NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: KLARIFIKASI

Bima mematung dengan perasaan campur aduk, antara malu dan tidak percaya bahwa dirinya bisa se-impulsif ini. Keheningan di ruangan CEO itu mendadak terasa begitu tebal, sampai-sampai suara detak jarum jam dinding mewah di sudut ruangan terdengar seperti dentuman keras. Bima masih mematung dengan mulut sedikit terbuka. Tatapan mata elangnya yang beberapa detik lalu berkilat penuh emosi, kini berubah kosong, memproses kata 'adik' yang baru saja meluncur dari bibir sekretarisnya.

Melihat respons lemot dari bosnya yang biasanya selalu mengklaim diri punya IQ di atas rata-rata, sisa-sisa kesabaran Anaya yang sudah terkikis sejak sore tadi akhirnya ambruk total. Rasa hormatnya menguap entah ke mana.

"DIA ADIK KANDUNG SAYA, BIMANTARA YANG GENIUS!" teriak Anaya kencang tepat di depan wajah Bima, saking kesalnya sampai dia lupa menyelipkan kata 'Pak' yang sudah menjadi SOP wajib selama lima tahun ini.

Suara cempreng Anaya yang menggema di ruangan temaram itu sukses membuat Bima tersentak. Kursi CEO yang empuk dan dilapisi kulit premium itu mendadak terasa sangat canggung dan panas untuk diduduki. Bima mengerjapkan matanya beberapa kali. Otak jeniusnya yang biasa digunakan untuk menganalisis pergerakan saham internasional, kini dipaksa melakukan reboot massal untuk menerima kenyataan bahwa musuh bebuyutannya sore ini ternyata adalah calon adik iparnya sendiri.

Bukannya langsung melepaskan Anaya karena malu sudah salah sasaran, sebuah senyuman tanpa dosa perlahan justru terukir di sudut bibir Bima. Alih-alih menjauh, jemari panjangnya yang tadi sempat melemas di pinggang Anaya malah kembali bergerak santai, meraba halus lekuk pinggang wanita itu di balik kulot kremnya.

"Oh... adik ya? Bagus deh," gumam Bima, suaranya kembali berubah santai dan percaya diri, seolah-olah drama bentak-bentak penuh cemburu tadi tidak pernah terjadi. Pria itu mengangguk-angguk kecil dengan wajah super lempeng. "Orang tuamu berarti hebat, sudah berhasil mendidik Arden punya badan proporsional begitu. Bagus untuk gen masa depan anak-anak kita nanti."

Anaya melongo sempurna, hampir saja menjatuhkan rahangnya ke atas meja marmer.

Gila. Ini bos gue selain narsis, ternyata urat malunya udah putus total ya? Bisa-bisanya dia langsung ganti topik ke masalah anak setelah bikin gue jantungan?! jerit Anaya dalam hati, bener-bener tidak habis pikir dengan isi kepala pria di hadapannya ini.

"Pak Bima, lepasin saya! Kan sudah jelas kalau itu adik saya, jadi tuduhan melakukan hal tidak senonoh atau punya simpanan berondong itu otomatis batal! Ayo lepas, saya mau pulang!" Anaya kembali menggeliat, mencoba mengangkat pinggulnya dari atas paha kokoh Bima.

Namun, alih-alih melonggarkan kunciannya, Bima justru semakin mengeratkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Anaya. Sentakan pelan dari Bima membuat tubuh Anaya kembali terjatuh pasrah, menempel tanpa jarak pada dada bidang sang CEO yang kemejanya masih terbuka setengah.

"Gak bisa begitu, Anaya Sandriana," bisik Bima, suaranya merendah menjadi sangat parau dan seksi, berembus hangat tepat di helai rambut dekat telinga Anaya. Pria itu mencondongkan kepalanya, membiarkan hidung mancungnya menyusup pelan di antara rambut Anaya, menghirup dalam-dalam aroma manis Black Opium yang menguar dari ceruk leher sekretarisnya. "Karena kamu sudah berhasil bikin saya cemburu dan tidak fokus kerja seharian, hukumannya... kamu gak boleh turun dari sini sampai jam lembur selesai."

Deg!!.

Jantung Anaya rasanya sudah copot dari tempatnya, meluncur bebas, dan kini resmi pindah ke lambung. Sentuhan hidung Bima yang menyapu kulit lehernya yang sensitif menciptakan sensasi seperti sengatan listrik ribuan volt yang langsung melumpuhkan seluruh ototnya. Anaya membeku, napasnya tertahan di tenggorokan, sementara wajahnya sudah meledak menjadi merah padam dalam sekejap.

"P-Pak... jangan aneh-aneh, ini di kantor," cicit Anaya dengan sisa-sisa suaranya yang mendadak menjadi sangat pelan dan serak. Sudut hatinya yang paling dalam tidak bisa membohongi bahwa hubunganyang mereka jalani selama bertahun-tahun ini kini sedang bergerak menuju titik paling berbahaya.

Bima tidak mendengarkan. Aura posesif yang tadi sempat mereda kini berubah menjadi ketegangan emosional yang jauh lebih intim. Tangan Bima bergerak naik, mengusap tengkuk Anaya perlahan, sementara tatapan matanya turun, mengunci bibir merah ranum Anaya yang sedikit terbuka karena terkejut.

Jarak di antara wajah mereka menyusut drastis. Sentimeter demi sentimeter menghilang. Anaya bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kelopak mata Bima perlahan sayu, menyiratkan keinginan yang sudah lama tertahan di bawah batas profesionalitas kantor. Bibir Bima sudah berada sangat dekat—hanya tinggal hitungan milimeter lagi sebelum menempel di leher atau bahkan memagut bibir Anaya yang menggoda.

Anaya memejamkan matanya pasrah, mencengkeram erat kerah kemeja navy Bima yang berantakan sebagai satu-satunya tumpuan hidupnya.

CELEK!

BRAKKKK!

Suara dentuman keras bergema dari arah lorong luar bersamaan dengan seluruh lampu di dalam ruangan CEO—dan tampaknya di seluruh lantai gedung Bimantara Tower—yang mendadak padam total. Suasana romantis temaram itu dalam sekejap berubah menjadi gelap gulita, menyisakan kegelapan pekat yang pekat.

"Ayam copot!" teriakan yang nggak ada seksi-seksinya itu meluncur begitu saja dari mulut Anaya, dan spontan, reflek melompat dari pangkuan Bima karena terkejut setengah mati oleh bunyi brak keras yang terdengar seperti pintu darurat yang terbanting di luar.

Karena kondisi yang gelap gulita dan gerakannya yang terlalu mendadak, kaki Anaya justru tersangkut kaki meja marmer. Tubuhnya limbung ke depan.

"Anaya, awas!" seru Bima panik. Pria itu ikut melompat dari kursinya, meraba kegelapan, dan berhasil menangkap lengan Anaya tepat sebelum wanita itu mencium lantai marmer yang keras.

Namun, karena momentum yang terlalu kuat, tubuh tegap Bima justru ikut ketarik jatuh, membuat mereka berdua berguling bersama di atas karpet tebal beludru di bawah meja kerja dengan posisi Anaya yang kini telentang pasrah di bawah kungkungan tubuh besar Bima.

Di dalam kegelapan total itu, hanya terdengar suara napas mereka berdua yang saling memburu kasar, bersahut-sahutan dengan bunyi detak jantung yang sama-sama berdegup kencang layaknya tabuhan genderang perang.

"Pak... Bima?" panggil Anaya lirih, memegang dada bidang Bima yang kini menindihnya dengan pas, mencoba memastikan kalau bosnya tidak pingsan.

Bima tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya mengembuskan napas panjang di atas kening Anaya, diam-diam merutuki fasilitas genset gedung Bimantara Tower yang mendadak mogok di waktu yang paling tidak tepat sepanjang sejarah hidupnya.

-

-

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!