NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKAN SEKEDAR VIRUS

Keheningan yang mencekam mendadak merayap dan membekukan seluruh isi laboratorium bawah tanah itu.

Tidak ada lagi yang berani menggeser kaki. Bahkan napas pun seolah-olah menjadi komoditas yang mahal; ditahan sedemikian rupa di balik tenggorokan agar tidak menimbulkan riak suara sekecil apa pun. Udara dingin yang menguar dari pendingin ruangan darurat terasa semakin menggigit, bercampur dengan rasa ngeri yang perlahan merambat naik dari telapak kaki mereka.

Dari arah kegelapan lorong tangga di atas sana, suara geraman berat itu kembali terdengar. Nadanya rendah, bergetar di frekuensi yang janggal, dan cukup jelas untuk membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya langsung berdiri tegak.

*Grrrrrrrkkk…*

Itu bukan jenis suara yang biasa mereka dengar dari tenggorokan para *infected* yang berkeliaran di jalanan kota. Damar, dengan seluruh pengalaman bertahannya selama berbulan-bulan ini, bisa langsung merasakannya melalui insting murni. Ada gelombang kegelapan dan kekuatan yang jauh lebih masif di balik suara itu.

Kapten Rendra bergerak cepat tanpa suara. Melalui isyarat tangan yang tegas di udara, dia memerintahkan semua orang untuk memadamkan senter. *Klik. Klik. Klik.* Senter-senter pun mati, melemparkan ruangan luas itu ke dalam remang yang ganjil, di mana satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendaran biru pucat dari monitor komputer yang masih menyala di meja konsol utama.

Rania, yang tubuh kecilnya sudah gemetar hebat, langsung merangsek maju dan memeluk kaki Pak Rangga erat-erat. Wajahnya disembunyikan di balik kain celana ayahnya yang kotor.

"Ayah..." bisik bocah itu, suaranya parau menahan tangis yang nyaris pecah.

"Sstt... diam, Nak. Jangan bersuara," balas Pak Rangga dengan bisikan yang tak kalah tipis. Tangannya yang kasar mendekap kepala Rania, mencoba memberikan perlindungan psikologis yang sebenarnya rapuh.

Di dekat ambang pintu yang menuju ke arah tangga, Damar sedikit merendahkan posisi tubuhnya. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan kain yang koyak mencengkeram gagang kapak besinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tertahan di dada. Di dalam kepalanya, dia mulai menghitung jarak. Geraman tadi tidak menjauh; makhluk itu justru terasa semakin mendekat ke titik masuk mereka.

*THUK…*

Sebuah ketukan berat menghantam lantai semen di atas. Itu suara langkah kaki, tapi berbobot sangat besar.

*THUK…*

Langkah kedua menyusul. J jeda di antara setiap langkah terasa konstan, mengindikasikan sesuatu yang berjalan dengan tegak, bukan menyeret kaki seperti mayat-mayat hidup yang biasa mereka kelabuhi.

Alya, yang berdiri tepat di belakang bahu Damar, menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir. "Mereka... mereka masuk ke perimeter atas, Mar," bisiknya dengan bibir yang gemetar.

Kapten Rendra sudah berada di posisi tiarap satu lutut, senapan serbunya terangkat lurus, membidik tepat ke arah mulut lorong tangga yang gelap gulita. Matanya tidak berkedip, siap melepaskan tembakan maut pada tanda kehidupan pertama yang muncul dari sana.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi.

Langkah kaki berat di atas sana mendadak mandek. Suasana kembali jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam. Tidak ada suara gesekan pakaian, tidak ada derap sepatu, bahkan geraman rendah tadi pun lenyap seketika.

Semua orang saling melempar pandang dalam kegelapan yang samar. Ketidakpastian ini jauh lebih menyiksa ketimbang serangan langsung.

"Kenapa mereka berhenti?" bisik Rudi dari balik meja komputer, suaranya bergetar menahan kepanikan yang mulai merayap naik ke kepalanya.

Tidak ada yang memiliki jawaban untuk itu. Detik-detik berlalu seperti siksaan yang lambat.

