Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Ucapan Yang Lembut Tapi Menyayat
Dicelupin lalu dimakan, hore?!"
Rian berteriak gembira sambil mencelupkan wafernya ke dalam gelas susu hangat.
"Ibu mau wafer?" tanya Rian manis. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang mungil langsung menyuapkan potongan wafer itu ke mulutku.
"Am ," jawabku terkekeh melihat tingkah polosnya. Lalu langsung menyantap wafer yang di sodorkan nya.
"Ibu... Siska pamit dulu, ya," potong suara Siska, putri sulungku, yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku.
"Sarapan dulu, Nak. Nanti kamu lapar di sekolah."
"Siska enggak lapar, Bu," jawabnya pelan sambil menggeleng.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan jajan sembarangan." Aku merogoh saku, mengeluarkan lembaran uang sepuluh ribu rupiah lalu menyerahkannya pada Siska. Biasanya uang sakunya hanya lima ribu. Namun karena dia menolak sarapan, ku tambah sedikit—cukup untuk membeli sepiring nasi uduk kalau cacing di perutnya mulai berdemo nanti.
Setelah mencium punggung tanganku, Siska berbalik dan berjalan keluar menuju sekolah melewati pintu dapur.
Riaaaaaan " Suara bass Mas Pras terdengar dari arah depan memanggil anakku.
"Deg."
Aku menoleh ke belakang."
Mas Pras berjalan ke arah kami, Prilia tampak sumringah berjalan dengan rambut panjangnya yang hitam tebal masih basah, dan harum lavender.
"Eh, Rian anak Ayah sudah ganteng makan apa ni.." Tanya Mas Pras dengan nada sayang nya.
Dia berjongkok di hadapan Rian dengan senyum hangat yang begitu cerah. Pria itu mengelus pipi anak nya lembut, menunjukkan kasih sayang seorang ayah.
"Ayah mau pelgi ke mana?" tanya Rian tapi belum bisa terdengar jelas dan tegas karena masih sedikit cadel dalam pengucapan huruf 'R'.
"Ayah mau antar Mama Prilia berobat dulu ke dokter, Sayang," ucap Mas Pras.
"Rian mau ikut? " Tanya Prilia lembut, tapi terdengar aneh di telingaku.
Prilia mendekati Rian, berusaha mencuri perhatian anak laki-lakiku ini dengan mengulurkan tangannya mau menggendong. Namun, tangan yang putih mulus itu ditepis oleh Rian. Dia lebih memilih menyembunyikan mukanya di dadaku.
"Rian anak pintar, ya ayo ikut Mama, nanti Mama beli pistolan seperti kemarin. Mau kan?"
Rian menatapku seakan meminta perlindungan, lalu membenamkan wajahnya di dadaku.
"Nggak apa kan May, kalau Rian ikut bersama kami. " Ujarnya seraya memandang wajahku.
Aku paham ada niat terselubung di balik ajakannya—dia ingin membuatku merasa makin tidak berdaya Rian mau ikut.
"Tanya aja anak nya mau atau tidak!?" jawabku datar malas basa basi.
"Maya..." panggil Mas Pras pelan. Kami bertiga kemudian berdiri saling berhadapan.
"Aku antar Prilia berobat dulu, ya. Setelah dari rumah sakit kami langsung jalan ke Pekanbaru. Ada pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan di sana, sekalian anak-anak, Shifa dan Naura, tidak mungkin berlama-lama ditinggal hanya berdua di rumah."
Pekanbaru. Rumah megah layaknya istana di mana Mas Pras, Mbak Prilia, dan kedua putri mereka hidup sebagai keluarga sempurna.
"Berapa lama Mas di Pekanbaru?" Kami berpandangan.
"Mungkin dua atau tiga minggu, Maya," jawab Mas Pras santai.
"Uang belanja dan biaya pengobatan Ayah sudah ku transfer ke rekeningmu. Cukup-cukupkan, ya. Kamu tahu sendiri, kan, bisnis Mas lagi butuh banyak putaran modal."
