NovelToon NovelToon
Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat

Status: tamat
Genre:Fantasi / Mafia / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:4.7M
Nilai: 4.3
Nama Author: ins

Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan

Setelah mendapatkan kabar dari Rian, Fredian dengan sekuat tenaga berlari ke lantai atas menuju kantor Irna. Nafasnya tersengal-sengal sembari memegang pinggangnya karena lelah berlari.

Kemudian dia berhenti sejenak di lorong tepat depan pintu kantor Irna.

"Apa yang sudah terjadi?! kenapa pintu ini bisa pecah begini?" Tanyanya pada diri sendiri saat melihat pintu kaca, di depan kantor Irna pecah berkeping-keping.

Pandangan mata Fredian teralihkan dengan sosok gadis lambat yang perlahan-lahan turun dari atap gedung.

Irna turun dari tangga atas yang mengarah ke loteng. Gaun putih tipis yang dia kenakan meriap tertiup angin malam meliuk-liuk kesana-kemari.

Wajah sembab dan datar tanpa ekspresi apapun, dia terkejut ada seseorang yang berdiri di depan pintu kantornya. Irna membawa cangkir di tangan kirinya.

Gadis itu berhenti sejenak ketika hampir sampai di anak tangga agak bawah. Dia terus melihat ke arah Fredian, pria itu terlihat terburu-buru berlari mendekat ke arahnya.

Fredian sangat terkejut melihat gadis itu.

"Irna, apakah ini arwahmu? apakah kamu sudah meninggal? Irna aku mohon jangan pergi dari dunia ini! aku mohon!" Fredian menangis berjongkok di bawah kaki gadis itu.

Irna tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan pria itu. Dia menggaruk kepalanya mencoba mencerna ucapan Fredian barusan.

"Kenapa pria ini kemari lagi? dan apa yang dia lakukan malam-malam lari maraton ke kantorku seperti sekarang? apa yang membuat wajahnya sangat khawatir?" Seribu tanya berkecamuk di dalam benak gadis itu.

"Kamu ngapain lagi kemari?!" Irna melontarkan kata dengan nada ketus sambil berkacak pinggang.

"Mendengar suaranya yang ketus, dia belum mati? lalu apa maksudnya yang dikatakan pria bodoh satu jam yang lalu, dari telepon?!" Bisik Fredian bingung sambil mengusap keningnya yang basah karena keringat.

"Lalu kenapa kamu memakai baju putih melayang di udara begini?" Tanyanya lagi meraba kaki gadis itu, Fredian masih terus mengamati wajah Irna.

Irna hampir saja meledakkan tawanya mendengar ucapan Fredian barusan, untung saja dia bisa menahannya.

"Melayang apanya? kamu pikir aku bertransformasi menjadi kuntilanak?" Gadis itu kemudian membuka rok panjang, kemudian menampilkan betis mulusnya menjulurkan ke muka Fredian.

"Syukurlah kalau kamu masih hidup." Ujar Fredian lagi seraya mengelus dadanya.

"Kamu kenapa gak pulang sih? ngapain malam-malam dari loteng?!" Tanya Fredian lagi.

Dia juga tidak tahu kenapa Irna tengah malam masih berada di kantor bukannya pulang ke rumah dan beristirahat.

"Kenapa aku gak pulang? kamu sudah tahu jawabannya. Aku dari loteng menikmati suasana malam, sambil minum ini!" Menyodorkan cangkir kopi di tangan kirinya di depan wajah Fredian.

"Rian di mana?!" Tanya Fredian lagi.

Irna hanya mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu keberadaan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

"Aku turun karena mendengar suara kaca pecah, aku pikir ada perampokan! apa kamu yang menghantam pintu kantorku?" Tuduh Irna padanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Aku tidak segila itu! untuk apa aku merusak pintu kaca kantormu, kecuali dalam keadaan darurat!" Tandas Fredian kesal di tuduh.

"Apa mungkin... Rian!!" Mereka berdua berlari serempak masuk ke dalam ruangan.

Didapatinya Rian sudah tergeletak di lantai dalam ruangan Irna.

"Dia mati? masak sih secepat ini?" Tanya Fredian pada Irna sambil menunjuk Rian yang tergeletak dan tidak bergerak.

Irna segera memeriksa denyut nadinya.

"Dia masih hidup!" Ujar Irna kemudian.

"Ya sudah aku akan kembali dulu!" Ujar Fredian langsung berbalik melangkah hendak pergi.

"Eh tunggu dulu, tolong angkat tubuhnya ke sofa." Pinta Irna padanya, Irna melihat rasa enggan mengukir pada wajah Fredian. Tapi akhirnya mau tidak mau dia tetap mengangkat tubuh Rian ke atas sofa.

"Kenapa Rian menghubungimu dan memintamu kemari??"

