Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 KEMUNCULAN ANCHOR DAN HANZO
Siang itu jinfa terasa damai, terlalu damai untuk hari yang akan berakhir seperti ini.
Aku duduk di teras dengan tubuh pegal setelah latihan pagi, menyendok sup jamur yang masih mengepul. Di sampingku, Ara sedang membagi bola nasi untuk tiga murid yang makan seperti baru bertemu makanan setelah sebulan. Vivi menggigit kue beras sebesar kepalanya sendiri sambil bersandar di pagar. Haris duduk bersila di ujung teras dengan mangkuk raksasa di pangkuannya, sudah menghabiskan dua porsi.
"Sekarang, makanlah yang banyak," katanya. "Insting tidak akan bekerja dalam keadaan perut kosong."
"Wah...kalau begitu insting Guru pasti sangat kuat," celetuk Vivi.
"Hei, aku bisa dengar tau."
Aku nyaris tertawa ketika langit meledak.
DUAAAARRRR!
Sendokku terlepas dan jatuh berdenting di mangkuk. Murid-murid terlonjak, salah satu menumpahkan teh di pahanya, dan Vivi tersedak lalu jatuh dari pagar sambil memegangi kuenya.
Kami semua mendongak. Langit biru bersih, tanpa segumpal awan pun.
"Lah kok, ada guntur dari langit?" gumam seorang murid.
"Itu....itu bukan guntur," kata Ara pelan.
ZRRRAAAKKK!
Sambaran kedua menghantam dari seberang sungai. Kilat kuning menyayat cakrawala, dan lonceng-lonceng angin di sepanjang teras berdenting liar. Bulu kudukku berdiri.
Aku mengenal kilat itu. Petir ke langit.
"Oh iya, Iyan," bisikku.
Aku berdiri begitu cepat sampai lututku membentur meja. Dari teras, kutatap ke seberang sungai, ke arah Latoona yang pagi tadi tampak tenang. Sambaran ketiga baru saja memudar di atasnya, meninggalkan jejak putih samar di langit biru.
Itu bukan latihan, dan bukan kebetulan. Iyan tak akan menguras tenaga seperti itu kecuali ada sesuatu yang sangat salah.
Kutenggak sisa sup dalam tiga teguk, kujejalkan sebutir bola nasi ke mulut, lalu menepuk-nepuk pakaianku. Vivi melompat ke bahuku dengan remah di rambutnya.
"Guru," kataku sambil membungkuk, "aku mohon izin pergi sekarang."
Haris meletakkan mangkuknya perlahan. Satu matanya yang terbuka menatapku. "Lho, mau ke mana?"
"Temanku memberi isyarat peringatan. Kami sepakat memakainya hanya kalau ada bahaya besar. Petir itu pasti dari Latoona." Suaraku tegang. "Kemungkinan ada entitas di sana."
Teras mendadak hening.
Mangkuk di tangan seorang murid jatuh dan bunyinya nyaring di lantai kayu. Ara menahan napas. Dan Haris, pria sebesar beruang yang tadi tertawa terbahak-bahak, terdiam. Rahangnya mengeras dan jemarinya mencengkeram lutut hingga buku-bukunya memutih.
"Entitas?," ulangnya rendah. "Di lembah ini?."
"Ya."
"Pantas aja." Ia berdiri perlahan, bayangan tubuhnya menutupi sebagian meja. "Sejak fajar tadi, insting-ku gatal seperti ada serangga merayap di tengkuk. Kukira kurang tidur." Jarinya menyentuh penutup mata hitamnya, dan batu kelabu di sana berkilau samar.
"Ternyata dia sudah masuk ke lembah ini ya..."
Ia menoleh pada murid-muridnya, dan suaranya berubah menjadi komando. "Kalian semua masuk. Kunci pintu dan jendela. Jangan keluar sampai aku kembali."
Mereka bergegas pergi. Haris lalu menatap Ara.
"Ara."
"Ya, Guru."
