Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Masalah Yang Cukup Serius
3. Rekaman Audio
Percakapan antara pengelola, pembina, petugas keamanan, dan pihak lain yang terlibat. Rekaman tersebut memuat pembahasan tentang cara menekan korban, menyusun laporan palsu, mengatur kunjungan keluarga, dan menghindari pemeriksaan dari pihak luar.
4. Dokumen Transaksi Keuangan
Salinan mutasi rekening, bukti transfer, catatan pembayaran, serta pembagian dana kepada sejumlah orang yang terlibat. Setiap transaksi mencantumkan tanggal, sejumlah uang, nomor rekening, nama pemilik rekening, dan keterangan pembayaran.
5. Daftar Identitas Pelaku
Daftar nama lengkap, jabatan, serta peran masing-masing orang dalam jaringan tersebut. Mulai dari pengelola utama, staf asrama, petugas keamanan, pihak administrasi, hingga sejumlah pihak luar yang menerima aliran dana.
6. Dokumen Internal Lembaga
Salinan laporan kejadian yang telah dimanipulasi, catatan kedisplinan palsu, instruksi internal, serta percakapan yang menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menyembunyikan tindak kekerasan.
7. Catatan korban
Dokumentasi mengenai kejadian, jenis kekerasan, kondisi korban, dan laporan yang sebelumnya tidak pernah ditindaklanjuti. Identitas anak-anak yang menjadi korban telah dipisahkan dari salinan dokumen untuk keperluan pemeriksaan awal. ]
[ Status: bukti terdokumentasi secara lengkap. ]
[ Catatan: identitas dan informasi pribadi korban wajib dilindungi. ]
Nara terdiam.
Panel itu menghilang selama beberapa detik kemudian. Sebuah notifikasi baru muncul di ponselnya, menandakan bahwa berkas yang disebutkan sistem Lyra sudah berhasil dikirim.
Dia membuka folder tersebut.
Jumlah dokumennya jauh lebih banyak daripada yang ia bayangkan. Ada puluhan foto, beberapa rekaman video, file audio, dan dokumen dalam berbagai format.
Nara membuka salah satu foto. Terlihat sebuah ruangan sempit dengan dinding kusam dan kasur tipis di sudutnya. Foto berikutnya memperlihatkan beberapa luka pada tubuh seorang anak. Ada pula foto fasilitas asrama yang kondisinya sangat berbeda dari gambar-gambar promosi yang ditampilkan lembaga tersebut.
Dia tidak sanggup melihatnya terlalu lama.
Nara beralih ke rekaman video. Dari keterangan yang tertera, video tersebut berasal dari kamera pengawas di dalam gedung. Ia belum memutarnya, tetapi tanggal dan lokasi rekaman sudah tercantum dengan jelas.
Kemudian dia membuka dokumen transaksi.
Di sana terdapat deretan pembayaran yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Nama pengirim, nama penerima, tanggal, jumlah uang, dan nomor rekening semuanya tercatat. Beberapa transaksi bahkan memiliki keterangan yang menunjukkan tujuan pembayaran.
Nara membuka dokumen lain yang berisi daftar orang-orang yang terlibat. Nama lengkap dan jabatan mereka tertulis satu per satu, disertai keterangan mengenai peran masing-masing. Bahkan ada beberapa orang yang dikenal olehnya, yang membuatnya semakin terdiam.
Semakin lama membaca, semakin berat perasaannya.
Ini bukan sekadar tempat rehabilitasi yang memiliki beberapa pegawai bermasalah. Ada banyak orang yang bekerja sama untuk menjalankan dan menutupi kejahatan tersebut. Seperti neraka di bumi.
“Selena,” panggil Nara setelah kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Ya?”
“Bisa minta kakakmu menunda dulu rencana mengirim keponakanmu ke tempat itu?”
Selena terdiam. “Kenapa? Memangnya ada masalah?”
“Aku baru saja mendapat informasi yang cukup serius tentang lembaga tersebut. Aku belum bisa menjelaskan semuanya sekarang, tapi sebaiknya keponakanmu jangan dikirim ke sana sebelum tempat itu diperiksa lebih lanjut.”
“Informasi apa, Nara? Kamu tahu sesuatu?”
“Aku mendapat kabar dari seorang teman yang mengetahui masalah di sana. Ada dugaan serius soal perlakuan mereka terhadap anak-anak.”
Selena langsung terdengar lebih serius. “Maksudmu, mereka melakukan kekerasan?”
“Aku belum bisa menjelaskan semuanya. Tapi, dari informasi yang kuterima, masalahnya bukan hal sepele. Jadi, tolong minta kakakmu menunda rencana itu dulu.”
