Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 14
Di dalam unit apartemen nomor lima, Emma sedang menyiapkan keperluan kedua adiknya sebelum berangkat sekolah.
Seperti biasa Emma bangun lebih dulu. Ia bergegas menyegarkan tubuhnya lalu bersiap sebelum berangkat bekerja. Perempuan itu kemudian menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sarapan pagi kali ini cukup sederhana : roti tawar panggang dengan olesan selai kacang ditemani susu hangat. Emma membuatnya sebanyak sembilan.
Kedua adiknya yang sudah mandiri, tampak rapi dengan seragam sekolah. Mereka berjalan keluar kamar menuju meja makan.
Emma dan adiknya langsung menikmati menu sarapan pagi ini. Masing-masing akan dapat tiga roti tawar panggang.
"Kakak nanti sore, pulang ?" tanya Luna sambil mengunyah roti.
"Tidak, kakak lanjut kerja. Kalian jangan nakal ya di rumah Tuan dan Nyonya Smith," jawab Emma.
"Iya kak," jawab Luna.
"Ngomong-ngomong kakak tidak lelah seharian kerja. Pagi kerja sampai sore. Sorenya pulang masih kerja lagi," sahut Ryan.
Emma menelan roti yang telah dikunyah. Lalu ia dengan lembut memberikan pengertian pada Ryan. "Kakak sudah terbiasa. Kalau kakak tidak bekerja, kita tidak bisa tinggal disini," ucapnya.
"Kan ada Tuan sama Nyonya Smith. Mereka baik sama kita," jawab Ryan polos.
"Kita sudah banyak merepotkan mereka. Mereka memang baik, tapi kakak tidak mau hanya mengandalkan bantuan mereka," kata Emma.
"Tapi kenapa—"
Belum selesai Ryan menjawab, tiba-tiba mulutnya ditutup oleh tangan kecil Luna. "Sudah, sudah, Ryan. Jangan banyak tanya. Biarin saja kakak kerja," ucap Luna dengan kesal.
"Aku hanya—"
Sekali lagi Luna langsung membungkam mulut Ryan. Seakan ia sudah muak mendengar Ryan yang sejak tadi bicara. "Sudah Ryan !" ucap Luna.
Mereka berdua pun saling membalas ditangah sarapan pagi yang belum selesai.
"Ehh, sudah. Tidak perlu bertengkar. Sekarang selesaikan sarapannya dan kita berangkat." Emma langsung melerai kedua adiknya.
Luna dan Ryan akhirnya mampu menyelesaikan sarapan dengan tenang. Walaupun, sesekali ada lirikan pertanda masih ada dendam yang belum terbalaskan.
"Sekarang ambil tas kalian dan kita berangkat," ucap Emma sambil membereskan gelas dan piring diatas meja makan. Luna dan Ryan pun bergegas menuju kamar.
"Ryan," seru Emma saat melihat adik laki-lakinya menyenggol dengan sengaja Luna, hingga terjatuh di depan kamar. "Jangan mulai. Luna biarin saja. Sekarang ambil tas kamu," lanjutnya.
Sarapan pagi, masih menyisakan empat roti panggang selai kacang di atas meja. Emma pun memindahkannya ke kotak bekal kedua adiknya, masing-masing mendapat dua.
"Ini bawa bekal kalian," kata Emma. "Jangan lupa dimakan," lanjutnya.
"Bekal makan siang tidak ada kak ?" tanya Ryan sambil memasukkan kotak bekal ke tasnya.
"Disekolahkan sudah dapat makan siang," jawab Emma.
"Tapi aku bosan kak. Makan siang dari sekolah menunya itu-itu aja," kata Ryan.
Luna terlihat kesal dengan sikap sudara kandunganya itu. "Sudahlah Ryan. Sekarang ayo berangkat," ucapnya sambil menarik tangan Ryan dan berjalan bersama menuju pintu.
Emma tersenyum melihat tingkah laku kedua adiknya. Memang selama ini Luna terlihat lebih paham daripada Ryan yang sedikit nakal dan terkadang susah diatur.
Setelah Emma mengunci pintu, mereka bertiga lalu berjalan ke lantai bawah. Seperti kedua adiknya, Emma juga menggendong tas ransel yang terisi rompi kurir dan topi serta seragam pramusaji yang akan ia gunakan bekerja sore nanti.
Emma, Luna dan Ryan sedang menunggu bus di halte. Tidak lama kemudian, bus sekolah berhenti disana.
