NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Vivi merasakan hangat menjalar di dadanya. Dulu mereka menikah karena keadaan. Karena kebutuhan. Karena tekanan. Namun malam ini mereka duduk berdampingan bukan karena terpaksa. Melainkan karena memang ingin berada di sana. Vivi menyandarkan kepalanya pelan ke bahu Baskara. Pasrah atas nafkah batin yang akan diterimanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, Vivi merasa bahwa yang tumbuh di antara mereka bukan lagi sekadar rasa hormat atau tanggung jawab. Melainkan sesuatu yang jauh lebih hangat. Sesuatu yang perlahan berubah menjadi cinta.

***

Pagi itu rumah Baskara mengalami sesuatu yang sangat langka. Kekacauan. Dan penyebabnya bukan Saka. Bukan Yuan. Bukan pula Lili. Melainkan dua orang dewasa yang seharusnya menjadi penanggung jawab rumah.

Brak! Brak! Brak! "Ayah!" Brak! "Ayah bangun!" Brak!

"Jam belajar sudah mau mulai!"

"Tapi kami harus sarapan dulu!"

Di dalam kamar, Baskara membuka mata dengan kaget. Beberapa detik ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana.

"Ayah!" teriak Yuan dari luar. "Sean sudah siap belajar dari tadi!"

Baskara langsung duduk. Biasanya ia bangun jauh sebelum anak-anak. Namun karena semalam ia dan Vivi melakukannya untuk pertama kali dan cukup lama. Akibatnya, untuk pertama kali setelah sekian lama, mereka kesiangan. Di sampingnya, Vivi juga terbangun. Namun wajahnya tampak pucat. "Kenapa?" gumam Baskara.

Vivi memegang kepalanya. "Pusing, sakit, panas juga."

Saat itulah Baskara sadar istrinya terlihat jauh lebih lelah daripada biasanya. Ia juga teringat, untuk pertama kali biasanya perempuan memang akan sakit. Apalagi beberapa minggu terakhir ia nyaris tidak pernah benar-benar beristirahat. Mengurus lima anak. Mengatur jadwal homeschooling. Membantu memantau pekerjaan yayasan. Menjadi penengah setiap konflik kecil di rumah. Tubuhnya akhirnya protes. "Kamu istirahat saja."kata Baskara tegas.

"Tapi jadwal anak-anak..."

"Aku yang urus."

Vivi menatapnya ragu. "Yakin?"

"Aku ayah mereka." jawab Baskara. "Aku pernah mengurus mereka sebelum kamu datang."

"Iya sih." gumam Vivi."Walaupun hasilnya kadang meragukan." Baskara melirik tajam. Vivi malah tersenyum.

Baskara buru-buru mandi, lalu salat Subuh yang kesiangan. Sebelum keluar, ia menyiapkan air mandi untuk istrinya, tak lupa bertanya apakah Vivi mau dibantu dimandikan, tetapi jawaban istrinya malah Omelan yang sebenarnya candaan.

Beberapa menit kemudian Baskara keluar kamar. Dan saat itulah ia menyadari satu hal. Ia harus buru-buru menyiapkan sarapan super kilat bersama anak-anak. Lalu Mengurus homeschooling lima anak sendirian ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia ingat. Sean sudah duduk rapi dengan buku-bukunya. Yuan sedang memperdebatkan jadwal pelajaran. Saka berusaha kabur ke halaman belakang. Ella mengaku sakit perut karena tidak ingin belajar matematika. Sedangkan Lili sibuk menyembunyikan pensil semua orang. Rumah langsung berubah menjadi pusat komando darurat. "Saka, kembali ke meja belajar!"

"Tapi aku sedang observasi semut!"

"Observasinya nanti!"

"Ini juga sains!"

Sean sampai menahan tawa. Sementara Yuan mengangkat tangan. "Ayah, kalau metode pembelajaran berbasis proyek diterapkan hari ini, apakah kita tetap wajib mengerjakan modul?"

Baskara memejamkan mata. "Yuan..."

