Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu-malu
Sesampainya di rumah, Reynan langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang. Namun bukannya beristirahat, tangannya justru sibuk meraih ponsel, jarinya cepat mengetik pesan untuk Haruna. Senyum tak henti terukir di wajahnya, sebuah ekspresi yang jarang sekali muncul dari pemuda yang selama ini dikenal begitu dingin dan tertutup.
"Sayang, udah sampai kamar?" tulisnya, jempolnya berhenti sejenak menatap kata sayang yang baru saja ia ketik. Sebuah panggilan baru yang terasa begitu pas untuk menggantikan nama Haruna.
Balasan datang tak lama kemudian, membuat senyum Reynan semakin melebar. Ia terus membalas setiap pesan dengan antusias, sesekali terkekeh sendiri membaca candaan yang dikirim Haruna. Begitu tenggelam dalam percakapan itu hingga tak menyadari pintu kamarnya perlahan terbuka.
"Lagi chattingan sama siapa, sih, sampai senyum-senyum kayak orang kesetrum begitu?" suara Larasati tiba-tiba terdengar dari belakang, nada bicaranya penuh godaan.
Reynan tersentak kaget, buru-buru menyembunyikan ponselnya di balik bantal. Namun terlambat... wajahnya sudah keburu memerah, sesuatu yang belum pernah dilihat Larasati sepanjang hidup putranya itu.
"Nggak... nggak ada apa-apa, Ma," jawab Reynan gugup, mencoba mengatur ekspresi wajahnya kembali normal. Namun kegugupan itu justru semakin kentara.
Larasati mendekat, duduk di tepi ranjang dengan senyum jahil yang semakin lebar. "Jangan bohong sama Mama. Dari tadi Mama perhatiin, mukanya merah, senyum-senyum sendiri. Ini pasti soal cewek, kan?"
"Ma..." Reynan semakin salah tingkah, sesuatu yang begitu asing baginya yang biasa tampil begitu tenang dan terkontrol di hadapan siapa pun.
"Jadi bener, kamu udah punya pacar?" tanya Larasati langsung, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Sudah lama sekali ia menantikan momen seperti ini.
Reynan terdiam sejenak, wajahnya semakin memerah. Namun akhirnya ia mengangguk pelan, tak sanggup lagi menyembunyikan kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadanya. "Iya, Ma. Baru jadian tadi sore."
"Ya ampun, akhirnya!" seru Larasati gembira, menepuk pelan lengan putranya. "Coba cerita, siapa namanya? Orangnya kayak gimana?"
Dengan mata berbinar dan senyum yang tak henti terkembang, Reynan mulai bercerita, suaranya begitu antusias menggambarkan sosok Haruna. Mulai dari pertemuan pertama mereka di taman kampus, kecantikan alami yang begitu memukau, hingga kepribadiannya yang tulus dan penuh ketegaran.
"Namanya Haruna, Ma. Dia itu... beda banget dari cewek-cewek lain yang pernah aku temuin. Dia baik banget, tulus, terus dia juga pinter banget," jelas Reynan, matanya berbinar setiap kali menyebut nama itu. "Pas pertama kali ketemu, langsung ada perasaan aneh yang nggak pernah aku rasain sebelumnya, Ma."
Mendengar cerita penuh semangat itu, Larasati mengusap lembut puncak kepala putranya, matanya menyiratkan haru yang mendalam. "Anak Mama udah gede ya, sekarang. Udah bisa jatuh cinta."
"Mama nggak marahkan, kalau Reynan pacaran?" tanya Reynan, sedikit ragu meski hatinya berharap mendapat restu.
Larasati menggeleng lembut. "Kenapa harus marah? Justru Mama seneng banget lihat kamu bahagia kayak gini."
Mendapat jawaban itu, Reynan merasa perlu untuk jujur sepenuhnya. Tak ingin menyembunyikan apa pun dari ibunya yang selama ini selalu menjadi sosok paling ia percaya. "Ma, tapi Reynan harus jujur. Kondisi fisik Haruna itu... nggak sempurna. Kakinya beda dari orang lain, jadi jalannya agak tertatih."
Ia menatap wajah ibunya dengan cemas, menunggu reaksi yang mungkin akan berubah setelah mendengar kenyataan itu. Namun Larasati sama sekali tak menunjukkan perubahan ekspresi, senyumnya tetap hangat seperti sebelumnya.
"Terus kenapa?" tanya Larasati santai, seolah hal itu bukanlah masalah besar. "Yang penting dia baik, dan kamu bahagia sama dia. Itu udah lebih dari cukup buat Mama."
Mendengar penerimaan tulus itu, dada Reynan dipenuhi rasa haru yang begitu besar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk ibunya erat-erat.
Sesuatu yang jarang sekali ia lakukan mengingat sifatnya yang begitu dingin di hadapan orang lain. Namun di balik topeng dingin itu, hanya kepada Larasati, Reynan selalu menunjukkan sisi manja yang tersembunyi.
"Makasih, Ma," bisiknya lirih, tenggelam dalam pelukan hangat sang ibu.
Namun setelah beberapa saat, Larasati melepaskan pelukan itu, wajahnya berubah sedikit serius. "Reynan, tapi ada satu hal yang harus kamu inget. Buat sementara, jangan dulu kasih tahu Papa soal ini."
Kening Reynan mengerut heran. "Kenapa, Ma?"
