Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Harapan yang Mati
Sinar matahari pagi menyusup dari celah gorden abu-abu, membentuk garis terang di atas lantai kamar VIP yang sepi.
Kayla membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa pening yang berputar di kepala, disusul rasa linu yang menyengat dari perut bawahnya setiap kali dia mencoba menggeser posisi kaki. Efek obat bius semalam tampaknya mulai habis, meninggalkan rasa perih yang nyata di bekas jahitan operasinya.
Namun, mengabaikan rasa sakit di fisiknya, sepasang mata Kayla yang sembap langsung bergerak liar ke sudut ruangan.
Di sana, di dalam boks bayi transparan, sesosok makhluk mungil berselimut kain flanel biru sedang tertidur pulas. Napasnya yang kecil membuat dadanya naik-turun dengan ritme yang teratur.
Kayla menarik napas panjang, dia memiringkan tubuh ke kanan. Dia mengulurkan tangannya yang kurus melewati sela pembatas ranjang, mendekatkan jemarinya ke arah boks tersebut.
Seolah memiliki ikatan batin, tangan kecil bayi itu bergerak pelan di atas selimut. Jemari mungilnya yang kemerahan tanpa sengaja menyentuh telunjuk Kayla, lalu menggenggamnya dengan erat. Sentuhan itu begitu rapuh, namun cengkeramannya terasa sangat nyata
Air mata Kayla menetes, jatuh membasahi bantal tanpa suara. Dia mendekatkan wajahnya ke arah boks, menatap lekat setiap inci wajah anaknya yang lahir terlalu cepat ke dunia ini.
"Ibu di sini, Sayang..." bisik Kayla parau, nyaris tak terdengar. "Ibu bakal bertahan. Ibu janji, gak akan ada yang bisa buang kamu lagi."
Selama berbulan-bulan dikurung dalam makian keluarga Wijaya, Kayla selalu merasa dirinya adalah kesalahan. Tapi pagi ini, melihat makhluk suci yang menggenggam jarinya begitu erat, Kayla tahu dia punya satu alasan mutlak untuk tidak menyerah pada takdir.
Pukul sembilan pagi, seorang perawat masuk ke kamar untuk mengantarkan sarapan dan meletakkan sebuah kantong plastik kecil di atas nakas.
"Ini barang-barang Ibu yang kami amankan semalam dari teras depan," kata perawat itu dengan senyum ramah.
Setelah perawat itu keluar, Kayla meraih kantong plastik tersebut. Di dalamnya ada ponsel jadul miliknya. Layar kacanya sudah retak seribu akibat terhempas ke paving blok saat Adrian menyeretnya semalam, namun mesinnya ternyata masih menyala saat Kayla menekan tombol daya.
Begitu layar ponsel menampilkan menu utama, jemari Kayla mendadak kaku. Jantungnya berdegup kencang, memicu rasa ngilu yang aneh di ulu hatinya.
Dengan napas yang tertahan, dia membuka baris notifikasi.
Kayla mencari satu nama. Dia berharap ada panggilan tidak terjawab. Dia berharap ada satu saja pesan singkat, entah itu makian atau pertanyaan di mana keberadaannya sekarang.
Jauh di dalam sudut hatinya yang paling bodoh, Kayla masih berharap Adrian mencarinya setelah emosi pria itu mereda semalam.
Namun, layar ponsel itu bersih.
Tidak ada panggilan masuk. Tidak ada pesan WhatsApp. Tidak ada satu pun orang dari mansion Wijaya yang mencari keberadaannya. Dunia luar berjalan seolah-olah Kayla tidak pernah ada.
Kayla menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Dia menatap nanar barisan angka jam di pojok layar.
Sudah hampir dua belas jam sejak dia diusir di tengah badai, dan suaminya sama sekali tidak peduli apakah dia masih hidup atau sudah mati di pinggir jalan.
Mungkin Mas Adrian belum tahu kalau aku melahirkan, batin Kayla, mencoba menyuarakan pembelaan terakhir yang terdengar menyedihkan di kepalanya sendiri.
Atau mungkin... mungkin dia sedang sibuk mengurus sisa acara Gala semalam dan belum sempat mengecek kamar.
Logika Kayla terus berputar, berusaha menolak kenyataan bahwa dia sudah dibuang sepenuhnya.
Untuk membunuh rasa penasarannya, Kayla membuka aplikasi media sosial dengan tangan yang mulai gemetar. Nama pertama yang muncul di kolom pencarian teratasnya adalah akun milik Valerie Amanda.
Sebuah unggahan foto terbaru yang baru dikirimkan tiga puluh menit lalu langsung terpajang di layar.