"Ya?"

"Jangan seperti ibumu."

"Yang mana?"

"Tante Vivi." Untuk pertama kalinya pagi itu, semua anak tertawa. Dari dalam kamar, Vivi yang mendengar keributan itu hanya bisa tersenyum. Rupanya selama ini Baskara tidak pernah benar-benar melihat betapa rumitnya pekerjaan yang dilakukan Vivi setiap pagi. Bukan sekadar menjaga anak-anak. Tetapi memastikan lima kepribadian berbeda tetap belajar, berkembang, dan tidak saling membunuh satu sama lain sebelum makan siang.

Beberapa saat kemudian Baskara masuk ke kamar membawa segelas air hangat dan saraoan. Rambutnya sudah sedikit berantakan. Kemejanya bahkan belum dikancing dengan benar. "Aku menyerah." katanya.

Vivi tertawa kecil. "Baru satu jam."

"Bagaimana kamu bisa melakukan ini setiap hari?"

"Karena aku guru." jawab Vivi santai.

Baskara menggeleng pelan. Lalu duduk di sampingnya. "Tidak." katanya jujur. "Karena kamu luar biasa."

Dan untuk pertama kalinya, Vivi membiarkan dirinya berbaring kembali tanpa merasa bersalah. Karena di luar sana, suaminya sedang belajar sesuatu yang baru. Bahwa menjaga sebuah rumah bukan hanya soal mencari nafkah. Tetapi juga tentang pekerjaan-pekerjaan kecil yang sering tidak terlihat, namun membuat sebuah keluarga tetap berjalan setiap hari.

***

Vivi sebenarnya berniat menikmati satu hari penuh istirahat. Satu hari saja. Tidak mengurus jadwal belajar. Tidak memisahkan Yuan dan Saka yang selalu berdebat. Tidak mengecek tugas Sean. Tidak mengejar Ella yang tiba-tiba menghilang saat pelajaran dimulai. Dan tidak mencari-cari Lili yang sering membawa barang-barang penting ke tempat misterius.

Namun rencana itu hanya bertahan beberapa jam. Menjelang siang, pintu kamar terbuka. Baskara muncul. Wajahnya masih gagah. Tetapi ekspresinya sudah seperti orang yang baru pulang dari medan perang.

Vivi yang sedang membaca buku langsung mengangkat alis. "Kenapa?"

Baskara berdiri beberapa detik. Lalu berkata dengan nada serius, "Aku menyerah."

Vivi tertawa. "Lagi?"

"Aku serius."

"Padahal belum sampai dua puluh empat jam."

Baskara mengusap wajah. Dari luar kamar terdengar suara Saka. "Yuan curang!"

"Aku tidak curang!" teriak Yuan membalas.

"Kalian berdua diam!" teriak Sean.

Lalu terdengar suara Ella menangis. Kemudian Lili ikut menangis meski tidak ada yang tahu alasannya.

Baskara memejamkan mata. "Tolong bantu aku."

Kini Vivi benar-benar tertawa. "Bukannya dulu kamu mengurus mereka sendirian? Bukannya kamu sangat ahli? Lalu?"

Baskara terdiam. Karena itu juga yang membuatnya bingung. Dulu ia memang mengurus anak-anak seorang diri setelah istrinya meninggal. Memang berat. Tetapi bisa. Sekarang kenapa rasanya jauh lebih sulit? "Aku juga tidak tahu." gumamnya.

Vivi menatap lelaki itu penuh rasa ingin tahu. "Masa kemampuanmu hilang begitu saja?" Aneh."

Baskara duduk di tepi ranjang. Lalu berpikir cukup lama. Sampai akhirnya sebuah jawaban muncul. Dan membuatnya menghela napas. "Mungkin karena aku terbiasa ada kamu."

Vivi terdiam. "Apa?"

Baskara menatap lantai. Sedikit malu mengakuinya. "Dulu aku harus bisa. Sekarang aku tahu ada orang lain yang bisa melakukannya lebih baik." Baskara tersenyum tipis. "Terlalu percaya."

