NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 27 — Di Balik Topeng Perak

Cahaya bulan pucat menyinari lautan makhluk yang bergerak perlahan menuju tempat persembunyian mereka — ribuan wujud gelap, langkah mereka serempak, menimbulkan getaran yang terasa hingga ke tulang sumsum. Di barisan paling depan, sosok bertopeng perak duduk tegak di atas punggung makhluk raksasa yang kulitnya sekeras batuan vulkanik. Matanya yang menyala merah pucat menatap lurus ke arah celah batu tempat mereka berdiri — tidak bingung, tidak ragu, seakan ia tahu persis di mana setiap orang berada.

"Kalian kenal dia?" tanya Seraphina berbisik, tangannya mencengkeram gagang pedang hingga buku jarinya memutih.

Kai mengangguk pelan, dadanya terasa sesak. "Itu Guruku. Orang yang mengasuhku sejak kecil."

"Tapi bagaimana mungkin?" Kaelan mengerutkan dahi, matanya tak lepas dari sosok itu. "Ia yang menyuruhku pergi dulu. Ia yang melindungi kami berdua."

"Kita tidak tahu apa yang terjadi padanya selama ini," kata Elowen pelan, suaranya penuh kekhawatiran. "Para Pengatur punya cara untuk menundukkan siapa pun."

Sosok bertopeng itu mengangkat tangan. Gerakan ribuan makhluk terhenti serentak. Kemudian suaranya terdengar — bukan suara yang mereka kenal, melainkan berat, terdistorsi, seakan keluar dari terowongan yang dalam.

"Keluar, Kai. Kaelan. Kalian tidak bisa bersembunyi. Dan kalian tidak bisa menyelamatkan tempat yang sudah lama hilang."

Kai melangkah maju, berdiri di tepi celah batu, tak peduli anak panah atau serangan apa pun yang bisa datang sewaktu-waktu. "Guru! Jika kau masih di sana… jika kau masih mengenali kami… katakan padaku! Apa yang terjadi?"

Sosok itu tertawa — tawa yang dingin dan tajam. "Guru sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah pelayan Tuan Bawah Tanah. Turunlah. Serahkan kekuatan darah nagamu… dan aku akan membiarkan mereka hidup sedikit lebih lama."

"Kau tidak akan menyentuh siapa pun!" bentak Kaelan, melangkah ke sisi kakaknya, cahaya perak mulai menyala di telapak tangannya.

"Kalau begitu, biarkan tempat ini hancur," ucap sosok itu datar. Ia melambaikan tangan — dan ribuan makhluk kembali bergerak, mendaki lereng menuju tempat persembunyian itu.

"Siap!" perintah Kai lantang. "Lindungi mereka! Jangan biarkan satu pun masuk!"

Mereka bergerak serempak. Elara dan Seraphina memimpin barisan depan di mulut gua, pedang mereka berkilauan menangkis setiap serangan. Ren dan Dagan membentuk dinding pertahanan dari tenaga murni, menahan gelombang makhluk yang terus mendesak masuk. Lyra dan Lirael menyebarkan mantra pelindung di bagian dalam, menjaga anak-anak dan orang tua dari serangan yang menyelinap. Elowen berdiri di tengah, mengarahkan aliran tenaga agar tidak ada yang kelelahan terlalu cepat.

Kai dan Kaelan melompat turun — lurus menuju sosok bertopeng perak itu. Angin menderu di telinga mereka, dan saat mereka mendarat di tanah lapang, makhluk-makhluk itu mundur perlahan, memberi ruang — seakan mereka tahu siapa yang sebenarnya menjadi sasaran.

"Kau tidak akan lewat," kata sosok itu, turun dari punggung makhluk raksasanya. Tingginya menjulang, jubahnya berkibar tertiup angin.

"Kami tidak datang untuk melawanmu," ucap Kai, berhenti beberapa langkah di depannya. "Kami datang untuk membebaskanmu."

Sosok itu diam sejenak, lalu mengangkat kepalanya. "Membebaskan? Aku tidak terperangkap. Aku memilih ini."

"Kau berbohong!" seru Kaelan. "Kau yang mengajarkan kami keadilan! Kau yang bilang kekuatan ada untuk melindungi!"

"Kau tidak tahu apa yang kuketahui!" Suara itu meninggi, sedikit retak. Ia melangkah maju, tarikan pedang terdengar nyaring. "Dunia ini… semua dunia… tidak bisa diselamatkan dengan kelembutan. Hukum keseimbangan yang kalian percaya itu sudah rusak sejak lama. Dan hanya Tuan Bawah Tanah yang bisa membangunnya kembali — dengan kekuatan mutlak!"

Ia melancarkan serangan — cepat, kuat, tepat sasaran. Kai menangkis, namun benturan itu mendorongnya mundur beberapa langkah. Kekuatan gurunya jauh lebih besar daripada yang mereka ingat — gelap, tak terkendali, memakan segala cahaya yang mendekat.

