NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci

Gema hantaman pintu jati oleh Gunawan perlahan surut, meninggalkan keheningan yang begitu pekat dan menekan di dalam ruang rapat utama lantai 17 Apex Media. Udara di dalam ruangan terasa berat, menyisakan residu amarah dan kebencian yang ditinggalkan oleh pria paruh baya dari Bali itu.

Andra Bayu tetap berdiri kokoh di tempatnya, tepat di samping kursi Nadia. Rahangnya mengencang, dan sepasang mata hitamnya yang teduh kini memancarkan kewaspadaan yang tinggi. Namun, fokusnya segera teralih sepenuhnya begitu ia mendengar suara napas yang memburu dan patah-patah dari wanita di sebelahnya.

Nadia masih terduduk kaku. Jemari halusnya yang memutih karena mencengkeram pulpen perak kini bergetar hebat. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan wibawa dingin sebagai seorang Managing Director, kini tampak pias tanpa darah. Kalimat ancaman Gunawan “mencari tahu apa yang kamu lakukan di belakangku” bagaikan pisau yang terus menguliti ketenangannya, meruntuhkan seluruh benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah.

(Mbak Nadia... Mbak Nadia, mboten napa-napa?) bisik Andra lirih, melangkah mendekat. Nada suaranya sarat akan ketulusan murni, sebuah kepedulian yang melampaui batas formalitas pekerjaan.

Nadia tidak menjawab. Serangan panik yang hebat mendadak mencengkeram dadanya hingga ia merasa pasokan oksigen di ruangan itu menguap habis. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, merusak riasan tipis di pipinya. Dengan tubuh yang bergetar hebat, Nadia melepaskan pulpennya, lalu mendongak menatap Andra. Tatapan matanya yang basah mencerminkan kerapuhan yang teramat sangat, bercampur dengan binar posesif dan ketakutan kehilangan yang teramat pekat.

Tanpa memedulikan status jabatan mereka, Nadia bangkit berdiri dan langsung menghambur ke dalam dekapan Andra. Ia memeluk pinggang tegap pemuda desa itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Andra yang hangat. Tangisnya pecah, menyuarakan keputusasaan seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan beracun.

(Andra... saya takut. Gunawan... dia tidak pernah main-main dengan ucapannya,) bisik Nadia di sela isak tangisnya, suaranya teredam oleh kain kemeja Andra. (Dia akan menghancurkanku, Andra. Tapi yang paling aku takutkan... dia akan menghancurkanmu. Aku tidak mau kamu jadi korban kegilaannya. Aku tidak mau kamu pergi...)

Dada Andra bergemuruh. Sentuhan fisik yang begitu tiba-tiba ini memicu detak jantungnya bertalu keras. Aroma parfum melati yang mewah dari tubuh Nadia menyeruak, memenuhi indra penciumannya. Rasa iba yang mendalam bercampur dengan tanggung jawab seorang pria tulus bangkit di dalam diri Andra. Tangan kanannya yang besar dan kasar perlahan naik, mengusap punggung Nadia dengan lembut, sementara tangan kirinya mendekap kepala wanita itu, melindunginya dari kerasnya dunia luar.

(Tenang, Mbak. Tenang. Selama saya di sini, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau menyakiti panjenengan. Pak Gunawan hanya sedang kalap karena kalah dalam rapat tadi,) ujar Andra dengan nada bariton yang rendah, mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menenangkan Nadia.

Namun, ketakutan yang teramat sangat justru memicu adrenalin dan gairah di dalam tubuh Nadia. Menghadapi ancaman kehilangan yang nyata dari Gunawan, Nadia justru merasa hasratnya untuk memiliki Andra seutuhnya meledak tanpa kendali. Pelarian terbaik dari rasa takut adalah keintiman yang membakar.

Nadia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Andra yang jujur. Dengan gerakan yang nekat dan penuh kepasrahan, Nadia menjinjitkan kakinya. Jemari halusnya naik mencengkeram kerah kemeja Andra, lalu menarik wajah pemuda itu ke bawah.

Bibir ranum Nadia yang basah langsung membungkam bibir Andra dengan ciuman yang menuntut, liar, dan penuh keputusasaan.