"Jaga distrik Reflower. Pastikan semua warga berada di dalam rumah, terutama anak-anak. Jangan sampai ada yang terkena dampaknya." Ia menepuk bahunya dengan tangan sebesar piring. "Kalau bahaya mendekat, kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Mata Ara berkilat penuh protes. "Aku ingin ikut. Aku juga ranger."
"Aku tahu itu. Tapi anak-anak itu butuh seseorang yang bisa dipercaya, dan aku percaya padamu."
Ara menggigit bibirnya, lalu menunduk. "Baik, Guru."
Ia menoleh padaku, tatapannya menyimpan sesuatu yang tak sempat kupahami. "Kembalilah hidup-hidup, Arka. Kita belum selesai latihan."
"Aku janji."
Haris sudah menyambar sepasang belati melengkung dari rak senjata dan menyelipkannya ke pinggang. Aku memasang tali sarung pedangku erat-erat di punggung.
"hati hati, jangan ada yang tertinggal," katanya tanpa menoleh.
Lalu ia melompat dari teras.
Aku tak pernah melihat orang sebesar itu bergerak secepat itu.
Dalam sekejap Haris melesat di atas jalan batu Reflower seperti bayangan, jubahnya berkibar. Aku mengalirkan angin ke kakiku dan mengejar. WUUUUSSSHH! Kelopak bunga beterbangan di sepanjang jalan, dan Vivi menjerit di bahuku.
"Duh...aku benci kecepatan!"
"kalo gitu duduk di pundakku aja, vivi!"
Kami melewati lorong-lorong yang kini sepi. Pintu-pintu menutup rapat, para ibu menarik anak mereka masuk dengan wajah pucat, dan dari kejauhan terdengar suara Ara yang jernih: "Masuk ke dalam! Semuanya masuk!"
Jembatan batu melengkung muncul di depan. Haris berhenti di ujungnya, dan aku hampir menabraknya. Ia mengangkat wajah dan menghirup udara dalam-dalam. Batu kelabu di penutup matanya berpendar.
"Dengarkan, Arka. Begitu kita menyeberang, rasakan dengan insting, jangan hanya dengan mata." Ia menoleh sekilas. "Dan kalau ada yang harus lari, kamu yang lari. Aku nanti yang akan menahan mereka."
Aku mengangguk. Dalam hati aku tahu aku tak akan melakukannya.
Kami menyeberang. Dan begitu kakiku menginjak sisi Latoona, aku berhenti. Distrik yang tadi pagi tampak seperti lukisan masa depan itu sudah tak ada lagi.
Jalan-jalan lurus dengan lempeng halus kini retak menganga, serpihannya terlontar ke segala arah. Kanal-kanal kaca pecah berkeping-keping, airnya tumpah dan menggenangi jalan, dan ikan-ikan perak menggelepar di antara pecahan. Sebuah kereta melayang tergeletak terbalik dengan lampu masih berkedip. Rumah-rumah beratap miring itu separuh runtuh, dindingnya berlubang besar seperti dihantam sesuatu yang berat. Asap hitam mengepul dari beberapa atap, dan di mana-mana tergeletak potongan panel logam, serpihan batu, dan kios-kios hancur.
Bau hangus bercampur bau besi tua dan karat. Bau yang kukenal.
"Ini..." Vivi menutup mulutnya. "Seperti.... ada yang mengamuk!!!."
"Bukan... Ini bukan mengamuk." Haris menyapu pandangan ke sekeliling dengan satu matanya.
Aku tak sempat bertanya apa maksudnya. Jantungku sudah berdegup terlalu keras.
"IYAN!"
Suaraku menggema di reruntuhan, memantul dari dinding yang sunyi. Tak ada jawaban.
"IYAN! DI MANA KAMU?!"
Hanya desis air dan derak kayu terbakar.
Kami berjalan masuk. Setiap langkahku menginjak pecahan kaca. Kupanggil lagi, lebih keras, dan lagi, sampai tenggorokanku serak. Dalam kepalaku muncul bayangan-bayangan yang tak ingin kupikirkan: gadanya tergeletak, tubuhnya tertimbun puing, tangannya tak lagi bergerak.
