Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang yang Datang Terlambat
Langkah kaki itu semakin jelas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Suara sepatu menghantam anak tangga Basement 2 dengan ritme yang tenang, seolah orang yang datang sama sekali tidak merasa terburu-buru.
Andrian berdiri di depan rak arsip.
Map hitam masih tergeletak di lantai.
Maya berada beberapa langkah di belakangnya.
Sementara petugas keamanan menyorotkan senter ke arah tangga.
Bayangan seseorang mulai terlihat.
Lalu muncul seorang pria.
Kemeja putih.
Celana hitam.
ID card NSM tergantung di leher.
Pria itu berhenti ketika melihat mereka.
"Pak Dimas?"
Maya langsung mengenalinya.
Dimas, staf HRD yang beberapa hari lalu mengantar Andrian ke Basement 2.
Dimas menatap mereka satu per satu.
"Ada apa di sini?"
Andrian tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada tangan Dimas.
Kosong.
Tidak membawa dokumen.
Tidak membawa alat kerja.
Tidak membawa apa pun.
"Kamu datang karena listrik mati?" tanya Andrian.
Dimas mengangguk.
"Saya mendapat laporan dari security."
"Dan kamu langsung turun sendiri?"
"Saya memang bagian HRD. Kalau ada masalah dengan akses karyawan, saya harus memastikan."
Jawabannya terdengar masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Maya melirik Andrian.
Andrian menangkap tatapan itu.
Mereka sama-sama berpikir hal yang sama.
Dimas datang terlalu cepat.
---
"Kalau begitu, silakan periksa."
Andrian bergeser sedikit.
Dimas berjalan masuk.
Namun ketika melihat kotak 17-B yang terbuka, langkahnya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
Andrian melihatnya.
Maya juga.
Dimas kemudian mengalihkan pandangan.
"Itu apa?"
Andrian menjawab datar.
"Kotak arsip."
"Saya tahu itu kotak arsip."
"Kalau tahu, kenapa bertanya?"
Dimas menatapnya.
Suasana di Basement 2 mendadak terasa lebih dingin.
"Saya dengar ada dokumen yang hilang dari arsip."
"Dokumen apa?"
Dimas tidak langsung menjawab.
"Belum diketahui."
Andrian hampir tertawa.
"Kalau belum diketahui, bagaimana kamu bisa tahu ada yang hilang?"
Dimas terdiam.
Maya menyilangkan tangan.
"Pertanyaan yang bagus."
Petugas keamanan mulai terlihat tidak nyaman.
Dimas menghela napas.
"Saya cuma menjalankan tugas."
"Begitu juga saya."
Andrian menunjuk tumpukan arsip.
"Saya ditugaskan membereskan Basement 2. Kalau ada arsip yang tidak tercatat, saya berhak tahu."
Dimas menatapnya beberapa detik.
Kemudian pandangannya jatuh pada map hitam.
"Jangan sentuh itu."
Andrian langsung memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Kenapa?"
"Itu dokumen lama."
"Dan?"
"Dokumen itu bukan untuk intern."
Andrian menatap tulisan di map.
RAHASIA — HANYA UNTUK KOMISARIS UTAMA
Ia kemudian menatap Dimas.
"Kalau memang hanya untuk Komisaris Utama, kenapa kamu tahu isinya?"
Dimas diam.
Maya maju satu langkah.
"Pak Dimas."
Dimas menoleh.
"Sejak kapan HRD mengurus arsip Komisaris Utama?"
Tidak ada jawaban.
Untuk beberapa detik, hanya suara mesin listrik yang mulai kembali menyala.
Lampu Basement 2 berkedip.
Kemudian menyala sepenuhnya.
Dimas memicingkan mata.
"Saya akan membawa dokumen itu ke atas."
"Tidak."
Suara Andrian tegas.
Dimas menoleh.
"Maaf?"
"Dokumen ini ditemukan di area kerja saya."
"Dan?"
"Kalau memang dokumen resmi, harus ada pencatatan pemindahan."
