NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sejak percakapan itu, Mikha berubah menjadi jauh lebih pendiam.

Ia tidak lagi banyak bertanya kepada Pras, apalagi membicarakan hal-hal kecil yang biasanya menjadi bagian dari keseharian mereka. Jika dahulu ia sering menyambut kepulangan suaminya dengan cerita tentang kegiatan di rumah, kini Mikha lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau duduk sendirian di ruang keluarga.

Bahkan, ketika Pras mengajaknya berbicara, ia hanya menjawab seperlunya.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tuduhan. Tidak ada pula pertanyaan-pertanyaan yang membuat Pras merasa terpojok.

Anehnya, justru sikap diam itu membuat Pras merasa tidak nyaman.

Ia lebih terbiasa menghadapi Mikha yang banyak bicara daripada perempuan yang sekarang seolah-olah kehilangan keinginan untuk mengutarakan isi hatinya.

Pagi itu, ketika hendak berangkat bekerja, Pras sempat berhenti di depan meja makan. Mikha duduk di sana sambil mengaduk teh hangat yang sejak tadi belum diminumnya.

"Sayang, kamu mau Mas bawakan sesuatu nanti?"

Mikha menggeleng tanpa mengangkat wajah.

"Enggak usah, Mas."

"Mau makanan kesukaan kamu? Nanti Mas belikan sepulang kerja."

"Enggak perlu. Terima kasih."

Pras terdiam.

Biasanya, Mikha akan menyebutkan beberapa makanan sekaligus, lalu mengingatkannya agar tidak lupa membelikan camilan untuk sore hari. Namun, sekarang perempuan itu bahkan tidak tertarik untuk meliriknya.

"Kamu masih sedih karena percakapan kita kemarin?"

Tangan Mikha berhenti mengaduk teh.

Hanya sesaat.

Setelah itu, ia kembali menggerakkan sendoknya perlahan.

"Enggak, Mas."

Jawaban itu terdengar begitu ringan, tetapi justru membuat Pras semakin gelisah.

"Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, cerita saja sama Mas."

Mikha akhirnya mengangkat wajah. Ia memberikan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Iya."

Hanya itu.

Pras ingin bertanya lebih jauh, tetapi ponselnya berdering. Ada urusan pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Setelah mengusap kepala Mikha sebentar, ia pun berangkat dengan perasaan tidak tenang.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus tertuju pada istrinya.

Pras tahu Mikha sedang tidak baik-baik saja. Ia juga tahu bahwa perubahan sikap itu mungkin ada hubungannya dengan persoalan rumah tangga mereka.

Namun, ia berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya akan kembali normal.

Mikha hanya sedang sensitif. Mungkin ia terlalu banyak berpikir. Atau mungkin ia membutuhkan perhatian lebih darinya.

Pras tidak ingin masalah kecil berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, terutama karena ia tahu kedua orang tua Mikha sangat menyayangi putri mereka.

Jika sampai mereka mengetahui bahwa Mikha terus-menerus bersedih di rumah, Pras pasti akan menjadi orang pertama yang ditegur.

Ayah mertuanya bahkan pernah mengingatkan bahwa Mikha adalah anak yang terbiasa hidup dengan kasih sayang. Pras harus menjaganya, bukan justru membuatnya merasa sendirian dalam pernikahan.

Karena itulah, siang itu Pras beberapa kali mengirim pesan kepada istrinya.

Menanyakan apakah Mikha sudah makan, apakah mualnya kembali datang, dan apakah ia membutuhkan sesuatu.

Sayangnya, semua pesan itu hanya dibalas dengan jawaban singkat.

Sudah.

Tidak.

Enggak ada.

Semakin lama, Pras semakin merasa bahwa ada jarak yang tumbuh di antara mereka.

Dan ia tidak menyukai perasaan itu.

Sore harinya, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Pras sengaja pulang lebih awal.

Ia menemukan Mikha berada di balkon kamar. Perempuan itu duduk di kursi rotan dengan kedua tangan terlipat di atas pangkuan, memandang langit yang mulai berubah jingga.

Angin sore menggerakkan beberapa helai rambutnya.

Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuat dada Pras terasa sesak.

Mikha terlihat begitu sendirian.

