Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jemari Bagaikan Besi
Langkah kaki Master Lu perlahan menjauh, diikuti oleh suara pintu utama Paviliun Dalam yang dikunci dari luar. Diakon Han Mo telah kembali ke ruang kultivasinya. Kesunyian malam kembali merajai sayap barat, hanya dipecahkan oleh suara gelembung rebusan dari kuali besi di ruangan Li Yun.
Di balik dinding pualam yang kini telah dilapisi segel formasi baru, Han Mo duduk bersila. Wajahnya berkerut menahan amarah. Ia mencoba memutar Qi-nya untuk membersihkan sisa-sisa 'korosi belerang' yang disebutkan Master Lu.
"Tabib kotor keparat," geram Han Mo pelan. "Besok pagi, aku tidak akan hanya mengusirnya. Aku akan mematahkan kedua kakinya dan melemparnya ke sarang serigala rawa."
Di ruangan sebelah, Li Yun mendengar gumaman itu dengan sangat jelas. Pendengaran fisiknya yang telah menembus batas manusia biasa mampu menangkap detak jantung Han Mo dari balik dinding.
"Besok pagi terlalu lama, Diakon Han," bisik Li Yun di tengah asap kuning yang pekat. "Mari kita selesaikan tagihan ini malam ini juga."
Li Yun mulai bergerak. Ia tidak menyalurkan Sutra Kayu Mati ke dinding; itu bunuh diri karena segel Master Lu baru saja diaktifkan. Sebaliknya, ia berjalan ke arah kuali besi raksasa. Ia menutup ventilasi udara kuali tersebut sepenuhnya dan menambahkan berton-ton arang kayu ke dasar tungku api bumi.
Dalam sepuluh menit, tekanan di dalam kuali meningkat gila-gilaan. Karena uap tidak bisa keluar, kuali besi itu mulai bergetar hebat. Teng! Teng! Teng! Suara logam yang berbenturan keras bergema ke seluruh sayap barat, menciptakan kebisingan yang mustahil diabaikan.
Di ruang kultivasi, mata Han Mo terbuka dengan kilatan niat membunuh yang absolut. Meditasinya hancur berantakan karena suara bising itu. Kesabarannya yang telah tipis akhirnya terputus. Mengapa harus menunggu besok? Ia bisa membunuh budak fana itu sekarang juga, melelehkan mayatnya di dalam kuali, dan mengklaim bahwa budak itu tewas akibat kecelakaan ledakan tungku!
Brak!
Pintu obsidian Ruang Tungku Besi ditendang hingga terlepas dari engselnya. Han Mo melangkah masuk menembus asap belerang, matanya menyala dengan Qi Lapis Ketujuh yang mematikan. Ia segera melambaikan tangannya, menggunakan Qi angin untuk menyegel ruangan itu dari dalam agar tidak ada suara atau asap yang bocor ke luar paviliun.
Di sudut ruangan, dekat tumpukan karung kapur, Li Yun berjongkok sambil gemetar, menutupi kepalanya dengan tangan.
"T-Tolong, Yang Mulia! Kualinya macet! Hamba tidak bisa menghentikan tekanannya!" Li Yun meratap, suaranya dipenuhi kepanikan yang menyayat hati.
Han Mo mendengus jijik. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Baginya, berbicara dengan serangga sebelum menginjaknya adalah buang-buang ludah. Tangan kanannya terangkat, dan sebilah pisau air yang sangat padat—bersinar biru dan berputar dengan kecepatan bor—terbentuk di udara.
Di dunia kultivasi, perbedaan dua lapis di tahap Pengumpulan Qi adalah jurang pemisah yang absolut. Pisau air Lapis Ketujuh ini cukup untuk membelah batu karang setebal dua meter menjadi dua. Tubuh manusia fana hanya akan terbelah seperti tahu sutra.
Han Mo mengayunkan tangannya dengan santai. Pisau air itu melesat membelah asap, mengarah lurus ke leher Li Yun.
Di detik pisau itu hanya berjarak satu jengkal dari kulitnya, tangisan ketakutan Li Yun lenyap seketika.
Mata Li Yun yang semula sayu membelalak, memancarkan cahaya perak yang dingin dan tak berperasaan. Ia tidak menghindar. Ia tidak menggunakan Qi untuk membentuk perisai. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang telanjang.
Tranggg!
Suara benturan keras bergema, bukan suara daging yang terpotong, melainkan suara baja beradu dengan baja.