"IYAAAAN!"
"...Arka?"
Suara itu lemah dan serak, tapi nyata.
Aku menoleh cepat. Dari balik tumpukan reruntuhan di ujung jalan, sesosok tubuh terhuyung keluar. Pakaiannya lusuh dan robek, kotor oleh debu dan jelaga. Rambut cokelatnya acak-acakan, ada goresan panjang di lengannya, dan di pipi kirinya mengalir darah segar dari luka yang belum mengering. Tangan kanannya masih menggenggam gada, meski ujungnya bergetar.
"Iyan!"
Aku berlari menghampirinya dan menahan tubuhnya yang hampir limbung. Napasnya tersengal, dadanya naik turun cepat. Aku bisa merasakan sisa listrik di kulitnya, bergetar tipis dan hampir habis.
"Kamu kok terlambat," gumamnya, dan senyum lemah muncul di wajahnya yang kotor. "Aku sudah kehabisan napas nih."
"Apa yang terjadi?" Suaraku bergetar. "Siapa yang melakukan ini?"
"Ada, dua entitas." Iyan menarik napas panjang, lalu terbatuk. "Aku melihat mereka lewat dengan menyamar jadi pedagang. Aku berteriak, tapi mereka lari, dan aku memberimu isyarat. Tapi tiba tibamereka tidak kabur. Mereka berbalik dan mulai menghancurkan kota."
"Warga?"
"Ya, aku mengevakuasi sebanyak yang kubisa." Matanya menyipit menahan perih. "Aku menggiring mereka ke gudang bawah tanah di sisi utara, lewat terowongan kanal. Dua penjaga kota membantu. Sebagian besar selamat, tapi..." Ia menelan ludah. "Ada yang tidak sempat."
Aku tak tahu harus berkata apa. Kuletakkan tanganku di bahunya, dan ia hanya mengangguk, matanya basah.
Haris berlutut di sampingnya dan menyentuh luka di pipinya dengan hati-hati. "Kamu bertahan sendirian sejauh ini?"
"Iya, tapi aku tidak sendirian," jawab Iyan. "Aku punya lari yang cepat."
Haris tersenyum tipis, tapi senyum itu hilang secepat datangnya. Ia berdiri dan menatap lurus ke ujung jalan yang berasap. "Dua entitas itu masih di sini?"
"Iya, mereka masih disini" jawab Iyan. "Mereka sepertinya mencari sesuatu. Setiap rumah mereka bongkar, setiap gudang mereka hancurkan. Mereka seperti..."
Ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
SYUUUT!
Sesuatu melesat dari balik asap, berdesing tajam dan tipis seperti bisikan.
Aku merasakannya sebelum mendengarnya. Hawa dingin menusuk tengkukku, dan tubuhku bergerak sendiri. Kutarik kepalaku ke samping, dan sebilah pisau hitam ramping menyambar tempat pipiku tadi berada, lalu menancap di keranjang buah-buahan di sebelah kami.
TAK!
Keranjang itu penuh buah-buahan yang tadi pagi mungkin dijual dengan riang. Apel merah, pir kuning, dan beberapa buah bulat berwarna jingga. Aku menatap pisau yang tertancap di salah satu pir.
Dalam tiga tarikan napas, buah itu berubah.
Kulitnya yang mulus mengerut, menghitam, lalu mengeluarkan cairan busuk berbau menyengat. Warna hitam itu menjalar ke buah-buah di sekitarnya, dari apel ke pir ke buah jingga, hingga seluruh isi keranjang menjadi gumpalan lembek berlendir, berbau bangkai. Kayu keranjangnya sendiri retak dan lapuk.
"I..ITU...ITU RACUN!!!!!" teriak Vivi.
"Ini sepertinya bukan racun biasa," kata Haris. Ia menarik kedua belatinya dengan SRING pelan.