Larasati menghela napas panjang sebelum menjawab. "Kamu tahu sendiri kan gimana pemikiran Papa. Dia orangnya kolot banget soal jodoh, Nak. Buat dia, calon istri kamu harus lulus bibit, bebet, bobot. Harus dari keluarga terpandang, setara sama status keluarga kita. Papa pasti nggak akan setuju kalau tahu kondisi Haruna."
Mendengar penjelasan itu, rahang Reynan mengeras. Amarah mulai menjalar dalam dadanya. "Reynan nggak peduli sama semua itu, Ma. Reynan cuma mau sama Haruna, titik."
"Mama ngerti perasaan kamu, Nak," Larasati mencoba menenangkan, menggenggam tangan putranya lembut. "Makanya buat sekarang, biarin ini jadi rahasia kita berdua dulu. Fokus aja kuliah, biar hubungan kamu sama Haruna jadi penyemangat, bukan malah jadi masalah yang bikin runyam semuanya."
"Reynan pasti semangat, Ma," jawab Reynan mantap, "apalagi Haruna itu pinter banget. Dia pernah menang olimpiade matematika tingkat provinsi loh, Ma."
Mendengar itu, mata Larasati langsung membelalak, ingatannya melayang pada sebuah berita yang pernah ia baca di ponselnya beberapa waktu lalu. "Tunggu, jangan-jangan yang kamu maksud itu... gadis yang viral itu? Yang ceritanya jadi headline karena prestasinya meski punya keterbatasan fisik?"
"Iya, Ma! Itu Haruna!" seru Reynan bersemangat, terkejut ibunya ternyata sudah pernah mendengar tentang kekasihnya.
"Ya ampun, pantesan aja kamu bisa jatuh cinta sama dia," Larasati tersenyum lebar, "Mama inget banget waktu itu, ceritanya bener-bener menginspirasi. Anak itu memang luar biasa."
Mendengar pujian tulus itu, kebahagiaan Reynan semakin meluap. Meski ia tahu akan ada tantangan besar di masa depan, erutama dari sang ayah yang begitu keras kepala.
Setidaknya kini ia sudah mengantongi restu dari orang yang selama ini menjadi tempatnya berlindung, sosok yang selalu memahami hatinya lebih dari siapa pun.
---
Jauh di tempat lain, suasana yang jauh berbeda tengah terjadi di kamar asrama Vania. Ia sedang berbaring di ranjangnya, masih menyimpan amarah dan kekecewaan mendalam atas kejadian sore itu.
Tiba-tiba seorang teman sekamarnya bergegas masuk dengan wajah panik.
"Vania, di luar ada orangtua kamu. Kelihatannya marah banget," bisik temannya itu.
Jantung Vania langsung berdegup kencang. Dengan langkah gontai, ia melangkah keluar menuju lobi asrama. Dan begitu pintu terbuka, sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipinya, membuat tubuhnya terhuyung ke samping.
"Kamu ini bener-bener bikin malu keluarga!" bentak ayahnya, wajahnya memerah menahan amarah yang luar biasa. "Kasus kamu nyuri atribut orang udah sampai ke telinga Papa! Kamu pikir Papa nggak malu punya anak kayak kamu!"
Vania berdiri terpaku, pipinya masih terasa perih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun ia menahan sekuat tenaga agar tak jatuh di hadapan kedua orangtuanya.
"Sejak kecil, kamu itu cuma bikin masalah terus!" ibunya ikut menimpali dengan nada tak kalah marah. "Nilai jelek, bikin onar di sekolah, sekarang malah nyuri! Kapan kamu bisa bikin Papa sama Mama bangga, sih!"
Kata-kata itu menghantam hati Vania begitu dalam, membuka kembali luka lama yang telah lama ia pendam sejak kecil.
Sebagai anak tunggal, ia tumbuh dalam kesendirian, dikelilingi kemewahan namun kekurangan perhatian. Kedua orangtuanya yang selalu sibuk dengan bisnis dan urusan pekerjaan, jarang sekali meluangkan waktu untuknya, bahkan sekadar untuk makan malam bersama.
Setiap kejahilan dan kenakalan yang selama ini ia lakukan, sesungguhnya adalah teriakan bisu. Upaya putus asa seorang anak yang hanya ingin mendapatkan perhatian dari kedua orang yang seharusnya paling mencintainya.
"Kalian nggak pernah ada buat aku!" teriak Vania tiba-tiba, meledak untuk pertama kalinya, air matanya kini tumpah tak terbendung. "Dari kecil, aku selalu sendirian! Kalian sibuk kerja terus, nggak pernah peduli sama aku! Aku bikin masalah karena aku cuma pengen kalian lihat aku, cuma pengen kalian perhatiin aku, walau cuma sebentar!"
Kedua orangtua itu terdiam sejenak, terkejut mendengar luapan emosi yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Namun kemarahan yang sudah terlanjur memuncak membuat mereka tak sanggup meresapi makna di balik teriakan putri mereka.
"Berani-beraninya kamu ngelawan orangtua sendiri!" bentak ayahnya lagi, amarahnya justru semakin membara mendengar perlawanan itu.
Vania menatap kedua orangtuanya dengan pandangan penuh kekecewaan yang begitu mendalam, hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik, berlari secepat mungkin menjauh dari kedua orang yang seharusnya menjadi tempat pulang paling hangat baginya. Namun kini hanya menyisakan luka yang semakin dalam, menerobos masuk ke dalam gedung asrama sambil terisak keras, meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berdiri terpaku di lobi. Tak sepenuhnya menyadari betapa dalam luka yang telah mereka torehkan pada jiwa putri mereka sendiri.
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,