DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: USAPAN DI DINDING LUAR
Sinar matahari sore hari Jumat tanggal tiga belas Oktober membias keemasan menimpa dinding teras depan.
Suara burung gereja yang berkicau riuh di dahan pohon mangga tua terdengar makin terang di udara sore.
Lampu teras depan belum kumatikan saat suara deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar berhenti di halaman.
Bripka Haryono turun dari sepeda motor dinas bersama seorang anggota penyidik Polsek memegang koper sampel besi.
Pak RT dan Pak Wo melangkah mendampingi dua petugas kepolisian tersebut menyusuri halaman teras rumah kami.
Aku segera membukakan pintu pagar besi depan untuk menyambut kedatangan petugas Polsek dan pengurus warga.
"Selamat sore, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras.
"Selamat sore, Pak Bripka, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak lenggah teng teras rumiyin, Pak," sambutku mengarahkan ke kursi rotan.
"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Tadi siang Pak Wo melintas di koridor luar dan melaporkan ada temuan usapan tanah merah baru nggih?" tanya Bripka Haryono.
"Inggih, Pak Bripka. Pak Wo tadi siang pas lewat di koridor luar melihat usapan tanah merah basah yang masih baru di dinding semen luar pekarangan sebelah," terangku.
"Mari kita periksa lokasi dinding luar pekarangan itu bersama-sama sekarang, Pak Bripka," ajak Pak Wo.
Bripka Haryono, petugas penyidik, Pak RT, dan Pak Wo berjalan menuju koridor samping luar pekarangan rumah sebelah.
Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, berjalan perlahan di ubin semen koridor samping rumah kami.
Petugas penyidik Polsek mendekati dinding semen luar pekarangan batas rumah sebelah yang terletak dua meter dari terali selokan.
Di permukaan plester semen yang agak kasar, segores usapan tanah merah basah membentang selebar telapak tangan.
Usapan tanah merah itu berwarna pekat, membiaskan kilau lembap yang belum mengering sepenuhnya kena angin sore.
Petugas penyidik berjongkok, mengarahkan kamera pengukur ke dinding semen luar pekarangan.
Clek! Clek!
Lampu kilat kamera penyidik menyala dua kali, mengabadikan tekstur tanah merah basah yang menempel tebal di semen.
Petugas penyidik mengikis sampel tanah merah tersebut menggunakan kuret stainless steel ke dalam wadah plastik.
"Noda tanah merah di dinding semen niki teksturnya masih basah dan agak lengket," terang petugas penyidik.
"Warna merah pekat dan kandungan butiran pasir kasar pada usapan niki serupa persis sama tekstur tanah merah di area galian batu tua," tambah penyidik.
"Apakah usapan niki menunjukkan ada bagian tubuh atau benda basah yang sempat menempel di dinding, Pak?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Tekanan noda niki membentang vertikal sepanjang telapak tangan, seolah ada permukaan kaku berkerak tanah merah basah yang sempat menyapu plester semen," jawab penyidik.
Bripka Haryono mencatat penjelasan teknis petugas penyidik ke dalam lembar formulir olah TKP kepolisian.
Garis raut wajah Bripka Haryono tampak makin serius di bawah sinar matahari sore yang kian miring.
"Hasil sampel usapan niki bakal langsung kami bawa ke laboratorium Polsek sore niki buat analisis lanjutan," kata Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget atas pemeriksaan cepat dari tim Polsek, Pak Bripka," balasku lega.
"Lalu pripun perkembangan penyisiran tim gabungan di area galian batu tua sore niki, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kabar.
"Tim gabungan Polsek, Polres, dan warga perhutani sore niki sudah menyisir seluruh dasar galian batu tua," terang Bripka Haryono.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekatku seketika menahan napas mendengar penjelasan resmi Bripka Haryono.
"Apakah tim penyisiran menemukan keberadaan Rian atau karung goni di dasar galian batu itu, Pak Bripka?" tanya Dini.
"Mboten ada di dasar galian batu, Mbak Dini. Tapi tim penyisiran menemukan beberapa jejak pijakan kaki berkerak tanah merah baru yang mengarah ke tebing atas," jawab Bripka Haryono.
"Jejak pijakan kaki berkerak tanah merah di tebing atas itu mengarah masuk semakin jauh ke jalur hutan pinus perbatasan lereng bukit," tambah Bripka Haryono.
"Berarti pergerakan Rian makin terdesak naik ke area hutan pinus nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Tim penyisiran sekarang mendirikan pos pantau di celah tebing batu buat mengurung jalur atas," jawab Bripka Haryono.
"Kami juga minta warga Linmas gang tetap siaga menjaga lingkungan selama pos ronda malam berjalan," pesan Bripka Haryono.