Dimas menatapnya tajam.
"Kamu intern."
Andrian mengangguk.
"Saya tahu."
"Jangan membuat masalah yang tidak perlu."
Andrian menatap map itu.
"Saya justru berusaha mencegah masalah."
Maya berdiri di samping Andrian.
"Dokumen itu tidak boleh dipindahkan sebelum tim audit memeriksanya."
Dimas menatap Maya.
"Kamu juga ikut campur?"
"Saya mengikuti prosedur."
Kalimat itu membuat Dimas terdiam.
Tidak ada yang bisa membantah prosedur.
Bahkan orang yang memiliki kuasa sekalipun.
---
Beberapa menit kemudian, Elena akhirnya tiba di Basement 2.
Pintu lift terbuka.
Ia langsung melihat Andrian.
"Andre!"
Andrian menoleh.
Untuk sesaat, ketegangan di wajahnya menghilang.
"Len."
Elena berjalan cepat menghampiri mereka.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
Elena memeriksa wajah dan lengannya.
"Benar?"
Andrian mengangguk.
"Benar."
Maya mendekat.
"Len, ada sesuatu yang harus kamu lihat."
Elena mengikuti arah pandang Maya.
Matanya langsung tertuju pada kotak 17-B.
Kemudian map hitam.
Wajahnya berubah.
"Jangan bilang..."
Andrian mengangguk.
"Ini ditemukan terbuka."
Elena menatap Dimas.
"Pak Dimas?"
"Saya baru tiba."
Elena tidak langsung percaya.
"Siapa yang membuka?"
Dimas menggeleng.
"Tidak tahu."
Elena menatap Andrian.
Andrian juga menggeleng.
"Aku tidak membukanya."
Maya menyela.
"Ketika kami datang, listrik sedang mati. Setelah itu kotak ini sudah terbuka."
Elena berjalan mendekat.
Ia tidak menyentuh map.
Hanya membaca tulisan di depannya.
"Hanya untuk Komisaris Utama..."
Napasnya tertahan.
"Kenapa dokumen seperti ini ada di Basement 2?"
Tidak ada yang menjawab.
Dimas akhirnya berkata,
"Mungkin salah penempatan."
Elena menoleh.
"Salah penempatan?"
"Iya."
"Dokumen bertanda rahasia milik Komisaris Utama disimpan di ruang arsip bawah tanah tanpa tercatat?"
Dimas terdiam.
Elena mengambil ponselnya.
"Mulai sekarang, tidak ada seorang pun yang menyentuh kotak ini."
Dimas langsung menyela.
"Bu Elena, saya rasa—"
"Saya belum selesai."
Nada Elena dingin.
"Semua akses ke Basement 2 dicatat. Siapa pun yang masuk dan keluar harus tercatat."
Dimas mengangguk pelan.
"Baik."
"Dan saya ingin daftar akses lengkap tiga puluh hari terakhir."
"Baik, Bu."
Dimas berbalik.
Namun sebelum pergi, Elena berkata,
"Pak Dimas."
Ia berhenti.
"Ya?"
"Kalau saya menemukan ada orang yang masuk ke Basement 2 tanpa izin, saya akan menganggapnya sebagai pelanggaran serius."
Dimas menoleh sebentar.
"Dimengerti."
Ia kemudian pergi.
Andrian memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu.
Maya mendekat.
"Len."
"Aku tahu."
"Kamu curiga?"
Elena menarik napas.
"Aku curiga pada semua orang sekarang."
Andrian menatapnya.
"Termasuk aku?"
Elena langsung menoleh.
"Jangan bercanda."
"Aku serius."
Elena mendekat.
"Aku tidak pernah mencurigaimu."
Andrian terdiam.
Elena menatap matanya.
"Justru karena itu aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu terus terseret semakin dalam."
Andrian tidak menjawab.
Elena kemudian menggenggam tangannya.
"Kamu sudah cukup membantu."
Andrian menggeleng.
