Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 35
JLEB.
Asha mundur satu langkah dengan wajah pucat pasi, kaku seperti patung.
"Kurang ajar kamu, Kevin!" Pak Bagas melangkah maju, mencengkeram kerah kemeja Kevin dengan murka.
"Kamu mempermainkan anak saya! Kamu mau nama keluarga saya hancur?!"
Pak Hendra langsung menepis tangan Pak Bagas dari kerah baju anaknya dengan hentakan keras.
"Lepaskan tanganmu dari anak saya, Bagas! Jangan berani-berani main fisik di rumah saya!"
"Keluarga kalian penjahat!" maki Bu Widya histeris seraya memeluk Asha yang mulai menangis meraung-raung.
"Kalian bakal menanggung akibatnya! Saya akan beberkan ke semua relasi bisnis kalau keluarga kalian tidak punya iktikad baik dan meninggalkan calon pengantin begitu saja!"
"Silakan," sahut Bu Rina dengan senyum dingin penuh martabat.
"Beberkan saja. Biar seluruh Jakarta tahu kalau kalian menuntut setengah kilo emas dan apartemen miliaran rupiah sebagai syarat menikah dengan seorang duda. Biar publik sendiri yang menilai siapa yang penjahat dan siapa yang pemeras di sini."
Kata-kata Bu Rina bagaikan tamparan tak terlihat yang seketika mengunci mulut Bu Widya dan Pak Bagas. Mereka sadar, jika cerita soal daftar tuntutan mahar fantastis itu tersebar, justru nama keluarga merekalah yang akan hancur dan dicap matrealistis oleh lingkaran sosial mereka.
"Bagus... Luar biasa keluarga kalian," desis Pak Bagas dengan gigi tergetuk menahan malu yang membakar dada. Ia menatap Kevin dengan tatapan penuh dendam.
"Kamu akan menyesal seumur hidupmu, Kevin."
"Saya sudah menyesal, Pak," balas Kevin lirih namun tegas.
"Tapi penyesalan terbesar saya adalah mencampakkan Dilara, bukan karena batal menikah dengan anak Bapak."
Pak Bagas menarik tangan istrinya dan merangkul Asha yang masih terisak histeris. "Ayo kita pergi dari rumah tidak beradab ini!"
Kevin berdiri mematung di tengah ruangan, dadanya naik turun. Ia perlahan membalikkan badan, menatap kedua orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pa... Ma..." bisik Kevin, suaranya pecah seraya meluruhkan tubuhnya, berlutut di atas lantai pualam di hadapan Pak Hendra dan Bu Rina.
"Kevin minta maaf... Kevin benar-benar minta maaf sudah bikin malu keluarga..."
Pak Hendra menatap putranya yang bersimpuh di lantai. Meski amarahnya belum sepenuhnya padam, ada rasa lega yang amat besar melihat putranya akhirnya lepas dari cengkeraman wanita yang salah.
"Keputusanmu membatalkan pernikahan itu sudah benar, Kevin," ucap Pak Hendra dengan suara berat.
"Tapi ingat... keberanianmu membatalkan pernikahan ini tidak akan pernah bisa menghapus luka yang sudah kamu goreskan di hati Dilara dan juga kami berdua,"
Bu Rina berpaling muka, mengusap air matanya sendiri tanpa berniat menyentuh Kevin.
"Pintu maaf dari Mama dan Papa mungkin ada, Kevin. Tapi penyesalanmu hari ini... harus kamu tanggung seumur hidupmu."
"Kalaupun kamu memilih kembali kepada Dilara dan dia menerimanya lagi, maka yakinlah jika kamu tak akan menemukan Dilara yang sebelumnya. Karena Dilara yang dulu sudah kamu sakiti dan hancurkan,"
Kevin membenamkan wajahnya ke lantai pualam yang dingin, menangis terisak-isak dalam kehampaan yang tak bertepi, menyadari bahwa meski ia telah bebas dari perangkap Asha, wanita tulus yang amat dirindukannya kini telah berada di tempat yang sangat jauh, dilindungi oleh pria lain yang jauh lebih pantas darinya.
Pak Bagas menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, tangannya melayang di udara sebelum menyentuh gagang kayu mahoni tersebut. Ia menoleh perlahan, menarik napas panjang seraya mencoba meredam raut wajah murkanya menjadi topeng diplomasi. Rasa malu yang membakar dadanya terpaksa ia tekan dalam-dalam demi satu hal: gengsi dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Ia berbalik, menatap Pak Hendra dan Bu Rina dengan mata menyipit tajam.