Foto itu diambil di sebuah restoran mewah berkonsep fine dining di lantai atas hotel bintang lima. Di dalam foto, Valerie sedang tersenyum manis ke arah kamera sambil memegang segelas jus jeruk.
Di sampingnya, duduk Adrian Wijaya yang mengenakan kemeja kasual mahal. Pria itu sedang tertawa lepas, matanya menatap Valerie dengan binar bahagia yang tidak pernah Kayla lihat selama tiga tahun pernikahan mereka.
Keterangan foto itu tertulis singkat: "Breakfast setelah malam yang luar biasa. Terima kasih untuk energinya, Co-Founder kesayanganku @Adrian_Wijaya."
Harapan kecil yang sempat Kayla susun di kepalanya langsung hancur tak bersisa.
Layar ponsel yang retak itu perlahan buram karena tertutup air mata yang luruh deras dari mata Kayla.
Tubuhnya gemetar, Kayla menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, mati-matian menahan agar suara tangisnya tidak pecah dan membangunkan Arsen.
Napasnya tersendat-sendat, terasa sesak dan mencekik dada.
Kenyataan bahwa suaminya sedang menikmati sarapan mewah sambil tertawa bersama wanita lain, di saat dirinya bertaruh nyawa melahirkan anak mereka sendirian di ruang operasi, menjadi pukulan paling telak yang mematikan seluruh sisa rasa cintanya pada Adrian. Pria itu benar-benar tidak memiliki hati.
Tok, tok.
Suara ketukan pintu yang teratur membuat Kayla buru-buru menghapus air matanya dengan ujung selimut dan membalikkan ponselnya ke atas kasur.
dr. Raditya masuk dengan langkah santai, membawa map rekam medis di tangannya. Aroma mint yang segar seketika menyeruak, menenangkan atmosfer kamar yang sempat tegang.
Raditya berjalan mendekati ranjang, matanya sempat menangkap sekilas layar ponsel Kayla yang retak sebelum wanita itu menyembunyikannya.
Pria itu juga melihat dengan jelas bagaimana kedua mata Kayla yang merah dan bengkak, serta napasnya yang masih sedikit memburu.
Namun, Raditya tidak bertanya apa-apa. Sebagai dokter berpengalaman, dia tahu kapan harus menahan diri demi menghormati privasi pasiennya.
Raditya memeriksa denyut nadi Kayla, lalu beralih memeriksa kondisi fisik Arsen di dalam boks bayi dengan gerakan yang teramat lembut.
"Perkembangan Arsen bagus sekali pagi ini. Detak jantungnya stabil, dan dia pintar menyusu," ucap Raditya, memecah keheningan dengan suaranya yang menenangkan. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Kayla dengan tatapan mata yang teduh.
"Jahitan Ibu Kayla juga tidak ada masalah. Tapi, yang paling penting sekarang adalah pikiran Ibu," Raditya menjeda kalimatnya sebentar, memberikan ruang bagi Kayla untuk mendengarkan. "Bayi itu bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya lewat ASI. Kalau Ibunya stres, Arsen juga akan ikut gelisah."
Raditya tidak memberikan kalimat motivasi yang muluk-muluk. Dia hanya menepuk pelan pembatas ranjang Kayla sebelum melangkah mundur. "Pelan-pelan saja, Bu. Yang berlalu biarkan di luar pintu rumah sakit ini. Sekarang, fokus Ibu cuma ada di dalam boks bayi itu."
Kalimat sederhana namun tulus itu entah kenapa membuat remasan di dada Kayla sedikit melonggar. Dia mengangguk pelan, menatap Raditya dengan rasa terima kasih yang teramat sangat dari matanya yang lelah.
Di belahan kota yang lain, di dalam ruang kerja utama Xavier Group yang bernuansa hitam elegan, Devan Xavier duduk di balik meja kerjanya yang luas.
Asisten pribadinya masuk dengan langkah tegap, meletakkan selembar map dokumen rahasia di atas meja. "Ini laporan mengenai identitas wanita yang Tuan bawa semalam."
Devan meraih map tersebut, membukanya dengan gerakan tenang. Matanya yang tajam membaca baris demi baris informasi yang tertera di sana.
Nama: Kayla Anindita. Status: Istri sah dari Adrian Wijaya, CEO Wijaya Corp.
Lembar berikutnya menampilkan detail kejadian semalam. Laporan dari tim lapangan Devan menyebutkan bahwa Kayla ditemukan terkapar di jalanan kompleks setelah diusir paksa dari mansion keluarga Wijaya dalam kondisi hamil tua, di saat suaminya sendiri sedang menghadiri acara Gala tahunan bersama seorang model bernama Valerie Amanda.
