Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.
Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.
Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.
Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.
Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Tuan Rumah yang Baik
Takeo
Aku berusaha sekuat tenaga tiba di rumah tepat waktu makan malam. Isamu mengikutiku dari dekat, tapi begitu melewati pintu rumah, aku ingin langsung kembali ke kasino.
Perempuan-perempuan Lombardi itu berisik.
Aku masih di aula depan dan sudah mendengar suara, tawa, dan perdebatan riuh. Isamu tersenyum miring.
"Namanya juga keluarga."
Begitu kami masuk ruang tamu, keheningan menguasai ruangan.
Semua mata tertuju padaku.
Stella tersenyum dengan sarkasme yang menjengkelkan.
"Kami menunggumu untuk makan malam, suamiku."
Aku mengangkat sebelah alis.
"Baik sekali."
Kurasakan tatapan waspada mereka semua, tapi saat menatap Luna aku menyadari perbedaan kedua kembar itu.
Dia menunduk nyaris seketika, menghindari kontak mata apa pun.
Menarik.
Secara fisik mereka nyaris identik, tapi kemiripan itu berhenti di sana.
Stella itu api. Dia perempuan yang sanggup membakar seisi ruangan hanya dengan satu tatapan menantang. Dia melawan siapa pun tanpa ragu.
Luna...
Luna seperti burung ketakutan.
Rapuh.
Lembut.
Lemah.
Sesaat aku bertanya-tanya bagaimana dua perempuan dengan wajah sama bisa membawa jiwa yang begitu berbeda.
"Semoga perjalanan kalian tidak terlalu melelahkan. Senang menyambut kalian di sini."
Yang pertama bicara adalah istri presiden Italia. Senyum halus melengkung di bibirnya, tapi tak sampai ke matanya.
"Syukurlah... Karena kami akan lebih sering datang, Kumicho."
Tawa pelan lolos dari tenggorokanku.
Ibu negara itu berlidah tajam. Dia mengingatkanku pada Stella. Jenis perempuan yang sama, yang menghadapi lawan terang-terangan, tanpa menunduk atau menimbang akibat kata-katanya sendiri.
Menarik...
Mungkin kunjungan ini akan lebih seru daripada yang kukira.
"Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kalian."
Kata-kataku sopan, tapi suasana di sekitar meja tetap tegang. Senyum saling dipertukarkan, tapi tak seorang pun menurunkan kewaspadaan.
Fiorela, perempuan yang dulu pernah kusuruh culik, memecah keheningan.
"Ayahku titip salam. Dia juga mengirim sekotak anggur Italia untuk Anda."
Kumiringkan kepala sedikit.
"Sampaikan terima kasihku kepada Don Salvatore atas kebaikannya."
Sebelum topik itu mati, Bella, istri presiden Italia, mengangkat gelas dengan sorot menantang di matanya.
"Untuk persatuan kita, Kumicho. Semoga Anda menyukainya. Kami membawa salah satu anggur terbaik Italia."
Kuangkat gelasku tanpa melepas pandangan darinya.
"Kalau begitu, menolaknya adalah penghinaan."
Kuteguk anggur itu pelan. Rasanya halus, seimbang, layak dengan reputasi yang mendahuluinya.
Kuturunkan gelas dan kuizinkan diriku tersenyum samar.
"Pilihan bagus. Terima kasih atas hadiah dan bersulangnya."
Isamu melempar pandangan curiga pada gelas anggur di tanganku. Aku mengenal tatapan itu. Cukup satu gerakan kepala kecil untuk menenangkannya.
Tidak.
Perempuan-perempuan ini tak akan sebodoh itu mencoba meracuniku di rumahku sendiri. Itu deklarasi perang, dan mereka tahu itu.
Kuangkat gelas lagi ke bibir dan meneguk satu tegukan lagi, tanpa memalingkan mata dari para tamuku.
Sesaat, keheningan menguasai meja. Senyum sopan menyembunyikan niat berbahaya. Tak seorang pun di sini memercayai siapa pun.
Dan anehnya... aku menyukai persis seperti itu.
Para perempuan mulai bicara lagi, semuanya sekaligus, mengubah ruang tamu jadi kekacauan suara. Kupejamkan mata sesaat dan menarik napas dalam, menahan jengkel.
Keheningan benar-benar kemewahan langka.
Pandanganku bergeser ke Isamu.
Dia terlalu lama memandangi si kembar yang lebih lemah, Luna.
Itu mengusikku lebih dari yang seharusnya.
Isamu tidak mudah terdistraksi. Tidak pernah. Namun hanya dengan kehadiran perempuan itu, matanya terus mencarinya.
Setelah makan malam usai, kutaruh tangan di meja dan berdiri.
"Permisi. Aku perlu membicarakan sesuatu dengan Isamu di ruang kerja."
Kulemparkan pandangan pada para tamu.
"Anggaplah rumah sendiri. Silakan santai."
Tanpa menunggu jawaban, aku berjalan ke ruang kerja. Kudengar langkah Isamu di belakangku. Begitu pintu tertutup, keheningan akhirnya kembali berkuasa.
"Jangan lihat adik Stella lagi."
Dia mengangkat sebelah alis, senyum geli muncul di bibirnya.
"Dia manis, Takeo. Cukup satu tatapan dan seluruh wajahnya memerah."
Kusilangkan tangan.
"Justru karena itu, jaga jarak."
Isamu tertawa, sama sekali tak tampak gentar.
Tatapanku mengeras.
"Dia bukan bagian dari rencana kita. Aku tak mau ada gangguan selama perempuan-perempuan Lombardi berada di bawah atap ini."
Senyumnya meredup, meski kilau geli tetap ada di matanya.
"Mengerti, Kumicho."
Kupertahankan pandangan padanya beberapa detik lagi. Aku cukup mengenal Isamu untuk tahu kapan dia hanya mengiyakan... dan kapan dia benar-benar berniat membangkang.