Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ketika Cinta Tak Cukup
Dandy.
Ia datang ke rumah sakit setelah mengetahui dari ibu Zinnia bahwa perempuan itu mengalami kecelakaan dan dirawat di sana. Ia ingin melihat keadaan kekasihnya, meskipun Zinnia sebelumnya memintanya agar tidak mencarinya lagi.
Ketika tiba di depan kamar, ia melihat Riri duduk di sisi ranjang. Ia sempat hendak mengetuk pintu, tetapi gerakannya terhenti saat melihat Zinnia berbicara menggunakan bahasa isyarat.
Dandy mengenal bahasa itu. Ia memahami setiap gerakan tangan Zinnia.
Awalnya, ia hanya berniat menunggu sampai percakapan mereka selesai. Namun, beberapa gerakan berikutnya membuatnya kehilangan keberanian untuk masuk.
Ia melihat Zinnia menangis. Ia melihat Riri menggenggam tangan putrinya. Dan ia memahami pengakuan yang baru saja disampaikan Zinnia.
Dandy tidak bergerak. Tangannya yang semula terangkat untuk mengetuk pintu perlahan turun ke sisi tubuhnya.
Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, mencoba menerima kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya telah mengalami sesuatu yang begitu mengerikan tanpa seorang pun di sisinya.
Lalu, dari dalam kamar, ia mendengar Riri bertanya dengan suara bergetar.
“Zin, kita harus nyari pria itu?”
Zinnia terdiam. Mencari pria itu memang yang selama ini ia lakukan, tapi belum membuahkan hasil. Pikirannya kembali pada kejadian di restoran beberapa jam lalu. Pria itu. Di mana dia sekarang? Sejak ia sadar, tidak ada tanda-tanda sosok itu lagi.
Sementara di luar, Dandy menatap Zinnia melalui celah pintu. Dadanya terasa sesak. Ia ingin masuk, memeluknya, dan bertanya mengapa ia tidak pernah mengatakan apa-apa.
Namun, sebelum ia sempat bergerak, satu pertanyaan meluncur dari mulutnya sendiri.
“Siapa nama pria itu?”
Riri dan Zinnia serentak menoleh ke arah pintu. Mata Zinnia membelalak.
Dandy berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, tatapannya terpaku pada Zinnia.
Ia sudah mendengar semuanya.
Dan kini, ia menunggu jawaban yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.
Dandy akhirnya melangkah masuk.
Zinnia spontan menggenggam selimut erat-erat. Tatapannya beralih kepada Riri, menyimpan pertanyaan yang tak mampu ia ucapkan dengan suara.
Mengapa Dandy ada di sini?
Riri memahami tatapan putrinya. “Waktu masih di perjalanan, Ibu sempat ngirim pesan ke Dandy. Nanya angkutan umum yang menuju rumah sakit ini,” jelasnya pelan. “Ibu gak nyangka dia bakal datang.”
Zinnia menunduk. Jemarinya semakin erat meremas selimut.
“Zin.”
Suara Dandy membuatnya kembali mengangkat wajah.
“Siapa pria itu?”
Zinnia menggeleng.
“Kamu gak kenal dia?”
Zinnia kembali menggeleng.
Dandy menarik napas, berusaha menahan gejolak di dadanya. “Kamu ingat wajahnya?”
Sekali lagi, Zinnia menggeleng.
Dandy memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras sebelum ia kembali menatap perempuan yang dicintainya.
“Jadi, karena ini kamu berubah sejak aku pulang dari luar kota?”
Zinnia terdiam.
“Karena kejadian itu kamu mulai jauhin aku? Kamu bales pesanku seperlunya, gak pernah menghubungiku lebih dulu, bahkan pergi ke kota gak ngasih tau aku.”
Ia mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa kamu gak cerita, Zin? Kenapa kamu milih ngadepin semuanya sendirian?”
Zinnia menunduk semakin dalam.
“Kenapa?” ulang Dandy, kali ini dengan suara bergetar. “Apa kamu sama sekali gak percaya sama aku?”
Zinnia buru-buru mengangkat wajah dan menggeleng.
“Lalu kenapa?” Dandy tertawa hambar, tetapi tidak ada kegembiraan dalam tawanya. “Selama ini aku selalu bilang kalo aku nikah sama kamu. Aku udah berulang kali yakinin kamu bahwa aku serius. Tapi, ketika sesuatu terjadi sama kamu, kamu malah milih jauhin aku tanpa ngasih aku kesempatan berada di sisimu.”
Matanya memerah.
“Aku tau orang tuaku gak menyetujui hubungan kita. Aku tau mereka punya banyak alasan buat nentang kamu. Tapi, apa kamu benar-benar berpikir cintaku bakal hilang cuma karena sesuatu yang dilakukan orang lain sama kamu?”
Zinnia menggigit bibirnya. Bukan itu yang ia pikirkan. Ia tahu Dandy mencintainya. Ia tahu pria itu ingin menikahinya. Justru karena itulah ia tidak sanggup menceritakan semuanya.
