NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:111.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Naya duduk di kursi tunggu bank dengan punggung tegak dan tangan yang saling menggenggam di pangkuan. Blus putih yang dikenakannya pagi tadi masih rapi, sepatu high heels hitamnya mengilap di bawah cahaya lampu ruangan yang dingin.

Di sekelilingnya, bunyi mesin hitung uang, suara karyawan yang memanggil nomor antrean, dan dering telepon dari meja customer service menyatu menjadi latar yang monoton. Namun Naya tidak terganggu. Matanya tetap fokus pada layar ponsel yang menampilkan nomor antreannya.

Hari ini ia datang sendirian. Tidak ada yang tahu.

Ketika namanya dipanggil, Naya berdiri dengan tenang dan berjalan menuju meja customer service yang ditunjuk. Wanita di balik meja itu tersenyum profesional. “Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?”

Naya mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tasnya, KTP, buku tabungan, dan formulir yang sudah ia isi sejak semalam di rumah. “Saya ingin mengalihkan seluruh saldo tabungan bersama ke rekening pribadi saya,” ucapnya jelas, tanpa ragu.

Customer service itu mengangkat alis sedikit, lalu memeriksa dokumen dengan teliti. “Rekening ini atas nama bersama, Bu. Apakah Bapak sudah menyetujui pengalihan ini?”

Naya menatap wanita itu langsung di mata. “Saya masih memiliki akses penuh sebagai pemilik bersama. Tidak ada blokir, tidak ada batasan. Saya hanya memindahkan hak saya.” Suaranya tetap datar, tapi ada ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat di baliknya.

Setelah beberapa pemeriksaan sistem, proses dimulai. Naya menonton layar komputer di depan customer service dengan seksama. Angka-angka yang selama ini ia anggap sebagai uang bersama perlahan berpindah satu per satu ke rekening yang hanya atas namanya. 

Uang hasil kerja Aslan yang ditransfer rutin setiap bulan, tabungan yang ia kumpulkan dari sisa belanja rumah tangga, serta sejumlah dana yang selama ini ia sisihkan diam-diam, semuanya kini berada di bawah kendalinya sendiri.

Sambil menunggu proses selesai, pikiran Naya berkelana jauh. Ia teringat bagaimana selama bertahun-tahun ia menyerahkan hampir seluruh hidupnya pada Aslan. Meninggalkan pekerjaan, menunda cita-cita, mengurus rumah tanpa pembantu, memasak setiap pagi meski makanan itu seringkali tidak tersentuh. 

Semua dilakukan dengan alasan cinta dan kesetiaan. Sekarang, ia mengerti bahwa kesetiaan sepihak hanyalah bentuk lain dari pengorbanan yang tidak pernah dihargai.

Customer service itu akhirnya mengangguk. “Sudah selesai, Bu. Seluruh saldo berhasil dialihkan. Apakah Ibu ingin mencetak bukti transaksi?”

“Ya,” jawab Naya singkat.

Kertas yang masih hangat dari mesin printer diserahkan kepadanya. Naya memeriksa setiap baris dengan teliti, memastikan tidak ada yang terlewat, lalu memasukkannya ke dalam map kecil bersama dokumen-dokumen lainnya. Map itu sudah berisi cukup banyak bukti, screenshot pesan Liza, rekaman percakapan dengan Faris, salinan transfer, dan sekarang bukti pengalihan dana.

Ketika keluar dari bank, matahari sudah cukup tinggi. Naya berdiri sejenak di trotoar, merasakan angin siang yang sedikit panas di kulitnya. Ia tidak merasa lega. Tidak juga merasa menang. Yang ia rasakan hanyalah ketenangan yang dingin, seperti seseorang yang sedang menyusun batu bata satu per satu untuk membangun tembok pelindung di sekeliling dirinya.

