NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam sudah sangat larut. Cahaya bulan menyelinap lewat celah tirai kamar, menciptakan bayangan lembut di dinding yang sunyi. Shella duduk di tepi tempat tidur, lampu kamar dimatikan, hanya sisa cahaya dari lampu tidur yang remang-remang. Di tangannya, dua benda tergeletak di atas taplak meja kecil di samping tempat tidur — satu jam tangan mungil berkilau perak, satu kalung berlian kecil yang masih terlihat mengkilap seolah baru saja diletakkan.

Dia menatap keduanya bergantian, matanya berkaca-kaca, tapi air matanya belum jatuh. Sejak pulang dari taman tadi siang, dia sudah seperti ini — duduk, melamun, berdiri melihat ke luar jendela, lalu kembali duduk lagi. Pikirannya berputar tanpa henti, seolah ada dua sisi yang sama kuatnya menariknya ke arah yang berlawanan.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh jam tangan itu perlahan.

"Kamu berharga buat dirawat, Shella. Bukan soal harga makanannya, tapi soal kamu berhak menikmati hal yang kamu suka."

Suara Roxy terdengar begitu jelas di telinganya, seolah dia sedang berdiri di sana sekarang. Tenang, dalam, penuh kepastian. Roxy yang selalu ada saat dia butuh didengarkan, yang tidak pernah mendesak, yang selalu tahu kata yang tepat untuk menenangkan hatinya. Roxy yang bisa memberi apa saja tanpa ragu, yang selalu tampil sempurna, yang seolah tidak pernah punya keraguan atau kekurangan apa pun.

Lalu tangannya beralih ke kalung berlian kecil itu. Jarinya menyentuh permukaan berlian yang dingin dan halus.

"Aku nggak punya uang sebanyak itu, Shella. Aku cuma pegawai administrasi. Gajiku pas-pasan. Tapi aku juga mau kasih kamu sesuatu yang berharga — sesuatu yang aku perjuangkan sendiri dengan tenagaku, dengan usahaku."

Suara Maxy terdengar lebih berat, lebih sederhana, lebih lelah. Dan lebih tulus. Maxy yang bertanding demi sebuah kalung, yang pulang dengan bibir berdarah dan tubuh penuh keringat, yang mengaku tidak mampu tapi tetap berjuang dengan apa yang dia punya. Maxy yang dia temui di taman saat jogging, yang mendengarkan curhatannya di kantin, yang selalu ada di dekatnya tapi seakan selalu merasa tidak cukup.

Shella menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya bergetar pelan.

"Kenapa harus dua orang yang sama-sama baik..." bisiknya pelan, suaranya pecah di keheningan kamar. "Kenapa nggak cuma satu? Kenapa harus bikin aku susah milih?"

Air mata akhirnya jatuh, membasahi punggung tangannya. Dia menyeka dengan kasar, tapi air mata itu terus mengalir.

"Roxy... kamu bikin aku ngerasa seperti putri. Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang, bikin aku ngerasa aman. Tapi... kamu selalu terasa jauh. Kayak kamu sempurna banget, kayak nggak ada celah buat aku masuk lebih dalam. Kayak kalau aku kenal kamu lebih lama, aku bakal nemuin dinding yang nggak bisa aku tembus."

Dia menarik napas panjang, tapi dadanya tetap terasa sesak.

"Dan kamu, Maxy... kamu bikin aku ngerasa nyata. Kamu jujur, kamu sederhana, kamu berjuang. Tapi kenapa kamu selalu ngerasa kurang? Kenapa kamu selalu ngerasa nggak selevel sama aku? Padahal yang kamu lakuin tadi... bertanding, nyakitin diri sendiri cuma buat ngasih aku sesuatu... itu lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeliin dengan uang."

Dia menangis dalam diam, bahunya naik turun menahan isak tangis.

"Kenapa kalian harus beda di tempat yang sama? Kenapa kalau aku deket sama Roxy, aku ngerasa dihargai tapi nggak cukup nyata? Dan kalau aku deket sama Maxy, aku ngerasa nyata tapi aku takut dia ngerasa nggak cukup?"

Dia menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap.

"Orang-orang bilang kalau jatuh cinta itu indah. Kenapa buat aku rasanya kayak harus milih antara dua mimpi? Satu mimpi yang indah tapi jauh, satu mimpi yang nyata tapi penuh keraguan..."

Dia memandang ke arah jendela, di mana cahaya lampu jalan masuk samar-samar.

