Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan di aatas Meja
Keheningan yang mencekam menggantung di ruang tengah kontrakan. Suara dengung mesin kulkas tua di sudut dapur terdengar begitu nyaring di antara napas-napas yang memburu.
Petugas penagih utang berbadan tegap itu berdehem kecil, memecah ketegangan yang kian menebal. "Jadi... bagaimana keputusannya, Pak Doni? Kunci mobilnya saya bawa sekarang, atau ada kejelasan pembayaran hari ini?"
Doni seolah tidak mendengarkan suara penagih itu. Matanya masih terpaku lebar menatap amplop cokelat di atas meja kayu, lalu beralih menatap adiknya dengan raut wajah tidak percaya bercampur panik.
"Ed... Kamu jangan gila ya!" suara Doni bergetar, serak menahan gusar. "Gara-gara masalah uang ganti ban sama utang ini, kamu mau bikin gara-gara besar? Mau serahkan surat apa itu ke Agus? Kamu sadar tidak sih apa yang kamu ucapkan?!"
Ibu Ratna bangkit dari sofa dengan tertatih-tatih. Wanita tua itu memegang dadanya yang kumat menggebu, lalu menunjuk wajah Eda dengan jari yang gemetar hebat.
"Eda! Istigfar, Nak! Istigfar!" jerit Ibu Ratna parau, air matanya tumpah seketika di pipinya yang keriput. "Kamu ini benar-benar sudah kemasukan setan apa sampai berani ngomong begitu depan suamimu?! Cuma karena urusan uang pinjaman yang lagi seret, kamu mau hancurkan ketenangan rumah tangga dan bikin malu keluarga di depan tetangga?!"
Eda menatap ibunya dengan pandangan yang sangat tenang, tanpa setetes pun air mata mengalir.
"Aku tidak menghancurkan apa-apa, Ma," ucap Eda pelan namun amat jernih. "Rumah ini yang dari dulu tidak pernah memberi ketenangan. Kalian semua terbiasa hidup di atas penderitaan dan pemerasan yang dibebankan ke pundakku."
Agus, yang sejak tadi berdiri mematung di dekat dinding dapur, maju dua langkah dengan raut wajah memerah padam. Harga dirinya sebagai seorang suami terasa dihantam telak di hadapan mertua dan iparnya sendiri.
"Eda!" bentak Agus dengan suara berat yang bergetar menahan amarah. "Jaga mulutmu! Kamu pikir dengan status barumu sebagai guru PPPK dan tes sekolahmu itu, kamu bisa bertingkah semena-mena dan menginjak harga diriku di depan keluarga?! Mau ditaruh di mana mukaku kalau kamu bersikap seperti ini?!"
"Urusan harga diri, Agus?" balas Eda cepat, suaranya tajam menembus pertahanan suaminya. "Lima belas tahun aku menanggung beban finansial keluargamu dan keluargaku, diperlakukan seperti mesin uang tanpa pernah dihargai sebagai istri. Saat aku benar-benar tidak punya uang serupiah pun, kamu diam saja melihat aku dicaci maki. Di mana harga dirimu waktu itu?"
Petugas penagih utang yang merasa posisinya makin tidak nyaman bergeser selangkah ke arah pintu depan. "Ehm... Pak Doni, sepertinya urusan keluarga ini sedang rumit. Kalau tidak ada pembayaran hari ini, terpaksa unit mobilnya saya tarik sekarang sesuai prosedur."
Tanpa menunggu balasan Doni, petugas itu melangkah keluar ke teras, mengambil kunci kontak di atas *dashboard* mobil sewaan, lalu menyalakan mesin mobil yang berderu kasar meninggalkan halaman kontrakan. Doni yang panik langsung berlari mengejar keluar sambil berteriak histeris, disusul Rini yang menangis histeris di ambang pintu.
Ruang tengah itu kini menyisakan ketegangan yang kian pekat. Ibu Ratna terduduk lemas kembali di sofa, menangis sesenggukan sambil merutuki nasibnya. Sementara Agus berdiri menatap Eda dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan yang meluap-luap.
Eda tidak memedulikan tatapan tajam Agus. Ia mengambil kembali amplop cokelat di atas meja—amplop yang berisi berkas kelengkapan Guru Penggerak dan surat pernyataan penegasan batas finansialnya—lalu melangkah pasti menuju kamarnya.
*Klek.*
Eda memutar kunci kamar dari dalam, menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang dingin. Di luar, suara omelan Agus dan ratapan ibunya masih terdengar samar, namun di dalam kamar yang remang-remang itu, Eda menghembuskan napas panjang.
Eda berjalan menuju meja belajarnya, meletakkan amplop cokelat itu di dekat laptopnya. Ia belum mengambil keputusan ekstrem untuk berpisah, namun garis batas tegas telah ia tancapkan dengan kokoh. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi uang gaji PPPK yang melayang untuk kebiasaan dan tanggungjawab orang lain. Eda memejamkan mata, membiarkan dadanya menikmati ketenangan pertama setelah badai besar sore ini.