Ia membuka ponsel, menatap folder tersembunyi yang semakin berisi. Lalu, tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat kepada Dara, 

"Sudah selesai di bank. Mulai sekarang aku tidak akan bergantung pada uangnya lagi"

Pesan terkirim. Naya mengunci layar, memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu melangkah menuju mobil yang sudah menunggunya di parkiran. Langkahnya mantap. Tidak ada lagi keraguan di bahunya.

*****

Setelah keluar dari bank, Naya tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya ke sebuah kafe yang tenang di kawasan bisnis, tempat yang jarang ia kunjungi selama menjadi istri Aslan. Suasana di dalam kafe cukup sepi di siang hari. Hanya terdengar denting sendok di cangkir dan musik instrumental yang pelan. Naya memilih meja di sudut dekat jendela, memesan segelas kopi hitam tanpa gula, lalu mengeluarkan laptopnya.

Layar menyala. Jari-jarinya yang ramping bergerak cepat membuka beberapa tab browser sekaligus. Halaman-halaman kampus luar negeri muncul satu per satu Universitas di Singapura, Australia, Belanda, hingga Jepang. Ia sudah lama menyimpan daftar ini di folder tersembunyi di laptopnya, sejak dulu.

Perlahan, mimpi itu ia simpan jauh di dalam laci. Tapi hari ini, laci itu ia buka kembali.

Naya menatap syarat-syarat pendaftaran dengan seksama. IELTS, transkrip nilai S1, surat motivasi, proposal penelitian. Semuanya terasa asing sekaligus akrab. Ia membuka folder lama di laptop yang berisi draft proposal yang belum pernah ia selesaikan. Judulnya masih sama seperti dulu, penelitian tentang manajemen sumber daya manusia di perusahaan keluarga. Topik yang dulu ia tunda karena Aslan bilang tidak penting.

Kopi di hadapannya mulai dingin, tapi Naya tidak peduli. Ia membuat daftar prioritas. Kampus mana yang menerima intake di semester depan. Berapa biaya hidup di negara tersebut. Apakah ada beasiswa untuk mahasiswa internasional. Jari-jarinya mengetik cepat, menyimpan link, mengunduh brosur, dan membuat catatan di aplikasi notes.

Sesekali bayangan Aslan muncul di kepalanya, wajahnya yang marah pagi tadi, suara tinggi yang memanggil namanya, dan pesan-pesan manis dari Liza yang sudah ia simpan sebagai bukti. Tapi Naya hanya menghela napas pelan dan kembali fokus ke layar. Ia tidak lagi punya waktu untuk tenggelam dalam rasa sakit. Rasa sakit itu sudah ia ubah menjadi bahan bakar.

Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Dara.

"Gimana, Nay? Sudah mulai cari kampus?

Naya membalas singkat"

"Sudah. Aku serius kali ini. Tidak akan kutunggu izin siapa pun lagi".

Ia tersenyum tipis sendiri. Kalimat itu terasa ringan di jari, tapi berat di dada. Selama bertahun-tahun ia menunggu izin. Izin untuk bekerja. Izin untuk kuliah. Izin untuk sekadar pergi ke luar kota. Sekarang, izin itu tidak lagi ia butuhkan.

Matahari mulai condong ke barat ketika Naya akhirnya menutup laptop. Di layar ponselnya, sudah ada tiga kampus yang ia tandai sebagai pilihan utama. Ia bahkan sudah mengisi formulir minat di salah satu situs resmi. Langkah kecil, tapi nyata.

Saat keluar dari kafe, angin kencang menyapu wajahnya. Naya menarik napas dalam-dalam. ia merasa dadanya sedikit lebih lega. Bukan karena ia sudah menang. Tapi karena ia mulai berjalan menuju versi dirinya yang dulu sempat ia tinggalkan.

Beberapa kali Aslan mengirim pesan padanya, tapi Naya tidak membalasnya. Naya masih punya satu tempat lagi yang ingin ia datangi sebelum matahari terbenam, tempat untuk memperpanjang paspor yang sudah hampir habis masa berlakunya.