Padahal, ia masih memiliki suami. Masih tinggal di rumah yang sama. Masih menjalani kehidupan yang selama ini mereka bangun bersama.

Namun, entah mengapa, perempuan itu seolah-olah sudah berhenti berharap kepada siapa pun.

Pras mendekat, lalu duduk di kursi sebelahnya.

"Lagi mikirin apa?"

Mikha menoleh sebentar.

"Enggak mikirin apa-apa."

"Kalau begitu, kenapa melamun terus?"

"Aku cuma suka duduk di sini."

Pras menghela napas pelan. Ia mengulurkan tangan, berusaha menggenggam tangan istrinya. Mikha tidak menolak, tetapi juga tidak membalas genggaman itu.

"Sayang, kalau Mas ada salah, bilang saja. Jangan diam begini."

Mikha menunduk.

"Aku enggak punya apa-apa untuk dikatakan, Mas."

"Bagaimana mungkin? Biasanya kamu selalu punya banyak cerita."

"Orang bisa berubah, Mas."

Jawaban itu membuat Pras terdiam.

Ia menatap wajah istrinya, mencoba mencari sesuatu yang bisa menjelaskan perubahan tersebut.

"Mas cuma ingin kamu bahagia," katanya kemudian. "Mas enggak suka melihat kamu murung seperti ini."

Mikha tersenyum samar.

"Benarkah?"

Pras mengangguk mantap.

"Tentu saja. Kamu itu istri Mas. Kalau kamu sedih, Mas juga ikut kepikiran."

Mikha kembali memandang langit.

Andai saja ucapan itu benar-benar sejalan dengan perbuatannya.

Andai saja Pras memahami bahwa kesedihannya bukan muncul tanpa alasan.

Namun, Mikha sudah terlalu lelah untuk mengungkapkan semuanya. Ia tidak ingin mengulang pertanyaan yang sama, tidak ingin memohon penjelasan, dan tidak ingin lagi menjadi perempuan yang harus meminta suaminya sendiri untuk memilihnya.

Karena itu, ketika Pras kembali membujuknya agar tidak terus bersedih, Mikha justru teringat sesuatu.

Ia menoleh kepada suaminya.

Kemudian, perlahan, sebuah senyum muncul di wajahnya.

"Mas."

"Hm?"

"Aku butuh banget kendaraan."

Pras mengerjap.

"Kendaraan?"

Mikha mengangguk.

"Iya. Aku butuh mobil."

Untuk beberapa detik, Pras hanya menatapnya tanpa suara. Ia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya salah mendengar.

"Maksud kamu, mobil?"

"Iya, Mas. Mobil."

Mikha mengatakannya dengan nada yang begitu tenang, seolah-olah ia baru saja meminta dibelikan sesuatu yang sederhana.

"Kenapa tiba-tiba minta mobil?"

Mikha mulai menghitung kebutuhannya dengan jari.

"Pertama, aku butuh kendaraan untuk mengantar Mama periksa kalau nanti beliau sakit atau perlu kontrol. Kedua, untuk berkunjung ke rumah Mama aku yang beda kabupaten. Kasihan kalau harus merepotkan orang lain setiap kali aku ingin ke sana."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang masih sama.

"Ketiga, kalau mau pergi ke pasar bersama Bibi, aku juga bisa mengantarnya. Enggak perlu menunggu Mas pulang atau meminta orang lain mengantar."

Pras masih memandangnya dengan wajah tidak percaya.

Mikha bahkan sempat tersenyum kecil sebelum menambahkan, "Lagipula, aku bisa mengemudi dengan lihai, Mas. Jadi, enggak perlu khawatir kalau aku membawa mobil sendiri."

Pras mengusap wajahnya.

Ia sungguh tidak menyangka percakapan mereka akan berakhir seperti ini.

Baru kemarin Mikha meminta gelang mutiara yang harganya tidak murah. Sekarang, perempuan itu meminta mobil pula.

Lebih mengejutkan lagi, dari cara Mikha menyampaikan permintaannya, jelas bahwa ia menginginkan kendaraan tersebut atas namanya sendiri.

"Mikha, kamu serius?"

Mikha mengangguk.

"Serius, Mas."

