Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Dera duduk dibelakang tukang ojek sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. Koper yang dibawanya diletakkan di bagian depan, di antara dirinya dan pengemudi.
Motor mulai melaju meninggalkan rumah. Untuk beberapa saat, Dera hanya diam. Ia tidak menoleh ke belakang. Bukan karena tidak sedih, tetapi karena ia tahu jika sekali saja menoleh, mungkin keberaniannya akan runtuh.
Hembusan angin menerpa wajahnya. Rambutnya yang tidak sempat ditata beterbangan tertiup angin. Namun Dera tidak peduli. Matanya justru terus menatap lurus kedepan. Jalan yang membawanya semakin jauh dari rumah. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya pulang. Tetapi sekarang, rumah itu justru menjadi tempat yang paling ingin ia tinggalkan.
Dera menarik napas panjang. Namun semakin ia mencoba melupakan semuanya, semakin jelas suara kedua orang tuanya terngiang di kepalanya.
Dera memejamkan matanya sejenak, sambil merasakan dadanya yang sesak.
Menerima keadaan? Bukankah selama ini dia sudah terlalu banyak menerima? Lalu sekarang, ketika ia menjual cincin pertunangannya sendiri, mereka kembali memarahinya.
Dera menunduk. Air matanya perlahan jatuh.
"Jadi sebenarnya aku ini siapa bagi kalian?" bisiknya sangat pelan.
Suara mesin motor dan bising kendaraan membuat tidak ada yang mendengarnya.
Dera mengusap pipinya. Pertanyaan itu sudah berkali-kali muncul dalam pikirannya sejak pernikahan Galih dan Vivian.
Siapa dirinya di keluarga itu? Mengapa setiap kali ada masalah, dirinya yang harus mengalah Mengapa Vivian selalu mendapatkan pembelaan?
Mengapa setiap kesalahan kakaknya selalu memiliki alasan, sementara setiap keputusan Dera selalu dianggap salah?
Dera masih ingat ketika kecil. Jika mereka memiliki sesuatu yang bagus, Vivian sering mendapatkannya lebih dulu.
Jika ada makanan kesukaan mereka, Vivian akan selalu mendapatkan bagian terbaik.
Jika Vivian menangis, orang tua mereka akan segera menghampirinya.
Jika Vivian marah, mereka akan membujuk kakaknya itu.
Jika Vivian melakukan kesalahan, mereka akan mengatakan bahwa kakaknya hanya sedang khilaf.
Sementara Dera? Ia selalu diminta mengerti.
"Kamu kan adik, mengalah saja."
"Kakakmu lebih tua."
"Jangan membuat kakakmu sedih."
"Kamu harus mengerti keadaan Vivian."
Kalimat-kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar.
Dulu Dera menganggap semuanya sebagai bentuk kasih sayang orang tua. Ia berpikir mungkin memang begitulah menjadi seorang adik. Namun semakin dewasa, Dera mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Ia bukan sekadar diminta mengalah. Tapi dia selalu ditempatkan di posisi kedua. Bahkan dalam keluarganya sendiri.
Dera menatap kendaraan yang berlalu-lalang di sampingnya. Air matanya kembali mengalir. "Memangnya aku pernah salah apa?" Pertanyaan itu kembali muncul.
"Aku juga anak kalian..." Suaranya bergetar.
"Aku juga pernah ingin dipeluk ketika menangis."
"Aku juga ingin dibela."
"Aku juga ingin sekali mendengar kalian mengatakan kalau kalian bangga kepadaku."
Dera menggigit bibirnya. Namun hal yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan Galih. Bukan pula karena pernikahannya direbut. Melainkan kenyataan bahwa ketika ia kehilangan semuanya, orang tuanya justru memilih berdiri di pihak yang salah. Seolah-olah perasaan Dera tidak pernah penting untuk mereka.
"Kalau aku bukan anak kandung kalian, kenapa dulu kalian tidak bilang?" Dera tertawa kecil di tengah tangisnya. Kalimat itu terdengar begitu menyakitkan bahkan bagi dirinya sendiri.