Tanya Irna lagi karena curiga pada mereka berdua, ada sesuatu yang mencurigakan yang tidak Irna ketahui hingga tiba-tiba mereka bersamaan menyusulnya pergi ke kantornya.

"Itu urusan antara kami, kamu tidak perlu ikut campur!" Ujar Fredian menutupi segalanya dari Irna.

"Oh, kalau begitu kamu tunggu dia di sini. Sepertinya dia sangat syok." Ujar Irna menatap butiran keringat dingin di dahi Rian. Kemudian beralih menatap Fredian yang berdiri di sebelahnya.

Fredian terlihat biasa saja sambil memegangi dagunya.

"Apa sebenarnya yang terjadi sampai membuat dia pingsan begini?" Irna bertanya-tanya.

"Lalu kamu mau kemana?!" Tanya Fredian lagi.

"Pulang!"

"Gak bawa dia sekalian?" Tanya Fredian lagi, wajahnya terlihat sedikit bingung.

"Gak, bentar lagi dia juga pasti bangun!" Ujar Irna mengambil jaketnya dan pergi.

"Apa hubungan mereka berdua seburuk itu? perasaan kemarin-kemarin masih baik-baik saja." Ujar Fredian kembali.

Memang benar satu jam kemudian Rian terjaga, dia terkejut melihat Fredian tengah menjaganya.

"Di mana Irna?" Tanya Rian segera, dia hanya melihat Fredian yang sedang menjaganya.

Rian celingukan mencari keberadaan Irna di sana, gadis itu sudah tidak ada di depan matanya. Rasa khawatir masih terlihat sangat jelas di wajah pria itu.

"Dia pulang ke rumah" Jawab Fredian pendek.

"Syukurlah!" Ujarnya merasa lega mendengar jawaban dari Fredian.

"Kalau kamu sudah baik-baik saja aku pulang dulu, kamu seharusnya tidak sendirian di sini. Lebih baik kamu juga pulang!" Fredian mengingatkan Rian sebelum melangkah pergi agar pria itu lebih berhati-hati.

Fredian bertanya dalam hatinya.

"Lalu apa yang dilihat Rian itu? jika bukan Irna maka? halusinasi? ada hubungannya dengan mahluk itu! pada saat manusia merasa takut atau hawatir dan pada puncak ketakutannya mahluk itu akan muncul menyerupai sebagaimana yang dihawatirkan oleh manusia tersebut!!"

Itu adalah yang pernah Irna katakan padanya, Fredian masih mengingatnya dengan baik.

***

Pagi itu Irna sedang berada di luar beranda rumah miliknya, gadis itu sedang menelepon orang untuk memperbaiki pintu kantornya.

Dia hendak naik ke dalam mobilnya, tapi kemudian Rian datang menyerahkan amplop cokelat yang berisi surat cerai padanya.

"Ini yang kamu minta kemarin." Setelah berkata demikian Rian pergi meninggalkan gadis itu.

Rian segera masuk kembali ke dalam mobilnya, mengendarainya dan pergi meninggalkan Irna yang berdiri mematung di depan rumah menatap kepergiannya.

Tangan Irna mendadak terasa lemas, hingga ponselnya jatuh ke tanah di bawah kakinya. Dia sangat terkejut mendengar Rian berkata dengan wajah serius.

Tanpa menunggu satu dua patah kata darinya, pria itu langsung pergi meninggalkannya begitu saja.

"Ha ha ha ha! sungguh unik sekali perjalanan hidupku ini, menikah dua kali bercerai setelah satu, tiga bulan menikah!" Irna tertawa dalam keputusasaan.

Di dalam ruangan kantornya, di atas meja Irna mendapati surat undangan pernikahan. Di situ tertulis nama Fredian menikah dengan Clarisa.

"Ya kalian memang seharusnya menikah dan membuka lembaran baru" Ujar gadis itu seraya meneguk teh hangat.

"Aku masih berharap mereka tidak membuat masalah lagi denganku setelah mengambil keputusan masing-masing!" Ujar Irna kembali.

Rian juga mendapatkan undangan pernikahan dari Fredian. Rian sangat sedih pada saat Fredian menghubunginya agar hadir pada pesta tersebut.

"Rini.." Panggil Irna pada sekretarisnya.

"Ada apa Bu?"

"Ini skema yang diminta oleh Reshort angel, semalam sudah aku selesaikan."

"Pembangunan proyek akan dimulai Minggu ini, jika ini di minta segera serahkan, manajer Reshort yang akan mengurusnya"

"Baik Bu"

"Aku ada acara besok ke pernikahan Presdir Reshort, jika ada yang mencariku untuk meeting undur jadwalnya beberapa jam ke belakang"

"Skema untuk proyek NGM sudah aku setorkan ke resepsionis, pagi ini." Ujar Irna melalui ponselnya.

