Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mata Santi langsung berkaca-kaca melihat kebaikan hati tetangganya tersebut.
"Ya ampun Bu Yanti repot-repot sekali, saya jadi tidak enak menerimanya," tolak Santi halus meskipun perutnya sangat melilit.
"Tidak repot sama sekali Bu, anggap saja ini rezeki dari Tuhan, ayo diterima," paksa Bu Yanti menaruh rantang itu di tangan Santi.
Santi akhirnya menerima makanan itu dengan tangan bergetar menahan haru.
"Terima kasih banyak Bu Yanti, semoga rezeki Ibu selalu dilancarkan," doa Santi tulus dari lubuk hatinya.
"Amin Bu, oh ya Bu Santi kebetulan saya ke sini juga mau menawarkan sesuatu," kata Bu Yanti menurunkan suaranya sedikit.
"Menawarkan apa Bu? Kalau Ibu mau pinjam uang saya sedang tidak ada pegangan sama sekali," jawab Santi jujur.
"Bukan pinjam uang Bu, justru saya mau menawarkan pekerjaan kalau Ibu mau," ralat Bu Yanti tersenyum.
Santi langsung menegakkan kepalanya mendengar kata pekerjaan.
"Pekerjaan apa Bu Yanti? Saya mau kerjakan apa saja asalkan halal buat makan sehari-hari," jawab Santi cepat dan antusias.
"Begini Bu, keponakan saya itu kan punya usaha katering besar di pusat kota."
"Minggu depan mereka dapat pesanan untuk acara pernikahan anak konglomerat di Hotel Diamond."
Santi mendengarkan dengan saksama tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah pernikahan anak kandungnya sendiri.
"Karena tamu undangannya ribuan orang, mereka kekurangan tenaga cuci piring di bagian dapur belakang."
"Kerjanya memang kasar Bu, cuci piring dari pagi sampai tengah malam di dapur hotel."
"Tapi gajinya lumayan besar Bu, satu hari bisa dapat tiga ratus ribu ditambah boleh bawa pulang makanan sisa pesta."
Mata Santi langsung berbinar cerah seolah melihat oase di tengah padang pasir.
Uang tiga ratus ribu sangat berharga baginya untuk bisa memulai kembali usaha mi ayamnya.
"Saya mau Bu Yanti! Cuci piring puluhan ribu pun saya sanggup asalkan bisa dapat uang itu," jawab Santi tanpa ragu sedikitpun.
"Ibu yakin kakinya kuat berdiri lama? Saya takut kaki Ibu tambah parah nanti," ragu Bu Yanti melihat tongkat penyangga Santi.
"Kuat Bu Yanti, kaki saya ini sudah terbiasa diajak susah sejak dulu, Ibu tenang saja," yakinkan Santi memukul pelan paha kirinya.
Bu Yanti akhirnya tersenyum lega mendengar semangat pantang menyerah dari Santi.
"Syukurlah kalau begitu Bu, besok pagi saya antar Ibu ke tempat katering keponakan saya ya."
"Ibu siap-siap saja dan bawa baju ganti karena pasti nanti basah kuyup di dapur."
"Iya Bu Yanti, saya akan siap dari subuh, sekali lagi terima kasih banyak Bu," ucap Santi berulang kali.
Setelah Bu Yanti pulang ke rumahnya, Santi masuk ke dalam dan membuka rantang makanan itu.
Aroma sedap sayur lodeh langsung menguar membuat air liurnya menetes.
Santi makan dengan sangat lahap sendirian di dalam rumah petak yang sepi itu.
"Rizky, kamu di luar kota sudah makan belum nak? Semoga bosmu memberikan makanan yang enak di sana," batin Santi mendoakan anaknya.
Dia sama sekali tidak menaruh curiga pada anak yang sangat dia banggakan tersebut.
Santi bertekad akan bekerja keras di acara pernikahan itu agar bisa mengumpulkan uang lagi.
Sementara itu jalanan ibu kota sedang macet parah akibat jam pulang kantor.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap tampak membelah kemacetan dengan tenang.
Di kursi penumpang belakang, Rio Dirgantara duduk dengan menyilangkan kakinya.
Dia memegang sebuah tablet canggih yang menampilkan berbagai dokumen rahasia milik Grup Makmur.