Dera segera menggeleng. Ia tahu dirinya adalah anak kandung mereka, memiliki darah yang sama, nama belakang yang sama. Ia juga tumbuh di rumah yang sama.
Namun entah mengapa, terkadang ia merasa seperti anak yang hanya dititipkan kepada keluarga itu. Seperti orang asing yang kebetulan tinggal bersama mereka.
Dera mengepalkan tangannya. "Kenapa tidak berhak atas cincin itu" gumamnya. "Lalu apa yang menjadi hakku?" Air matanya semakin deras.
"Apakah aku juga tidak berhak menentukan hidupku sendiri?" Tidak ada jawaban, hanya suara kendaraan yang terus bergerak.
Dera menatap lurus ke depan. Ia mulai menyadari bahwa mungkin selama ini ia terlalu berharap kepada keluarganya. Ia berharap suatu hari mereka akan melihat perjuangannya. Ia berharap suatu hari mereka akan memahami bahwa dirinya juga ingin dicintai.
Namun mungkin harapan itu tidak akan pernah terwujud. Mungkin Dera memang harus berhenti menunggu. Dan mulai memilih dirinya sendiri.
Perjalanan terasa begitu panjang meskipun sebenarnya hanya sekitar tiga puluh menit.
Akhirnya pengemudi memperlambat motornya, Dera melihat bangunan stasiun mulai terlihat di depan.
"Kita sudah sampai, neng."
Dera tersadar dari lamunannya."Oh, iya, Pak."
Motor berhenti di depan pintu masuk stasiun. Pengemudi membantu menurunkan koper dari motor.
"Berapa, Pak?" tanya Dera setelah turun dari atas motor.
"Dua puluh ribu, neng."
Dera membayar sesuai ongkos yang tertera. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Dera menarik koper dan berdiri beberapa detik di depan stasiun. Ia menatap bangunan besar di hadapannya. Di tempat inilah perjalanan barunya akan dimulai.
Dia akan ke Jakarta. Kota yang belum pernah benar-benar ia kenal, atau yang mungkin akan membuatnya menangis lebih banyak. Kota yang mungkin akan memaksanya bekerja keras.
Namun setidaknya, di sana tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk terus mengalah demi orang lain.
Dera mengusap wajahnya. "Aku harus kuat." tekadnya sambil menarik nafas panjang.
"Aku tidak boleh terus bersedih karena mereka"
Dengan langkah perlahan, Dera masuk ke dalam stasiun sambil menarik kopernya. Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar dari pengeras suara. Orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing.
Ada yang pergi bersama keluarga. Ada yang bepergian bersama pasangan. Ada pula yang mengantar orang terkasih. Dera melihat pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.
Ia hanya sendirian. Tidak ada yang mengantarnya.
Tidak ada seorang pun yang mengatakan, "Hati-hati di jalan."
Dera berhenti sejenak. Dadanya kembali terasa sesak. Ia menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan dari keluarganya. Tidak ada telepon yang menanyakan keberadaannya. Tidak ada satu pun yang mencarinya.
Dera tersenyum pahit. "Berarti benar, mereka tidak perduli denganku" gumamnya. Ia mematikan layar ponselnya. Kemudian kembali berjalan. Setiap langkah terasa berat, tetapi Dera tidak berhenti.
Di dalam hatinya, ia membuat sebuah janji. Mulai hari ini, ia tidak akan lagi memohon untuk dicintai. Ia tidak akan lagi memohon untuk dipilih. Ia akan membangun hidupnya sendiri. Dan jika suatu hari nanti keluarganya menyesal telah membiarkannya pergi, Dera tidak ingin menoleh lagi. Karena saat itu, mungkin dirinya sudah menjadi perempuan yang sama sekali berbeda. Perempuan yang tidak lagi membutuhkan pengakuan dari siapa pun untuk merasa berharga.
Dera terus berjalan menuju peron. Tanpa mengetahui bahwa perjalanan menuju Jakarta itu bukan hanya akan membawanya meninggalkan masa lalu.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa