Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Aluna membantu Romeo berpindah perlahan dari tepi ranjang ke atas kursi roda, memposisikan pijakan kaki kakaknya dengan penuh kehati-hatian. Saat ia mendorong kursi roda itu keluar dari Ruang Melati, sosok Suster Maya sudah berdiri di dekat meja perawat dengan senyuman hangat seperti biasanya.
"Suster Maya," panggil Aluna seraya menghentikan dorongan kursi rodanya. "Kami pamit pulang, ya. Terima kasih banyak atas semua bantuan dan kesabaran Suster merawat Kak Romeo selama di sini."
Suster Maya melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk menyapa Romeo sebelum mengusap bahu Aluna penuh kasih sayang. "Sama-sama, Dek Aluna. Ini sudah jadi tugas saya. Senang sekali melihat Mas Romeo bisa pulih secepat ini. Ingat ya, di rumah nanti latihannya tetap dilanjutkan pelan-pelan."
"Pasti, Suster," balas Romeo tersenyum tulus dari kursi rodanya. Pria itu lalu mendongak, menatap adiknya lembut. "Na, bisa tolong bawakan tas pakaian Kakak ke mobil duluan? Kakak mau di sini sebentar, menghirup udara luar."
"Iya, Kak. Aluna taruh tasnya di bagasi dulu, ya," jawab Aluna tanpa rasa curiga, bergegas berjalan lebih dulu menyusuri koridor membawa tas pakaian.
Begitu Aluna sudah cukup jauh dari jangkauan pendengaran, Romeo memutar roda kursi rodanya sedikit menghadap Suster Maya. Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pribadinya.
"Suster Maya... boleh saya minta nomor kontak Suster?" tanya Romeo sedikit sungkan. "Selama dua minggu ini Suster sudah sangat baik merawat saya. Nanti kalau kondisi saya sudah benar-benar pulih dan ada rezeki, saya ingin membalas kebaikan Suster."
Suster Maya terkekeh pelan, sedikit terkejut namun menyambutnya dengan ramah. "Aduh, Mas Romeo tidak perlu repot-repot begitu. Tapi boleh, ini nomor saya. Kalau nanti ada kendala saat latihan fisioterapi di rumah, Mas Romeo bisa hubungi saya kapan saja."
Dengan cekatan, Romeo menyimpan nomor telepon perawat itu ke dalam daftar kuncinya. "Terima kasih banyak, Suster Maya."
"Sama-sama, Mas Romeo. Hati-hati di jalan, ya."
*
Di dalam sedan mewah serba hitam yang melaju mulus menyusuri jalanan kota, suasana terasa begitu tenang. Romeo duduk di samping jendela, menatap pemandangan luar dengan binar mata yang dipenuhi rasa syukur. Sementara Aluna duduk di sebelahnya, memandangi jemarinya sendiri yang bertautan erat di atas pangkuan.
"Na," panggil Romeo memecah keheningan.
Aluna menoleh, memaksakan senyum tipis di wajah pucatnya. "Iya, Kak?"
"Kakak benar-benar beruntung punya sahabat seperti Hayden," tutur Romeo penuh kagum, senyumnya terkembang lebar. "Karena bantuan Hayden, Kakak bisa menjalani pemulihan dengan baik. Tak hanya itu, dia bahkan menyediakan mobil seaman dan senyaman ini buat antar kita pulang. Zaman sekarang, susah sekali mencari sahabat yang begitu peduli dan tulus seperti dia."
Kata-kata pujian itu bagai sembilu yang menyayat dada Aluna. Rasanya amat menyakitkan mendengar kakaknya mengagungkan sosok pria yang dianggapnya sahabat sejati, padahal pria itu sebenarnya sedang menyandera hidup mereka di balik layar.
"Hayden itu sahabat terbaik Kakak, Na. Tanpa bantuan dan kebaikannya, mungkin Kakak tidak akan pernah punya harapan untuk sembuh lagi," lanjut Romeo, matanya berkaca-kaca menatap adiknya. "Kita berutang banyak sekali padanya."
Aluna hanya bisa terdiam, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia tak sanggup menyahut, apalagi membalas pujian itu. Tenggorokannya terasa begitu tercekik. Dalam hati, Aluna berdoa dengan sangat rapat—berharap Romeo selamanya tidak akan pernah tahu transaksi kelam dan harga mengerikan yang harus ia bayar di balik kebaikan sahabatnya itu.
"Kenapa diam saja, Na? Kamu capek, ya?" tanya Romeo heran melihat adiknya terus membisu.
"Ah... enggak kok, Kak," elak Aluna cepat, menyapu ujung matanya yang mulai basah. "Aluna cuma... kelelahan aja. Aluna senang banget akhirnya Kakak bisa pulang ke rumah."
*
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah sederhana mereka. Sopir pribadi utusan Hayden turun dengan sigap, mengeluarkan kursi roda dari bagasi, lalu membantu Romeo berpindah dan mendorongnya masuk ke dalam rumah bersama barang bawaan mereka dengan sikap sangat sopan dan formal.
Setelah memastikan Romeo beristirahat nyaman di kamar dan meminum obat dari rumah sakit, Aluna mengunci diri di kamar mandi. Ia menyalakan kran air deras-deras, membiarkan gemericiknya meredam tangis ketakutan yang akhirnya pecah tanpa tertahankan lagi.
"Ayah, Ibu... menjadi dewasa tidaklah menyenangkan..." bisik Aluna sesenggukan, membiarkan dinginnya air yang mengucur menyamarkan air matanya.
"Tidak... Semua ini demi Kak Romeo. Sudah cukup Kak Romeo menderita karenaku... Sudah cukuuup..." Aluna mencengkeram tepi wastafel erat-erat, menguatkan hatinya yang hancur. "Dulu Kak Romeo berhenti kuliah dan bekerja keras untuk membiayai kuliahku. Dia berhak bahagia. Akan aku tahan semuanya demi Kak Romeo..."
Jarum jam di dinding terus bergerak tanpa ampun. Pukul tujuh malam lewat lima belas menit.
Aluna mengusap air matanya di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh namun bertekad bulat. Waktunya sudah hampir habis. Dengan napas yang berat, ia mulai bersiap melangkah menuju kawasan perbukitan—mendatangi mansion pribadi milik Hayden untuk menyerahkan seluruh kebebasan hidupnya.
*
*
*
Visual Hayden & Aluna ada di Ig : _misshalalal
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna