NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH

Pagi itu, Nayla berdiri di depan cermin kamar lamanya lebih lama daripada biasanya.

Ia mengenakan blus putih polos, celana panjang hitam, dan sepatu datar berwarna krem. Tidak ada pakaian mencolok. Tidak ada riasan berlebihan. Ia hanya ingin terlihat rapi, tenang, dan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Namun kedua tangannya tetap dingin.

Pesan ancaman semalam terus terbayang.

*Besok jangan datang ke kantor Arunika. Kalau kamu datang, semua orang akan tahu wanita seperti apa kamu sebenarnya.*

Nayla tahu pesan itu sengaja dikirim agar ia takut.

Agar ia membatalkan konsultasi.

Agar ia tidak memahami haknya.

Agar ia tetap menjadi perempuan yang mudah ditekan.

Namun kali ini, ia tidak ingin mundur.

Di luar kamar, Bu Ratih sudah menunggu dengan tas kecil di tangan.

“Mama ikut sampai lobi,” kata ibunya. “Setelah itu Mama menunggu di kafe seberang.”

Nayla menatap Bu Ratih dengan rasa haru.

“Ma, aku bisa pergi sendiri.”

“Mama tahu.” Bu Ratih tersenyum lembut. “Tapi Mama ingin menemani kamu, bukan karena kamu tidak mampu. Karena kamu anak Mama.”

Kalimat itu membuat Nayla mengangguk.

Mereka berpamitan kepada Pak Hendra, lalu memesan kendaraan menuju PT Arunika Properti.

Sepanjang perjalanan, Nayla lebih banyak diam. Kota sudah ramai. Orang-orang berjalan cepat di trotoar, kendaraan memenuhi jalan, dan semua tampak menjalani hidup seperti biasa.

Tidak ada yang tahu bahwa Nayla sedang bersiap menghadapi salah satu hal paling berat dalam hidupnya.

Ketika mobil berhenti di depan gedung PT Arunika, Nayla menarik napas panjang.

Bu Ratih menggenggam tangannya.

“Ingat,” kata ibunya. “Kamu datang bukan untuk meminta izin siapa pun. Kamu datang untuk mengetahui pilihan dan melindungi diri kamu.”

Nayla mengangguk.

“Terima kasih, Ma.”

***

Dimas sudah menunggu di lobi.

Seperti biasa, ia mengenakan setelan rapi dengan ekspresi profesional. Namun ketika melihat Nayla, sorot wajahnya tampak lebih serius.

“Selamat pagi, Bu Nayla,” sapa Dimas. “Ibu Ratih.”

Bu Ratih mengangguk sopan.

“Selamat pagi.”

“Pengacara sudah menunggu di ruang konsultasi. Saya akan mengantar Bu Nayla ke atas.” Dimas kemudian menoleh kepada Bu Ratih. “Di lantai dua ada ruang tunggu yang nyaman, Bu. Jika Ibu berkenan, saya bisa mengantar Ibu ke sana.”

Bu Ratih menatap Nayla terlebih dahulu.

Nayla mengangguk kecil. “Mama tunggu saja di bawah. Aku tidak lama.”

“Baik.” Bu Ratih mengusap lengan Nayla. “Kalau ada apa-apa, telepon Mama.”

Nayla mengikuti Dimas menuju lift.

Pintu lift tertutup, menyisakan mereka berdua dalam ruang kecil yang sunyi. Nayla melihat bayangannya sendiri pada pintu logam: wajah tegang, mata yang kurang tidur, dan perempuan yang beberapa minggu lalu mungkin tidak akan berani melakukan semua ini.

“Apakah Pak Raka ada di kantor?” tanya Nayla.

“Ada, Bu. Tapi beliau tidak akan masuk ke ruang konsultasi, sesuai permintaan beliau.”

Nayla mengangguk.

Entah mengapa, ia merasa sedikit lega.

Raka memberi ruang.

Tidak hadir bukan berarti tidak peduli. Justru mungkin ia mengerti bahwa Nayla perlu membuat keputusan tanpa merasa diawasi atau diarahkan.

Lift berhenti di lantai dua puluh tujuh.

Dimas membawa Nayla menuju sebuah ruangan kecil di sisi lain koridor. Tidak seperti ruangan Raka yang luas dan menghadap kota, ruangan ini lebih sederhana. Ada meja bundar, beberapa kursi, lemari arsip, dan jendela kecil.

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun sudah menunggu di sana. Ia mengenakan blazer abu-abu dan jilbab cokelat tua. Senyumnya tenang, tidak terlalu ramah, tetapi terasa profesional.

