NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Namun setelah mengucapkan kalimat keren itu, Rahman terdiam.
Wajahnya sedikit memerah karena gengsi.
"Tapi... eh..."
"Bagaimana cara masuk ke dalam internet itu?"
"Apa aku harus beli kaset baru untuk memutarnya?" tanya Rahman dengan polosnya, membuktikan bahwa ia benar-benar gaptek.
Maya dan Dimas saling pandang, lalu menahan tawa mati-matian agar tidak menyakiti harga diri bapak kos mereka.
"Bukan kaset, Pak."
"Kita bikin postingan tandingan pakai akun saya saja," jelas Maya sambil menahan senyum.
"Tidak bisa pakai akunmu."
"Kalau pakai akunmu, orang akan mengira kau membela diri sendiri karena kau penghuni sini."
"Kita harus pakai akun resmi atas nama Kos Putra Putri Melati."
"Dimas, cepat buatkan akun resminya di ponselmu!" perintah Rahman dengan logikanya yang kembali jalan.
Dimas mengangguk paham dan segera membuatkan akun baru di platform media sosial yang sama.
"Sudah jadi, Pak. Namanya Official Kos Putra Putri Melati."
"Lalu kita mau posting apa untuk membuktikan kalau kita bukan aliran sesat?"
Rahman tersenyum penuh kelicikan.
Otak bisnisnya selalu bisa mengubah masalah menjadi peluang pemasaran.
"Kita akan posting video kegiatan kita yang paling sesat."
"Maya, kamu rekam aku dan Budi nanti sore sedang membersihkan fasilitas kos ini."
"Lalu rekam juga saat Rina sedang menyuapi anaknya sambil tersenyum bahagia."
"Lalu apa caption-nya, Pak?" tanya Dimas yang bertindak sebagai admin dadakan.
"Tulis begini: Inilah ritual sesat kami setiap hari: Bekerja keras membersihkan fasilitas elit untuk penyewa, dan menyebarkan kebahagiaan antar tetangga."
"Kalau kebersihan dan kekeluargaan dianggap sesat, maka kami bangga menjadi aliran paling sesat di kota ini!"
Rahman mendiktekan kalimat itu dengan intonasi yang sangat dramatis.
Maya dan Dimas melongo takjub mendengar susunan kalimat bapak kos mereka.
Kalimat itu bukan sekadar pembelaan, melainkan sebuah sarkasme cerdas yang sekaligus mempromosikan kenyamanan kos mereka.
"Wah, Pak Rahman ternyata jago banget bikin copywriting."
"Pantas bapak bisa jadi tuan tanah kaya," puji Maya tulus.
"Jangan banyak bicara, cepat siapkan kameramu."
"Kita mulai syutingnya sekarang juga!" perintah Rahman malu-malu.
Sore itu, halaman kos berubah menjadi lokasi syuting dadakan.
Budi yang baru pulang kerja kebingungan saat tiba-tiba disuruh mengepel lantai keramik porselen berkali-kali sambil direkam oleh Maya.
Rahman juga ikut direkam sedang memeriksa kebersihan mesin cuci dengan wajah garang namun lucu karena pura-pura tersenyum kaku di depan kamera.
Tak lupa, momen hangat Rina dan Dimas kecil ikut diabadikan dengan indah.
Setelah video berdurasi dua menit itu selesai diedit sederhana oleh Dimas, mereka segera mengunggahnya ke grup kampus dan beberapa platform lainnya.
"Sudah ke-upload, Pak."
"Sekarang kita tinggal tunggu reaksinya," ucap Dimas sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Bagus, sekarang kalian boleh kembali ke kamar."
"Ingat, jangan sampai ketahuan kalau ini ideku."
"Kalau ada yang tanya, bilang saja ini inisiatif kalian sendiri sebagai anak kos."
Rahman kembali pada mode tsunderenya, mengusir mereka sambil menutupi wajahnya dengan koran lagi.
Malam itu, sesuatu yang ajaib terjadi di dunia maya.
Berkat hadiah Algoritma Viralitas dari sistem, video "ritual sesat" Kos Putra Putri Melati tiba-tiba muncul di beranda ribuan mahasiswa di kota itu.
Hanya dalam hitungan jam, postingan itu mendapat ribuan likes dan komentar.