Lalu—

*BRAKKK!!*

Sebuah hantaman dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat mengejutkan mereka semua. Pintu besi tebal di bagian atas tangga berdentang keras, bergetar hebat seolah-olah baru saja ditabrak oleh kendaraan berkecepatan tinggi.

Rania tidak bisa menahan diri lagi; dia menjerit kecil sebelum Pak Rangga sempat membekap mulutnya dengan telapak tangan.

Kapten Rendra langsung setengah berdiri, matanya melebar saat dia membentak dengan suara baritonnya yang tertahan, "Mundur! Semuanya mundur menjauh dari jalur tangga!"

Tanpa perlu dikomando dua kali, rombongan itu bergerak mundur berdesakan, menjauhi area tangga dan merapat ke barisan meja laboratorium yang berantakan.

*BRAKK!!*

Benturan kedua menghantam pintu atas dengan intensitas yang lebih gila. Kali ini, dampaknya begitu masif hingga serpihan debu dan plester semen berjatuhan dari langit-langit lorong bawah tanah, mengotori rambut dan bahu mereka.

Damar memicingkan matanya, memfokuskan pandangan menembus remang-remang ke arah puncak tangga yang gelap gulita. Ada siluet besar yang mengaburkan sedikit cahaya dari pintu atas. Sesuatu yang ukurannya jelas-jelas melampaui batas normal manusia biasa.

Namun, ada satu anomali yang membuat Damar mengernyitkan dahi. Makhluk di atas sana tidak langsung menerjang turun ke bawah. Setelah dua hantaman keras itu, dia hanya berdiri diam di balik pintu yang kini sudah agak miring dari engselnya. Damar bisa mendengar suara tarikan napas yang berat dan dalam.

Makhluk itu seperti sedang... mengendus udara. Mencari jejak aroma atau sisa suara yang asing bagi penciumannya.

Kapten Rendra perlahan menurunkan laras senjatanya beberapa inci, lalu berbalik dan berbisik dengan cepat kepada Rudi, "Kemungkinan besar makhluk itu tertarik dengan frekuensi suara atau pancaran cahaya dari komputer tadi saat video diputar."

"Kalau begitu, kita harus cabut dari sini sekarang, kan, Kapten?" tanya Alya, matanya masih menatap waspada ke arah tangga.

"Belum bisa," jawab Rendra pendek, tegas tanpa kompromi. Matanya beralih menatap monitor komputer yang masih menampilkan baris-baris data yang berkedip. "Kita tidak bisa pergi dengan tangan kosong setelah tahu apa yang ada di sini. Kita butuh semua data ini sebagai bukti. Kita butuh semua file yang bisa kita ambil."

Rudi menelan ludah, memandang kursi di depan komputer seolah-olah itu adalah kursi listrik. Namun, melihat tatapan mata Rendra yang tidak menerima bantahan, dia akhirnya memberanikan diri untuk duduk kembali. Dengan jemari yang gemetar hebat, dia mulai mengetikkan beberapa perintah di papan ketik. "Gue... gue coba pasang *drive* eksternal. Gue coba *copy* seluruh direktori root-nya."

"Lakukan dengan cepat, Rud," sahut Rendra singkat sambil kembali memutar tubuhnya untuk menjaga area depan.

Sementara Rudi sibuk berkutat dengan proses penyalinan data yang memakan waktu, Damar memilih untuk tidak berdiam diri. Dia memanfaatkan waktu itu untuk kembali mengamati sekeliling laboratorium dengan lebih jeli. Kini, setelah gelombang panik pertama di dalam dadanya mulai sedikit surut, detail-detail kecil yang mengerikan di tempat ini mulai tampak jelas di matanya.

Ini bukan sekadar tempat penelitian ilmiah yang steril. Tempat ini adalah medan jagal yang higienis.

