NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Kunjungan tak terduga

Keheningan di dalam penthouse terasa kian tebal dan mencekam setelah kepergian Ayden ke kantor. Langkah kaki Aisyah yang gemetar membawanya melintasi ruang tamu yang megah, meninggalkan ingatan pahit dari halaman belakang. Pengakuan Pak Karto tentang kematian tragis kedua orang tua Ayden—serta perubahan kilat ekspresi Ayden dari balik jendela kaca raksasa tadi pagi—terus merajam benaknya tanpa ampun.

Aisyah duduk termenung di sofa kulit ruang tengah, kedua tangannya saling bertaut kaku di atas pangkuan. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan senyuman manis Ayden yang terpasang instan setelah tatapan matanya yang sedingin maut kembali terbayang, mengikis habis sisa kewarasan yang ia miliki.

"Ibu Aisyah? Wajah Ibu pucat sekali," tegur Bi Sumi yang baru saja melangkah keluar dari area dapur bersih seraya membawa nampan berisi segelas air hangat. "Apakah Ibu merasa kurang sehat setelah dari taman tadi?"

Aisyah mendongak pelan, berusaha mengukir senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak apa-apa, Bi. Saya hanya... sedikit pusing."

"Ibu memikirkan sesuatu?" tanya Bi Sumi lembut seraya meletakkan gelas di atas meja kaca. "Pak Ayden tadi pesan sebelum berangkat, kalau Ibu butuh apa-apa atau merasa lelah, saya diminta langsung menghubungi dokter pribadi keluarga."

"Tidak perlu, Bi Sumi. Jangan hubungi Ayden," sela Aisyah cepat, suaranya sedikit meninggi hingga membuat Bi Sumi agak tersentak. Aisyah segera menarik napas dalam-dalam, memelankan intonasinya. "Maksud saya... Ayden sedang sibuk dengan rapat penting di kantor. Saya tidak ingin mengganggunya hanya karena pusing biasa."

"Baik, Bu Aisyah," angguk Bi Sumi patuh. "Kalau begitu, Ibu istirahat saja di kamar—"

Bip... Bip... Bip...

Suara bel pintu utama penthouse mendadak berbunyi nyaring, memotong percakapan mereka.

Bi Sumi mengernyitkan dahi heran. "Lho, siapa yang datang jam segini? Biasanya tidak ada tamu yang datang ke sini tanpa janji terlebih dahulu dengan Pak Ayden."

"Coba Bibi periksa dulu lewat intercom," bisik Aisyah, selarikan cemas kembali menyeruak di dadanya.

Bi Sumi melangkah menuju pintu utama dan menekan layar intercom digital di samping dinding. Aisyah berdiri dari duduknya, mengekor pelan di belakang Bi Sumi.

Melalui layar monitor kecil, terlihat sosok seorang wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan berdiri cemas di depan pintu elevator khusus. Wanita itu mengenakan gaun katun sederhana berwarna abu-abu kusam dengan selendang batik mengait di bahunya. Tangannya yang mengkerut menggenggam erat tali tas kain lusuh, sementara matanya bergerak liar memandangi kamera pengawas di atas pintu.

"Siapa ya?" tanya Bi Sumi melalui mikrofon intercom.

Suara wanita di balik speaker terdengar gemetar, parau, dan sarat akan ketakutan yang mendesak. "A-Apakah benar ini kediaman Ayden? Tolong... apakah Ibu Aisyah ada di dalam?"

Aisyah menatap layar monitor itu dengan dahi berkerut. "Dia mencari saya, Bi?"

"Siapa Anda ya, Bu?" cecar Bi Sumi curiga. "Pak Ayden sedang tidak ada di rumah. Kalau ada urusan pekerjaan, silakan ke kantor beliau."

"Saya tahu Den Ayden sedang di kantor! Justru karena itulah saya datang sekarang!" sahut wanita tua itu cepat, suaranya kian panik. "Tolong... saya harus bertemu dengan Bu Aisyah Rahardja! Ini tentang keselamatan Bu Aisyah! Tolong bukakan pintunya sebelum anak buah Den Ayden melihat saya di sini!"

Aisyah tersentak mendengarnya. Kata 'keselamatan' dan nama belakang keluarganya yang diucapkan wanita itu memicu дебор debaran kencang di dadanya.

"Buka pintunya, Bi Sumi," perintah Aisyah tegas.

"Tapi Bu Aisyah... Pak Ayden melarang keras menerima tamu asing—"

"Buka pintunya, Bi. Saya yang bertanggung jawab," sela Aisyah tak terbantahkan.

Bi Sumi menelan ludah, lalu menekan tombol pembuka kunci otomatis. Klek. Pintu besi tebal itu terdorong terbuka.

