Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kalian Telah Berakhir
Seminggu kemudian. Kebun kecil di belakang rumah Zarretti mulai menunjukkan perubahan.
Beberapa bibit yang ditanam Mireya bersama Elden sudah tumbuh. Daunnya mulai bermunculan di atas tanah yang sebelumnya kosong.
Elden berjongkok sambil memperhatikan salah satu tanaman. “Bu, lihat!”
Mireya ikut berjongkok. “Waaah ... Sudah tumbuh.”
“Berarti sebentar lagi bisa jadi besar kan Bu?”
Mireya refleks tertawa mendengar pertanyaan polos itu. “Masih perlu kita rawat dulu dengan baik.”
Elden mengangguk serius. “Aku akan menyiramnya setiap hari.”
“Boleh, tapi airnya jangan terlalu banyak ya.”
“Seperti Ayah waktu itu, Bu?” celetuk Elden.
Mireya langsung tertawa. “Ya. Nggak boleh seperti Ayah kemarin ya.”
Dari belakang Arven berdehem. “Aku dengar.”
Mireya menoleh.
Arven berdiri sambil membawa dua cangkir minuman. “Ini.”
Ia menyerahkan satu kepada Mireya.
Mireya menerimanya. “Untuk apa?”
“Minum.”
“Aku kan nggak minta.”
“Aku tahu.”
Mireya mengerutkan kening. “Lalu?”
Arven menunjuk cangkir di tangannya. “Masih ingat isi kontrak baru?”
Mireya menatapnya beberapa detik. “Kegiatan keluarga?”
Arven mengangguk. “Termasuk memastikan kau tidak bekerja tanpa minum.”
Mireya hampir tersenyum. “Mas, kamu sadar nggak sih. Akhir-akhir ini kamu terlalu sering menggunakan kontrak sebagai alasan.”
“Aku hanya menjalankan kewajibanku.”
Elden langsung tertawa. “Ayah mau selalu dekat-dekat sama Ibu!”
Arven menatap putranya. “Elden.”
Anak itu langsung menutup mulut. Mireya menahan tawanya.
Arven berbalik. “Aku akan memeriksa lahan bagian depan.”
“Mas.”
Arven berhenti. “Terima kasih.”
Pria itu hanya mengangguk.
Namun sebelum pergi, ia melirik tanaman yang baru tumbuh. “Besok aku akan ikut menyiram.”
Mireya mengangkat alis. “Jangan dibanjiri lagi.”
Arven mendengus kecil. “Aku sudah belajar.”
.
.
.
Menjelang siang, suasana perkebunan tiba-tiba berubah.
Pak Can datang dengan langkah cepat. “Tuan.”
Arven yang sedang memeriksa laporan langsung mengangkat kepala. “Ada apa?”
“Kami menemukan orang yang menyebarkan rumor kepada para pekerja.”
Arven menutup berkasnya. “Siapa?”
Pak Can menarik napas. “Syahzan.”
Tatapan Arven langsung berubah. “Di mana?”
“Sekarang dia berada di gudang lama dekat perkebunan di wilayah timur.”
Arven berdiri. “Bawa aku ke sana.”
.
.
.
Tidak lama kemudian, Arven tiba di wilayah timur bersama beberapa orang kepercayaannya.
Syahzan baru saja hendak masuk ke dalam mobil, dan saat itu pula dua orang penjaga menghentikannya.
“Lepaskan aku!” Syahzan berusaha melawan.
Namun jumlah mereka tidak sebanding. Dalam waktu singkat, kedua tangannya berhasil diikat.
Arven berjalan mendekat. Tatapannya dingin.
Syahzan menatapnya dengan marah. “Kau pikir bisa memperlakukanku seperti ini?”
Arven berhenti tepat di hadapannya. "Aku pikir, aku tak bisa?"
Syahzan mengernyit meronta mencoba melepaskan ikatan. Namun sayang, ikatan itu sangat kuat.
“Apa tujuanmu menyebarkan rumor?” Arven duduk di bangku yang dibawakan salah satu anak buahnya.
Syahzan tertawa sinis. “Kenapa? Kau takut perkebunanmu hancur karena tak ada lagi orang yang bekerja di sana?”
Arven tidak menjawab.
Syahzan justru semakin berani. “Kau itu pria berdarah dingin!”