Nadia duduk di kursi depan tepat di sebelah sopir sambil terus melaporkan perkembangan terbaru.
"Tuan Rio, kami sudah meretas database keluarga Wijaya seperti yang Anda perintahkan."
"Grup Makmur memang sedang mengalami krisis keuangan internal karena salah investasi proyek di luar negeri."
Rio tersenyum sinis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Seperti dugaanku, Tuan Wijaya hanya menjadikan pernikahan ini sebagai kedok untuk menarik simpati investor."
"Dia pikir dengan memamerkan kekayaan di Hotel Diamond, orang-orang akan buta dengan kebangkrutannya," ejek Rio tajam.
"Tapi Tuan, ada satu hal yang aneh dari penyelidikan kami," potong Nadia menoleh ke belakang menatap bosnya.
Rio mengangkat wajahnya dan menatap Nadia dengan sebelah alis terangkat.
"Apa yang aneh? Jelaskan padaku sekarang," perintah Rio singkat.
"Kami tidak bisa menemukan satupun data keluarga dari pihak mempelai pria yang bernama Rizky itu."
"Keluarga Wijaya sepertinya sengaja memalsukan latar belakang Rizky sebagai anak tunggal dari pengusaha batu bara di Kalimantan."
"Bahkan semua dokumen persyaratannya di kantor catatan sipil juga terlihat baru saja dibuat ulang bulan lalu," jelas Nadia panjang lebar.
Rio terdiam mendengar laporan asistennya tersebut.
Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sandaran tangan mobil dengan ritme yang lambat.
"Memalsukan identitas ya? Ini semakin menarik," gumam Rio menyeringai penuh misteri.
"Jika pria itu memang adik kandungku, kenapa dia sampai harus memalsukan identitas orang tuanya?"
"Apakah dia malu memiliki ibu yang hanya seorang penjual mi ayam pinggir jalan?"
Memikirkan kemungkinan itu membuat rahang Rio mengeras menahan emosi yang tiba-tiba mendidih.
Dia sangat menyayangi ibunya dan tidak akan memaafkan siapapun yang berani merendahkan wanita itu.
Bahkan jika orang itu adalah adik kandungnya sendiri yang sudah lama berpisah.
"Nadia, pastikan tim intelijen kita terus memantau pergerakan calon mempelai pria itu dari jarak jauh."
"Aku ingin tahu ke mana saja dia pergi dan dengan siapa saja dia bertemu minggu ini," perintah Rio dengan nada mutlak.
"Baik Tuan Rio, laporannya akan masuk ke meja Anda setiap dua jam sekali," patuh Nadia mencatat arahan bosnya.
Rio kembali menatap ke luar jendela mobil melihat gemerlap lampu kota Jakarta yang mulai menyala.
"Siapkan juga kado pernikahan paling berkesan dari Grup Sentosa untuk keluarga Wijaya."
"Aku ingin kado itu menjadi mimpi buruk terindah yang akan mengakhiri semua sandiwara mereka," perintah Rio dengan suara dingin yang menusuk tulang.
Nadia hanya bisa mengangguk patuh meskipun bulu kuduknya sedikit merinding mendengar rencana bosnya.
"Tentu Tuan, kado tersebut akan siap sebelum hari pernikahan tiba," jawab Nadia mantap.
Rio menyandarkan kepalanya di kursi kulit yang empuk dan memejamkan matanya perlahan.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, bayangan masa lalu kembali berputar seperti kaset rusak.
Bayangan saat dia jatuh tersungkur di tengah jalanan yang basah karena hujan.
Bayangan wajah ibunya yang menangis memohon pada dokter untuk mengambil jantungnya.
Dan senyum polos adiknya saat meniup lilin di atas kue ulang tahun yang sangat kecil.
"Aku akan segera kembali Ibu, kali ini tidak ada satu orang pun yang berani membuatmu menangis lagi," janji Rio dalam hati.
Mobil mewah itu terus melaju membelah malam menuju kediaman utama keluarga Sentosa.
Takdir yang kejam sedang mengatur pertemuannya dengan adik kandungnya di sebuah tempat yang penuh dengan kemunafikan.
Pernikahan mewah di Hotel Diamond akan menjadi saksi bisu kembalinya sang penguasa bisnis yang kehilangan keluarganya.