Aku menghunus pedangku. Iyan mengangkat gadanya dengan sisa tenaga, tangannya gemetar tapi tak turun.
Dari balik asap tebal di ujung jalan, dua siluet berjalan perlahan ke arah kami.
Yang pertama jangkung dan kurus, mengenakan mantel abu-abu panjang yang kini robek-robek, memperlihatkan kulit pucat berurat hitam di baliknya. Wajahnya cekung dengan mata tanpa kedipan, pupilnya sekecil titik, dikelilingi urat merah. Rambutnya menempel lepek di dahi. Di sela jemarinya, berjajar pisau-pisau hitam ramping seperti yang tadi dilempar, ujungnya meneteskan cairan kehijauan. Di tangan satunya, sebuah botol kecil kini kosong, hanya menyisakan noda merah di dasar kaca.
Yang kedua bertubuh gempal dengan bahu selebar pintu dan leher setebal paha. Bungkusan di bahunya sudah terbuka, memperlihatkan rantai-rantai besi berkarat yang menjuntai hingga menyeret tanah, berbunyi KRING-KRING setiap ia melangkah. Kulitnya berwarna kelabu pucat, dan di wajahnya yang lebar terpampang senyum malas yang terlalu santai untuk situasi ini.
Mereka berhenti sepuluh langkah dari kami.
"Itu...anchor," bisik Haris, nyaris tanpa suara. "Dan juga Hanzo. Tingkat bawah dua dan tiga."
Jantungku berdegup. Dua entitas. Satu dari mereka sudah cukup untuk menghabisi satu regu master. Kali ini ada dua, dan keduanya jelas baru saja menenggak darah.
Si jangkung, Anchor, memiringkan kepala. Suaranya pelan, serak, dan dingin. "Lihatlah, Hanzo. Sepertinya Tikus-tikus itu datang membawa bala bantuannya."
"Ya, aku tau" sahut yang gempal, suaranya berat seperti batu menggelinding. "Satu dari mereka yang tadi berteriak, Si bocah petir."
"Oh, Dan ada dua lagi," Anchor menyipitkan mata, menyapu aku dan Haris dengan tatapan lapar. "Satu bocah pedang... dan satu lagi orang tua bermata satu. Hhm...seorang pilar, kalau tak salah."
"Ya..orang tua itu seorang pilar, pilar Insting," kata Hanzo.
"Oh." Bibir Anchor melengkung. "Pantas bau mereka mirip yang di Artheria."
Tubuhku menegang. Artheria. Mereka tahu soal Froz.
"Jadi Kalian yang membunuh Froz?" Anchor terkekeh pelan. "kalo tidak salah ada tiga pemula, Dan hari ini datang dua lagi untuk menyusul."
"Oi...Cukup bicaramu," gumam Haris, nadanya rendah. "Apa yang kalian cari di kota ini?"
Anchor tidak menjawab. Sebaliknya, ia mengangkat tangan kirinya perlahan, memperlihatkan telapak tangannya yang pucat.
Sebuah benda tergeletak di atasnya.
Sebesar telur burung, lonjong seperti tetes air, berwarna biru pucat bening yang berpendar seperti embun pagi disentuh cahaya. Di intinya, titik-titik kecil berkilau berputar pelan seperti bintang di sungai malam. Dari kejauhan pun aku bisa merasakan dingin sejuk yang memancar darinya.
Batu akik.
Kantung kulit di sabukku bergetar. Batu merah dari Artheria, yang selama ini hanya hangat, kini berdenyut seperti jantung kecil, merespons saudara kembarnya di tangan musuh.
"Itu..." Iyan terkesiap. "Itu batu yang kita cari."
Anchor menyeringai, memperlihatkan deretan gigi runcing. "Memalukan sekali. Seluruh distrik ini kalian jaga ratusan tahun, dan benda ini tersimpan di bawah sumur tua di tengah pasar." Ia mengusap permukaannya dengan ibu jari. "Dan kami hanya butuh waktu setengah jam untuk menemukannya."