Wanita paruh baya itu bergegas melangkah masuk ke dalam foyer. Tubuhnya gemetar, matanya menyapu sekeliling interior penthouse yang begitu mewah dengan raut wajah terpukul. Ketika pandangannya jatuh pada Aisyah yang berdiri di ujung lorong, air mata wanita tua itu merembes seketika.

"Bu Aisyah..." bisik wanita itu seraya melangkah mendekat secara impulsif, namun menghentikan kakinya karena sungkan. "Anda benar-benar mirip dengan almarhum Pak Rahardja..."

Aisyah melangkah menyambut wanita itu. "Siapa Anda? Bagaimana Anda bisa kenal dengan Papa saya? Dan kenapa Anda mencari saya?"

Wanita tua itu mengusap air matanya menggunakan ujung selendangnya, lalu menarik napas panjang yang tersengal. "Nama saya Ratih, Bu... Ratih. Dulu... saya adalah mantan pengasuh Den Ayden sewaktu beliau masih kecil, sampai rumah tangga keluarga beliau hancur belah."

Jantung Aisyah seolah berdetak dua kali lebih cepat. Pengasuh Ayden sewaktu kecil?

"Bi Sumi," panggil Aisyah tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita bernama Ratih itu. "Tolong buatkan teh di dapur dan tinggalkan kami berdua sebentar."

Bi Sumi ragu-ragu sejenak, namun melihat raut serius di wajah Aisyah, ia akhirnya membungkuk dan berjalan menuju dapur belakang.

"Silakan duduk, Bu Ratih," ajak Aisyah, menuntun Ratih menuju area sofa ruang tamu.

Ratih duduk di tepi sofa dengan canggung, matanya tak berhenti menatap Aisyah dengan raut iba yang teramat mendalam—tatapan yang persis sama seperti yang diberikan Pak Hendra saat jamuan makan malam tempo hari.

"Bu Ratih," panggil Aisyah lirih, menyelaraskan posisinya di hadapan Ratih. "Apa maksud Anda berkata bahwa kedatangan Anda ini demi keselamatan saya?"

Ratih memegang jemari tangan Aisyah. Tangan wanita tua itu terasa begitu dingin dan gemetar hebat.

"Bu Aisyah... Anda harus pergi dari rumah ini," bisik Ratih lurus, intonasinya penuh desakan histeris yang ditahan. "Anda harus lari dari Den Ayden sebelum semuanya terlambat!"

Aisyah membelalakkan matanya. "Lari? Kenapa... kenapa saya harus lari dari suami saya sendiri?"

"Karena dia bukan suami yang mencintai Anda, Bu!" tangis Ratih pecah pelan, suaranya bergetar oleh kepahitan masa lalu. "Den Ayden menikahi Anda bukan karena rasa cinta atau kasihan... Beliau menikahi Anda untuk membalas dendam!"

Meskipun Aisyah sudah meragukan Ayden sejak insiden dokumen dan cerita Pak Karto tadi pagi, mendengar konfirmasi langsung dari mulut orang yang membesarkan Ayden tetap menghantam dadanya bagaikan godam berat.

"Balas dendam..." cicit Aisyah dengan bibir bergetar pucat. "Tentang... kebangkrutan Dinantara Utama?"

Ratih mengangguk cepat, air matanya menetes membasahi kain gaunnya. "Benar, Bu! Waktu Den Ayden masih remaja, beliau menyaksikan sendiri bagaimana Tuan Besar—Ayah Den Ayden—bunuh diri karena perusahaannya dihancurkan sampai tidak tersisa. Dan beliau juga menyaksikan bagaimana Nyonya Besar menghembuskan napas terakhir dalam keadaan gila karena penderitaan itu."

"Saya sudah mendengar cerita itu dari Pak Karto tadi pagi..." bisik Aisyah pasrah, dadanya naik turun tersengal. "Tapi... apakah Papa saya yang menghancurkan mereka?"

"Tuan Rahardja adalah pesaing bisnis Tuan Besar waktu itu," terang Ratih dengan suara bergetar. "Den Ayden dan mendiang Ayahnya sangat percaya bahwa Tuan Rahardja-lah yang menyebarkan fitnah, memanipulasi saham, dan menjatuhkan perusahaan mereka hingga bangkrut total! Di atas makam ibunya, Den Ayden yang baru berusia belasan tahun bersumpah... dia bersumpah akan membalas semua penderitaan darah itu kepada keluarga Rahardja!"

Aisyah memegang dadanya yang mendadak terasa begitu sempit dan ngilu. "Jadi selama ini... Ayden merencanakan ini semua?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!