Arven tetap diam. “Kau pikir Mireya akan bahagia hidup bersamamu?”
Pak Can melirik Arven. Namun pria itu masih tenang.
Syahzan melanjutkan. “Kau tidak pantas hidup bersama Mireya!”
Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Kemudian Arven tertawa. Pendek dan dingin.
Syahzan terdiam. “Apa yang lucu?”
Arven menatapnya. “Kau.”
“Apa?”
“Kau tiba-tiba datang ke wilayahku. Menghasut pekerjaku. Membuat masalah di perkebunanku.”
Arven melangkah sedikit lebih dekat. “Lalu sekarang kau bilang aku tak pantas hidup bersama istriku?”
Wajah Syahzan menegang. “Dia itu lebih dulu menjadi istriku!”
Arven kembali tertawa dengan raut wajah dinginnya. “Jadi begitu? Kau merasa lebih pantas bagi Mireya?"
Pertanyaan Arven membuat Syahzan kehilangan kata-kata.
“Dulu, aku menemukan Mireya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Bahkan saat itu, jari manisnya terluka karena cincin yang baru saja dilepaskannya.”
Arven kembali teringat ketika tes pertama Mireya yang diminta menyuapi Elden. Sebenarnya ia tahu, Mireya memasukan nasi goreng ke piring dengan alibi menyuapi putranya. Padahal, waktu itu ia tahu, perempuan gendut itu sangat kelaparan.
Ia berhasil membuat Elden makan dengan lahap karena pengaruh psikologis karena Mireya makan dengan begitu nikmat.
“Mireya memang tidak pernah menceritakan apa pun tentang pernikahan kalian. Dan aku pun tidak tertarik mengorek masa lalunya.”
Arven menatap Syahzan dengan datar.
"Tapi yang aku tahu, pernikahan kalian telah usai."
Arven tertawa sinis. “Dan sekarang dia telah menjadi istriku.”
Syahzan mengepalkan tangannya yang terikat. “Aku masih mencintainya!”
Arven kembali tertawa kecil. “Cinta?”
Ia menatap Syahzan dari atas ke bawah. “Kalau cintamu seperti itu, pantas saja dia tak berminat melirikmu lagi.”
Wajah Syahzan berubah merah. “Kau—”
“Cukup.” Suara Arven kembali dingin.
“Aku tidak tertarik mendengar apa pun alasanmu.”
Ia menoleh kepada Pak Can. “Bawa dia.”
Syahzan berusaha melawan. “Arven! Kau pikir ini sudah selesai?”
Arven berhenti melangkah. Ia menoleh sebentar. “Belum.”
Tatapannya tajam. “Karena setelah ini giliranku mencari tahu siapa saja yang ada di belakangmu.”
Syahzan terbungkam dengan raut wajah yang mengerut karena ketakutan.
Arven pun melangkah pergi tanpa menatap Syahzan lagi. Namun beberapa langkah kemudian, ponselnya berdering.
Ia mengangkatnya. “Ya?”
Suara Mireya terdengar dari seberang.
☎️“Mas, kamu di mana?”
Arven menoleh ke arah kebun yang terbentang di kejauhan. “Aku masih ada urusan.”
☎️ “Kamu pulang kan?”
“Iya, tentu saja aku pulang.”
☎️ “Elden menunggumu.”
Arven terdiam sejenak. Kemudian suaranya terdengar lebih lembut.
“Aku akan pulang sebelum makan malam.”
☎️ “Baik lah, kami menunggumu. Kamu berhati-hati ya.”
Mendengar ucapan Mireya, Arven tertawa. “Baik lah. Aku akan selalu berhati-hati.”
Panggilan berakhir. Arven memutar kepalanya mencari sosok Syahzan yang terikat. "Dia yang harus berhati-hati denganku."
Pak Can yang berdiri tidak jauh darinya hanya diam.
Sementara itu, Syahzan hanya bisa menatap punggung Arven yang semakin menjauh.
Syahzan akhirnya menyadari satu hal. Menjatuhkan Arven ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
*bersambung*
masih mau ngelak🤭🤭🤭
aku gemesssss
🫣🤣🤣🤣
Arven jangan diam saja 😡😡😡😡
Beri mereka pelajaran biar gak ngomong seenaknya.
Arven....kamu tahu apa yang harus kamu lakukan utk Mireya dan Elden
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