"Lalu...setengah jam lagi untuk menghancurkan kota ini," tambah Hanzo, mengayun rantainya dengan malas. KRING.
"Kembalikan," kataku. Suaraku keluar lebih rendah dari yang kukira.
Anchor menatapku seperti seseorang yang menatap serangga. "Kembalikan?"
"Itu bukan milik kalian." jawab arka
"Hei..ini milik tuan kami." Ia mengangkat batu itu di antara dua jarinya, lalu menyimpannya ke saku mantel dengan gerakan lambat dan sengaja. "Dan lihatlah, kalian terlambat."
Matanya yang tak berkedip bergerak dari aku ke Iyan ke Haris. "Kalian selalu terlambat. Selalu satu langkah di belakang."
Iyan menggeram di sampingku. Aku bisa melihat gada di tangannya mengeluarkan percik kecil, sisa-sisa petir yang masih berontak.
"Jangan mudah terpancing," bisik Haris tanpa menoleh. Suaranya tenang, tapi ada baja di baliknya. "Mereka sengaja merendahkan kita, supaya kita kena mental"
"Iya, aku tahu," gumamku, tapi kepalan tanganku sudah memutih di gagang pedang.
Haris melangkah setengah langkah ke depan, menempatkan tubuhnya sedikit di depanku dan Iyan. Kedua belatinya terangkat dalam posisi bertahan, bilah melengkungnya berkilat tertimpa cahaya matahari yang menyelinap lewat asap.
"Dengar," katanya pelan, dan nadanya kini berubah. Bukan lagi pria humoris yang tadi memeluk bahuku di taman. Ini suara seorang pilar, suara seseorang yang sudah membunuh lima ratus tujuh puluh kroco dan satu entitas. "Iyan, kamu mundur dulu setengah langkah dan atur napas. Kau sudah menghabiskan tenaga, jadi simpan sisanya untuk satu serangan penentu."
"Tapi..."
"Itu perintah!"
Iyan menggertakkan giginya, lalu mengangguk dan bergeser ke belakang kami.
"Arka."
"Ya, Guru."
"Pejamkan matamu kalau perlu. Hanzo yang gempal itu mengandalkan kekuatan, dan rantainya mengikat. Anchor yang kurus mengandalkan pembusukan. Satu goresan dari pisaunya sudah cukup membusukkan dagingmu." Ia menarik napas. "Jangan biarkan mereka menyentuhmu, dan jangan biarkan mereka memisahkan kita."
"Mengerti."
"Vivi."
Vivi terlonjak di bahuku. "A-aku?"
"Terbang ke belakang puing itu dan jangan keluar sampai aku bilang."
"Tapi...aku bisa membantu!"
"Kamu bisa membantu dengan tetap hidup."
Vivi menggigit bibir mungilnya, lalu mengepakkan sayap dan menghilang ke balik tumpukan batu dengan wajah pucat.
Haris menurunkan tubuhnya, lutut menekuk, kedua belati di depan dada. Aku mengikutinya, memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan guruku di selatan, lalu menyesuaikannya dengan apa yang kupelajari pagi tadi. Kutarik napas dan kukendurkan bahu. Angin di dalam dadaku mulai berputar pelan, bukan untuk ditembakkan, tapi untuk didengarkan.
Di belakangku, Iyan mengangkat gadanya. Kilat tipis berkedip di ujungnya, lemah tapi masih menyala.
Di seberang puing, Anchor dan Hanzo melihat kami bersiap. Senyum mereka melebar.
"Oh," bisik Anchor, nyaris dengan kegembiraan.
"Mereka mau bermain ya..."
Hanzo memutar rantainya di atas kepala.
WUNG-WUNG-WUNG.
Haris menghela napas panjang. "Bersiaga," ujarnya pelan. "Pasang kuda-kuda."
Tak ada yang bicara lagi. Angin berhenti, asap berhenti bergolak, dan seluruh Latoona seakan menahan napas bersama kami.