"Pasti, Pak Bripka. Kulo dan anggota Linmas siap bersiaga penuh keliling gang malam niki," sahut Pak Wo mantap.
"Matur nuwun sanget atas kerja keras Bripka Haryono dan seluruh tim kepolisian," ucapku mengangguk hormat.
Bripka Haryono dan petugas penyidik merapikan koper peralatan sampel, lalu berjalan menuju kendaraan dinas di depan.
Bunyi klip besi koper penyidik terkatup rapat di udara sore yang kian temaram.
Pak RT dan Pak Wo mengantar keberangkatan dua petugas kepolisian tersebut hingga ke pintu pagar besi depan.
Deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar menjauh, meninggalkan keheningan sore di halaman rumah kami.
Aku memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh setelah mengantar kepulangan pengurus warga.
Pukul lima sore lewat empat puluh menit, hawa dingin khas lereng gunung mulai turun menyelimuti perkampungan.
Langit senja membiaskan warna jingga keunguan di atas atap genteng rumah-rumah warga gang.
Aroma asap kayu bakar dari dapur warga sekitar berembus tipis menyatu bersama tiupan angin malam.
Dini dan Ranti membantuku merapikan meja makan ruang tengah untuk makan malam keluarga sederhana.
Mangkuk porselen berisi sayur bening bayam hangat dan tahu goreng tersaji di atas meja kayu.
Uap gurih sayur bening bayam menguap halus di udara, membawa suasana kehangatan di dalam rumah.
Dini menyendokkan nasi hangat dan sayur bayam ke piringku dengan gerakan lembut dan sangat telaten.
Ranti menata cangkir teh hangat di sebelah piring nasi, lalu mendudukkan diri di bangku kayu.
"Bu... kalau polisi sudah pasang pos pantau di tebing batu, Rian mboten bakal bisa turun nggih?" bisik Ranti.
"Iya, Ran. Petugas polisi dan warga perhutani menjaga ketat jalur tebing batu di atas bukit," jawabku menenangkan.
"Syukurlah... Pak Wo dan warga Linmas juga keliling ronda malam nggih, Bu," ujar Dini menyendok nasi.
"Inggih, Din. Pengamanan warga gang kita malam niki pancen sangat ketat, teratur, dan tanggap," balasku mengusap bahunya.
"Ibu merasa jauh lebih tenang karena polisi dan Linmas bekerja cepat menangani usapan tanah tadi," tambahku.
"Inggih, Bu. Ranti juga merasa lebih aman kalau banyak warga yang keliling ronda di gang," sahut Ranti tersenum.
Kami bertiga menikmati makan malam bersama dalam ketenangan meja makan keluarga kami.
Pukul delapan malam lewat seperempat, suasana jalan gang depan rumah kami terdengar cukup ramai.
Suara langkah kaki warga Linmas dan ketukan kentungan kayu ronda malam terdengar teratur di kejauhan.
Tung... tung... tung...
Bunyi kentungan kayu ronda malam itu bergema halus, menandai kesiapsiagaan warga menjaga lingkungan gang.
Aku, Dini, dan Ranti duduk tenang di sofa ruang tengah sembari mendengarkan ketukan kentungan luar.
Lampu ruang tengah dan koridor samping kubiarkan menyala terang untuk menerangi setiap sudut rumah.
Pukul sembilan malam lewat sepuluh menit, suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu teras depan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tangan di daun pintu kayu depan membuat kami bertiga berdiri dari sofa kayu.
Aku melangkah mendekati pintu depan tanpa menggeser kunci selot besi bagian atas.
"Sinten teng luar?" tanyaku penuh kewaspadaan dari balik daun pintu kayu yang tertutup rapat.
"Kulo, Bu Sari... Pak RT bersama Pak Wo," sahut suara Pak RT dengan nada tenang dari luar teras.
Aku menghela napas lega, segera memutar anak kunci kuningan dan menggeser selot besi dua kali.
Kreeek...
Daun pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan Pak RT dan Pak Wo yang berdiri rapi di teras depan.
Pak Wo mengenakan seragam linmas cokelat tua, memegang lampu senter besar di tangan kirinya.
Pak RT membawa lembar papan jepit catatan ronda warga di bawah sinar lampu teras yang terang.
"Selamat malam, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku ramah membukakan pintu.
"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Kami cuma mampir sebentar mau menyampaikan kabar perkembangan ronda," ujar Pak RT.
Pak RT dan Pak Wo mendudukkan diri di kursi rotan teras depan rumah kami.
Dini keluar membawa dua gelas air teh hangat, meletakkannya perlahan di atas meja kayu teras.
"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ucap Pak Wo tersenyum tipis menerima gelas dari Dini.
"Pak RT, wonten kabar baru dari tim penyisiran bukit malam niki nggih?" tanyaku mengejar informasi.