Vivi tidak langsung menjawab. Karena diam-diam jawaban itu membuat dadanya hangat. Selama ini ia sering merasa pekerjaannya tidak terlihat. Tidak dihargai. Tidak dianggap penting. Namun ternyata tanpa disadarinya Keberadaannya sudah menjadi bagian dari ritme rumah ini. Bukan hanya bagi anak-anak. Tetapi juga bagi Baskara. "Jadi sebenarnya..." kata Vivi sambil menyipitkan mata. "Kamu bukan kehilangan kemampuan mengendalikan anak-anak. Kamu ketergantungan padaku."

Baskara langsung terkesiap. "Bahasanya jangan begitu."

."Tapi benar kan?" Baskara menyerah. Vivi tertawa puas.

Di luar kamar terdengar suara Sean. "Ayah! Saka menggunting modul belajar!"

Baskara langsung berdiri. "Lihat?" katanya putus asa. "Aku butuh bantuan."

Vivi akhirnya turun dari ranjang. Masih belum sepenuhnya pulih. Namun wajahnya kini jauh lebih segar. Saat mereka berjalan keluar kamar bersama, Baskara tiba-tiba berkata pelan,

"Rumah ini lebih mudah sejak kamu datang."

Dan untuk pertama kalinya, Vivi sadar bahwa ia bukan lagi tamu di rumah ini. Bukan sekadar istri yang dinikahi karena keadaan. Bukan pula guru yang kebetulan tinggal serumah. Ia telah menjadi seseorang yang ketika tidak ada, seluruh rumah langsung menyadari kehilangannya.

1
Lilik Rudiati
kok ada ya keluarga kayak gitu ...dulu ibu mereka jadi tulang punggung ..udah meninggalpun masih d biayai masih aja berulah dahlah stop aja semua fasilitas mereka biar tau gimana mereka hidup
aksari
👍👍👍👍
Ros Ani
happy ending /Pray//Good/
Aji Priatun
suka ceritanya
Bu Tini Ma Utin
Hilda serakah, memangnya yayasan itu milik keluarga dia, kan itu yayasan milik ibu mega, ya terserah bu mega itu yayasan mau di kasih ke siapa itu kan yayasan ibu mega, apa lagi sekarang vivi ngurus cucunya bu mega 5 lagi, kalau vivi yg ngurus nanti juga yayasan akan jatuh ke anak2nya
dasar kek hilda serakah
Bu Tini Ma Utin
proyek miliaran, masa istri dj jadikan guru, pengasuh, pembantu tkg kebun, apa ngegajih pembantu nggak cukup uangnya!
emang ngurus anak 5 nggak berat , aku aja dulu ngurus anak 3 pakai pembantu, itu mah dasarnya pelit aza he.... 🤭🤭
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
Titee Hidayah
Barokallah , benar menjadi seorang ibu bukan hanya karena melahirkan anak anak dan ikatan darah tapi jg bisa karena kasih sayang dan peran
Nengs
baskara itu Lembek
Wardah Saiful
baguus critanya
Sumirah Mira
nyesek banget...mewek aku 😭😭😭
tiniteyok
aq suka novelnya kak, bagus banget🌟5
Nur Chayati
inget diri sendiri😭😭😭😭lagi diposisi kayak vivi☺☺☺☺💪💪💪💪
Suyudana Arta
semua profesi itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong🙏
Zaiyanis Anis
jadi ada rahasia sinta terhadap fifi ini sebenar dia bukan mandul
Zaiyanis Anis
rusak anak baskara karena tante anak anak
evvylamora
dr awal mmg sdh curiga sm dr shinta, jahat banget jd org, lagian knp ga diperiksa dokter lain jg yaa?? buat pembanding
Zaiyanis Anis
bagus sekali taktik ibu tiri menaklukkan anak anak saya juga mantan guru yg sudah bermacam. cara menaklukan anak anak.
AN
semangat thor
Ida Lailamajenun
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!