Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Labirin Perasaan
Ujung sepatu pantofel hitam milik Kiandra terseret lemas di atas lantai linoleum koridor kampus yang mengkilap. Suara gesekannya terdengar menyedihkan, seirama dengan bahunya yang merosot jatuh.
Tas ransel di punggungnya, yang pagi tadi terasa ringan penuh ambisi, kini seolah berubah menjadi bongkahan timah seberat sepuluh kilogram.
Langkah kaki Kiandra terasa berat, seolah-olah setiap inci lantai koridor Le Cordon Bleu sengaja menahan pergerakannya. Ia berjalan menunduk, menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul di permukaan lantai yang licin.
Bayangan seorang mahasiswi yang baru saja dipermalukan secara profesional oleh "Tuhan" di dapur praktik.
Ia berhenti sejenak di depan sebuah jendela kaca besar yang menjulang tinggi. Di kejauhan, Menara Eiffel berdiri tegak, membelah langit Paris yang mulai berubah warna menjadi abu-abu pucat. Ikon dunia yang biasanya terlihat romantis itu, kini di mata Kiandra tampak sangat berbeda.
"Kenapa menara itu kelihatan kayak tumpukan saus Hollandaise yang gagal, sih?" gumam Kiandra pelan.
Ia menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. "Aku beneran kena mental. Kalau Papa tahu sausku dibuang ke tempat sampah, mungkin aku sudah disuruh pulang hari ini juga buat jaga kasir di Rumah Makan Lestari."
Pikirannya kembali berputar pada kejadian satu jam lalu. Suara saus yang jatuh ke dalam plastik sampah itu masih terngiang-ngiang, lebih nyaring daripada suara ledakan bom di telinganya. Dan tatapan Enzo... mata hazel yang dingin itu seolah-olah tidak pernah mengenalinya sebagai gadis yang membuatkannya nasi goreng semalam.
"Ki! Jangan murung begitu, dong!"
Sebuah rangkulan erat mendarat di bahu Kiandra, membuatnya sedikit terhuyung. Mei Ling muncul dengan wajah yang masih penuh energi, kontras dengan Kiandra yang sudah seperti kerupuk layu terkena air.
"Muka kamu sudah kayak adonan gagal yang kelamaan di-mixer, tahu nggak? Benyek!" Mei Ling tertawa kecil, mencoba menghibur meski kalimatnya tetap saja terdengar jujur dan menyakitkan.
Diya Kapoor berjalan anggun di samping mereka. Ia berhenti sejenak untuk memperbaiki letak kacamata hitam mahalnya yang bertengger di atas kepala, lalu menatap Kiandra dengan tatapan seorang kakak yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan.
"Dengar, Kiandra. Di industri ini, kalau kamu nggak menangis di hari pertama, berarti kamu nggak belajar apa-apa," ucap Diya dengan nada otoriter yang elegan.
"Enzo Romano itu memang monster, tapi dia monster yang punya standar. Anggap saja ini baptisan api."
"Aku nggak menangis, Diya. Aku cuma... nyesek," sahut Kiandra sambil mengembuskan napas panjang. "Malunya itu, lho. Di depan seisi kelas! Dia membuangnya seolah-olah aku baru saja menyajikan racun tikus."
Juliette Laurent bergabung dalam barisan mereka, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Enzo hanya ingin kamu tahu bahwa dapur bukan tempat untuk bermain perasaan, Ki. Dia punya standar yang tinggi."
"Aku punya cokelat di tas," Adele Moreau memegang lengan Kiandra pelan, matanya memancarkan simpati yang tulus.
"Mungkin itu bisa sedikit membantu 'baper' kamu berkurang? Cokelat hitam dari Belgia, sangat bagus untuk saraf yang tegang."
"Ayo, Ki! Jangan lemas begitu!" Jaxson Cole muncul dari belakang, merangkul lehernya sendiri sambil menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kita ke kelas Sejarah Kuliner sekarang. Katanya dosennya hobi dongeng, lumayan buat tidur siang sambil mimpiin saus yang sempurna."
Kiandra hanya bisa pasrah saat rombongan itu menggiringnya menuju Ruang Teater Kelas. Ia merasa seperti narapidana yang sedang digiring menuju sel baru setelah disiksa di ruang interogasi.
***
Ruang Teater Kelas terasa dingin dan kaku. Kiandra duduk di kursi kayu yang keras, membuka buku catatan yang halamannya masih bersih dari tinta hari ini. Ia menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memutar-mutar pulpen tanpa minat.
Di depan kelas, seorang dosen pria tua dengan kacamata tebal mulai membacakan sejarah Auguste Escoffier dengan suara yang monoton, datar, dan tanpa ekspresi. Suaranya terdengar seperti dengung lebah yang konsisten, membuat beberapa mahasiswa di barisan belakang mulai menundukkan kepala.
Namun, pikiran Kiandra tidak ada di sana. Pikirannya melayang jauh, menembus dinding kampus dan mendarat di apartemen Rue de Rivoli.
"Gimana bisa pria yang semalam makan nasi goreng sambil terus bercanda, tadi siang berubah jadi algojo?" batin Kiandra bingung.