Andra tertegun sejenak, tubuhnya menegang. Logikanya sempat berteriak bahwa ini adalah ruang rapat kantor yang sewaktu-waktu bisa diakses oleh staf lain. Namun, lumatan Nadia yang begitu intens, lidahnya yang hangat yang mulai menerobos masuk mencari tautan, serta sisa tangis wanita itu yang membasahi bibir mereka, meruntuhkan dinding pertahanan Andra. Insting maskulinnya bergejolak hebat.

Andra memutar tubuh Nadia dengan cepat, mendorong tubuh ramping itu hingga punggung Nadia bersandar pada meja rapat jati yang besar. Dengan satu gerakan tangan yang tegas, Andra menjangkau panel kendali di dekat pintu, menekan tombol pengunci otomatis dan menurunkan tirai pemisah elektronik. Ruang rapat itu seketika tertutup rapat dari dunia luar, menyisakan pencahayaan yang dramatis.

Kini, tidak ada lagi batasan. Andra membalas ciuman Nadia dengan tak kalah rakus. Gairah pria mudanya yang berdarah panas meledak. Tangan besarnya merayap turun ke pinggang Nadia, meremasnya dengan sensual, lalu mengangkat tubuh wanita itu hingga duduk di atas tepi meja rapat.

Nadia melenguh rendah di tengah tautan bibir mereka, merasakan dominasi fisik Andra yang begitu jantan dan murni. Ia melingkarkan kedua kakinya yang terbalut rok kerja ketat di sekeliling pinggang Andra, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat, tanpa jarak. Tangan Nadia dengan tidak sabar mulai menanggalkan satu per satu kancing kemeja biru navy milik Andra, ingin merasakan kehangatan kulit sawo matang yang kekar di bawahnya.

Di bawah temaramnya lampu ruang rapat, di atas tumpukan berkas draf kontrak kosmetik yang baru saja mereka menangkan, keduanya tenggelam dalam pergolakan gairah yang intim dan vulgar. Setiap sentuhan kulit yang beradu, napas yang memburu bersahutan, dan lenguhan pasrah Nadia menjadi bentuk pelarian mutlak dari teror yang ditinggalkan Gunawan. Andra menyalurkan seluruh ketulusan hatinya lewat sentuhan-sentuhan yang mendominasi namun penuh kelembutan, sementara Nadia menyerahkan seluruh raga dan jiwanya, membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya oleh pria yang belum genap dua bulan bekerja di bawahnya itu.

Satu jam berlalu dalam kesunyian yang baru.

Udara di dalam ruang rapat kini berbau harum parfum yang bercampur dengan kehangatan tubuh yang intens. Nadia bersandar lemas di dada bidang Andra yang kini bertelanjang dada, mendengarkan detak jantung pemuda itu yang berangsur normal. Pakaian mereka sudah kembali dirapikan, meski beberapa kancing kemeja Andra masih terbuka.

Nadia menatap lurus ke depan dengan pandangan yang jauh lebih tenang, kepanikan yang menyiksanya tadi telah menguap, digantikan oleh rasa kepemilikan yang kian mengikat.

(Andra...) bisik Nadia, jemarinya mengusap lembut sisa keringat di dada Andra. (Apapun yang terjadi setelah ini, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan saya. Gunawan mungkin punya uang, tapi dia tidak akan pernah bisa memilikiku seperti kamu memilikiku.)

Andra menunduk, mengecup puncak kepala Nadia dengan lembut. Ketulusannya tidak terkikis oleh gairah yang baru saja usai, justru, tanggung jawabnya kini berlipat ganda.

(Saya berjanji, Mbak. Saya tidak akan ke mana-mana. Kita akan selesaikan proyek ini, dan saya akan pastikan posisi kita di perusahaan ini tidak akan bisa digoyang oleh Pak Gunawan,) jawab Andra dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih matang dan penuh tekad.

Andra menyadari, badai besar baru saja dimulai. Besok, ia harus mendatangi Menara SCBD untuk bertemu Diana guna melegalisasi dokumen pembayaran termin pertama. Tanpa ia ketahui, di sana, Diana pun sudah menyusun rencana yang jauh lebih agresif untuk menyeret dirinya ke dalam jaringan keintiman yang berbeda. Namun untuk saat ini, di dalam ruangan yang terkunci ini, Andra telah memantapkan hatinya untuk menjadi perisai bagi wanita yang bersandar di dadanya.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!