"Inggih, Bu Sari. Tadi pukul delapan malam Bripka Haryono memberi kabar lewat telepon ke pos ronda," terang Pak RT.
"Petugas pos pantau di tebing batu menemukan barang bukti baru di dekat celah galian batu tua," ungkap Pak RT.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekat pintu teras seketika menyimak dengan cermat penjelasan Pak RT.
"Barang bukti apa yang berhasil ditemukan petugas pos pantau di celah tebing batu galian tua itu, Pak RT?" tanya Dini penasaran.
"Petugas menemukan tali karet hitam bekas pengikat karung goni dan potongan kain goni bernoda tanah merah," jawab Pak RT.
"Tali karet hitam bekas pengikat karung goni itu bernoda tanah merah basah yang permukaannya serupa persis sama sampel tanah di cangkir kita," tambah Pak RT.
"Berarti Rian memang sempat berhenti di celah tebing batu itu sebelum masuk ke hutan pinus nggih, Pak RT?" tanya Pak Wo.
"Inggih, Pak Wo. Bripka Haryono memastikan penyisiran gabungan bakal berlanjut besok pagi di area lereng hutan pinus," jawab Pak RT.
Aku mengangguk-angguk pelan, mencerna informasi resmi kepolisian yang disampaikan Pak RT di teras depan.
Kejelasan bukti tali karet hitam di tebing batu membuat arah penyisiran kepolisian semakin pasti.
"Matur nuwun sanget atas informasi resminya, Pak RT. Kami merasa tenang mendengar perkembangan niki," sahutku.
"Sami-sami, Bu Sari. Kami warga Linmas bakal terus keliling menjaga gang sampai fajar," pesan Pak Wo mantap.
"Pasti, Pak Wo. Tolong kalau ada hal mencurigakan langsung beri tahu kami nggih," balasku mengangguk.
Pak RT dan Pak Wo berpamitan, lalu melangkah keluar menyusuri jalan gang yang diterangi lampu ronda.
Aku dan Dini segera masuk ke dalam ruang tengah, memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh.
Pukul sepuluh malam lewat dua puluh menit, hawa dingin malam makin pekat menembus celah ventilasi.
Aku, Dini, dan Ranti bersiap untuk tidur di kamar tidur utama demi menjaga keselamatan bersama.
Ganjal kursi kayu jati dipasang kencang di belakang pintu kamar utama setelah kunci kuningan diputar dua kali.
Di atas tempat tidur kamar utama, Dini dan Ranti berbaring merapat di bawah selimut tebal.
Suara langkah kaki warga Linmas yang sesekali melintas di jalan gang luar memberikan rasa aman.
"Bu... kalau tali karet pengikat goni sudah ditemukan di tebing batu, Rian pasti mboten bisa sembunyi lama di hutan nggih?" bisik Ranti.
"Iya, Ran. Besok pagi tim polisi bakal menyisir hutan pinus bersama warga perhutani," jawabku pelan.
"Ibu bangga sama kalian berdua yang selalu tenang dan saling menguatkan," tambahku memegang tangan mereka.
"Inggih, Bu. Kami di rumah juga bakal tetap disiplin mengunci seluruh pintu rapat-rapat," janji Dini.
Kami bertiga membaca doa bersama dalam bisikan lembut sebelum memejamkan mata di kamar tidur utama.
Keheningan malam Jumat menyelimuti perkampungan gang kami dengan hawa dingin lereng gunung yang tenang.
Cahaya fajar hari Sabtu tanggal empat belas Oktober membias perlahan menembus kaca jendela kamar.
Suara burung gereja berkicau riuh di dahan pohon mangga tua, menyambut pagi hangat yang damai.
Pukul enam pagi, aku memutar anak kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju koridor samping.
Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, memandangi pintu samping yang masih tertutup ganjal kayu jati.
Ganjal kayu jati tebal di bawah pintu samping masih tertancap kokoh dan terkunci selot dari dalam.
Aku mendekati jendela kayu koridor samping, mengintip melalui celah kaca ke arah terali selokan luar.
Garis kuning pita pengaman Polsek masih terikat kencang di tiang besi selokan koridor luar.
Di dasar terali selokan besi luar, sekerak tanah merah basah yang mengering kaku tersangkut di kawat segel.
Kerak tanah merah itu berukuran sebesar ibu jari, membiaskan serpihan pasir kasar yang mengering di kawat.
"Bu... coba lihat di kawat segel selokan luar itu! Ada sekerak tanah merah basah yang mengering kaku tersangkut kencang di kawat segel!" bisik Dini menunjuk.
"Inggih, Din. Kerak tanah merah itu tersangkut kencang di kawat segel selokan luar," sahutku menatap cermat.
Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, memandangi kerak tanah merah di kawat segel.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.
---