NovelToon NovelToon
Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Penyesalan Suami
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.

Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.

Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.

Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.

Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.

Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.

simak kisahnya di Memeluk Bayangan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebuah permintaan

Tepat di hari ketujuh. Saat bunga-bunga hiasan pernikahan di teras rumah belum sepenuhnya layu, Abimana duduk di hadapan Kemala usai keduanya selesai melaksanakan ibadah Isya berjamaah.

Suasana malam itu terasa hening. Hanya suara detak jam dinding yang seakan menghitung sisa kebahagiaan yang baru saja tumbuh.

"Kemala..." suaranya bergetar pelan. "Ada hal yang harus saya katakan padamu. Sebelum rahasia ini semakin dalam menggerogoti hatiku."

Kemala tersenyum tipis. Dirinya mencoba menduga-duga apa yang akan dikatakan oleh Abimana tapi tetap menyimak apa yang akan diucapkannya "Katakan saja, mas. Saya akan mendengarkannya...."

Abimana menunduk dalam, menelan ludah, seakan ada duri di kerongkongannya. "Saya, memohon izin padamu." Ia mengangkat wajah, menatap mata istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Kemala "Saya ingin menikah lagi."

Hening sejenak.

Senyum di bibir Kemala perlahan memudar, digantikan keraguan yang samar. "Menikah lagi?" Kemala mengulang kalimat Abimana.

"Saya tahu ini terdengar gila. Saya tahu ini tak pantas diucapkan. Tapi, 'Dia' sedang sekarat. Kirana sedang koma dirumah sakit karena nekad memotong pergelangan tangannya.... " lirih Abimana.

Jemari Kemala mengepal dibalik mukena yang dikenakannya.

"Jadi... dari awal, pernikahan kita hanyalah sebagian rencanamu?"

"Bukan begitu, Kemala. Saya hanya ingin menyelamatkannya..."

"Menyelamatkannya tapi menghancurkan ku secara perlahan" potong Kemala pelan, namun tegas. Matanya mulai berkaca, namun ia tak membiarkan air mata jatuh. "Dan kamu memintaku memberi izin... tepat saat mimpi indahku baru saja dimulai."

Abimana mengangguk lemah, bahunya merosot. "Saya tak berhak memintamu tetap tinggal. Saya tak berhak memintamu memaafkanku. Tapi saya memohon... jika kamu bersedia, saya akan tetap menjagamu. Kamu tetap istriku, yang pertama, dan juga putri keluarga Rahardjo selamanya. Tapi saya juga memiliki rasa padanya. Dia yang lebih dulu menempati hati saya. Saya takut terjadi apa-apa dengannya..."

Bola mata Kemala bergerak memandang sekeliling ruangan dengan nafas yang terasa sesak setelah mendengar pengakuan Abimana.

Suaminya lebih mementingkan kehidupan perempuan lain dibanding dirinya yang merupakan istri sah.

"Mas... menikah itu bukan tentang siapa yang lebih dulu datang. Ini tentang kesetiaan. Dan jika sejak awal kamu sudah tahu ada orang lain yang harus kamu peristri... mengapa kamu tetap menerima pernikahan ini? Mengapa kamu tidak menolaknya sejak awal? Mengapa harus tetap lanjut dan pada akhirnya harus menyingkirkanku?"

"Tapi saya juga tidak menduga hal ini akan terjadi...."

Kemala menarik nafas panjang, menahan sesak di dada.

"Maaf mas, saya tak bisa memberikan izin itu. Bukan karena saya tak rela berbagi... melainkan karena saya tak sanggup berbagi dengan seseorang yang tak pernah benar-benar memilihku seutuhnya."

Kata-katanya jatuh pelan, namun berat menekan hati pria di hadapannya.

"Terima kasih untuk tujuh harinya," lanjut Kemala, suaranya bergetar namun teguh. "Dan maaf... saya tak bisa memenuhi permintaanmu."

"Kemala..." seru Abimana memanggil Kemala yang memilih keluar dari kamar mereka.

Kemala memilih tidur di kamar tamu. Dirinya butuh waktu untuk menenangkan diri.

Abimana hanya bisa memandang pintu kamar yang tertutup rapat.

Bahunya terlihat turun menandakan beban yang begitu berat dipundaknya.

Sehari sebelumnya, ibu dari Kirana nekad menghubungi Abimana dan memintanya untuk ke rumah sakit.

Dada Abimana sesak kala melihat kedalam ruang ICU dimana disana terbaring gadis yang telah lama bertahta dihatinya.

"Kirana mencoba mengakhiri hidupnya"

Kalimat itu terus terbayang, terukir jelas didalam benak Abimana.

Dua hari dia memikirkan hal ini dan malam ini dia mengutarakan niatnya kepada Kemala.

Reaksi Kemala sungguh diluar dugaannya.

Kemala menolaknya.

Abimana memilih meninggalkan rumah. Bukan untuk menemui Kirana dirumah sakit melainkan untuk menemui kedua orangtuanya yang masih tinggal di area komplek pondok pesantren.

Sementara Kemala, hanya bisa menekan dada, menangis dalam keheningan malam.

...****************...

"Kamu sadar apa yang barusan kamu katakan Abimana?" hardik Ummi begitu Abimana baru saja selesai mengutarakan niatnya keesokan paginya.

"Saya sadar Ummi, Abah... Izinkan saya menikahi Kirana Ayu..." ungkap Abimana memandang kedua orang tuanya.

