Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Dannur
Vandini duduk di tepi ranjang. Jari-jarinya terhenti di atas layar ponsel yang menampilkan nama Satura.
Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menelepon pria itu malam ini guna membahas jadwal sekolah dan keperluan anak-anak. Namun, meskipun ibu jarinya sudah siap menekan tombol panggil, jantungnya tetap berdegup kencang dan merasa gugup.
Vandini menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel ke telinganya.
Panggilan tersambung setelah bunyi ketiga.
"Vandini?" Suara Satura terdengar lembut dan hati-hati dari seberang sana.
"Hai, Satura," jawab Vandini berusaha terdengar tenang meski nada bicaranya tidak terlalu akrab. "Aku cuma mau bahas beberapa hal soal anak-anak. Connan ada tugas proyek IPA minggu depan, terus Cia jadwal kontrol dokter hari Jumat."
"Oh iya, aku ingat," jawab Satura cepat. "Aku rencananya mau bantuin Connan ngerjain proyeknya akhir pekan ini. Udah aku sisihin waktu khusus buat dia. Terus kalau antar Cia kontrol, aku bisa kok anterin kalau kamu mau."
Tawaran itu disampaikan dengan nada antusias dan perhatian yang tidak pernah Vandini duga sebelumnya.
Vandini terdiam sejenak mencerna kata-katanya. Ada rasa lega di sana karena Satura mau membantu. Aneh rasanya melihat Satura yang sekarang berubah menjadi lebih hati-hati, dan hal itu justru membuat hati Vandini terasa perih.
"Makasih," ucap Vandini pelan. "Kayaknya itu bakal bagus banget buat Cia. Dia... sering tanya-tanya soal kamu, lho."
Kalimat itu keluar begitu saja sebelum sempat ia pikirkan, tapi rasanya memang benar adanya meski sedikit menyakitkan.
Keheningan terjadi sejenak di antara mereka, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
"Aku mikirin mereka terus, Van," suara Satura terdengar lagi, hampir berbisik. "Dan aku juga mikirin kamu. Aku tahu keadaan sekarang nggak mudah. Aku nggak mau maksa, tapi aku kangen. Aku kangen keluarga kita."
Vandini memejamkan mata, dadanya serasa diremas oleh berbagai perasaan yang bertabrakan menjadi satu.
"Satura... aku nggak tahu. Kadang aku rasa kita masih bisa perbaiki ini. Tapi di sisi lain..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah untuk menghilangkan rasa tercekat di tenggorokan. "Di sisi lain rasanya aku nggak bisa maafin kamu. Aku merasa terjebak, nggak tahu harus gimana caranya move on."
Satura menghela napas panjang terdengar dari ujung telepon.
"Aku ngerti kok," suaranya terdengar mantap namun sarat akan kesedihan. "Kamu nggak perlu memutuskan apa pun sekarang juga. Aku tahu aku udah hancurin kepercayaan yang mungkin susah kembaliin lagi. Tapi aku mau kamu tahu aku ada di sini. Kapan pun kamu butuh. Walaupun cuma buat urusan anak-anak, aku bakal ada."
Lagi-lagi hening menyelimuti, penuh dengan kata-kata yang tertahan dan penyesalan mendalam. Vandini menarik napas dalam, perlahan rasa tegang di dadanya mulai mereda.
"Aku juga nggak tahu masa depan ini bakal gimana, Satura. Tapi makasih ya... udah mau ngerti. Udah mau berusaha."
Suara Satura terdengar lebih lembut, menyiratkan secercah harapan.
"Aku bakal terus berusaha, Van, berapa lama pun itu. Kalau sekarang kamu butuh waktu dan jarak, aku bakal kasih itu."
"Selamat malam, Satura."
"Selamat malam, Vandini."
Vandini bisa merasakan kehangatan dari suara itu, seakan kata-kata tadi memberikan sedikit harapan baru bagi mereka. Ia mematikan sambungan telepon, lalu duduk diam di tengah kamar yang remang-remang. Di antara jarak yang terbentang, kini ada pula ruang untuk kemungkinan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
...***...
Jadwal terapi satura.
Satura duduk di hadapan terapisnya. Keheningan ruangan itu terasa begitu familiar menyelimuti dirinya. Pandangannya tertuju pada kedua tangan, jarinya memutar-mutar cincin pernikahan. Kebiasaan lama yang sempat hilang, tapi muncul lagi hari ini.
Pikirannya melayang jauh, terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu. Kenangan yang selama ini ia coba kubur, kini kembali muncul begitu saja.
"Kamu sering cerita soal Vandini dan anak-anak," ujar terapis itu dengan suara tenang. "Tapi aku mau tahu, pernah nggak kamu mikir dari mana asalnya pola perilaku ini? Kita nggak bisa ubah masa lalu, tapi memahami sejarahnya bisa bantu kita kenal diri sendiri sekarang."