"Sementara Mas cuma bisa kasi satu juta May, karena kan kamu tahu sendiri, Mbak Prilia butuh berobat rutin. "
"Kalau untuk belanja dapur ya bisa aku hemat mas, tapi untuk obat Ayah? "
"Pakai dulu uang yang ada May," potong Mbak Prilia cepat namun dengan nada amat halus, memotong sebelum Mas Pras menjawab.
Kalimat Mbak Prilia tadi meluncur begitu mulus, pandai sekali dia bermain kata.
"Obat ayah itu tidak di tanggung BPJS Mas. " Sela ku menanggapi ucapan Prilia, tapi sengaja ku tumpahkan pada Mas Prasetio sebagai bentuk sindiran bahwa kami sedang bicara berdua hanya antara aku dan Prasetio, dia seharusnya diam.
"Lagian tunggakan listrik bulan kemarin juga belum di bayar, kalau telat lagi aku takut aliran listrik kita nanti di cabut. "
"Memang sudah berapa bulan nunggak May." Prilia lagi lagi nimbrung, aku bergegas memga mbil semua tagihan yang tersimpan di dalam laci meja yang berada di depanku.
"Aku pribadi tidak masalah kalau harus gelap, tidur kepanasan, tapi kasihan Ayah dan anak anak kalau harus merasakannya juga. " Jawabku sambil menyerahkan kertas kertas tagihan itu pada Mas Prasetio.
"Kau bayar lah dulu May pakai dana yang ada. " Lagi lagi wanita itu angkat bicara.
"Iya mbak kalau dana nya ada pasti ku bayar. Ngapain juga ku tahan pembayaran itu, coba mbak yang bayar sesekali, Pak Burhan kan bukan cuma ayah mertuaku seorang." Aku mendengus kesal dan tersenyum sinis.
Wajah Prilia langsung berubah bagai kepiting di rebus saat ku ucap kan kalimat itu.
"Sudah sudah nanti kita bahas lagi, kalau ada lebih nanti Mas Transfer. " Ucap nya berusaha meredakan ketegangan yang mulai timbul.
"Bukan masalah kalau ada lebih nya mas, masa beban ini ku tanggung sendiri cuma mengharap ada lebihan aja, Bagai mana sih bentuk tanggung jawab mu sebagai anak, dan sebagai suami sekaligus ayah dari anak anak Mas! " Aku mulai ngegas.
Akhirnya tumpah apa yang mengganjal dalam hati yang selama ini tidak pernah ku ungkap kan.
Mas Pras bungkam, dia termenung menatap biaya tagihan listrik dan pengobatan ayah yang ku berikan.
" Mas Prasetio Bukan tidak mau menambah uang belanja May, tapi perusahaan memang sedang Pailit."
Prilia dengan gaya nya yang khas bicara lemah lembut seakan mencoba meredakan keadaan.
Pandangannya menatapku penuh empati palsu, seolah dia adalah sesosok penengah yang amat bijaksana. "Kamu harusnya mengerti posisi Mas Pras. Kalau bisnisnya gulung tikar, kita semua juga yang bakal susah, kan?"
Aku terkekeh pelan sebuah tawa sinis karena geram.
"Pailit, Mbak?" tanyaku seraya menatap Prilia dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Pailit tapi Mbak Prilia masih bisa perawatan rutin, masih bisa bolak-balik berobat ke dokter spesialis tanpa BPJS, dan masih bisa ajak anak-anak liburan! "
Prilia sedikit tersentak. Bibirnya tertutup sebentar, tetapi dengan cepat dia menguasai diri kembali.
"Maya, jaga bicaramu!" sahut Mas Pras dengan nada yang mulai meninggi, membela istri pertamanya.
"Prilia itu sedang sakit! Jangan kamu samakan kebutuhan berobatnya dengan hal-hal lain. Lagi pula, Pekanbaru itu bukan untuk liburan, tapi untuk urusan pekerjaan dan anak-anak!"
"Lalu Ayah di kamar itu apa Mas! apakah Ayah berbaring berhari hari di ranjang tidur nya itu karena bermalas malasan?"
suaraku meninggi, tak mau lagi mengalah. Tanganku menunjuk tegak ke arah pintu kamar Pak Burhan.
