NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Lantai lima gedung Nusantara Media Creative dipenuhi kesibukan yang riuh.

Bagas duduk di meja kerjanya yang baru, memoles draf kampanye iklan kosmetik lokal di layar monitor tebal.

Menggunakan kemeja putih sederhana yang kancing teratasnya agak mengendur, Bagas tampak sangat serius hingga tak menyadari langkah kaki yang mendekati mejanya.

Suara ketukan sepatu hak tinggi bernada tegas yang memantul di lantai marmer seketika menghentikan riuh suasana kantor.

"Selamat pagi semuanya," sebuah suara wanita yang renyah namun penuh wibawa terdengar membahana.

Seluruh karyawan di ruangan itu refleks berdiri dan membungkuk hormat. Bagas yang bingung ikut bangkit dari kursinya.

Seorang wanita berusia awal tiga puluhan melangkah anggun.

Ia mengenakan blazer merah marun yang pas di badan, dipadu celana kain hitam berpotongan elegan.

Wajahnya yang cantik dipoles riasan sempurna, memancarkan pesona dingin khas wanita karir dari kalangan kelas atas.

Aroma parfum melati yang mahal seketika merebak menyelimuti ruangan.

"Siapa dia, Ar?" bisik Bagas pelan pada Arya yang berdiri di sebelahnya.

"Itu Rania Kusuma," bisik Arya setengah berbisik, matanya tak berani menatap langsung.

"Dia Managing Director divisi kita, sekaligus putri tunggal pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Cantik, kaya raya, tapi dingin dan ambisius banget. Hati-hati kalau bicara sama dia."

Rania menghentikan langkahnya tepat di depan meja Bagas.

Manik matanya yang tajam menatap Bagas dari ujung rambut hingga sepatu pantofelnya yang agak kusam.

"Kamu karyawan baru yang dibawa Arya?" tanya Rania, nada suaranya datar namun menusuk.

"Iya, Bu. Saya Bagas Pratama, Senior Copywriter baru di tim ini," jawab Bagas mantap, mengulurkan tangannya dengan sopan.

Rania menatap uluran tangan Bagas sejenak tanpa membalasnya.

Ia justru meraih lembaran draf konsep iklan yang ada di meja Bagas. Jemarinya yang lentik dengan kuku berpoles merah menyapu tulisan Bagas.

"Bagas..." gumam Rania menyebut nama itu pelan, lalu menatap langsung ke dalam mata Bagas. "Gaya bahasamumu unik.

Bahasa iklanmu berjiwa, beda dengan anak-anak muda zaman sekarang yang cuma pamer istilah keren tapi kosong."

Bagas tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu Rania. Saya berusaha menyentuh emosi penontonnya."

"Tapi," potong Rania cepat, pandangannya mendadak menajam,

"penampilanmu tidak mencerminkan kualitas tulisanmu. Di divisi saya, citra diri adalah segalanya.

Saya tidak suka ada anggota tim saya yang terlihat kusam dan ketinggalan zaman."

Ruangan mendadak hening. Arya menelan ludah cemas, sementara Bagas merasa wajahnya mendadak panas.

Teguran itu disampaikan di hadapan puluhan pasang mata karyawan lain.

"Maaf, Bu. Saya akan memperbaikinya," tanggap Bagas, berusaha menahan rasa gengsi pria yang tersenggol.

Rania mengulas senyum tipis yang sarat akan makna. Untuk pertama kalinya, matanya menunjukkan ketertarikan yang tak biasa pada sosok pria di hadapannya.

Pria ini berbeda dari para pria kantoran yang selalu menjilat dengannya. Ada ketegasan dan daya tarik alami di balik kemeja sederhananya.

"Ikut saya ke ruangan sekarang, Bagas," perintah Rania tegas sembari membalikkan badan dan melangkah menuju ruangan berkaca gelap di sudut lantai.

"Ada proyek besar produk perhiasan mewah yang mau saya percayakan langsung ke kamu."

"Baik, Bu," sahut Bagas seraya merapikan berkasnya.

Di dalam ruangan kerja Rania yang luas dan beraroma kayu cendana,

Rania menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja mewahnya. Ia memperhatikan Bagas yang berdiri canggung di hadapannya.

"Duduk, Bagas. Jangan tegang begitu," ujar Rania lembut, suaranya berubah jauh lebih hangat dibanding saat di luar tadi.

Bagas duduk di kursi kulit di hadapan Rania. "Terima kasih, Bu."

"Proyek perhiasan ini nilainya belasan miliar rupiah, Bagas," tutur Rania sembari menggeser sebuah dokumen tebal ke arah Bagas.

"Klien meminta konsep cinta yang abadi dan penuh pengorbanan. Begitu melihat tulisanmu di luar tadi, saya tahu cuma kamu yang bisa mengeksekusi ini."

Bagas berbinar gembira. "Saya tidak akan mengecewakan Ibu. Konsep cinta abadi adalah hal yang sangat saya pahami."

Rania terkekeh pelan, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Cinta abadi? Di zaman sekarang? Kamu terlalu puitis, Bagas.

Di dunia nyata, cinta itu dinilai dari kelas dan pencapaian."

"Tergantung siapa yang menjalankannya, Bu Rania," sahut Bagas membela keyakinannya, teringat akan kesetiaan Maya yang merawatnya selama koma.

Rania menatap Bagas dalam-dalam, terkesima dengan idealisme pria di hadapannya. Senyum memikat terkembang di bibir cantiknya.

"Kita lihat saja nanti, Bagas," bisik Rania pelan dengan tatapan mata yang intens.

"Apakah idealisme puitismu itu bisa bertahan di dunia saya, atau kamu yang akan bertekuk lutut pada realita."

Bagas terpaku menatap manik mata Rania yang begitu memikat, merasakan desiran asing yang perlahan mulai merayapi jiwanya tanpa ia sadari.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!