Devan tidak menggebrak meja. Wajahnya tetap datar, sedingin es, tanpa ada riak emosi yang berlebihan. Dia bukan pria yang mudah tersentuh oleh drama kehidupan orang asing, dan dia menolong Kayla semalam murni karena prinsip moralitasnya yang tidak bisa membiarkan seorang wanita hamil mati di depan matanya.
Namun, saat matanya membaca bagian di mana Adrian mengusir istrinya di tengah badai, Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk segaris senyuman sinis yang teramat dingin.
Bagi Devan Xavier, seorang pria yang memperlakukan wanita—terlebih istri yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri—seperti barang buangan, adalah jenis manusia paling rendah dan pengecut di dunia bisnis.
Devan menutup map tersebut dengan bunyi prak yang pelan.
Tindakannya murni merupakan bentuk tanggung jawab atas apa yang sudah dia mulai, tanpa ada embel-embel perasaan di dalamnya.
Malam kembali turun, membawa kesunyian yang mencekam di kamar rawat Kayla. Arsen sudah tertidur lelap setelah disusui beberapa jam yang lalu.
Kayla duduk bersandar di ranjangnya, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan kerlip lampu kota.
Di dalam keheningan itu, realitas kehidupan yang sesungguhnya mulai datang menghantam kepalanya bertubi-tubi.
Rasa sedihnya perlahan menguap, berganti dengan rasa takut yang teramat besar yang membuat seluruh tubuhnya dingin.
Kayla mulai menghitung apa yang dia miliki saat ini. Jawabannya adalah: tidak ada.
Dia tidak punya rumah untuk pulang. Dia tidak punya pekerjaan karena selama ini seluruh tenaganya dihabiskan untuk mengurus pembukuan Wijaya Corp tanpa digaji sepeser pun.
Dia tidak punya tabungan pribadi karena seluruh aset dan rekening berada di bawah kontrol ketat Ibu Sandra. Bahkan baju yang melekat di tubuhnya saat ini adalah daster milik rumah sakit.
Sekarang, dia tidak lagi sendiri. Ada Arsen, seorang bayi prematur yang membutuhkan susu, pakaian, popok, dan tempat tinggal yang layak.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Kayla tidak lagi merasa takut pada bentakan Adrian atau makian Ibu Sandra.
Ketakutan terbesarnya malam ini telah berubah total. Dia teramat takut jika dirinya tidak mampu menjadi ibu yang baik dan tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Arsen. Meratapi kemiskinannya sendiri di dalam kamar mewah itu membuat Kayla merasa begitu kerdil.
Keesokan paginya, tekad Kayla sudah bulat. Dia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di kamar VIP yang tarif per malamnya pasti setara dengan gajinya selama berbulan-bulan dulu.
Dengan bantuan seorang perawat, Kayla duduk di atas kursi roda sambil memangku Arsen yang diselimuti rapat. Dia meminta perawat untuk mengantarkannya ke lantai bawah, menuju bagian administrasi rumah sakit. Kayla ingin tahu berapa total biaya yang harus dia tanggung agar dia bisa menyusun rencana bagaimana cara mencicilnya nanti.
Kursi roda itu berhenti di depan loket administrasi VIP yang sepi dan eksklusif.
Kayla memajukan tubuhnya sedikit, menatap petugas wanita di balik kaca. "Permisi, Sus... saya atas nama Kayla Anindita dari kamar tiga kosong dua. Saya ingin mengecek total tagihan biaya operasi dan perawatan bayi saya selama di sini."
Petugas loket itu tersenyum sopan, lalu jemarinya mulai menari di atas papan tik komputer selama beberapa saat. Matanya meneliti layar digital, sebelum akhirnya kembali menatap Kayla dengan pandangan ramah.
"Untuk pasien atas nama Ibu Kayla Anindita dari kamar tiga kosong dua, seluruh rincian biaya sudah diselesaikan, Bu," ucap petugas itu tenang.
Kayla tersentak. Dia memajukan tubuhnya lebih dekat ke kaca loket, mengira dirinya salah dengar. "Maaf? Sudah diselesaikan? Maksudnya bagaimana, Sus? Siapa yang membayar? Jumlahnya pasti sangat besar..."
Petugas administrasi itu terkekeh pelan, lalu membalikkan selembar kertas resi resmi yang sudah dicap lunas ke hadapan Kayla. "Seluruh biaya operasi sesar darurat, perawatan intensif bayi prematur, dan kamar VIP untuk satu minggu ke depan sudah dibayar lunas tanpa sisa, Bu."
Jantung Kayla berdegup kencang. Pikirannya mendadak kosong. "Tapi... tapi oleh siapa, Sus?"
Petugas itu menunjuk sebuah nama yang tertera di kolom penjamin pada lembar resi tersebut. "Oleh penanggung jawab Anda, Tuan Devan Xavier."