"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Malu
KREK!
Mata Kate membelalak lebar. Ugh! Sialan! Kakiku keseleo!
Hanya dalam hitungan detik setelah menyadari kakinya terkilir, tumpuan Kate langsung goyah seketika. Tubuhnya oleng dan hampir terbanting ke tanah jika tidak ada tangan besar yang menggenggam pinggangnya dengan refleks yang begitu cepat.
Salvatore menangkap Kate tepat sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Pria bertubuh tegap itu menopangnya dengan kokoh, sementara wajah tampannya menatap Kate dengan raut khawatir yang tersirat tipis di balik ekspresi kaku khasnya.
"Kau tidak apa-apa, Putri?" tanyanya murni karena cemas.
Kate terdiam membeku.
Putri tunggal Duke itu menatap wajah Salvatore yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Wajah seputih porselen itu perlahan-lahan memerah padam karena syok dan malu. Pertanyaan Salvatore bergema berulang kali di telinganya. Kau tidak apa-apa, Putri?
Apanya yang tidak apa-apa?
Sedetik setelah kesadarannya terkumpul sepenuhnya, Kate melotot hebat. Ia tidak peduli—atau mungkin sebenarnya lupa—bahwa tubuhnya saat ini sedang ditopang oleh Sal. Ia justru mendorong dada Sal kuat-kuat karena panik.
"TERLALU DEKAT!" teriaknya syok.
BRUK!
Pada akhirnya, akibat dorongan Kate sendiri, sang putri kembali jatuh terjerembab. Pantatnya langsung mendarat keras di atas tanah tempatnya berdiri tadi. Gaun mewahnya hampir saja tersingkap jika Rhea tidak dengan sigap menutupi bagian bawah gaunnya.
"Anda selalu melakukan hal-hal yang merepotkan diri Anda sendiri, Nona," kata Rhea masih dengan wajah datarnya. Bagi Rhea, tindakan Kate barusan sangat konyol, padahal ia bisa saja dipapah masuk dengan tenang tanpa harus jatuh dua kali.
Berbeda dari Rhea yang tidak terlihat khawatir karena sudah terbiasa menghadapi nonanya yang dramatis, Salvatore justru menunjukkan rasa cemas yang tulus. Pria berbahu lebar itu bahkan rela berjongkok di dekat Kate untuk memastikan keadaannya.
"Kaki Anda keseleo, Tuan Putri," katanya dengan lembut sembari hendak memeriksa pergelangan kaki Kate.
Tujuan Sal sangat jelas: ia murni ingin membantu. Namun dasar Kate, yang sudah terlanjur malu tetapi gengsi untuk mengaku, langsung menepis tangan Sal ketus. "Aku tidak apa-apa! Tidak usah pura-pura peduli!"
Untuk pertama kalinya, sang Jenderal yang terkenal kaku itu menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan respons sang Putri. Pura-pura peduli?
Kate, dengan wajah yang sudah merah padam karena mempermalukan dirinya di depan Salvatore, langsung membuang muka. Ia menolak menatap sang Jenderal sebelum urat malunya benar-benar putus. Putri itu beralih menatap Rhea dengan tatapan tajam, memberi kode agar sang dayang segera membantunya berdiri.
"Bantu aku berdiri, Rhea," ujar Kate dingin karena dayangnya tak kunjung bergerak.
Meski Kate sudah mengulurkan tangannya, menunggu sambutan dari Rhea, sang dayang justru hanya berdiri bergeming. Matanya menatap lurus ke arah majikannya dengan kedua tangan terlipat rapi di depan perut—pose khas dayang yang sangat sopan tetapi menyebalkan.
"Saya terlalu ringkih untuk menopang Anda, Tuan Putri—"
"Kalau begitu, biar saya saja yang bantu."
DEG.
Kate merasa jantungnya bisa melompat keluar dari dada saat itu juga. Ia sedang berusaha setengah mati menghindari Salvatore akibat aksi konyolnya! Kenapa pria batu ini tidak peka dan justru menawarkan bantuan? Mau ditaruh di mana lagi wajahku ini? jerit Kate dalam hati.
Rhea menatap majikannya dengan raut wajah setenang telaga, sama sekali tidak merasa bersalah karena mengabaikan uluran tangan sang Putri.
"Lagipula," tambah Rhea dengan nada lempeng yang sengaja diulur, "berat gaun berlapis-lapis milik Anda ditambah bobot tubuh Anda sendiri berada di luar batas kemampuan fisik saya sebagai seorang dayang biasa. Saya khawatir jika memaksakan diri, kita berdua justru akan berguling bersama di atas tanah."
"Rhea!" bisik Kate dengan nada melengking menahan geram. Matanya melotot selebar-lebarnya sampai rasanya mau melompat keluar. Bisa-bisanya dayang sialan ini membeberkan soal bobot tubuh di depan pria ini?
Namun, belum sempat Kate menyemburkan makian lebih lanjut untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya, bayangan tubuh tegap Salvatore mendadak mengikis habis pencahayaan matahari di atas kepala Kate.