"Kamu tahu harga mobil sekarang berapa?"

"Tahu."

"Dan kamu tahu kita sudah punya mobil?"

"Tahu juga."

Pras mengembuskan napas panjang.

Satu mobil sudah terdaftar atas nama Mikha. Kendaraan itu selama ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Memang, mobil tersebut tidak selalu tersedia di rumah karena terkadang dipakai untuk urusan tertentu, tetapi menurut Pras, mereka tidak benar-benar membutuhkan mobil tambahan.

Apalagi jika harus membeli kendaraan baru dan kembali mengurus kepemilikannya atas nama Mikha.

"Sayang, menurut Mas, kita belum membutuhkan mobil lagi. Mobil yang sekarang masih bisa kamu gunakan kalau memang diperlukan."

Senyum Mikha perlahan menghilang.

"Oh."

Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya.

Ia kemudian menunduk, memperhatikan kedua tangannya sendiri.

Pras yang melihat perubahan itu langsung merasa tidak enak.

"Mas bukan enggak mau membelikan kamu sesuatu. Tapi kita harus mempertimbangkan kebutuhan, bukan cuma keinginan."

Mikha mengangguk pelan.

"Iya, Mas. Aku mengerti."

Namun, entah mengapa, jawaban itu justru terdengar lebih menyakitkan daripada jika Mikha membantahnya.

Perempuan itu tidak lagi berusaha meyakinkan Pras. Tidak pula menjelaskan mengapa mobil tersebut penting baginya.

Ia hanya diam.

Pras bergeser mendekat.

"Sayang, jangan begitu. Mas cuma ingin kita memikirkan semuanya baik-baik."

Mikha menarik napas panjang, lalu mengangkat wajahnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku tahu, Mas."

Suaranya bergetar.

"Aku tahu itu pasti berat buat kamu."

Pras mengernyit.

"Berat bagaimana?"

Mikha berusaha tersenyum, tetapi bibirnya justru bergetar.

"Karena pada dasarnya, kamu memang enggak ingin melihat aku bahagia."

Pras langsung terdiam.

"Sayang, bukan begitu maksud Mas."

Mikha menggeleng pelan. Air matanya akhirnya jatuh juga.

"Enggak apa-apa. Aku mengerti kok. Aku mungkin memang terlalu banyak meminta."

Ia mengusap pipinya dengan cepat, seolah-olah malu karena telah menangis di hadapan suaminya sendiri.

"Maaf, ya, Mas. Aku enggak bermaksud membuat kamu merasa terbebani."

Pras menatapnya dengan perasaan campur aduk.

Ia tidak pernah melihat Mikha seperti ini. Istrinya yang dahulu selalu mengingatkannya untuk berhemat, yang sering menolak dibelikan barang mahal karena merasa masih memiliki barang yang layak digunakan, kini justru meminta perhiasan dan mobil.

Namun, melihat air mata Mikha, ia tidak tega untuk langsung menyalahkannya.

"Jangan menangis. Mas tidak bilang kamu terlalu banyak meminta."

"Tapi Mas tidak setuju."

"Karena Mas punya pertimbangan sendiri."

Mikha mengangguk sambil menahan isak.

"Iya. Aku tahu."

Ia menunduk lagi.

"Mungkin sebenarnya Mas gak sungguh mencintaiku."

Kalimat itu membuat Pras semakin bingung.

Mikha bukan perempuan yang terbiasa merengek demi mendapatkan sesuatu. Selama ini, ia justru menjadi orang yang paling sering mengingatkannya agar tidak menghamburkan uang untuk hal-hal yang belum diperlukan.

Dan sekarang, perempuan yang sama duduk di hadapannya dengan mata basah, seolah-olah permintaan sederhana darinya telah berubah menjadi sesuatu yang memalukan.

Pras mengulurkan tangan, lalu mengusap pipi Mikha.

"Sudah, jangan menangis. Kita bicarakan lagi nanti, ya?"

Mikha mengangguk kecil. Dalam hati dia tersenyum riang. Akhirnya dia bisa menguras tabungan Pras lagi.

Jika Pras ingin membangun kehidupan bersama Alena, Mikha juga berhak memikirkan kehidupannya sendiri.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!