Di dalam kamarnya, Dimas terus memantau notifikasi yang masuk seperti air bah.
Ia berlari keluar dan mengetuk kamar Rahman dengan heboh.
"Pak Rahman! Video kita viral, Pak!" teriak Dimas antusias.
Rahman membuka pintu dengan wajah pura-pura mengantuk.
"Berisik sekali, apa maksudmu viral? Ada virus masuk ke ponselmu?"
"Bukan virus, Pak, tapi videonya ditonton puluhan ribu orang!"
"Mbak Maya, Mas Budi, sini kumpul lihat komentarnya!" panggil Dimas.
Maya, Budi, dan Rina segera berkumpul di teras depan kamar Rahman.
Mereka membaca rentetan komentar di postingan tersebut bersama-sama.
"Hahahaha, videonya sarkas banget! Nasi liwet dibilang ritual pemujaan jin, ngakak!" Komentar @MahasiswaKritis
"Gila fasilitasnya, terasnya pakai porselen impor, mesin cucinya bersih banget. Ini sih kos idaman!" Komentar @AnakRantau
"Bapak kosnya galak-galak gemes, kelihatan banget aslinya peduli sama anak kosnya. Info dong kamar masih ada kosong gak?" Komentar @SiPencariKos
Membaca komentar-komentar itu, hati Maya sangat lega.
Nama baik mereka bukan hanya bersih, tapi reputasi Kos Putra Putri Melati justru meroket tajam menjadi kos-kosan paling diminati di kalangan mahasiswa.
Banyak yang menghujat balik akun anonim penyebar hoax tersebut.
Ting!
[Misi Utama Harian Selesai.]
[Pengguna berhasil menangkis kampanye hitam dan mengubahnya menjadi kampanye pemasaran gratis bernilai tinggi.]
[Afeksi Maya dan Dimas meningkat karena masalah sosial mereka di kampus terselesaikan dengan elegan.]
[Hadiah: Tambahan umur 7 hari telah didistribusikan.]
Rahman menyilangkan tangannya di dada, berusaha menyembunyikan senyum lebarnya dari para penyewa.
"Sudah kubilang kan, media sosial itu cuma alat."
"Di tangan orang pintar sepertiku, fitnah sekalipun bisa diubah jadi mesin pencetak uang gratis."
"Iya deh, Pak Rahman si master digital marketing."
"Besok-besok kita bikin konten lagi ya Pak, lumayan buat seru-seruan," goda Maya.
"Enak saja, kau pikir wajahku ini tontonan gratisan?"
"Lain kali kalau mau pakai wajahku, harus bayar royalti sepuluh ribu per video!" ancam Rahman yang tentu saja hanya disambut gelak tawa oleh mereka semua.
Keesokan paginya, suasana di kampus berubah seratus delapan puluh derajat bagi Maya dan Dimas.
Teman-teman yang kemarin membuang muka, kini malah mengerubungi mereka untuk menanyakan tentang fasilitas kos Pak Rahman.
Beberapa bahkan secara terang-terangan minta didaftarkan ke daftar tunggu jika ada kamar yang kosong.
Sementara itu, di seberang jalan Kos Nusantara, Anton sedang dimarahi habis-habisan oleh atasannya di telepon.
"Kamu ini manajer bodoh atau bagaimana?!"
"Taktik black campaign kamu malah jadi senjata makan tuan!"
"Sekarang semua mahasiswa malah membandingkan harga mahal kita dengan fasilitas kekeluargaan di kos reyot itu!" bentak bos besar dari seberang telepon.
Anton hanya bisa menunduk pucat sambil berkeringat dingin.
"M-maafkan saya, Pak Direktur."
"Saya tidak menyangka orang tua kampung itu bisa membuat video viral seperti itu," jawab Anton dengan suara gemetar.
"Bulan ini kalau hunian kita tidak mencapai 50%, kamu saya pecat!" ancam bosnya sebelum menutup telepon dengan kasar.
Anton memandang Kos Putra Putri Melati dengan penuh dendam dan rasa frustrasi.
Ia sadar, melawan pria tua bernama Rahman Affandi itu bukan lagi sekadar urusan bisnis, tapi urusan harga diri yang sudah diinjak-injak berkali-kali.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...