NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di taman

Beberapa saat setelah hikari bangun dari dari tempat tidur, hikari segera menganti bajunya dan kemudian dia keluar kamar menuruni anak tangga, suara langkahnya begitu tenang.

Bi sumi yang melihat hikari sudah keluar dari kamarnya pun langsung bertanya "non, mau makan?"

Hikari segera melihat ke arah bi sumi, hikari pun menjawab dengannya singkat "engga bi"

"non mau keluar lagi" ucap bi sumi karna setiap jam 17.30 hikari akan keluar, saat dia mulai pindah ke sini

Hikari mengganguk sembari tersenyum "iya bi, aku mau keluar cari makan"

Bi sumi tidak terlalu banyak bertanya pada hikari karna hikari memang punya kebiasaan pergi sore-sore lalu pulang agak malam. Bi sumi mengikuti hikari keluar untuk melihatnya "non, jangan malem-malem ya pulang nya"

Hikari tersenyum kecil kepada Bi Sumi sembari mengeluarkan sepeda yang biasa ia gunakan untuk bepergian. Namun, sebelum benar-benar menaiki sepedanya, Hikari tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia tanyakan kepada Bi Sumi, tetapi baru sekarang ia teringat kembali.

"bi, bibi inget gak orang yang kerja sama keluarga aku, yang di bawa mama keluar negeri" ucap hikari penasaran. sembari memegang setang sepdanya.

Bi Sumi yang sebelumnya hendak kembali masuk ke dalam rumah segera menghentikan langkahnya. Wanita paruh baya itu kemudian menoleh dengan wajah ramah, seperti biasanya ketika sedang berbicara dengan Hikari.

Bi sumi tidak langsung menjawab dia diam sejenak untuk berpikir, saat dia mulai ingat dia segera menjawab pertanyaan hikari "oh iya, bibi inget. Kenapa non nanya dia"

Hikari menjawab "engga, aku cuman tiba-tiba inget sama dia. Bibi tau dia ada di mana" ucap hikari kembali melontarkan pertanyaan pada bi sumi

Bi sumi langsung menjawab "dia kan masih kerja di keluarga kamu di luar negeri"

Hikari terdiam sejenak "oh iya, dia masih kerja karna papa yang nyuruh" ucap hikari yang kembali tentang orang yang di anggap nya teman meskipun dia pekerja di rumah nya dulu saat diluar negri hikari cukup dekat dengan orang itu.

Bi sumi terdiam karna memang sudah agak lama hikari tidak bertanya tentang nya, bi sumi pikir hikari kesepian jadi dia mengingat perempuan itu "kenapa non gak telpon aja, siapa tau dia masih make nomer yang sama"

Hikari mengganguk lalu segera menaiki sepedanya "nanti aku coba. Kalo gitu aku pergi dulu ya" hikari segera mengayuh sepedanya sembari melambaikan tangan pada bi sumi. Bi sumi membalasnya sembari tersenyum.

Setelah berpamitan kepada Bi Sumi, Hikari mulai mengayuh perlahan meninggalkan halaman rumah. Udara sore yang terasa cukup sejuk membuatnya sedikit menikmati perjalanan. Sesekali angin berembus menerpa wajahnya, menggerakkan beberapa helai rambut yang tidak terikat dengan rapi.

Hikari memang sudah terbiasa keluar rumah setiap sore sejak pertama kali pindah ke lingkungan tersebut. Bukan karena ada sesuatu yang harus dilakukannya, melainkan karena ia merasa lebih nyaman menghabiskan waktu di luar rumah daripada terus-menerus berada di dalam kamar.

Biasanya, ia akan berkeliling sebentar untuk mencari makanan yang sedang diinginkannya, kemudian singgah ke beberapa tempat yang menarik perhatiannya. Terkadang ia juga hanya mengayuh sepeda tanpa tujuan tertentu sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Meskipun belum terlalu lama tinggal di sana, Hikari sudah mulai mengenali beberapa jalan yang sering dilewatinya. Ia bahkan sudah mengetahui letak minimarket, supermarket, dan beberapa tempat makan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perumahan.