Mata Han Mo nyaris meloncat keluar dari rongganya. Pisau air Lapis Ketujuhnya yang mematikan... hancur berkeping-keping menjadi cipratan air biasa saat membentur telapak tangan Li Yun. Di bawah cahaya tungku yang merah menyala, Han Mo melihat kulit lengan Tabib Li sedikit terkoyak, memperlihatkan tulang yang bukan berwarna putih, melainkan hijau kehitaman yang memancarkan kilau logam murni!
"A-Apa?!" Han Mo terkesiap, langkahnya goyah mundur ke belakang. "K-Kau... Kultivator Fisik?!"
Sebelum otak Han Mo sempat memproses kengerian tersebut, Li Yun telah menghilang dari tempatnya.
Bum!
Lantai batu obsidian tempat Li Yun berpijak retak berbentuk jaring laba-laba. Dengan daya ledak fisik murni dari Tulang Kayu Besi, Li Yun melesat menembus asap kuning dengan kecepatan yang jauh melampaui batas reaksi mata Lapis Ketujuh.
Han Mo panik. Ia secara refleks memanggil sempoa kayu cendananya. Artefak pelindung itu melayang di depannya, membentuk tirai cahaya berwarna perunggu.
"Mati kau, tikus kotor!" raung Han Mo, menyalurkan seluruh Qi Lapis Ketujuhnya ke dalam artefak tersebut.
Li Yun muncul tepat di depan tirai perunggu itu. Wajahnya tanpa ekspresi. Tangannya mengepal, otot-ototnya menegang hingga urat-uratnya menonjol, dan ia melepaskan satu pukulan lurus tanpa menggunakan sihir sedikit pun. Murni kekuatan otot dan tulang.
KRAK!
Tirai cahaya perunggu itu hancur berantakan layaknya kaca tipis yang dihantam palu godam. Pukulan Li Yun menembus tirai itu, menghantam sempoa kayu cendana hingga patah menjadi dua, dan terus melaju mendarat tepat di dada kiri Han Mo.
Suara tulang rusuk yang remuk terdengar mengerikan. Han Mo memuntahkan darah segar dan tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak dinding obsidian dengan kekuatan yang nyaris meruntuhkan langit-langit.
"Uhuk... k-kau..." Han Mo merosot ke lantai, menatap Li Yun dengan pandangan ngeri yang absolut. Dada kirinya melesak ke dalam. Jika bukan karena Qi Lapis Ketujuhnya yang secara otomatis melindungi jantungnya, pukulan fisik itu sudah menembus dadanya.
Dunia kultivasi terlalu memuja energi ajaib dan meremehkan penempaan tubuh yang lambat serta menyiksa. Han Mo, seorang ahli formasi dan energi, memiliki tubuh yang rapuh layaknya sarjana biasa ketika pelindung Qi-nya berhasil ditembus.
Li Yun tidak memberikan musuhnya kesempatan untuk bernapas. Ia melangkah maju dengan tenang. Asap belerang menyibak di sekeliling tubuhnya.
Melihat dewa kematian mendekat, Han Mo menggigit lidahnya, membakar esensi darahnya untuk memaksa Qi-nya meledak. Puluhan jarum air beracun terbentuk di udara dan menghujani Li Yun secara membabi buta.
Namun Li Yun sama sekali tidak melambat. Ia menggunakan kedua lengannya untuk melindungi mata dan tenggorokannya. Jarum-jarum mematikan itu menembus pakaian raminya, mengoyak kulit fananya, namun semuanya berhenti saat berbenturan dengan Tulang Kayu Besi-nya. Darah menetes dari puluhan luka dangkal, namun langkah Li Yun tak goyah sedikit pun. Ia tampak seperti iblis abadi yang bangkit dari neraka belerang.
Dalam sekejap mata, Li Yun telah berdiri menjulang di atas Han Mo.
Tangannya yang sekeras besi mencengkeram kerah jubah putih sang Diakon, mengangkat pria kurus itu dari lantai dengan satu tangan. Tangan kirinya bergerak dengan presisi seorang dokter bedah iblis, menusukkan dua jarum perak yang telah dialiri Qi Lapis Kelima-nya tepat ke titik akupunktur Tianzhu di belakang leher Han Mo dan titik Shenque di perutnya.
Aliran Qi Han Mo terputus total seketika. Tubuhnya lumpuh, namun kesadarannya tetap terjaga tajam.