"Kalian jangan nakal ya di sekolah," ucap Emma.
"Iya kak," jawab kedua adiknya hampir bersamaan. Mereka bergegas masuk kedalam bus.
Emma menatap bus sekolah yang sudah melaju cukup jauh. Tidak berselang berapa lama, sebuah bus berhenti, saat pintu otomatis terbuka perempuan itu segera masuk.
...----------------...
Kesibukan sebelum jam delapan di toko pizza, Emma sedang menata pizza yang sudah selesai dibuat di meja samping dapur. Ia pastikan lima belas kotak pizza yang harus diantarkan sesuai dengan pesanan.
Lima menit sebelum pukul delapan, Emma mulai memindahkan pizza ke dalam delivery box. Tidak butuh lama untuk melakukannya dan tidak terasa sudah pukul delapan pas.
Pak Hudson yang pagi ini meninjau dapur melihat ada yang janggal. Ia tidak menemukan Dave. Sejak tadi batang hidungnya belum terlihat. Ia lalu mendekat ke Emma.
"Emma, mana Dave ?" tanya Pak Hudson.
"Saya belum lihat sejak tadi," ucap Emma sambil menutup delivery box. "Saya tadi berangkat juga tidak bersamanya," lanjutnya.
"Sepertinya anak itu masih tidur," jawab Pak Hudson. Ia lalu mengambil ponsel di saku celananya untuk menelpon keponakannya.
Nada dengung sambungan panggilan terdengar, namun tak ada jawaban dari Dave. Pak Hudson menelponnya sekali lagi, hasilnya sama, panggilannya diabaikan.
"Emma sepertinya kamu pagi ini harus repot sedikit," ujar Pak Hudson. "Sebelum mengantarkan pizza, kambali dulu ke apartemen, jemput Dave."
"Saya harus jemput Dave, Pak Hudson ?" kata Emma. Ia tak menyangka harus kembali ke apartemen hanya untuk menjemput pria tersombong. "Tapi Pak Hudson, saya butuh waktu lima belas menit untuk kembali ke apartemen. Tentunya pengantaran pizza ini akan terlambat," lanjutnya.
"Coba kamu cek. Apakah ada rute yang melewati dekat apartemenmu ?"
Emma dengan cermat melihat ponsel pengantaran. "Ada, Pak Hudson," jawabnya dengan semangat yang telah berkurang.
"Kalau begitu kamu tidak masalahkan mampir sejenak ke apartemen ?"
Emma sebenarnya ingin menolak, tapi ia bingung dengan alasannya. "Oke, Pak Hudson. Nanti saya akan jemput Dave," jawabnya pasrah.
"Terima kasih ya Emma," kata Pak Hudson. "Nanti saya akan berikan bonus untukmu," lanjutnya. Ia lalu berlalu pergi."
Emma mulai menyalakan skuter dan melaju meninggalkan toko pizza. Untuk pertama kalinya, ia memilih rute pengantaran sendiri. Ia mulai mengantar pizza yang dekat dengan apartemannya, padahal rute itu adalah rute pengantaran terakhir.
"Dave benar-benar merepotkan," gumam Emma sambil fokus berkendara.
Pagi ini ia sudah di sambut dengan kejadian Dave yang belum berangkat bekerja. Belum juga Emma memulai aktivitasnya, tapi rasanya energinya telah terkuras. Apakah ini pertanda hari ini akan banyak mendapat ujian dari Dave ?. Ia berharap semoga aja hari ini berjalan lancar dan Dave—pria paling sombong—tidak membuatnya semakin repot.
Begitu sampai di depan gedung apartemen. Emma memarkirkan skuternya di depan lobi. Tepat saat itu, Nyonya Smith keluar apartemen. Perempuan paruh baya itu menyapa sejenak dirinya.
"Selamat pagi juga, Nyonya Smith," jawab Emma ramah.
"Ada pengantaran pizza ya kesini."
"Eeeh...iya Nyonya Smith," jawab Emma gugup.
"Saya berharap pekerjaanmu lancar dan jangan lupa hati-hati dijalan," ucap Nyonya Smith diakhiri dengan senyuman. Setelah itu, ia melangkah pergi.
"Terima kasih, Nyonya Smith," jawab Emma. Menyadari waktunya sedikit terbuang, ia bergegas masuk, menapaki satu persatu lantai tangga dan berjalan menyusuri koridor yang sepi dilantau dua hingga sampai depan kamar unit tiga.