Sore itu, Hikari memutuskan untuk mencari makanan terlebih dahulu sebelum kembali berkeliling. Sejak bangun tidur tadi, perutnya memang sudah terasa sedikit lapar. Namun, ia sedang tidak ingin makan di rumah sehingga memilih mencari sesuatu yang berbeda di luar.

Setelah beberapa menit mengayuh sepeda, Hikari akhirnya sampai di sebuah kawasan yang cukup ramai dengan berbagai tempat makan. Ia memperlambat laju sepedanya sembari memperhatikan beberapa kedai yang berada di sepanjang jalan.

Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, Hikari akhirnya menemukan tempat makan yang menurutnya cukup menarik. Ia segera memarkirkan sepedanya di tempat yang sudah disediakan, kemudian masuk untuk memesan makanan.

Suasana di dalam kedai tersebut tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka, sementara beberapa pegawai terlihat sibuk menyiapkan pesanan.

Hikari memilih duduk di salah satu meja dekat jendela setelah memesan makanan yang diinginkannya. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa pemberitahuan yang masuk. Namun, tidak ada sesuatu yang benar-benar menarik perhatiannya.

Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Dari tempat duduknya, Hikari bisa melihat kendaraan yang berlalu-lalang serta beberapa orang yang berjalan di sepanjang trotoar. Suasana seperti itu sebenarnya cukup menyenangkan baginya. Tidak terlalu sepi, tetapi juga tidak membuatnya merasa terganggu.

Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesannya akhirnya datang. Hikari segera menyantap makanannya dengan tenang tanpa terlalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Setelah selesai makan dan membayar pesanannya, Hikari kembali keluar dari kedai tersebut. Langit yang sebelumnya masih terlihat cukup terang kini mulai berubah warna. Cahaya matahari perlahan meredup, menandakan bahwa sore akan segera berganti malam.

Namun, Hikari belum berniat langsung pulang.

Ia masih ingin menikmati perjalanan sebentar sebelum kembali ke rumah. Apalagi udara sore itu terasa cukup nyaman, membuatnya tidak terburu-buru untuk mengakhiri kegiatan kecil yang sudah menjadi kebiasaannya.

Hikari kembali menaiki sepeda dan melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan yang mulai dipenuhi cahaya lampu kendaraan.

Di tengah perjalanan, ia sempat berhenti di sebuah supermarket yang cukup besar. Awalnya Hikari hanya ingin membeli beberapa makanan ringan untuk disimpan di kamar, tetapi ketika melewati bagian makanan beku, pandangannya tertuju pada berbagai pilihan es krim yang tersusun di dalam lemari pendingin.

Hikari memperhatikan beberapa pilihan rasa yang tersedia sebelum akhirnya mengambil satu es krim yang menurutnya paling menarik.

Setelah membeli beberapa makanan ringan dan es krim tersebut, ia segera keluar dari minimarket dengan membawa kantong belanja kecil.

Hikari memasukkan makanan ringan yang dibelinya ke dalam keranjang sepeda, sementara es krimnya tetap ia pegang karena ingin dimakan dalam perjalanan pulang.

Ia kemudian berjalan sebentar sambil menuntun sepedanya, menikmati es krim yang baru saja dibeli. Sesekali Hikari memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.

Tidak terasa, hari mulai semakin gelap.

Lampu-lampu jalan sudah menyala, sementara beberapa toko mulai terlihat lebih terang karena cahaya lampu dari dalam bangunan. Hikari memperhatikan langit yang kini hampir kehilangan warna jingganya.

Menyadari bahwa waktu sudah semakin sore, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.

Setelah memastikan kantong belanjaannya tersimpan dengan baik, Hikari kembali menaiki sepeda. Ia mengayuh dengan santai, tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat.

Jalanan yang dilaluinya kali ini tidak seramai sebelumnya. Semakin mendekati kawasan perumahan, jumlah kendaraan yang melintas mulai berkurang. Suara bising dari pusat keramaian perlahan tergantikan oleh suasana lingkungan yang lebih tenang.

Hikari masih menikmati es krim yang berada di tangannya. Sesekali ia memperlambat laju sepeda agar bisa menikmatinya dengan nyaman.