"T-Tolong..." suara Han Mo kini hanyalah bisikan putus asa yang bergetar hebat. Arogansinya hancur menjadi debu. "Ambil batu rohku... ambil posisiku... jangan bunuh..."
Wajah Li Yun sangat dekat dengan Han Mo. Mata peraknya menatap mata sang Diakon dengan kekosongan yang membekukan jiwa.
"Kau salah paham, Diakon Han," bisik Li Yun perlahan, suaranya sangat tenang di tengah desis kuali besi. "Aku tidak menginginkan posisimu. Aku hanya menginginkan... sisa satu persenmu."
Li Yun menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas Dantian Han Mo.
Sutra Pernapasan Kayu Mati diputar mundur. Jika biasanya Li Yun menggunakannya untuk menyembunyikan Qi dan menyerap energi bumi yang pasif, kali ini ia membuka gerbang itu sepenuhnya. Ribuan benang Qi sekecil mikroskopis melesat dari telapak tangannya, menembus kulit perut Han Mo, dan menancap langsung ke lautan Qi Lapis Ketujuh sang Diakon.
Han Mo membelalakkan matanya hingga pembuluh darahnya pecah. Ia mencoba menjerit, namun pita suaranya telah dilumpuhkan oleh jarum Li Yun. Siksaan disedot hidup-hidup dari pusat esensinya jauh lebih mengerikan dari kematian mana pun.
Energi murni Lapis Ketujuh mengalir deras memasuki tubuh Li Yun layaknya air bah.
Li Yun menggertakkan giginya menahan rasa sakit saat energi asing itu mencoba merobek tubuhnya. Namun, energi itu langsung disalurkan ke kerangka tulangnya. Serat perak terakhir di Tulang Kayu Besi-nya akhirnya terisi penuh. Kilau hijau gelap di sekujur tulangnya menyatu, membentuk satu kesatuan yang utuh, padat, dan tak bisa dihancurkan oleh senjata biasa.
Sempurna. Fondasi fisiknya kini telah utuh seratus persen.
Bersamaan dengan itu, tubuh Han Mo mengering layaknya mumi. Rambutnya memutih dalam hitungan detik. Namun Li Yun tidak serakah. Ia tahu batas. Ia berhenti menyedot saat energi murni Han Mo habis, namun ia dengan sengaja menyisakan sisa-sisa energi keruh—polusi ampas belerang yang dikeluhkan Master Lu—di dalam Dantian Han Mo yang telah hancur.
Li Yun melepaskan cengkeramannya. Mayat kering Han Mo jatuh ke lantai.
Tanpa membuang waktu, Li Yun bergerak menata tempat kejadian perkara. Ia meletakkan sempoa yang hancur di dekat mayat Han Mo. Ia lalu memanipulasi posisi mayat itu agar tampak seperti seseorang yang sedang bermeditasi namun kehilangan kendali. Sisa ampas energi kotor yang sengaja ditinggalkan Li Yun di tubuh Han Mo mulai bereaksi dengan udara, menciptakan luka bakar internal yang tampak persis seperti kasus Penyimpangan Qi (Qi Deviation) tingkat fatal.
Siapa pun yang memeriksanya besok akan menyimpulkan satu hal: Diakon Han Mo, yang terlalu memaksakan diri membersihkan polusi belerang di Dantiannya, kehilangan kendali atas Qi Lapis Ketujuhnya. Energi airnya bertabrakan dengan energi kotor, menghancurkan organ dalamnya, dan menyebabkannya meledak dari dalam, merusak ruang tungku di sebelahnya.
Li Yun kemudian melumuri tubuhnya sendiri dengan debu dan darah, berbaring telungkup di sudut ruangan yang jauh dari mayat Han Mo, dan menekan Kayu Mati-nya ke tingkat terendah—mensimulasikan seorang tabib fana malang yang pingsan terkena gelombang kejut dari ledakan Qi sang Diakon.
Mata Li Yun tertutup perlahan, mendengarkan keheningan malam yang kembali turun.
Di dalam tubuhnya yang meringkuk itu, tersimpan fondasi mengerikan yang baru saja lahir. Babak di sekte pinggiran ini telah memberinya segalanya yang ia butuhkan. Ketika fajar menyingsing, tidak ada lagi Han Mo yang teliti, dan tidak akan ada yang mencurigai kayu busuk yang tertidur di sudut ruangan.