Ada noda darah tua yang sudah mengering hingga berwarna cokelat kehitaman di dinding beton bagian atas, membentuk pola cipratan yang tinggi. Di pintu-pintu kaca ruangan isolasi, terdapat bekas-bekas cakaran yang sangat dalam—terlalu dalam untuk ukuran kuku manusia biasa, bahkan sampai mengikis lapisan kaca anti-peluru. Dan beberapa ranjang medis yang terbuat dari baja memiliki sabuk pengikat dari bahan kulit tebal yang telah robek paksa, menyisakan gesper logam yang bengkok. Sabuk-sabuk itu jelas dirancang untuk menahan sesuatu dengan kekuatan yang tidak masuk akal.

Langkah kaki Damar membawanya ke sudut paling belakang laboratorium. Di sana, berdiri sebuah tabung kaca silinder raksasa yang kini telah hancur berantakan dari arah dalam. Pecahan kacanya yang tebal berserakan di lantai beton dalam radius beberapa meter.

Damar berjalan perlahan mendekati sisa-sisa struktur tabung tersebut. Cairan kental berwarna kehijauan yang berbau kimia menyengat tampak masih menetes pelan dari sisa patahan pipa di bagian atas, jatuh ke lantai dengan bunyi *tik... tik...* yang monoton.

Saat matanya menyapu lantai di antara pecahan kaca, Damar melihat selembar pelat logam kecil bersudut tumpul yang tampaknya terlepas dari dudukan tabung. Dia berjongkok, lalu membalikkan pelat tersebut menggunakan ujung kapaknya. Di permukaannya yang tergores, terukir sebaris tulisan kode identitas:

**SUBJECT 09**

Jantung Damar berdentang satu kali dengan sangat keras di dalam rongga dadanya. Sebuah kesadaran yang mengerikan mendadak menghantam isi kepalanya.

"Kapten..." panggil Damar, suaranya rendah namun penuh dengan penekanan.

Rendra menoleh dari posisinya, menaikkan sebelah alisnya sebagai isyarat bertanya.

"Kayaknya... dulu ada sesuatu yang disimpan di dalam tabung raksasa ini," kata Damar sambil menunjuk ke arah struktur hancur di hadapannya.

Kapten Rendra melangkah mendekat, mengamati sisa-sisa kehancuran tabung kaca tersebut bersama Damar. Begitu matanya menangkap pelat nama *Subject 09* dan melihat bagaimana kaca setebal lima sentimeter itu pecah mencuat keluar, ekspresi wajah tegas sang tentara langsung berubah drastis. Gurat-gurat kecemasan yang coba dia sembunyikan sejak tadi akhirnya pecah juga.

"Ini bukan tempat penyimpanan 'sesuatu', Damar," ucap Rendra dengan suara yang mendadak terdengar sangat lelah. "...Tapi tempat menahan 'seseorang'."

Alya yang berdiri tak jauh dari mereka langsung memeluk lengannya sendiri, merasakan hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan bilang kalau..."

Belum sempat Alya menyelesaikan spekulasi mengerikannya, monitor komputer di meja konsol utama tiba-tiba berkedip dengan keras.

*BZZTTTT!*

Suara distorsi listrik itu membuat semua orang tersentak dan menoleh serentak ke arah meja Rudi. Layar komputer yang tadinya menampilkan baris teks penyalinan data, mendadak berubah secara otomatis. Layar itu kini menampilkan sebuah rekaman video CCTV beresolusi rendah dengan sudut pandang dari atas pojok ruangan laboratorium yang sama dengan tempat mereka berdiri sekarang.

Di pojok kanan atas layar, deretan angka digital menunjukkan stempel waktu:

**14 HARI SEBELUM KARANTINA KOTA**

Video tersebut memperlihatkan kondisi laboratorium yang bertolak belakang dengan situasi sekarang. Tempat itu tampak sangat bersih, terang benderang oleh lampu fluoresen, dan aktif. Beberapa orang ilmuwan berkemeja putih dan pakaian hazmat lengkap tampak berlalu-lalang dengan tergesa-gesa di antara meja-meja laboratorium.