Ia mengingat kembali bagaimana Enzo menatapnya di dapur praktik. Dingin, tajam, dan sangat profesional. Tidak ada jejak pria yang semalam mengurungnya di dinding dapur dan meminta "upeti" makanan.
"Apa dia punya kepribadian ganda? Atau aku yang terlalu baperan jadi mahasiswi?" Kiandra merengut kecil. "Mungkin dia memang punya sakelar di otaknya. Klik, jadi dosen monster. Klik, jadi teman kontrakan yang menyebalkan."
Suara dengung AC kelas yang monoton mulai bekerja seperti hipnotis. Mata Kiandra terasa berat. Di tengah kantuk yang mulai menyerang, bisikan Enzo di dapur tadi kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
Sampai jumpa di rumah, Piccola.
"Rumah katanya?" Kiandra mendengus pelan dalam lamunannya. "Itu mah bukan rumah. Itu kandang macan yang lantainya dipel pakai air mata mahasiswi."
***
Pukul 17:00.
Bel kampus berbunyi, menandakan akhir dari penderitaan akademis hari ini. Mahasiswa berhamburan keluar kelas seolah-olah baru saja dibebaskan dari penjara bawah tanah.
"Ki, mau mampir ke Kafe Le Quartier dulu? Aku butuh asupan kafein biar nggak pingsan di Metro nanti," ajak Mei Ling sambil merapikan tasnya.
Kiandra menggeleng lemah. "Nggak deh, Mei. Aku mau langsung pulang saja. Rasanya otakku mau meledak, butuh kasur secepatnya."
"Ya sudah. Hati-hati, ya. Jangan sampai salah naik Metro lagi! Kalau kamu sampai di pinggiran Paris malam-malam, aku nggak mau jemput!" canda Mei Ling sebelum melambai pergi.
Kiandra berjalan sendirian menuju stasiun Metro terdekat. Udara sore Paris terasa semakin menggigit, menusuk hingga ke balik mantel wolnya. Ia masuk ke dalam gerbong kereta yang sesak, berdesakan dengan warga Paris yang pulang kerja dengan wajah-wajah lelah yang serupa dengannya.
Ia berpegangan pada tiang besi kereta yang dingin, mencium berbagai aroma parfum orang asing yang bercampur dengan bau keringat dan udara lembap. Kepalanya sedikit pening, namun ia mencoba bertahan hingga stasiun tujuannya.
***
Kiandra sampai di depan gedung apartemen Haussmann yang megah di Rue de Rivoli. Ia berhenti sejenak di depan pintu kayu besar yang berat itu, menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.
"Oke, Ki. Masuk, mandi, tidur. Jangan pedulikan kalau ada monster di dalam," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ia menempelkan kartu akses. Suara klik pintu yang terbuka menggema di lorong apartemen yang sunyi. Kiandra melangkah masuk dengan sangat hati-hati, berjinjit seolah-olah setiap suara langkah kakinya bisa membangunkan raksasa yang sedang tidur.
Ia memindai ruang tengah yang luas. Kosong.
Hanya ada cahaya senja yang masuk melalui jendela besar, menciptakan bayangan panjang di atas lantai kayu. Dapur marmer juga tampak bersih berkilat, tidak ada tanda-tanda aktivitas memasak di sana.
"Enzo? Monsieur Romano?" bisik Kiandra pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara detak jam dinding yang terasa sangat nyaring di tengah keheningan itu.
Kiandra berjalan menuju dapur, matanya menangkap botol wine Brunello di Montalcino yang masih tertutup rapi di atas meja makan. Ia mencium udara di sekitarnya. Aroma sandalwood milik Enzo masih tertinggal tipis, sangat samar, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa ia tidak benar-benar sendirian di tempat ini.
Ia merasa lega karena tidak harus berhadapan dengan pria itu sekarang, namun ada sedikit rasa hampa yang aneh di sudut hatinya—sebuah perasaan yang langsung ia tepis jauh-jauh.
"Baguslah kalau dia nggak ada. Aku bisa napas tenang," ucapnya pada diri sendiri.
Kiandra masuk ke kamarnya, melempar tas ranselnya ke lantai tanpa peduli, dan langsung menuju wastafel kamar mandi. Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Ia ingin menghapus bayangan wajah dingin Enzo di kelas, ingin menghapus rasa malu yang masih membekas di pipinya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sedikit merah karena kelelahan, dan wajahnya tampak sangat kuyu.
"Kamu di sini buat belajar, Ki. Bukan buat baper," ucapnya pada bayangannya sendiri di cermin.
Keluar dari kamar mandi, Kiandra langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur tanpa mengganti baju. Kasur itu terasa begitu empuk, seolah-olah sedang memeluknya dengan hangat. Ia menarik selimut hingga ke dagu, meringkuk seperti janin, mencoba mencari kenyamanan di tengah dinginnya Paris dan kerasnya dunia kuliner.
"Besok... aku harus lebih kuat," bisiknya pelan sebelum matanya benar-benar terpejam. "Jangan sampai dia lihat aku lemah lagi. Jangan sampai dia punya alasan buat buang sausku lagi."
Kesadaran Kiandra perlahan menghilang, ditelan oleh kelelahan mental yang luar biasa, sementara di luar sana, Paris mulai menyalakan lampu-lampu kotanya yang gemerlap.