Perjalanan pulang sebenarnya tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Namun, karena Hikari sengaja mengayuh sepedanya dengan santai, waktu yang dihabiskannya menjadi sedikit lebih panjang.

Ketika hampir sampai di kawasan perumahan, Hikari melewati sebuah taman kecil yang berada tidak jauh dari jalan utama.

Taman tersebut bukanlah tempat yang asing baginya.

Sejak pertama kali pindah ke sana, Hikari sudah cukup sering melihat taman itu setiap kali keluar menggunakan sepeda. Ukurannya memang tidak terlalu luas, tetapi terlihat cukup terawat. Beberapa pohon tumbuh di sekelilingnya, sementara bangku-bangku taman ditempatkan di sepanjang jalan setapak yang membelah area tersebut.

Pada sore hari, taman itu biasanya cukup ramai oleh anak-anak yang bermain ataupun warga sekitar yang sekadar berjalan santai. Namun, ketika hari mulai gelap, suasananya perlahan menjadi lebih sepi.

Hikari awalnya hanya berniat melewati taman tersebut seperti biasa.

Akan tetapi, ketika sepedanya hampir melewati bagian depan taman, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok seseorang yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku.

Laki-laki itu terlihat mengenakan pakaian santai dengan posisi tubuh sedikit bersandar pada bangku. Kepalanya agak menunduk, sementara kedua tangannya berada di dekat pangkuannya.

Hikari tidak langsung memperhatikannya lebih jauh. Namun, setelah beberapa saat, ia merasa bahwa sosok laki-laki tersebut terlihat tidak asing.

Ia kembali menoleh untuk memastikan penglihatannya.

Semakin diperhatikan, Hikari semakin merasa mengenali laki-laki itu. Mulai dari bentuk wajah hingga penampilannya, semuanya mengingatkan Hikari pada seseorang yang pernah ditemuinya di sekolah.

Hikari akhirnya memperlambat laju sepedanya hingga benar-benar berhenti di tepi jalan.

Gadis itu menatap laki-laki yang masih duduk sendirian di taman tersebut dengan sedikit penasaran.

"Keiran?" gumam Hikari pelan.

Ternyata laki-laki itu memang Keiran.

Hikari cukup terkejut melihatnya berada di tempat tersebut, terlebih karena selama ini ia hanya mengenal Keiran melalui lingkungan sekolah. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengannya di sebuah taman kecil yang letaknya cukup dekat dengan perumahan tempat tinggalnya.

Untuk beberapa saat, Hikari hanya berdiri di samping sepedanya sambil memperhatikan Keiran dari kejauhan.

Laki-laki itu tampaknya belum menyadari keberadaannya.

Keiran masih duduk dengan posisi yang sama. Sesekali ia mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan sekitar sebelum kembali menundukkan pandangannya. Dari tempat Hikari berdiri, ekspresi wajahnya tidak terlihat terlalu jelas karena jarak mereka masih cukup jauh.

Hikari sempat berpikir untuk melanjutkan perjalanan pulang. Bagaimanapun, ia tidak mengetahui alasan Keiran berada di sana seorang diri. Bisa saja laki-laki itu memang sedang ingin menikmati suasana taman tanpa diganggu siapa pun.

Namun, setelah mempertimbangkannya sebentar, Hikari justru memutuskan untuk menghampirinya.

Ia turun dari sepeda dan mulai menuntunnya menuju bagian depan taman. Es krim yang dibelinya tadi masih berada di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang setang sepeda.

Langkah Hikari terdengar pelan ketika memasuki jalan setapak taman.

Suasana di sana terasa cukup tenang. Hanya ada beberapa orang yang masih terlihat berjalan di bagian taman lainnya. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak sudah menyala, menerangi beberapa bangku dan tanaman yang berada di sekitarnya.

Semakin mendekat, Hikari bisa melihat Keiran dengan lebih jelas.

Laki-laki itu tampak sedang melamun, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Pandangannya tertuju lurus ke depan tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.

Hikari akhirnya berhenti beberapa langkah dari bangku yang ditempati Keiran.

Ia sempat memperhatikan laki-laki itu sebentar sebelum membuka suara.

"Keiran?"

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!