"Belum."
"Andre."
"Kalau kita berhenti sekarang, orang yang menyembunyikan semua ini akan tetap bebas."
Elena menatapnya beberapa detik.
Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Dulu ia melihat Andrian sebagai seseorang yang harus dilindungi.
Sekarang ia mulai menyadari bahwa Andrian bukan hanya orang yang ingin berada di sisinya.
Ia adalah seseorang yang bersedia berdiri bersamanya.
Bahkan ketika keadaan menjadi semakin buruk.
"Kalau begitu," kata Elena pelan, "kita lakukan dengan benar."
Andrian mengangguk.
"Deal."
---
Malam semakin larut.
Basement 2 kembali sepi.
Setelah tim keamanan memasang garis pembatas sementara di sekitar rak, semua orang akhirnya meninggalkan ruangan.
Namun Andrian masih berdiri di dekat pintu keluar.
Ia menatap kotak 17-B dari kejauhan.
Sesuatu mengganggunya.
"Len."
Elena menoleh.
"Ada apa?"
Andrian menunjuk kotak tersebut.
"Menurutmu, siapa yang membukanya?"
Elena diam.
"Aku tidak tahu."
Andrian mengeluarkan ponselnya.
"Kalau begitu lihat ini."
Ia menunjukkan foto yang diambil sebelum Dimas datang.
Foto pintu abu-abu di belakang rak.
Elena menatap layar.
"Ini apa?"
"Pintu yang kami temukan."
Elena memperbesar gambar.
Wajahnya berubah.
"Kenapa?"
Andrian menunjuk bagian bawah pintu.
Ada goresan kecil berbentuk angka.
17-B.
Elena terdiam.
"Jadi pintu itu..."
"Mungkin berhubungan dengan kotak ini."
Maya yang masih berada di dekat mereka ikut melihat.
"Tapi kalau begitu, kenapa tidak ada di denah Basement 2?"
Andrian menjawab,
"Itu yang harus kita cari tahu."
Elena menatap pintu abu-abu itu.
Kemudian berkata,
"Besok pagi kita bawa tim audit dan bagian legal."
Andrian mengangguk.
"Jangan malam ini."
"Kenapa?"
"Karena seseorang sudah tahu kita menemukan pintu itu."
Elena mengerti.
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan Basement 2.
Pintu besi ditutup.
Kunci diputar.
Klik.
Mereka pergi.
Namun beberapa menit kemudian...
Dari dalam Basement 2 terdengar suara kecil.
Klik.
Pintu abu-abu itu terbuka beberapa sentimeter.
Tidak ada siapa-siapa di lorong.
Kemudian sebuah tangan muncul dari celah pintu.
Tangan itu mengambil sesuatu dari lantai.
Sebuah kartu akses.
Kartu yang sebelumnya terjatuh tanpa disadari siapa pun.
Cahaya lampu darurat menerangi sebagian tulisan di kartu tersebut.
DIMAS — HRD
Tangan itu menggenggam kartu tersebut.
Lalu pintu kembali tertutup.
---
Di tempat lain, Dimas berdiri sendirian di dalam lift.
Pintu lift hampir sampai lantai atas ketika ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Mereka sudah menemukan pintunya.
Dimas membaca pesan itu.
Wajahnya menegang.
Pesan berikutnya masuk.
Kalau begitu, tahap berikutnya dimulai.
Dimas mengetik cepat.
Bagaimana dengan kotak 17-B?
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Biarkan mereka membukanya.
Dimas menatap layar.
Kenapa?
Jawaban terakhir muncul.
Karena yang ada di dalam kotak itu bukan rahasia terbesar.
Pintu lift terbuka.
Dimas memasukkan ponsel ke saku dan berjalan keluar.
Tanpa menyadari bahwa dari sudut koridor, seseorang sedang memperhatikannya.
Dan orang itu memegang foto lama.
Foto Elena.
Di samping foto itu ada satu nama yang sudah dicoret berkali-kali.
Andrian Pratama.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