"Siapa Tuan Bawah Tanah?" tanya Kai sambil menghindari tebasan berikutnya. "Siapa yang menguasaimu?"

Sosok itu tertawa pahit. "Kau akan tahu… saat kau berlutut di hadapannya."

Pertarungan itu berlangsung sengit — tiga sosok bergerak cepat di bawah cahaya bulan yang meredup. Setiap gerakan sosok itu penuh ingatan lama — jurus yang dulu diajarkan kepada mereka, cara bertahan, cara menyerang. Kai dan Kaelan mengenali setiap pola, dan menyadari hal yang menyakitkan: ia tidak berjuang sepenuh hati. Di setiap serangan yang mematikan, selalu ada celah kecil — seakan bagian dari dirinya masih berusaha menahan diri.

"Guru!" teriak Kai, mencari celah itu. Ia sengaja membiarkan pertahanannya terbuka sedikit. Pedang tajam itu berhenti tepat di depan dadanya — bergetar, gemetar.

"Pergilah…" bisik suara di balik topeng itu, lemah dan bergetar. "Jangan biarkan mereka melihat…"

"Siapa yang melihat?" tanya Kaelan cepat, mendekat dari samping. "Siapa yang mengawasimu?"

Sosok itu tersentak, lalu seakan terbangun dari mimpi buruk. Ia mundur cepat, menangkis udara di sekelilingnya. "Aku bilang pergi! Atau mereka akan menyakiti orang yang kalian cintai!"

Topeng perak itu tergelincir sedikit — dan di celah itu, mereka melihat sesuatu yang membuat darah mereka berhenti mengalir. Di lehernya, di pelipisnya, di setiap bagian tubuh yang terbuka, tertanam tanda-tanda hitam yang berdenyut pelan — rantai kekuatan yang menembus kulit, menancap hingga ke tulang. Ia tidak melayani mereka dengan sukarela. Ia dikendalikan.

"Mereka mengikatmu…" bisik Kai, matanya memanas. "Sejak awal… kau tidak punya pilihan."

"Pergilah sekarang!" Ia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, bukan menyerang, melainkan menciptakan dinding api gelap yang memisahkan mereka. "Tuan Bawah Tanah tahu kalian ada di sini. Ia mengirimku untuk menguji kalian — dan kalian sudah lulus. Pergi sebelum ia turun sendiri!"

"Kami tidak pergi tanpamu!" tegas Kaelan.

"Kau tidak mengerti!" Suaranya pecah. "Jika kau membawaku… aku akan menuntun mereka langsung ke tempat yang paling kalian lindungi. Pergilah ke Puncak Gunung Bara. Di sanalah letak jantung kekuatan mereka. Hancurkan intinya… dan aku akan bebas. Tapi kau harus berjanji — jika aku berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dikenali… kau harus menghentikanku."

Kai menggeleng. "Tidak ada yang ditinggalkan."

"Janjilah!" Ia melangkah mundur, kembali menaiki makhluk raksasanya. "Sebelum aku kehilangan diriku sepenuhnya… sebelum aku menjadi senjata yang menghancurkan kalian."

Dengan satu isyarat, ia memerintahkan pasukannya mundur — perlahan, dalam keheningan yang menyesakkan. Namun sebelum menghilang ke dalam kabut, ia menoleh sekali lagi.

"Mereka yang menguasai dunia ini… bukanlah satu orang. Mereka adalah jaringan yang tersebar di setiap dunia. Dan di antara kalian… ada yang mereka jangkau."

Kata-kata itu menggantung di udara, dingin dan berat.

Saat mereka kembali ke tempat persembunyian, suasana hening. Seraphina menatap mereka dengan tatapan penuh pertanyaan, namun melihat wajah mereka, ia tidak bertanya. Ia hanya menunjuk peta tua yang terbentang di atas batu — puncak gunung tertinggi, tempat api abadi menyala sejak dunia ini lahir.

"Itu istananya," katanya pelan. "Pintu masuk ke kedalaman bumi."

Kai menatap peta itu, lalu ke teman-temannya satu per satu. Setiap wajah yang ia lihat — Elara, Ren, Dagan, Lyra, Lirael, ibunya, saudaranya — semua orang yang ia percaya. Dan kata-kata gurunya kembali bergema: Di antara kalian… ada yang mereka jangkau.

Siapa?

Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang menuduh. Namun keraguan yang halus telah merayap masuk, menyusup ke celah-celah kepercayaan yang dulu utuh.

"Kita naik," ucap Kai akhirnya, suaranya teguh meski hatinya bergemuruh. "Bersama-sama. Dan apa pun yang terjadi… kita tetap saling menjaga."

Malam itu, saat semua beristirahat, seseorang terbangun diam-diam. Sosok itu berjalan menjauh dari tempat perkemahan, menghadap ke arah gunung yang menyala merah. Tangan kanannya perlahan terangkat — dan di telapak tangannya, seberkas cahaya gelap berdenyut samar, sebelum lenyap kembali ke dalam kegelapan.

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!