“Selamat pagi, Bu Nayla,” katanya sambil berdiri. “Saya Laras Maheswari, pengacara yang bekerja sama dengan perusahaan untuk urusan ketenagakerjaan dan perlindungan hukum.”

Nayla menjabat tangannya. “Pagi, Bu.”

“Silakan duduk. Saya sudah menerima ringkasan dari Pak Dimas, tetapi saya ingin mendengar langsung dari Ibu. Apa pun yang dibicarakan di ruangan ini akan dijaga kerahasiaannya.”

Dimas kemudian pamit keluar.

Begitu pintu tertutup, Nayla duduk di hadapan Bu Laras. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.

“Tidak perlu terburu-buru,” ujar Bu Laras. “Mulailah dari hal yang paling ingin Ibu ketahui.”

Nayla menatap meja di depannya.

“Apa saya bisa melindungi diri dari seseorang yang mengancam lewat pesan?” tanyanya.

Bu Laras mengangguk.

“Bisa. Namun, kita perlu mengumpulkan bukti secara rapi.” Ia mengeluarkan buku catatan. “Apakah Ibu menyimpan semua pesan, nomor pengirim, waktu pengiriman, dan bukti pendukung lain?”

“Iya. Saya juga menyimpan foto dan rekaman percakapan telepon.”

“Bagus.” Bu Laras mencatat sesuatu. “Jangan hapus apa pun. Jangan mengedit isi percakapan. Simpan tangkapan layar lengkap, termasuk nomor dan waktu. Bila perlu, buat salinan di penyimpanan lain agar tidak hilang.”

Nayla mengangguk.

“Apakah orang yang mengancam itu Ibu kenal?”

“Saya menduga Siska. Dia rekan kerja suami saya dan selingkuhan suami saya.” Nayla menarik napas. “Saya pernah menerima telepon dari suara yang mirip dengannya. Dia juga mengaku tahu tentang foto saya dengan Pak Raka.”

“Apakah Ibu memiliki rekaman panggilan itu?”

“Ada.”

“Baik. Itu bisa membantu sebagai bagian dari rangkaian bukti.”

Nayla merasa sedikit lega karena setidaknya ia tidak salah menyimpan semua hal tersebut.

“Kalau foto saya bersama Pak Raka disebarkan,” tanya Nayla, “apa saya bisa melakukan sesuatu?”

Bu Laras menatapnya dengan serius.

“Jika foto itu disebarkan untuk membangun tuduhan palsu, menjatuhkan nama baik, atau menekan Ibu, itu dapat menjadi bagian dari dugaan pencemaran nama baik maupun ancaman. Namun kita perlu melihat konteks penyebarannya, siapa penerimanya, dan narasi yang menyertainya.”

Nayla menunduk.

“Tidak ada hubungan antara saya dan Pak Raka,” katanya cepat. “Beliau hanya mengantar saya karena saya tidak bisa pulang ke apartemen malam itu.”

“Saya tidak menilai Ibu,” jawab Bu Laras tenang. “Yang penting, Ibu tahu bahwa Ibu tidak wajib menjelaskan hidup pribadi kepada orang-orang yang sengaja ingin menyudutkan Ibu.”

Kalimat itu membuat Nayla mengangkat wajah.

Selama ini, ia merasa harus menjelaskan semuanya.

Menjelaskan mengapa Raka mengantarnya.

Menjelaskan mengapa ia pergi dari apartemen.

Menjelaskan mengapa ia tidak segera memaafkan Arga.

Namun Bu Laras benar. Tidak semua orang berhak menuntut penjelasan darinya.

“Lalu tentang perceraian?” tanya Nayla setelah beberapa saat.

Bu Laras tidak langsung memberi jawaban panjang. Ia membuka beberapa lembar dokumen sederhana.

“Keputusan untuk mengajukan perceraian adalah keputusan pribadi. Saya tidak akan menyuruh Ibu bertahan atau berpisah. Namun jika Ibu ingin mempertimbangkannya, Ibu bisa mulai menyiapkan dokumen dasar: buku nikah, identitas, bukti tempat tinggal, bukti komunikasi atau pengakuan terkait perselingkuhan, serta catatan keuangan yang berkaitan dengan harta bersama.”

Nayla menelan ludah.

“Kalau suami saya menolak?”

“Penolakan suami tidak otomatis menghentikan proses. Tapi setiap kasus memiliki kondisi yang berbeda. Ibu bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan pengacara keluarga jika sudah siap.”

Nayla mengangguk perlahan.

Mendengar semua itu membuat perceraian terasa lebih nyata.

Bukan sekadar kata yang berputar di pikiran.

Melainkan jalan yang benar-benar bisa ia ambil.

