Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Lin Yuxin menatap bayangannya sendiri di permukaan baskom tembaga yang dibawakan pelayan lain untuk membasuh wajahnya. Wajah yang sama muda, belum ada bekas cambukan di pelipis yang baru akan muncul bertahun-tahun kemudian. Tapi matanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang tidak dimiliki gadis lugu yang dulu pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Chen.
"Nona, biar saya bantu merapikan rambut Anda untuk upacara nanti," kata Xiao Yan, suaranya masih canggung, belum akrab. Wajar mereka baru saja bertemu hari ini, meski bagi Yuxin, gadis ini sudah seperti saudara yang hilang dan kembali.
Yuxin menahan diri untuk tidak menggenggam tangan Xiao Yan terlalu erat. "Terima kasih," ucapnya pelan, lalu menambahkan, hampir tak sadar, "Jangan pernah jauh dariku, ya?"
Xiao Yan mengerjap, sedikit bingung dengan permintaan aneh dari nona besar yang baru dikenalnya. "Tentu, Nona. Itu tugas saya."
Bukan hanya tugas, batin Yuxin. Kali ini, aku yang akan melindungimu.
Setelah selesai bersiap Yuxin dan Xio yan segera bergegas me unu aula utama.
Aula utama keluarga Lin dipenuhi ukiran kayu cendana dan aroma dupa. Di meja altar leluhur, sebuah papan nama baru telah disiapkan, nama lamanya, "Chen Yuxin", akan digantikan nama yang seharusnya sejak awal Lin Yuxin, dan di tambahkan di catatan keluarga.
Lin Boqing berdiri di depan altar, wajahnya berwibawa namun matanya menyimpan kelelahan yang dalam. Di sampingnya, Nyonya Su menatap Yuxin dengan pandangan yang sulit diartikan bukan kasih sayang sepenuhnya, tapi juga bukan kebencian. Sekadar penasaran yang berhati-hati, seperti seseorang yang diminta menyayangi orang asing hanya karena garis darah.
Yuxin ingat persis bagaimana tatapan itu akan berubah, bertahun-tahun dari sekarang, menjadi tatapan penuh kecewa dan tak percaya di hari eksekusinya. Tapi sekarang, di sinilah dia berada, di titik nol, sebelum semua kehancuran itu dimulai.
Yuxin yang dulu, saat melakukan upacara pergantian nama bersikap takut-takut, selalu menundukan kepala dan akan selalu merespon orang lain yang menatapnya dengan terkejut dan kecemasan. Mungkin karena terlalu banyak di bentak dari kecil dan di intimidasi keluarga Chen atas semua sikapnya yang selalu di anggap salah, membuatnya jadi gadis pemalu dan tidak percaya diri. Tapi kali ini, dia bukan Yuxin yang dulu. Ia tahu cara bersikap dan terlihat begitu tenang dan anggun.
Upacara berlangsung khidmat. Dupa dinyalakan, doa leluhur dipanjatkan, dan papan nama lama dibakar perlahan di hadapan seluruh keluarga.
Lalu setelahnya terdengar isak tangis. Chen Ruoxi berlutut di sudut ruangan, wajahnya basah air mata, tubuhnya bergetar.
"Ayah... Ibu..." suaranya tercekat, "Aku tahu aku bukan anak kandung kalian yang sesungguhnya. Tapi bertahun-tahun ini, aku sudah menganggap kalian sebagai orang tuaku sendiri. Aku... aku tidak ingin pergi meninggalkan kediaman ini. Aku tidak ingin kehilangan kalian semua."
Seluruh ruangan terdiam. Yuxin merasakan sesuatu yang dingin merayapi tulang punggungnya bukan keterkejutan, karena dia sudah tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi kewaspadaan yang tajam, seperti pemburu yang mendengar derap kaki mangsanya sendiri.
Nyonya Su bergegas menghampiri Chen Ruoxi, memeluknya erat. "Anakku, jangan bicara seperti itu. Kau sudah tinggal bersama kami sejak bayi... kau tetap anak kami, apapun yang terjadi." Dia menoleh ke arah Lin Boqing, matanya memohon. "Bukan begitu, Suamiku?"
Lin Boqing terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ruoxi tetap bagian dari keluarga ini. Kita tidak menukar satu anak dengan yang lain... kita hanya menambah satu anak lagi."
Kata-kata itu menghantam Yuxin lebih keras daripada tamparan manapun yang pernah dia terima di rumah keluarga Chen.
Menambah anak, batinnya. Meskipun ia sudah mendengar di kehidupan nya yang terdahulu, tetap saja terdengar lucu di telinganya.
Begitu mudahnya mereka mengatakannya, seolah kehadiran Chen Ruoxi di rumah ini, gadis yang kelak akan menjadi dalang kematiannya, hanyalah sebuah anugerah tambahan, bukan ancaman yang mengintai.
Dari balik pelukan Nyonya Su, sekilas mata Chen Ruoxi menatap Yuxin. Hanya sepersekian detik. Tapi Yuxin menangkapnya dengan jelas, kilat kemenangan yang tersembunyi rapi di balik air mata buaya itu.
Sudah kuduga, batin Yuxin, rahangnya mengeras meski wajahnya tetap tenang. Kau tidak pernah benar-benar sedih, Chen Ruoxi. Kau hanya takut kehilangan panggungmu.
Dia membungkuk hormat ke arah orang tuanya, memilih kata-kata yang dulu tak pernah berani dia ucapkan dengan lancar.
"Ayah, Ibu. Saya bersyukur bisa kembali ke keluarga ini. Saya juga senang jika Nona Ruoxi tetap tinggal bersama kita." Suaranya terdengar tulus, topeng yang sudah dia latih, belajar dari sikap licik Ruoxi di kehidupan yang lalu.
Nyonya Su tampak lega mendengarnya. "Yuxin benar-benar berhati lapang," ucapnya, menatap Chen Ruoxi dengan bangga, seolah keputusannya baru saja dibenarkan.
Dari sudut ruangan, Lin Zhaoyi, kakak kandung Yuxin menatap kedua gadis itu bergantian, alisnya sedikit berkerut, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak terucap di antara mereka berdua. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya tidak sepenuhnya percaya pada air mata Chen Ruoxi.
Yuxin berkata dalam hatinya. 'Kakak selalu punya insting yang tajam. Mungkin, kali ini, tapi sayangnya Ruoxi lebih licik dari siapapun'
Setelah upacara selesai dan tamu-tamu mulai membubarkan diri, Xiao Yan mendekat, wajahnya sedikit khawatir. "Nona, apakah Nona Ruoxi selalu... seperti itu?"
Yuxin menatap kepergian Chen Ruoxi yang masih digandeng mesra oleh Nyonya Su, rahangnya mengeras.
"Kau akan segera tahu, Xiao Yan," jawabnya pelan. "Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkannya berbuat sesuka hatinya."
mendengar itu Xio Yan, mengerutkan keningnya karena tidak paham kenapa Nona nya seolah sudah tahu sikap Ruoxi.