"Jangan meminta izin pada kami karena yang berhak memberikan izin itu adalah istri mu, Kemala...." ujar Abah dingin.

Abimana terdengar menghela nafas panjang dan berat.

"Dari reaksi mu, Ummi yakin Kemala menolaknya" terka Umi.

"Ya.. Ummi benar... bahkan dia meminta pisah karena tak sanggup berbagi"

"Ummi pernah mengatakan padamu, kubur perasaanmu itu padanya.... Tapi sekarang kamu malah meminta izin ingin menikahinya.... Keluarga kita tidak menentang poligami hanya saja, Ummi harap kamu hanya memperistri satu perempuan. Berbeda ceritanya jika Kemala mendahului mu, maka kamu berhak mencari pendamping daripada harus berzina dalam pikiran mu..."

"Tapi selama ini, saya telah berz*na dalam pikiran saya Ummi..." potong Abimana cepat.

"Apa maksud mu Abimana?" sergah Abah kaget akan penuturan putranya.

"Maafkan saya, Abah..., Ummi... Selama ini, saya memang menyukai Kirana. Dan ketika saya 'menggauli' Kemala-pun, yang ada dalam pikiran saya hanyalah Kirana..." Abah Adi terlihat murka mendengar penuturan jujuran putranya.

"Kamu sadar dengan yang barusan kamu ucapkan Abimana?" seru Ummi kecewa.

"Sadar Ummi... Lagipula, selama ini saya sangat menyayangi Kirana. Kami sering bersama selama di Kairo dalam artian, selalu berdiskusi, sering membahas hal-hal apa saja. Saya merasa cocok dengannya karena kami belajar di jurusan yang sama. Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengannya yang tidak saya temui di diri Kemala. Apalagi latar belakang saya dengan Kemala yang sangat bertolak belakang..."

Ummi dan Abah saling pandang.

Ini pertama kalinya Abimana mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan dihadapan kedua orangtuanya.

"Jadi maksud mu, menantu pilihan kami tidak layak mendampingi mu, begitu?" tegas Ummi kecewa.

"Bukan begitu Ummi... Tapi saya butuh pendamping yang bisa saya ajak diskusi tentang banyak hal... Tapi Kemala?" Abimana diam sejenak lalu kepalanya terlihat menggeleng samar "Kemala tidak setara dengan saya, Ummi.. Latar pendidikannya bahkan jauh dibawah saya...." sambungnya pelan tapi masih sangat jelas terdengar oleh kedua paruh baya itu.

"Ummi tidak menyangka jika status pendidikan membuatmu congkak dan lupa diri Abimana...." desah kecewa begitu terasa jelas disampaikan oleh wanita yang melahirkan Abimana.

"Ummi pernah bahkan sering mengatakannya kepadamu agar kamu menjaga Kemala seperti kami menjaganya selama ini. Tapi kamu justru memberi luka bahkan diusia pernikahan kalian yang baru terbilang hitungan hari..."

"Kirana membutuhkan saya... Dia bahkan menolak semua jenis pengobatan dan itu membuat Bu Halimah putus asa..." ungkap Abimana dengan kepala tertunduk lesu.

"Lalu bagaimana dengan Kemala? Apa kamu tidak kasihan kepadanya? Kenapa lebih mengasihi perempuan lain? Ummi tidak mengerti jalan pikiran mu?" suara Ummi nyaris berteriak.

Dibalik tembok, Kemala mendengarkan semua percakapan itu dengan hati yang terluka.

Dia menekan dadanya, menahan agar tidak meraung dalam tangisan yang justru membuatnya semakin terlihat menyedihkan.

Deru mesin mobil mengalihkan perhatian Kemala.

Sepasang paruh baya turun dengan sangat tergesa.

Kemala ingat wajah wanita dengan gamis hitam itu.

"Bu Halimah?" bisiknya.

Kedua tamu tak diundang itu masuk setelah seorang asisten rumah menyambut keduanya.

Didalam, ruang keluarga, Abah Adi dan Ummi Dewanti terperangah akan kedatangan keduanya yang merupakan teman sejawat Ummi.

Kemala masih berdiri dibalik tembok tanpa berniat menampakkan diri.

"Maaf, kedatangan kami membuat kamu sekeluarga bertanya-tanya..." Bu Halimah menoleh kepada suaminya. Dan paham akan maksudnya, Pak Gibran melanjutkannya." Kirana sedang sekarat... Dan orang yang bisa membantu keselamatannya hanyalah Abimana..." Pria yang setengah rambutnya sudah memutih itu lalu diam, mengamati reaksi Abah Adi dan Ummi Dewanti.

"Saya mohon, berilah restu agar putri kami menikah dengan Abimana... Kami sungguh tak tega melihat betapa hancur dan menderitanya Kirana.... Anda seorang ibu, pasti akan mengerti akan hal ini..." isak Bu Halimah tersedu.

Bersambung...

1
Mundri Astuti
ni ga kebongkar juga yak...kasihan di fitnah terus si kemala...he abi..koreksi diri dong...kamu pernah hidup bareng Kemala sebagai kakak angkatnya..masa ga tau sifat Kemala gimana
falea sezi
moga abis ne kebongkar borok istri sok alim elu🤣🤣 nunggu elu nangis darah trs kemala dpet jodoh cogan bujang kaya raya👍
Mundri Astuti
belum kebongkar juga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!