“Tidak perlu memutuskan hari ini,” ujar Bu Laras, seolah memahami apa yang Nayla rasakan. “Yang perlu Ibu lakukan hari ini adalah memastikan Ibu aman dan memiliki pilihan.”

Nayla menarik napas panjang.

“Terima kasih, Bu.”

Mereka membahas beberapa hal lain selama hampir satu jam. Bu Laras memberi Nayla daftar sederhana tentang cara menyimpan bukti, menghindari pertemuan sendiri dengan Arga atau Siska jika merasa tidak aman, serta siapa yang bisa dihubungi bila ancaman meningkat.

Ketika Nayla keluar dari ruang konsultasi, langkahnya terasa lebih ringan.

Masalahnya belum selesai.

Ia masih terluka.

Ia masih takut.

Namun sekarang, ia memiliki arah.

Di ujung koridor, Dimas sudah menunggu.

“Bagaimana, Bu?” tanyanya.

“Lebih baik,” jawab Nayla jujur.

Dimas mengangguk. “Pak Raka meminta saya memastikan Ibu bisa pulang dengan aman.”

“Tidak perlu. Mama menunggu di bawah.”

“Baik, Bu.”

Mereka berjalan menuju lift. Namun saat pintu lift terbuka, Nayla melihat seseorang berdiri di dalam.

Siska.

Perempuan itu mengenakan blazer merah marun dan sepatu hak tinggi. Wajahnya tampak tenang, tetapi tatapannya berubah tajam ketika melihat Nayla bersama Dimas.

“Wah,” kata Siska sambil tersenyum tipis. “Jadi benar kamu datang ke sini.”

Nayla berhenti.

Dimas langsung berdiri sedikit di depan Nayla, tetapi tidak bersikap agresif.

“Bu Siska,” katanya formal. “Apakah ada keperluan?”

Siska tidak menjawab Dimas. Tatapannya tetap tertuju pada Nayla.

“Kamu berani sekali datang ke kantor suami kamu,” katanya. “Mau mengadu ke Pak Raka?”

“Saya datang untuk urusan saya sendiri,” jawab Nayla.

Siska tertawa kecil. “Urusan kamu sendiri? Kamu bahkan tidak punya urusan di sini. Kamu hanya mencari alasan agar bisa dekat dengan Pak Raka.”

Kalimat itu menusuk, tetapi Nayla berusaha tetap tenang.

“Kalau kamu ingin bicara, bicaralah dengan sopan,” kata Nayla.

“Kenapa? Kamu takut orang dengar?”

Nayla menatap wajah Siska.

Dulu, ia akan memilih diam. Namun sekarang, ia tahu diam hanya memberi ruang bagi orang lain untuk menciptakan cerita.

“Tidak,” ucap Nayla pelan tetapi jelas. “Saya tidak takut. Saya datang ke sini karena menerima ancaman. Dan saya tidak akan lagi membiarkan siapa pun mengintimidasi saya.”

Wajah Siska berubah.

Untuk sesaat, senyumnya menghilang.

“Kamu menuduh aku?”

“Saya tidak menyebut nama siapa pun.” Nayla mempertahankan tatapannya. “Tapi kalau kamu merasa sedang dituduh, mungkin kamu tahu alasan kenapa.”

Siska mengepalkan tangan.

“Jangan sok berani, Nayla.”

“Saya sedang belajar berani.”

Pintu lift kembali terbuka karena waktu tunggunya habis. Dimas memberi isyarat agar Nayla masuk lebih dahulu.

Siska tidak bergerak dari tempatnya.

Namun sebelum pintu lift menutup, ia menatap Nayla dengan sorot mata yang penuh kebencian.

“Kamu pikir Pak Raka akan selalu melindungi kamu?” bisiknya.

Nayla menatap balik.

“Saya tidak butuh siapa pun untuk melindungi saya agar bisa mengatakan bahwa yang salah tetap salah.”

Pintu lift tertutup.

Baru setelah itu Nayla menyadari kedua lututnya terasa lemas.

Dimas menoleh kepadanya.

“Ibu baik-baik saja?”

Nayla mengangguk, meski napasnya masih tidak teratur.

“Iya.”

Namun ketika lift hampir sampai di lobi, ponsel Dimas bergetar.

Wajah pria itu langsung berubah serius setelah membaca pesan masuk.

“Kenapa?” tanya Nayla.

Dimas ragu sejenak.

“Pak Raka meminta Ibu tidak keluar melalui lobi utama dulu.”

“Kenapa?”

Dimas menatap Nayla dengan wajah tegang.

“Karena ada beberapa orang dari media di depan gedung.”

Nayla membeku.

“Media?” ulangnya pelan.

Dimas mengangguk.

“Sepertinya seseorang sudah menyebarkan foto Ibu bersama Pak Raka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!