Namun, perhatian utama dalam video itu tertuju pada bagian tengah ruangan. Di sana, di atas salah satu ranjang medis baja, terlihat seorang pria muda bertelanjang dada yang diikat kuat-kuat pada pergelangan tangan dan kakinya dengan sabuk kulit.

Tubuh pria muda itu tampak sedang mengalami kejang-kejang yang sangat hebat. Otot-ototnya menegang ekstrem hingga tubuhnya melengkung ke atas, berulang kali menghantam ranjang besi dengan kasar.

*"Subjek sembilan mengalami lonjakan agresi fase akut!"* terdengar suara teriakan panik dari salah satu ilmuwan di dalam rekaman video, suaranya keluar dari speaker monitor yang pecah. *"Detak jantungnya menembus dua ratus empat puluh beat per menit! Ini tidak normal!"*

*"Pegang dia! Cepat suntikkan sedatif dosis penuh ke jalur intravena!"* sahut suara ilmuwan lain yang terdengar sangat berantakan.

Pria yang terikat di ranjang itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya ke arah kamera, lalu menjerit dengan sangat keras. Itu adalah jeritan kesakitan yang sangat intens, jeritan yang terdengar teramat sangat manusiawi, penuh penderitaan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

Rania langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan telapak tangan, membenamkan wajahnya sedalam mungkin ke tubuh Pak Rangga.

Lalu, di depan layar monitor, sebuah transformasi yang mengerikan mulai terjadi.

Kulit pria di dalam video itu perlahan-lahan berubah warna menjadi abu-abu gelap kehitaman dalam hitungan detik, seolah-olah seluruh jaringan darah di bawah kulitnya mati seketika. Pembuluh-pembuluh darah di sekujur tubuhnya menonjol keluar seperti urat-urat hitam yang tebal dan menjalar ke leher serta wajahnya. Mulutnya terbuka sangat lebar hingga merobek sudut bibirnya sendiri, mengeluarkan busa bercampur darah kental bersamaan dengan suara geraman yang aneh dan dalam.

Dan tiba-tiba—

*BRAKK!*

Dengan satu sentakan tangan kanan yang terlihat tidak membutuhkan usaha besar, sabuk kulit tebal yang mengikat pergelangan tangan kanannya putus berantakan. Logam gespernya terlempar menghantam dinding kaca laboratorium.

"Tidak mungkin... sabuk setebal itu..." gumam Alya dengan mata yang tidak berkedip, tangannya menutup mulut karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

Di dalam rekaman, situasi dalam sekejap berubah menjadi neraka. Pria yang telah bermutasi itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal langsung menerkam ilmuwan terdekat yang berdiri di samping ranjangnya. Makhluk itu menancapkan giginya ke leher sang ilmuwan, merobek jaringan tenggorokannya hingga hampir putus dalam satu kali sentakan.

Darah segar menyembur deras, mengotori lensa kamera CCTV dan dinding laboratorium di sekitarnya.

Ruangan di dalam video langsung jatuh ke dalam kekacauan total. Para ilmuwan lain berlarian panik ke arah pintu keluar, saling sikut dan jatuh bangun. Alarm darurat dengan lampu merah berputar mulai menyala di seluruh sudut ruangan.

Namun, hal yang paling membuat Damar dan Kapten Rendra membeku di tempat mereka berdiri adalah cara makhluk itu bergerak setelah berhasil menghabisi korban pertamanya.

Makhluk itu tidak berjalan dengan lambat atau limbung seperti ribuan *infected* yang selama ini mereka temui di jalanan atas. Dia bergerak dengan sangat efisien, lincah, mengambil posisi merangkak yang rendah sebelum melompat menerkam korban berikutnya. Perilakunya tidak seperti orang sakit yang kehilangan akal; makhluk itu bergerak layaknya seekor predator puncak yang sedang berburu di wilayah kekuasaannya.

*BZZZZTTT.*

Rekaman video itu mendadak terputus karena kerusakan data di akhir file, mengembalikan layar komputer ke dalam kegelapan remang.

Ruangan laboratorium bawah tanah kembali diselimuti kesunyian yang berat. Rudi perlahan-lahan memundurkan kursinya dari meja konsol, napasnya memburu pendek-pendek dengan wajah yang pucat pasi.