"Ayah juga sedang sakit! Ayah butuh obat tiap hari, butuh makan, butuh listrik yang menyala! Kenapa kalau untuk Mbak Prilia kamu selalu punya alasan 'kebutuhan', tapi kalau untuk Ayah dan anak-anakmu di sini, kamu cuma menyisakan kata 'sabar' padaku!?"
Mas Prasetio memandang ku dengan raut wajah yang sulit ku mengerti.
Prilia yang sadar posisi suaminya mulai terdesak, langsung mengelus dada Mas Pras dengan lembut.
"Sudah, Mas... jangan emosi. Ingat kesehatanmu," bisik Prilia manis.Lagi lagi dia over akting benar benar muak aku melihat nya.
"Terserah kau mau bicara apa mbak! Pintu keluar ada di sebelah sana. Jangan lupa tutup pintunya rapat-rapat saat kalian pergi."
Entah setan apa yang merasuki aku malas menatap wajah dua manusia ini hingga meluncur saja kata kata itu dari bibirku.
"Ayo Prilia kita pamit dulu ke kamar Ayah. " Ajak Mas Pras menghindari debat denganku. Aku benar benar kesal ingin ku lempar saja dua orang itu rasanya. Tapi ku tahan emosiku agar bersikap tenang.
mereka berdua berjalan menuju kamar ayah yang letaknya berdekatan ke arah ruang tamu depan.
Aku mengiringi langkah pasutri itu, tetapi aku tidak ikut masuk.
"Ayah... Pras pamit pulang dulu, ya," ujar Mas Pras lembut, mencium punggung tangan ayahnya.
"Pras mau antar Prilia berobat sekalian nengok Shifa dan Naura. Ayah di rumah baik-baik ya, ada Maya yang jaga. Jangan banyak pikiran." Enak sekali dia bilang ada Maya! lah itu kan ayah kandungmu.
Mbak Prilia ikut maju, membungkuk anggun dan mencium tangan Pak Burhan.
"Ayah.. Prilia pamit, ya. Minta doanya supaya Prilia cepat sembuh dan bisa kasih Mas Pras keturunan lagi."
Dada Pak Burhan ku lihat naik turun seakan menahan emosi. Bibirnya yang miring bergetar hebat, mencoba mengeluarkan suara, namun yang keluar hanyalah erangan samar yang tak terdengar jelas.
"Sudah, Yah... jangan menangis. Pras pergi dulu, ya," ucap Mas Pras seraya berdiri, mengusap air mata di pipi ayahnya tanpa benar-benar memahami arti tetesan air mata itu.
Tanpa menoleh lagi ke arahku, Mas Pras berjalan ke arah pintu depan, langsung ke luar rumah.
Suara deru mesin mobil Mas Pras perlahan-lahan lenyap, kemudian benar benar hilang dari pendengaran.
"Ceklek."
Suara kunci pintu terdengar kasar karena aku memutarnya terlalu kuat, akibat emosi yang bergolak tadi.
Langkah kakiku terasa amat berat saat menyusuri lorong menuju kamar Pak Burhan. Dari luar, dengusan napas dan isakan kecil pria tua itu terdengar begitu memilukan.
"Ayah..." bisikku pelan seraya mendorong pintu kamar.
Aku mendekat, lalu duduk di sisi ranjangnya. Kuambil tisu, ku usap air mata yang mengalir di pipinya yang keriput dan tirus.
"Jangan menangis Yah, nanti Mas Pras akan datang lagi. " Hibur ku dengan lembut, walau hatiku sendiri sedang butuh di hibur juga.
Pak Burhan menggeleng pelan. Bibirnya yang miring berusaha keras merangkai kata, menimbulkan suara serak yang patah-patah dari tenggorokannya.
"Maya." Panggil Pak Burhan lirih.
"Iya Yah? " Jawabku.
" Sebenar nya ada hutang yang ingin ayah tuntaskan pada keluargamu. "
"Hutang apa Yah. " Alisku berkerut heran.
"Hutang masa lalu. "
Kata-kata itu keluar dari bibir nya sangat jelas, tapi mengandung teka teki bagiku.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