"Kalau aku pilih Roxy... apakah aku bakal bahagia? Atau aku cuma bahagia sama bayangan kesempurnaan yang nggak nyata? Dan kalau aku pilih Maxy... apakah dia bakal berhenti ngerasa minder? Apakah dia bakal percaya kalau aku milih dia bukan karena nggak ada pilihan lain, tapi karena dia dia?"

Dia tersenyum sedih di tengah air matanya.

"Kalian berdua tuh... sama-sama bikin aku ngerasa berharga. Cuma caranya aja yang beda. Roxy ngasih aku rasa aman dan dihargai. Maxy ngasih aku rasa nyata dan diperjuangin. Dan aku... aku nggak tahu harus milih yang mana. Aku bahkan nggak tahu apakah aku berhak milih salah satu tanpa nyakitin yang lain."

Dia mengambil kalung itu di tangan kirinya, jam tangan di tangan kanannya. Menatap keduanya di cahaya remang.

"Kalau bisa digabung jadi satu... itu bakal jadi orang paling sempurna buat aku. Tapi itu nggak mungkin kan? Orang nggak bisa dibagi dua jadi dua karakter yang beda..."

Dia meletakkan kembali kedua benda itu pelan, seolah takut merusak apa pun yang ada di antara mereka.

"Mungkin aku yang salah. Mungkin aku yang terlalu berharap banyak. Mungkin aku yang harus belajar ngerti kalau nggak semua hal bisa dapet semuanya sekaligus."

Dia memeluk lututnya, menatap lantai yang gelap.

"Aku takut... takut milih salah. Takut nyakitin salah satu. Takut akhirnya nggak dapet siapa-siapa. Dan yang paling aku takutin... takut sebenarnya aku belum ngerti siapa yang bener-bener aku butuhin, bukan cuma yang aku harapin."

Dia menangis lagi, kali ini lebih pelan, lebih dalam.

"Maaf ya... kalau aku bingung. Maaf kalau aku belum bisa kasih jawaban yang pasti. Aku cuma... aku butuh waktu. Tapi aku takut waktunya nggak cukup."

Tiba-tiba di meja samping tempat tidur, ponselnya bergetar pelan. Layarnya menyala, menampilkan pesan masuk. Shella menyeka air matanya, meraih ponsel dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ada dua pesan masuk, hampir berbarengan.

Satu untuk Roxy: "Malam ini aku kepikiran terus. Boleh kita ketemu sebentar besok? Aku butuh cerita."

Satu untuk Maxy: "Lukanya udah diobatin belum? Jangan lupa istirahat ya. Makasih lagi buat hari ini."

Shella menatap layar lama sekali, jari-jarinya melayang di atas tombol balasan tanpa tahu harus mengetik apa.

Dan di saat yang sama, di tempat lain, di ruangan yang gelap dan sunyi, Maxy sedang menatap pesan yang sama — sebagai pengirim, bukan penerima. Dia menunggu, menatap layar ponselnya, lalu notifikasi sistem muncul di udara di depannya, bukan naik atau turun drastis, melainkan angka yang menahan — seolah mencerminkan keraguan yang sama.

DING!

METRIK KEDEKATAN

Hubungan dengan Maxy: 25% (Stagnan)

Hubungan dengan Roxy: 25% (Stagnan)

Catatan: Perasaan Shella terbagi seimbang. Tidak ada yang naik, tidak ada yang turun. Dia belum siap bergerak ke salah satu arah. Ini bukan kemenangan, bukan kekalahan. Ini keraguan yang paling berbahaya.

Maxy menatap angka yang sama persis di kedua sisi. Dua puluh lima persen. Sama rata. Sama berat. Seimbang, seperti hati Shella yang belum bisa memihak.

Dan di kamar yang gelap itu, Shella akhirnya mengetik balasan untuk keduanya, dengan jari yang masih sedikit gemetar.

"Oke, besok kita ketemu."

Dia mengirim pesan itu ke dua nama yang berbeda. Lalu meletakkan ponsel, menarik selimut sampai ke dada, dan memejamkan mata — berharap besok akan lebih jelas, padahal jauh di lubuk hatinya, dia tahu besok justru akan semakin rumit.

Karena dia akan bertemu keduanya. Di hari yang sama. Dan tidak ada yang tahu bahwa mereka adalah orang yang sama.

Pintu kebenaran belum terbuka, tapi pintu ke masalah yang lebih besar baru saja terbuka lebar.

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!