Satura menggeser posisi duduknya. Rasa tidak nyaman yang familiar mulai menjalar di dada.
"Maksud kamu... orang tuaku?" tanyanya sambil mendongak. Kata-kata itu terasa sangat berat saat terucap.
Terapis itu mengangguk pelan. "Iya. Sepertinya ada luka yang belum sembuh di sana. Mungkin ini saatnya kita gali lebih dalam?"
Satura menghela napas panjang, jarinya semakin erat mencengkeram cincin itu saat wajah ayahnya terbayang. Dannur, ayahnya, memang sosok yang karismatik dan disukai banyak orang. Tapi di balik itu, segalanya berbeda.
Ayahnya punya banyak rahasia, sering berselingkuh, dan memperlakukan keluarga seakan mereka cuma penonton di sandiwara yang ia mainkan. Ibunya, Maria, selalu menerima semua itu dengan senyum tenang, seakan buta akan kenyataan.
Ibunya memilih menutup mata, dan Satura kecil pun melakukan hal yang sama. Ia berpura-pura seakan semua itu tidak pernah terjadi dan tidak mengganggunya.
"Begini... ini rumit," suara Satura terdengar parau, hampir berbisik. "Bapakku... dia itu selalu..." Ia berhenti sejenak, kesulitan mencari kata yang pas untuk menggambarkan sosok yang ia kagumi sekaligus benci.
"Pelan-pelan aja, nggak perlu buru-buru," sahut terapis sambil mencondongkan tubuh, memberi semangat.
Satura memejamkan mata, membiarkan kenangan itu kembali mengalir deras.
"Aku selalu lihat dia selingkuh, bohong, dan merasa bisa lakukan apa saja. Aku jadi mikir itu hal wajar, punya rahasia dan hidup di dua wajah," ceritanya. "Ibuku nggak pernah protes sedikit pun. Aku bahkan nggak tahu dia peduli atau cuma pasrah aja."
Satura menelan ludah kasar, rasa malu yang luar biasa memenuhi dadanya.
"Dan parahnya, di suatu titik, aku mulai mikir memang begitulah kehidupan berjalan. Padahal dulu aku berjanji nggak mau jadi kayak dia, tapi nyatanya... aku malah mengulangi kesalahan yang sama persis."
"Terus gimana perasaan kamu sekarang pas sadar ada hubungan antara masa lalu dan apa yang kamu lakuin?" tanya terapis dengan lembut tapi tegas.
Satura menghembuskan napas dengan gemetar, dadanya terasa sesak oleh rasa sakit.
"Aku benci ini semua. Aku benci udah lukain hati Vandini persis kayak cara bapak nyakitin ibu. Dulu aku selalu bilang sama diri sendiri ... aku bakal jadi suami dan Papa yang jauh lebih baik. Tapi nyatanya... aku nyakitin orang yang paling aku sayang. Sama persis kayak apa yang dia lakuin."
Hening sejenak. Ruangan terasa berat oleh kenyataan pahit yang baru saja ia akui. Rasanya seperti sedang bercermin, dipaksa melihat sisi buruk diri sendiri yang selama ini ia sembunyikan.
"Tapi ada satu perbedaan besar," ucap terapis dengan nada mantap. "Kamu ada di sini sekarang, Satura. Kamu berusaha perbaiki semuanya, berani hadapin rasa sakit, dan mau mengubah diri. Kamu nggak lari atau tutup mata. Kamu berani akui kesalahan, dan di situ lah proses penyembuhan dimulai."
Sesuatu berubah di dalam hati Satura. Ada secercah perasaan yang sudah lama hilang, mungkin itu harapan atau semacam penebusan dosa.
Selama ini ia pikir harus memendam semua rasa sakit dan terus maju tanpa menoleh ke belakang. Tapi kini ia sadar, menghadapi kenyataan adalah satu-satunya cara agar bisa benar-benar berubah.
"Aku nggak mau jadi kayak dia," ucap Satura pelan namun penuh tekad. "Aku mau jadi orang yang bisa dipercaya Vandini dan anak-anak. Aku nggak mau mereka hidup di dunia yang penuh kebohongan dan rahasia kayak yang aku alami dulu."
Terapis itu mengangguk setuju, lalu tersenyum tipis. "Kalau gitu, anggap ini langkah pertamamu, Satura. Akui rasa sakit dan pola buruk ini, lalu putus rantainya. Nggak akan mudah, tapi hasilnya pasti sepadan."
Satura bersandar kembali, menarik napas dalam-dalam. Beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Masih panjang jalan yang harus ditempuh, tapi untuk pertama kalinya ia bisa melihat harapan. Sebuah jalan yang tidak harus berakhir dengan kesalahan yang sama seperti ayahnya. Ia siap melangkah, selangkah demi selangkah, demi Vandini, anak-anaknya, dan juga dirinya sendiri.