Bagaimana mungkin ia membiarkan Dandy mengorbankan masa depannya demi dirinya?
Bagaimana mungkin ia meminta pria itu menerima anak yang bahkan bukan darah dagingnya?
“Kalo kamu gak tau siapa pria itu,” ujar Dandy tiba-tiba, “biar aku yang nikahin kamu.”
Mata Zinnia langsung melebar.
Riri refleks menoleh kepada Dandy. “Dandy, kamu—”
“Aku serius, Bu.” Dandy tidak mengalihkan pandangan dari Zinnia. “Aku akan menikahinya. Besok, kalo perlu. Aku sudah pernah bilang sama dia, bahwa aku pengen nikahin dia, dan perkataanku gak bakal aku tarik lagi.”
Zinnia menggeleng kuat-kuat.
“Kenapa?” Dandy bertanya. “Apa yang bikin kamu nolak?”
Zinnia mengangkat kedua tangan. Gerakannya terburu-buru, seolah ia ingin menyampaikan semuanya sekaligus.
Anak ini bukan anakmu.
Dandy terdiam sesaat. “Aku tau.”
Zinnia menggeleng lagi, kali ini dengan air mata yang mulai menggenang.
Dia anak pria lain.
“Aku gak peduli," ucap Dandy penuh ketegasan.
Zinnia menatapnya tidak percaya.
“Aku gak peduli dia anak siapa, Zin.” Dandy mendekat ke sisi ranjang, tetapi tidak langsung menyentuhnya. “Aku cinta kamu. Aku nerima kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku tau kamu tunawicara, aku tau keluargaku gak setuju sama hubungan kita, dan sekarang aku juga tau kamu sedang mengandung anak pria lain.”
Suaranya bergetar, tetapi ia tetap melanjutkan. “Namun, gak satu pun dari itu yang bisa bikin aku berhenti mencintaimu.”
Air mata Zinnia akhirnya jatuh.
Riri menunduk, menyembunyikan keterkejutannya. Ia tahu Dandy sangat mencintai putrinya, tetapi mendengar pria itu tetap bersedia menikahi Zinnia setelah mengetahui semuanya membuat dadanya terasa sesak.
Tidak semua orang sanggup menerima kenyataan sebesar ini. Namun, Dandy bahkan tidak meminta Zinnia menjelaskan siapa pria tersebut sebelum menawarkan pernikahan.
Dandy, cukup. Zinnia berisyarat putus asa.
“Aku belum selesai," tegas Dandy.
Zinnia menggeleng. Ia mengangkat tangannya lagi, kali ini lebih lambat.
Aku gak pantes buat kamu.
Dandy mengernyit.
Aku sudah ternoda.
Dandy menggeleng keras. “Jangan katakan itu.”
Zinnia berusaha melanjutkan, tetapi Dandy memotongnya.
“Itu bukan salahmu, Zin.”
Ia menatap Zinnia lekat-lekat. “Kamu gak milih kejadian itu. Kamu gak menginginkannya. Jadi, kenapa kamu menghukum dirimu sendiri atas sesuatu yang dilakuin orang lain sama kamu?”
Zinnia menangis semakin keras.
“Bagiku, kamu tetep perempuan yang aku cintai,” lanjut Dandy. “Kamu tetep Zinnia yang sama. Perempuan yang bikin aku jatuh cinta sejak awal. Nggak ada kejadian itu yang bisa mengubah gimana aku lihat kamu.”
Zinnia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia ingin memercayai Dandy. Sebagian dirinya bahkan ingin mengangguk, menerima uluran tangannya, lalu membiarkan pria itu memeluknya seperti dahulu.
Namun, ada satu hal yang belum ia katakan kepada siapa pun. Ia masih ingin mencari pria dari pantai itu.
Ia ingin mengetahui siapa nama lengkapnya, di mana ia tinggal, dan mengapa malam itu harus terjadi kepadanya. Ia ingin mendengar sendiri penjelasan pria tersebut, meskipun ia belum tahu apakah pertemuan itu akan memberinya jawaban atau justru membuka luka yang lebih dalam.
Dan ia ingin melakukannya sendiri. Bukan karena ia tidak percaya Dandy mencintainya, melainkan karena ia tidak ingin pria itu ikut menanggung akibat dari sesuatu yang bukan kesalahannya.
Zinnia menurunkan tangannya, lalu menatap Dandy dengan mata sembap.
Hubungan kita cukup sampai di sini.
Wajah Dandy berubah. “Apa?”
...🔸🔸🔸...
...“Terkadang, kita menjauh dari orang yang paling mencintai kita bukan karena perasaan itu telah hilang, melainkan karena kita takut luka kita akan menghancurkan kebahagiaannya. Namun, melindungi seseorang dengan memutuskan segalanya untuknya belum tentu menjadi bentuk kasih sayang yang terbaik.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar