NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Tamat
Popularitas:51k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meredam amarah

"Gavin, mengapa wajahmu merah sekali? Apa kau demam?" suara Azalia sedikit parau. Tangannya masih memegang rahang suaminya itu.

Gavin berdecak nyaring. "Siapa yang kau khawatirkan sekarang?"

Laki-laki itu mendengus kesal saat kembali ingat hal buruk yang bisa terjadi pada Azalia beberapa saat yang lalu. Tanpa sadar, Gavin kembali menarik tubuh mungil itu dalam pelukan, nyaris membuat Azalia terangkat dari tempat duduknya karena pelukannya. Gavin berusaha meredam amarah dengan meyakinkan diri kalau Azalia aman-aman saja sekarang dan sedang dalam rengkuhan tangan kokohnya. Tangannya kembali membelai punggung Azalia. Gavin tak sadar sikapnya mulai tak wajar. Azalia kembali menegang karena sikapnya. Detak jantungnya berpacu cepat, dan dia takut kalau Gavin bisa mendengarnya.

Sadar akan kedekatan yang kembali mendebarkan. Azalia menoleh seketika itu juga, membuang muka, mencoba menatap benda-benda lain asal bukan Gavin. Dia baru sadar setiap sentuhan Gavin tak biasa saat dia pelan-pelan mulai pulih dari rasa takut. Wajah Azalia mulai memerah karena Gavin bergeming saat dia menghindar. Apalagi saat hembusan napas hangat laki-laki itu mulai terasa menyapu kulit wajahnya. Dia masih membuang pandangan saat tubuhnya masih dalam dekapan Gavin.

Gavin mendesah pasrah, sebelum benar-benar menjauh dari Azalia. Wajahnya semakin memerah dan Azalia mulai khawatir jangan-jangan lelaki itu mulai terserang demam. Tak sadar kalau semu merah di wajah Gavin tercipta karena kedekatan mereka.

"Aku mau ke kamar mandi." Azalia sudah buru-buru pergi saat Gavin belum sempat bersuara.

Faktanya, Azalia hanya ingin cepat menjauhi Gavin agar bisa menetralkan degup jantungnya yang seakan hampir meledak sedari tadi.

Azalea menghela napas panjang dan membuangnya perlahan setibanya di dalam kamar mandi. Dia duduk di atas kloset, meraba dan mengelus dadanya sendiri selama beberapa waktu. Dia menggeleng keras saat pikirannya kembali pada kedekatannya dan Gavin tadi, saat ingatannya menguar pada kehangatan napas dan tangan kokoh laki-laki itu yang menyusuri lengan, punggung, dan pinggangnya. Azalia berdiam diri lama di kamar mandi.

Seberapa keras dia berusaha menghilangkan ingatan tentang Gavin, nyatanya memorinya menyimpan rapi bayang kebersamaannya dengan lelaki itu. Azalia keluar setelah cukup lama di dalam kamar mandi.

Ternyata Gavin sudah berada di kamar, dan sedang duduk di bibir ranjang. "Minum obat mu." Gavin sama sekali tak memprotes istrinya yang menghabiskan waktu sangat lama di dalam kamar mandi. Dia justru menyiapkan pil-pil yang harus segera Azalia minum.

Azalia mengangguk pelan.

Setelah meminum obatnya, Azalia naik ke tempat tidur untuk beristirahat.

Namun, Gavin yang akan keluar justru menabrak daun pintu dengan suara yang cukup keras, membuat Azalia bangkit seketika.

Matanya membola karena khawatir saat dilihatnya Gavin meringis. Azalia menarik Gavin dan mendudukkannya kembali ke tempat tidur. Dia tak berpikir lama sebelum mendekatkan wajah dan meniup luka yang membuat laki-laki itu merasa perih.

Gavin kembali menegang saat Gadis itu begitu dekat dengannya. Meski pun begitu dia ingin menikmati momen ini lebih lama. Momen saat Azalia hanya terfokus dan mengkhawatirkannya. Momen penuh kedamaian saat hanya ada mereka berdua. Walau pun tak ada kata terucap dari bibir mereka masing-masing tetapi begitu hangat dan nyaman.

Azalia mengoleskan gel di pelipis suaminya saat Gavin menghalanginya pergi dengan meraih tangannya dan menempelkan kembali di pipi. Untuk beberapa detik mereka membatu di tempat dengan mata terkunci satu sama lain. Hingga suara Gavin menghentikan kesunyian di antara keduanya.

"Terima kasih." Azalia mengerjapkan mata.

Untuk apa Gavin mengucapkan itu? Harusnya justru dia yang berterima kasih, jika tadi Gavin tidak sigap menarik tubuhnya, mungkin dia sudah pindah dunia.

Azalia sedikit kik-kuk karena mata elang suaminya menatap lekat padanya. Belum lagi tangannya yang masih menempel di pipi laki-laki itu.

"Besok, kita akan menemui Dokter Wahyu. Bagaimana pun caranya, kau harus sembuh, Azalia."

Azalia semakin salah tingkah. Suara Gavin yang memberat dan ketulusan dari kata-kata laki-laki itu kembali membuat jantungnya berdetak tak karuan. Azalia berdehem pelan, "Bohong jika aku katakan aku tidak ingin sembuh. Tapi, Gavin. Pengobatanku tidak membutuhkan dana yang sedikit, aku.. aku.., "

"Berapapun! Jika pun harus menguras seluruh hartaku, kau harus tetap berobat." Gavin memotong cepat ucapan Azalia, tidak ingin mendengar penolakan gadis itu.

Azalia berusaha keras menyembunyikan degup jantungnya yang semakin keras.

Azalia merasa jantungnya akan benar-benar meledak detik itu juga kalau dia tidak bangkit dan pergi dari hadapan Gavin. Kalimat yang diutarakan Gavin seolah memiliki arti lain. Azalia buru-buru menaiki tempat tidur, bergegas menyembunyikan wajahnya yang serasa terbakar.

Di bawah tatapan lekat mata suaminya yang setia mengekor tingkahnya yang menggemaskan.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Azalia bangun agak kesiangan hari ini karena semalam dia susah tidur, berkutat dengan debaran jantungnya yang tak kunjung berakhir dan memaksanya terjaga hampir semalaman. Dia menemukan Gavin yang sudah rapi untuk berangkat ke kantor sedang bicara dengan Abu.

"Cepatlah sarapan! Lalu minum obat, kau belum membaca buku kecilmu? Hari ini kita ada janji di rumah sakit."

Kepala Azalia mengangguk pelan. Pantas saja dia masih melihat Gavin meski bangun agak kesiangan, ternyata lelaki itu tidak pergi ke perusahaan.

Seharusnya, Gavin dan Azalia pergi menemui Dokter Wahyu di rumah sakit. Namun Alvin dan Renata datang tak lama setelah Azalia selesai sarapan.

"Kau tak ke kantor?" Tanya Alvin pada Gavin yang melihatnya datang setelah Abu membuka pintu.

Di belakangnya ada Renata yang berjalan pelan, turut menerbitkan senyum untuk Gavin.

Wajah Gavin berubah, ketika melihat kehadiran wanita itu. Dia juga langsung melirik tajam ke arah Alvin.

"Aku dan Azalia akan pergi." ucapnya dingin. Enggan menerima tamu.

Gavin tidak berbasa-basi, dia kesal dengan Alvin, dia dengan lancangnya berani membawa Renata menemuinya.

"Aku datang menemani Renata, dia ingin menengok Azalia."

Gavin tak segera menjawab, dia masih menatap dingin tanpa ekspresi. Matanya masih menatapnya tajam. Tidak ada reaksi, apalagi basa-basi menyambut kedatangannya.

Renata meremas kedua tangannya. Hatinya perih melihat orang yang pernah dekat dengannya, kini seakan membangun tembok tinggi untuknya.

Tatapan Gavin tidak ramah, begitu pun, ucapannya.

Laki-laki itu sangat berubah. Tak ada binar ceria saat melihatnya datang, seperti dua tahun lalu. Kini hanya ada tatapan dingin dan bidik tajamnya yang tersisa.

2 tahun dia mengorbankan segalanya, hanya untuk kembali ke sini dan menemukan bahwa kekasihnya memilih wanita lain. Bahwa Gavin membatalkan perceraiannya yang membuatnya hampir hilang akal.

Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Gavin, membiarkan semua itu terjadi.

Kehilangan Gavin menghancurkan hatinya, tapi dia juga tidak menuntut tanggung jawab atas perasaannya itu. Karena benar kata Alvin, yang terjadi di luar rencana mereka.

1
Emi Sudiarni
kok mningal azalianya. kcwa bngat..
Dew666
Loh loh kok tamatnya sedih banget ya
Ila Latifah
ihhh bikin kesel🤣🤣🤣🤣 nyesel baca endingnya
Setyowati Setyowati
katakan ini PRENK kak ..ku mohon ..dan sy pengennya Heppy ending ..bukan sad ending ...
pasti ini akhirnya JD mimpi ..iya kannn
Marini Suhendar
thor..tegaaaaaaaaaa😭😭😭😭😭😭
Bela Viona
sad ending,ternyata tidak ad keajaiban. hanya penyesalan di akhir .
apakah mungkin gavin menduda seumur hidup ?
kisah alvin dan renata tidak ada .
Bela Viona
udah gitu aja ? TAMAT ? serius thor TAMAT ?!
TAAAAAMMMMAAATTTTTTT ????!!!!!!

GAK....gak..gak
aku gak bisa terimaaaaaaa 😢😭😭😭😭
Marini Suhendar
Teruslah Berdoa Gavin Yakin pada d atas ..Oprasinya lancar 🥰
ana
lanjut thor
Rahma Inayah
hanya outhor yg bisa jwb doa mu Gavin Karn dia yg nulis cerita ini azalia hidup dan mati ada di tangan nya 💪💪semangat Thor moga bisa up lgi
Vivo Y21: sad banget gila ceritanya, tapi saya suka😭
total 1 replies
Emi Sudiarni
semoga operasi azalia berhasil
Rahma Inayah
jadi melow /Sob//Sob//Sob/ andai waktu BS di ulang tp syg nya GK bisa .nasib azalia author yg menentukan 🤭🤭 klu pun azalia tiada mkn akan ada wanita yg mirip azalia nnt
Nie_Ayu
bagus ceritanya
Setyowati Setyowati
benar" menyesakkan dada
Jumi Saddah
aq nangis lho,,seakan2 nyata terjadi,,pada hal hanya cerita🥹🥹😭😭😭😭
Marini Suhendar
😭😭😭
Emi Sudiarni
nasib azalia di tangan author. tlong kak author berhasil kan operasi azalia.. ksihan pembaca pd nangis mlihat kisah azalia... jgn di tambah mewk lgi klw azalia di buat pergi. tlong kak sembuhkan azalia🙏🙏🙏
Dew666
Mewek hikzzzz
Allfa Rizky
makin ke sini kok makin nyesek ya bacanya....
Rahma Inayah
Gavin maa kebablasan SDH di Kash sekali mnt nambah SDH tau azaliah lemah dan GK memungkn km mah aja di genjot🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!