Karena mulai hari ini, Naya tidak hanya mengumpulkan bukti untuk bercerai.

Ia sedang mengumpulkan kembali hidupnya sendiri.

1
Talnis Marsy
resiko jadi selir atau selingkuhan ya kayak gitu Liza..cuma di jadikan pelampiasan sesaat..
sakit kan????
sunaryati jarum
Aslan dendam kamu pada Naya atas kesalahan kamu hanya membakar dirimu hingga hancur.Erland bukan lawanmu dia punya pertahanan kuat.Jika kamu berlanjut tidak akan lama lagi perusahaan kamu hancur, karena banyak pengeluaran untuk menyerang Erland
Agus Tina
Di cerita ini, Liza spt diposisikan sbg korban. Padahal itu akibat dari perbuatan sendiri ... jika memutuskan untuk menjadi pihak ketiga ya harus siap jika pihak kesatu kadang masih memikirkan pihak kedua, entah karena masih cinta, atau hal lainnya .
Ariany Sudjana
sama bodohnya semua 😂😂🤣🤣
sunaryati jarum
Lebih cepat lebih baik Erland ,ingat usia.Usia hampir empat puluh tahun usia krusial untuk hamil,namun jika Sang Pemberi sudah berkehendak tidak ada yang mustahil.
Ilfa Yarni
Hari Hari menuju bajagia Naya pantas mendapatkannyakarena Utah cukup dia menderita Karen'a Punya suami yg jahat Dan dia Salah memilih Dan skr Ada erlan yg mencintainya dgn tulus
Ntahlah
haaai kak
sunaryati jarum
Tanpa basa-basi langsung ke intinya, emak setuju, kalian sudah dewasa dan sudah mengenal lama.,tak perlu pacaran atau pertunangan langsung nikah.
Ilfa Yarni
asyik mereka akan menikah aku tunggu udangannya ya
sunaryati jarum
Erland sudah kebelet nikah,Nih.Ayo Naya dari pada jantungmu berdetak kencang terus -, terusan jika di dekat Erland,lebih baik segera terima cintanya dan nikah,agar tidak kebablasan
YuWie
sweet bgt er..tapi tetap waspada ya
yumi chan
wah cpt2 nkh aja thor..biar aslan kpnsan
Ilfa Yarni
wah erlan gercep nih udah tidur bareng aja Gpp sih jgn sampe gagal untuk yg kedua Kali ya erlan kekep trus naya ya sampe jadi oh ya jgn lengah aslan msh ga mau Kalah mending hancurkan sekalian drpd mengganggu trus
Ma Em
Thor jgn biarkan Aslan mengusik ketenangan perusahaan yg Erlan pimpin , biarkan Aslan jatuh akibat perbuatan nya sendiri dan istri sirinya yg sdh ketakutan tdk kebagian warisan untuk anak yg msh di dlm kandungan nya makin menderita .
sunaryati jarum
Aslan makin nekat tabiat serakah dan pelit mendominasi jiwanya.Sudah jelas kalah karena kesalahannya sendiri seharusnya membiarkan Naya menjual yang menjadi haknya.Akibat ulahmu yang menghalanginya kau berurusan dengan Erland.Kenekatanmu pada Erland akan membawa kehancuranmu sendiri, Erland hanya bertahan saja kamu kalah,apalagi nanti balik menyerang.
YuWie
jadi berlete2 perang urat sarafnya..ehh tapi faris hebat lho, apa2 dia tau.
Ariany Sudjana
terlalu lama Erland membiarkan Aslan bergerak, kenapa ga langsung dihancurkan saja?
YuWie
ternyata kekuatan erlan sebanding dg aslan..kupikir lebih besar perusahaan dan pengaruhnya.
sunaryati jarum
Udah berani panggil sayang
Ilfa Yarni
cieee udah mulai bilang sayang nih duh bsjagianya hatiku to jgn sampe lengah km lg perang melawan aslan yg ingin membobol data perusahaanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!