( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 }:{secret journey }
Di sisi lain, di bawah Penjara Api Abadi, Sora mendengar suara banyak orang. Jiwanya merasa ketenangan dan kedamaian.
"Apa ini suara rakyatku? Berarti alam sudah membaik. Aku yakin pasti Bulan mencariku."
Keyakinan Sora seperti permainan keyakinan yang membuatnya lelah. Seketika penjara itu mulai aktif, memperlihatkan detik-detik Dewi Bulan dihabisi.
"Hentikan! Hentikan itu!"
Sora terkapar, menutupi telinganya, menutup matanya. Teriakan terdengar menggelombang di dalam penjara itu. Rasa kemanusiaannya terkikis perlahan-lahan.
"Zeo, Iles, aku sangat membenci kalian. Lihat saat aku bisa membebaskan diri dari sini. Orang pertama yang akan kuhancurkan, kalian."
Beralih ke Negeri Air. Negeri Air sudah kembali seperti dulu. Karena Zeo tidak ada, tidak ada yang menjaga Negeri Air. Guru Olien, guru Zeo saat Zeo masih belajar menggunakan kekuatan air, menemui Kael, putranya.
"Guru, Ketua Zeo saat ini tidak ada. Siapa yang akan menjaga Negeri Air?"
"Kamu yang akan menjaganya."
"Bukannya Guru?"
"Tidak, aku hanya membantumu."
"Baiklah, Guru."
"Iya, putraku."
Musim terus berganti, malam dan pagi terus memutari alam semesta. Beberapa tahun berlalu.
Terdengar suara perayaan di Negeri Api. Ternyata perayaan itu pernikahan Aktor dengan wanita pilihannya, Eloria, anak pendekar Kerajaan Api.
"Semua rakyat Negeri Api, hari ini kita akan menyambut ratu baru."
Perlahan kereta kuda memasuki aula kerajaan. Eloria turun dan berjalan dengan anggun.
"Hai semuanya," sapanya sambil menatap ke seluruh rakyat Negeri Api.
"Ratu sangat cantik dan manis."
"Mirip seperti Ratu Elara."
Penjaga membawa Eloria ke dalam istana.
"Eloria, kamu sudah sampai."
"Iya, Aktor. Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah baik-baik saja? Aku mendengar kamu sedang sakit."
Aktor menatapnya, lalu berbisik. "Aku sakit saat tidak melihat wajah cantikmu."
Pipi Eloria memerah sambil tersenyum.
Malam menggantikan siang.
"Eloria, aku ingin bertanya."
"Iya, tanyakan saja. Mau bertanya apa?"
"Apa kamu mencintaiku karena statusku?"
Eloria menatap serius. "Apa yang kamu katakan? Aku benar-benar menyukaimu."
Aktor tiba-tiba tertawa. "Haha, aku hanya bercanda, Eloria."
"Kamu benar-benar menganggap aku akan mengatakan itu? Itu tidak lucu, Aktor!"
Eloria berlari ke kamar, matanya berkaca-kaca. Aktor menghampirinya ke kamar, melihat Eloria menangis di atas kasur.
"Eloria, maafkan aku. Aku hanya bercanda."
Eloria tidak menjawabnya. Aktor menyentuh wajahnya, mendekati Eloria, menghapus air matanya.
"Kamu sangat cantik saat menangis maupun saat tersenyum."
Aktor berdiri dan mematikan satu per satu lilin di kamar. Ia mendekati Eloria sambil membawa lilin di tangannya.
"Eloria, aku ingin kamu menjadi ratu di hidupku maupun di kerajaan ini."
Mata mereka saling menatap.
"Aku akan menjadi ratu dan ibu anak kita, asalkan kamu hanya memilikiku saja."
"Iya."
Aktor meniup lilin di tangannya. Seketika kamar menjadi gelap.
Cinta mulai tumbuh kembali di Negeri Api.
"Eloria."
"Ya, ada apa, Aktor?"
"Aku..."
"Aku apa, Aktor?" Eloria mendekat, menatap Aktor dengan cemas. "Cepat katakan!"
"Aku tidak bisa jauh dari kamu."
Eloria menghela napas. "Aku mohon, Aktor, hentikan merayuku dengan cara itu!" ucapnya dengan wajah cemberut.
Suara lonceng kerajaan terdengar, menandakan adanya bahaya.
"Eloria, kamu tunggu di sini, tetap di kamar!"
Aktor turun untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini, Prajurit?!"
Prajurit itu menghampiri dengan wajah berkeringat, tangannya gemetar. "Raja Aktor, kerajaan kita mendapatkan pesan dari Kerajaan Saigo!"
"Apa isi pesan itu?"
Prajurit itu tidak menjawab, diam membatu. Aktor maju ke hadapan prajurit itu, mengambil surat di tangannya.
Tanpa disadari Aktor, Eloria mengikutinya, bersembunyi di balik kereta kuda.
"Baiklah, kita akan mengabulkan keinginan Kerajaan Saigo. Siapkan kereta perang kita."
"Tapi, Raja, bagaimana dengan Ratu Eloria?"
Aktor baru teringat kalau ia kini sudah memiliki seorang istri. "Aku akan menitipkan Eloria pada Negeri Air."
Eloria yang mendengar itu merasa sesak di dadanya. Dalam batinnya, "Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Aku tahu, percaya, aku akan ditinggal suami yang baru saja menikahiku."
Eloria berlari masuk kembali ke kamarnya, menghapus air matanya.
Pintu terbuka.
"Eloria, kamu sedang apa?"
"Iya, aku sedang berdandan untukmu. Bagaimana, apa aku cantik?"
"Sangat cantik dan anggun."
Eloria menarik Aktor sambil memeluknya. "Kalau aku memang cantik, apa kamu akan tetap meninggalkan aku?"
"Sebentar, emm, ada apa dengan kamu hari ini? Seperti tidak biasanya."
Dalam batin Eloria, "Aku harap kamu tidak pergi, Aktor. Tatap mataku, Aktor, tatap aku."
"Hei, kenapa diam? Aku bertanya."
Eloria terkejut. "Iya, Aktor, kamu bertanya apa?"
"Udah, lupain aja. Tolong kamu siapkan air hangat. Aku akan mengantarkan kamu ke Negeri Air."
"Aku tidak ingin pergi ke mana pun! Aku tahu kamu akan pergi berperang."
Aktor terdiam, tak menjawab.
"Jawab aku, Aktor!" Eloria memukul dada Aktor. "Bila kamu akan pergi, mengapa kamu menikahi aku?!"
Aktor pergi memakai baju zirahnya. "Eloria, aku berjanji, aku akan kembali."
Aktor tidak menghiraukan lagi kesedihan yang terpancar di mata Eloria.
Eloria menatap dari atas kerajaan, pasukan besar berjalan menjauh.
"Aktor, aku akan memegang janjimu."