Tanpa aba-aba, tanpa meminta izin, dan tanpa memedulikan tatapan histeris dari sang Putri, Salvatore merendahkan tubuhnya. Pria bertubuh tegap itu menyelipkan satu lengan besarnya di bawah lipatan lutut Kate yang terbalut gaun mewah, sementara lengan lainnya yang sekeras besi menyangga punggung Kate dengan sangat kokoh.
Dalam satu gerakan yang begitu luwes, bertenaga, dan tanpa usaha berarti—WUSH!
"KYAAAAA!"
Jeritan melengking Kate terputus di udara saat tubuhnya mendadak terangkat tinggi dari permukaan tanah. Salvatore menggendongnya secara bridal style—menopangnya tepat di depan dada tegapnya seolah-olah Kate hanya seberat sehelai bulu unggas!
Sensasi melayang yang mendadak itu membuat refleks bertahan hidup Kate bekerja liar. Kedua tangannya secara otomatis melingkar kencang di sekeliling leher Salvatore!
Wajah Kate terdorong maju, menempel begitu dekat dengan rahang tegas sang Jenderal. Hidungnya secara tidak sengaja menghirup aroma maskulin khas kulit, kayu cendana, dan embun pagi yang menguar pekat dari kemeja Salvatore.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Kate berdetak begitu kencang sampai suaranya seperti bergema di dalam ruang tengkoraknya sendiri. Seluruh darah di dalam tubuhnya seperti terpompa naik dan meledak seketika di kedua pipinya. Merah padam! Urat malunya rasanya tidak cuma putus, tapi sudah menguap melintasi dimensi lain!
"S-SALVATORE! APA YANG KAU LAKUKAN?" pekik Kate histeris, tubuhnya menegang kaku bagaikan papan kayu. Ia mencoba meronta pelan, tetapi cengkeraman lengan Salvatore di bawah gaunnya begitu protektif dan tidak tergoyahkan sedikit pun.
Salvatore menunduk sejenak, menatap wajah Kate yang sudah sewarna buah bit matang. Pancaran mata elang sang Jenderal murni dipenuhi keseriusan dan kepatuhan disiplin. Tidak ada niat menggoda, tidak ada kerlingan nakal, murni aksi pertolongan darurat.
"Kaki Anda terkilir, Putri. Jika Anda memaksa berjalan, peradangan di pergelangan kaki Anda akan semakin parah," ujar Sal dengan suara baritonnya yang tenang, rendah, dan renyah di telinga Kate.
Pria itu kemudian mulai melangkah dengan pijakan yang sangat stabil menuju ke dalam mansion Raventhal, seolah-olah menggendong Putri tunggal Duke yang sedang mengamuk ini sama sekali tidak menguras tenaganya.
"TURUNKAN AKU! AKU BISA JALAN SENDIRI! RHEA, SURUH DIA MENURUNKANKU!" jerit Kate panik setengah mati. Ia tidak berani menoleh ke kiri atau ke kanan karena tahu para pengawal dan pelayan mansion Raventhal yang berada di sepanjang koridor pasti sedang menatap pemandangan ini dengan mata melotot.
Rhea, yang berjalan santai di belakang mereka sembari menepuk-nepuk debu tipis di telapak tangannya, menyahut dengan sangat kooperatif pada Salvatore. "Pilihan yang sangat bijaksana, Tuan Jenderal. Mohon bawa Nona langsung ke sofa ruang tengah. Saya akan mengambilkan kompres es."
"RHEA! KAU DIPECAT!" amuk Kate dengan suara meredam di balik dada Salvatore.
Karena terlalu malu memperlihatkan wajahnya yang membara pada dunia luar, Kate akhirnya menyerah. Dengan gengsi yang hancur berkeping-keping di atas tanah, Putri Raventhal itu menyembunyikan seluruh wajah merah padamnya di lekukan leher dan dada tegap Salvatore, meremas bahu tegap pria itu rapat-rapat.
Salvatore yang merasakan hembusan napas hangat dan cepat dari Kate di area lehernya hanya mengerjapkan mata pelan. Langkah kakinya yang konstan terus membawa Kate masuk menaiki tangga koridor utama.
Kenapa dia gemetaran sekali? batin Salvatore dalam hati, menyimpulkan situasi dengan ketidakpekaan tingkat tinggi. Apakah rasa sakit di pergelangan kakinya separah itu sampai dia gemetar ketakutan?
"Tahan sebentar, Kate," bisik Salvatore pelan, mengeratkan sanggaannya agar Kate merasa lebih aman dalam dekapannya. "Kita sudah sampai di dalam. Tabib akan segera memandumu."
Kate yang mendengar bisikan lembut nan polos tepat di samping telinganya hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, mengutuk ketidakpekaan calon suaminya, mengutuk pengkhianatan Rhea, dan mengutuk dirinya sendiri yang justru merasa jantungnya mau meledak gara-gara pelukan pria batu ini.
Pada akhirnya, meski Kate mencoba sekeras apa pun untuk kabur, khusus untuk hari ini, ia terpaksa berterima kasih kepada Salvatore yang telah membantunya. Meski besok, ia bersumpah akan menyusun rencana konyol lainnya agar pertunangan mereka tidak pernah terlaksana.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