“Ya ampun. Padahal kakakku sudah hampir membayar biaya pendaftarannya.”
“Justru lebih baik terlambat daripada menyesal nanti.”
Selena terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Baiklah. Aku akan segera menghubungi kakakku. Aku juga akan menyuruhnya mencari tempat lain.”
Nara menghela napas lega. Setidaknya, satu anak bisa terhindar dari kemungkinan mengalami hal serupa.
“Terima kasih sudah memberi tahu aku,” lanjut Selena. “Kalau memang ada masalah, aku juga tidak akan membiarkan keponakanku dikirim ke sana.”
“Tidak masalah. Kabari aku kalau ada perkembangan, ya.”
Setelah memastikan Selena memahami peringatannya, Nara mengakhiri panggilan.
Silas yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresinya, akhirnya meletakkan dokumen pekerjaan.
“Ada apa?”
Nara menggeser duduknya agar lebih dekat, lalu menunjukkan beberapa dokumen di ponselnya.
“Aku baru saja mendapat informasi tentang sebuah lembaga pembinaan anak. Namanya Akademi Pembinaan Digital Bina Insan.”
Silas melihat layar ponsel istrinya. “Tempat yang tadi dibicarakan temanmu?”
Nara mengangguk. “Iya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Tapi ternyata ada masalah serius di sana.”
Dia kemudian menunjukkan foto, rekaman video, dan beberapa dokumen transaksi yang sudah diterimanya.
Silas mulai memeriksa satu per satu. Semakin banyak berkas yang dibuka, semakin serius ekspresinya.
“Buktinya cukup banyak.”
“Bukan cuma foto dan video. Ada rekaman percakapan, dokumen transaksi, bahkan daftar nama orang-orang yang terlibat. Semuanya tertulis dengan jelas.”
Silas membuka beberapa berkas transaksi. Ia memperhatikan nama penerima, waktu pembayaran, dan aliran dana yang tercatat.
“Dari mana kamu mendapatkan semua ini?”
“Seorang teman memberitahuku kalau ada orang yang mengetahui masalah di dalam lembaga tersebut. Dia kemudian mengirimkan beberapa bukti kepadaku.”
Nara sengaja tidak menjelaskan lebih jauh. Silas pun tidak langsung mendesaknya, lagipula beberapa hari terakhir ini Nara sepertinya tahu cukup banyak hal. Dia kembali memeriksa dokumen yang ada.
“Kalau semua ini benar, berarti bukan hanya pihak pengelola yang terlibat.”
“Itu juga yang kupikirkan. Mereka melakukan kekerasan terhadap anak-anak, lalu menggunakan uang untuk menutupi semuanya.”
Silas mengangguk pelan. “Kita tidak boleh langsung menyebarkan berkas ini ke media sosial. Ada identitas anak-anak yang harus dilindungi. Selain itu, keaslian dokumennya tetap harus diperiksa.”
“Aku juga tidak berniat menyebarkannya sembarangan. Aku tidak mau para korban justru semakin dirugikan.”
“Aku akan meminta tim investigasi Crane Group memeriksa semuanya. Kita perlu memastikan sumber rekaman, mencocokkan transaksi, dan mencari tahu apakah masih ada anak yang sedang berada dalam bahaya.”
Nara mengangguk setuju.
“Kalau memang terbukti, pihak berwenang harus segera turun tangan,” lanjut Silas. “Kita juga perlu memastikan mereka tidak sempat menghilangkan bukti atau memindahkan anak-anak ke tempat lain.”
Nara kembali menatap layar ponselnya. Ia membayangkan anak-anak yang dikirim keluarga mereka ke tempat tersebut dengan harapan bisa mendapatkan bantuan, tetapi justru mengalami perlakuan yang tidak seharusnya mereka terima.
Orang tua mereka mungkin sudah mengeluarkan banyak uang karena ingin anak-anak itu sembuh. Namun, siapa sangka tempat yang dipercaya bisa membantu justru menjadi sumber penderitaan?
“Kasihan mereka,” gumam Nara.
Silas mengusap punggung tangannya. “Kita akan mengurusnya.”
Nara mengangguk. Ia tidak tahu apakah semua orang yang terlibat akan mudah dijerat, tetapi setidaknya sekarang ada bukti yang bisa ditindaklanjuti.
Satu hal yang pasti, Akademi Pembinaan Digital Bina Insan tidak boleh terus menggunakan nama rehabilitasi untuk menutupi kejahatan mereka.
Sepertinya, Kota Virelia tidak akan tenang.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor