk menelan obat pelumpuh Qi."
Su Ruyan menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Lihat ujung kuku jari kelingking mereka yang menghitam, dan cium bau amis seperti sisik ikan busuk yang baru muncul saat muntahan mereka terkena sinar matahari," ujar Qin Mu datar, mengutip persis baris ketiga dari bab racun di dalam gulungan Warisan Alkimia dan Seribu Racun Luo Tua yang baru ia hafalkan kemarin malam.
"Itu adalah Bubuk Tidur Ular Air yang dicampur dengan serbuk kayu manis," lanjut Qin Mu tenang. "Tak berwarna dan tak berbau saat dicampur ke dalam teh hangat, namun akan membekukan aliran darah dan Qi tepat dua jam setelah diminum. Mereka diracun tanpa sadar pagi ini oleh orang yang menyiapkan sarapan di tenda kalian sendiri. Jika Nona tidak segera menusuk titik darah di bawah tulang selangka mereka untuk mengeluarkan darah hitamnya dalam sepuluh tarikan napas lagi, mereka tidak akan lumpuh sementara... mereka akan mati."
Wajah Su Ruyan berubah drastis untuk pertama kalinya.
Tanpa ragu sedetik pun pada perkataan Qin Mu, ia memberi isyarat pada tabib pengiringnya. Sang tabib tua buru-buru memeriksa kuku jari kedua pengawal itu, lalu wajahnya memucat pasi. "Nona... benar! Kukunya menghitam! Ini memang Bubuk Tidur Ular Air!"
Su Ruyan mengepalkan jari-jarinya yang lentik di balik lengan bajunya. Ada pengkhianat di dalam kereta pribadinya sendiri, dan pemuda misterius berjubah hitam ini sanggup mengenalinya hanya dengan sekali lihat dari jarak tiga tombak!
Pandangan Su Ruyan terhadap Qin Mu berubah total. Tidak ada lagi jejak meremehkan di matanya. Ia menyadari bahwa pemuda yang tampak biasa di sebelah pria berotot ini justru adalah sosok yang jauh lebih berbahaya dan tajam.
"Aku kurang menilai kemampuanmu, Tuan," Su Ruyan membungkuk sedikit dengan anggun, lalu mengambil dua Lencana Kayu Cendana dari baki pelayannya dan melemparkannya ke arah Qin Mu dan Han Lie.
"Aku tidak peduli dari mana asal kalian, siapa nama asli kalian, atau musuh apa yang sedang kalian hindari di alun-alun ini," bisik Su Ruyan dengan suara yang hanya bisa didengar mereka bertiga. "Bawa lencana itu dan menangkan Ujian Gerbang Pertama atas nama Cabang Ketiga Keluarga Su. Sebagai gantinya, kalian masuk tanpa pemeriksaan identitas daerah, dan setelah berada di dalam akademi, Keluarga Su akan membayar kalian masing-masing dua puluh Batu Roh."
"Cukup bawa kami melewati gerbang itu sekarang," jawab Qin Mu singkat, menangkap lencana kayu tersebut.
"Tunggu apa lagi?! Bawa mereka masuk melalui Pintu Samping Kuota Dagang sebelum dupa habis!" perintah Su Ruyan tegas kepada pengurusnya.
Di seberang alun-alun, dari dalam kereta perang hitamnya, senyum mengejek di wajah Wei Canglan mendadak membeku.
Ia melihat Su Ruyan berhasil mendapatkan dua pengganti di detik-detik terakhir. Awalnya ia tidak peduli pada dua gembel yang nekat membantu gadis itu. Namun, saat pemuda berjubah hitam itu berbalik mengikuti pengurus Keluarga Su menuju pintu samping gerbang akademi, angin musim gugur yang kencang tiba-tiba berhembus, menyingkap sedikit bagian bawah jubah pemuda tersebut.
Di punggung bawah pemuda itu, tampak ujung dari dua sarung kulit hitam yang terikat menyilang. Dan yang lebih membuat darah Wei Canglan mendidih cara pemuda itu melangkah, postur punggungnya yang tegak namun dingin, tiba-tiba membangkitkan ingatan mengerikan dari balik kobaran api di saluran pembuangan Kota Linlang!
Bocah di depan jeruji besi itu!
"Berhenti!!"
Wei Canglan meraung hingga suaranya pecah, menabrak keluar dari pintu keretanya sendiri dengan satu mata merah yang melotot gila. "Pengawal! Tangkap bocah berjubah hitam di barisan Keluarga Su itu! Jangan biarkan dia melewati garis gerbang!! Itu dia!!"
Dua belas kultivator Qi Gathering Klan Wei tersentak, langsung mencabut pedang mereka dan melesat maju membelah kerumunan pelamar dengan niat membunuh yang meledak-ledak!
"Lari!" teriak Han Lie sambil menggenggam erat martilnya.
Qin Mu tidak menoleh sedikit pun meski hembusan Qi pedang dari belakang sudah terasa menusuk punggungnya. Dengan kekuatan penuh dari puncak tahap Awal Penempaan Tubuh, ia dan Han Lie menerjang maju, melompati ambang batas Pintu Samping Akademi Kekaisaran tepat saat lonceng perunggu raksasa di puncak menara berbunyi menggelegar!
DONG—!
Tirai cahaya formasi biru keemasan menyala dari lantai batu gerbang, memisahkan dunia luar dan dunia dalam Akademi Kekaisaran hanya selisih satu jengkal dari ujung pedang pengawal terdepan Klan Wei!
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️