"Hendra... Rina..." panggil Pak Bagas, suaranya berubah berat dan sarat akan desakan yang dipaksakan tenang.
"Coba kalian gunakan akal sehat dan otak dingin malam ini. Pernikahan ini tinggal menghitung hari! Hanya hitungan minggu! Katering sudah dibayar down paymentnya, dekorasi gedung bintang lima sudah difinalisasi, dan yang paling krusial..."
Pak Bagas melangkah dua gelombang mendekati meja tamu, menepuk saku jasnya sendiri.
"Undangan fisik sudah mulai disebar sejak tiga hari lalu! Beberapa menteri, mitra bisnis utama perusahaanku, dan relasi penting perusahaanku sudah menerima kartu undangan itu! Kalian pikir ini main-main?!"
Bu Widya yang tadinya merangkul Asha kini ikut melangkah maju. Usapan air mata di pipinya mengering, berganti dengan sorot mata menuntut yang amat agresif.
"Betul kata Papanya Asha!" seru Bu Widya, suaranya bergetar menahan kepanikan yang amat sangat.
"Kalian mau ditaruh di mana muka keluarga kita kalau acara ini mendadak batal?! Apa kata media sosial? Apa kata teman-teman arisan Tante? Mau dibilang anak Tante ditinggal di H-minus beberapa minggu sebelum akad?! Hancur harga diri Asha, Hendra!"
Asha yang berdiri di samping ibunya ikut memainkan peran dramatisnya kembali. Ia mengusap pipinya yang basah, menatap Kevin dengan tatapan memelas yang dibuat-buat, memegang jemari tangannya yang saling bertaut gundah.
"Kev... tolonglah, Kev..." bisik Asha parau, memohon dengan nada lirih yang memilu.
"Kita bisa bicarakan mahar itu lagi secara kekeluargaan... Kalau logam mulia setengah kilo terasa terlalu berat buat kamu saat ini, kita bisa kurangin! Apartemen di Kemang bisa atas nama kita berdua dulu, bukan atas namaku sendiri! Tapi tolong... jangan batalkan pernikahan ini... Aku mohon, Kev. Aku tidak sanggup menanggung malu kalau sampai ditolak di depan semua relasi Papa..."
"Dengar itu, Kevin?!" potong Pak Bagas cepat, menunjuk Asha lalu menatap Kevin lurus-lurus.
"Anakku sudah merendahkan harga dirinya untuk memberi keringanan! Kurang fleksibel apa lagi kami?!"
Pak Hendra tertawa pelan, sebuah tawa kecil penuh nada ejekan yang membuat atmosfer di ruangan itu semakin memanas. Ayah Kevin itu menyilangkan tangan di dada, berdiri kokoh tanpa niat bernegosiasi sedikit pun.
"Keringanan?" cibir Pak Hendra tajam.
"Bagas, dengar baik-baik. Masalahnya bukan lagi terletak pada berapa gram emas yang kamu tawar seperti pedagang sayur di pasar malam. Masalahnya adalah cara kalian yang dari awal menekan dan memeras anak saya!"
"Hendra! Ini soal nama baik keluarga besar kita!" bentak Pak Bagas dengan urat leher menegang.
"Kalau kamu membatalkan ini, bukan cuma namaku yang tercoreng, tapi nama perusahaan keluarga kalian juga akan terseret! Aku bisa pastikan seluruh relasi bisnisku menarik investasi dan memutus kerja sama dari perusahaanmu! Apa kamu mau bisnismu hancur cuma gara-gara masalah mahar anak-anak?!"
"Ancam saya dengan bisnismu, Bagas?" ancam Pak Hendra balik, menyunggingkan senyum sinis yang amat dominan.
"Silakan putus semua relasi itu malam ini juga! Saya lebih baik kehilangan jutaan dolar dari bisnis daripada harus menerima menantu dan besan yang memandang pernikahan tak ubahnya sebuah lelang harta!"
"Kurang ajar kamu, Hendra!" pekik Bu Widya histeris.
"Rina! Kamu diam saja melihat suamimu mengacaukan masa depan anak-anak kita?! Kamu wanita, Rina! Kamu tahu kan rasanya kalau anak perempuanmu dipromosikan ke seluruh Jakarta lalu tiba-tiba batal nikah?!"
Bu Rina menatap Bu Widya dari atas ke bawah dengan pandangan muak yang tak tertutup.
selamat menikmati penyesalan yg tak berujung ya kevin
sabar y Rendy 🤭