"Ya, saya akan bertanya kepada resepsionisku nanti. Oh ya aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian.. Tut Tut!" Rian mengakhiri panggilan.

"Pernikahanku?? apa sih yang dipikirkan pria ini?" Irna tidak mengerti apa maksud Rian mengatakan itu.

***

Pagi hari itu, Irna sudah bersiap pergi ke Reshort, datang ke acara pernikahan Fredian dan Clarisa. Dia pergi ke sana ditemani Rini sekretarisnya.

Clarisa melihat kedatangan Irna Damayanti dengan wajah tidak senang.

Dia berfikir Irna akan menghancurkan acara pernikahannya dengan Fredian.

"Untuk apa kamu datang ke mari?!" Tanyanya sinis menghampiri Irna.

"Saya datang kemari bukan karena urusan pribadi, tapi saya datang untuk menghadiri pesta rekan bisnis" Ucap Irna dengan nada lembut.

"Saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian berbahagia.." Ujar Irna dengan tulus.

Tiba-tiba Reynaldi melangkah masuk ke dalam pesta tersebut. Matanya menangkap Irna tengah berbicara dengan Clarisa.

Reynaldi segera menghampiri mereka.

"Hay Irna..." Tersenyum sumringah menyapa Irna.

"Kayak dengar ada suara tapi kok gak kelihatan orangnya ya??" Pura-pura mencari kesana-kemari.

Clarisa terkejut melihat Reynaldi dan Irna Damayanti akrab dengan secepat itu.

Pandangan Clarisa tertuju pada leher Reynaldi, kalung kristal itu sudah tidak ada di lehernya.

"Apa yang kamu cari hem?! wajahmu terlihat pucat?!" Tanya Reynaldi sembari tersenyum.

"Bagaimana bisa kalung kristal di leher kamu terlepas?! itu mustahil!" Dengan suara agak kencang dan juga histeris menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Sampai para tamu terkejut melihat ke sumber suara. Fredian hanya tersenyum tenang menikmati segelas anggur.

Irna melihat ke arah Fredian dari kejauhan tempatnya berdiri mendongakkan kepalanya dengan wajah geram.

Mengisyaratkan pada pria itu, bahwa..

"Apa kamu sengaja membuat acara ini demi membongkar kedok Clarisa ke depan publik???!"

Fredian hanya mengangguk sembari tersenyum membalas tatapan garang Irna.

Melihat Fredian dan Irna bertukar pandang dengan wajah sengit Reynaldi segera menggamit lengan Irna menariknya ke arah Fredian.

"Perkenalkan ini pacar baru saya.. Irna Damayanti" Ucapnya tiba-tiba.

Irna hanya tersenyum kemudian menginjak kaki Reynaldi, membuatnya memekik kesakitan.

Setelah itu buru-buru pergi ke tempat makanan.

Clarisa dengan marah mengambil segelas anggur, menyiramkan ke wajah Irna.

"Dasar kamu penggoda pria! Belum cukup kamu menggoda suamiku, lalu menggoda kakakku dan Rian Aditama!"

Irna hanya mengusap wajahnya yang basah sambil tersenyum menahan amarahnya.

bersambung..

1
desakpadna
emnk fredian bkin org pen maki" bodo bet, kurang ap cb irna slah aj n trlalu cemburu jd gk waras
desakpadna
berulang x fredian bodoh bet, cwe sllu d curigai lama" lelah ngomong percuma
desakpadna
syok s presdir baru ,, niat ngambil untung malah d bkin syok sm kenyataan🤣
Tina Cahaya
bosan lht cerita Kania,,
Muliatu Nisa
bbb
tetanggamu
udh 3 thn irna baru sadar kesalahannya..
Film Akuh
gak jelas!!!
Elvin: Permisi kak MP 1. (Kau Rela Ku Lepas) 2. (Melamar Tuan Velden)
total 1 replies
Ayu Dwi S
mau bilah pantes lah emg wanita tak ubah wanita rumah bordir
Ridens
visualnya dong thorr
Ridens
tapi aku lebih suka Rian Thor 🙃
Chefi Norhidayah
next
ahahahaaaa
Kok jadi Inge sinetron ganteng ganteng serigala ya 😁😁😁😁
menarik
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
krisan
next
Edha Alvin
alamakkk itu para lelaki itu knp ya..jatuh cinta ap udah gila🤦🤦😂😂
Ambar Wati
👍
Edha Alvin
What..200juta seminggu😬😬
aku jg mau🤭🤭
Edha Alvin
aku cmn fokus am cwek yg d rebutan 2 cwok😅😅seruuuu
jodohnya Chanyeol
irna yang berhadapan sama nenek sihir, gw yang takut 😖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!