"Anjir... makhluk apa yang sebenarnya kita lawan selama ini...?" bisik Rudi dengan suara yang hampir habis.

Kapten Rendra mengepalkan rahangnya begitu keras hingga terdengar bunyi gemeletuk dari giginya. "Itu bukan sekadar wabah penyakit menular, Rudi," ucap Rendra dengan nada suara yang sangat dingin.

Tidak ada satu pun dari mereka yang membantah kalimat itu. Karena saat ini, potongan-potongan teka-teki mengerikan di dalam kepala mereka akhirnya mulai menyatu dan membentuk sebuah gambaran utuh yang utopis sekaligus mengerikan.

Virus yang selama ini menghancurkan hidup mereka, yang merenggut keluarga mereka, dan yang mengubah peradaban manusia menjadi tumpukan tulang belulang... tidak pernah datang dari alam. Virus ini dirancang di atas meja laboratorium ini. Ditulis dengan kode genetik buatan, dan diproduksi dengan sengaja oleh tangan manusia sendiri.

Damar menatap layar monitor yang kosong dengan dada yang naik turun tidak teratur, menahan amarah yang mulai membakar hatinya. "Buat apa...? Buat apa ada orang yang waras di dunia ini yang dengan sengaja menciptakan monster seperti itu...?"

Kapten Rendra terdiam selama beberapa saat. Dia menatap lurus ke arah logo *Genesis Biotech* di dinding ujung ruangan dengan pandangan yang kosong sebelum akhirnya menjawab dengan satu kata yang sarat akan kepahitan:

"Militer."

Mendengar kata itu, semua orang di dalam kelompok langsung menoleh ke arah Rendra.

"Jika sebuah otoritas atau negara berhasil menyempurnakan dan mengendalikan virus seperti ini," lanjut Rendra dengan nada suara yang berangsur-angsur datar, tipikal seorang mantan perwira yang paham betul bagaimana cara berpikir para petinggi di atas sana. "Mereka akan memiliki aset tempur yang paling mematikan dalam sejarah. Mereka bisa menciptakan barisan tentara yang tidak mengenal rasa takut, tidak bisa merasakan sakit fisik, tidak membutuhkan logistik makanan yang rumit, dan... tidak akan pernah berhenti bertempur sampai target mereka musnah. Senjata biologis yang sempurna."

"Tapi ini gila, Kapten... ini benar-benar tindakan biadab yang tidak berperikemanusiaan!" bisik Pak Rangga, suaranya bergetar menahan amarah yang luar biasa hebat sambil mendekap Rania lebih erat.

"Masalah utamanya adalah," potong Rendra sambil menatap tajam ke arah Damar dan Alya, "mereka terlalu sombong. Mereka mengira bisa mengendalikan rantai mutasinya. Dan seperti yang kita lihat di video tadi... mereka gagal total dalam menjinakkan efek sampingnya."

Rudi menelan ludah dengan susah payah, matanya beralih menatap layar komputer yang menampilkan folder peta kota mereka yang ditandai dengan warna merah menyala. "Dan kota kita... tempat tinggal kita selama ini..."

"...adalah *Zone-04*. Tempat isolasi yang sengaja dibiarkan terbuka untuk menjadi laboratorium uji coba lapangan berskala besar. Mereka ingin melihat sejauh mana virus ini bisa menyebar dan bagaimana efeknya pada populasi sipil yang tidak siap," sambung Damar, menyelesaikan kalimat Rudi dengan nada yang teramat sangat getir.

Kalimat Damar seolah-olah merenggut sisa-sisa harapan yang masih ada di dalam ruangan itu.

Alya berdiri terpaku, air mata kemarahan mulai mengalir melewati pipinya yang kotor oleh debu. Rasa takutnya kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi amarah yang mendidih. "Jadi selama ini... orang-orang di atas sana, pemerintah... mereka semua tahu tentang hal ini? Mereka sengaja membiarkan kami mati di luar sana?!"

Kapten Rendra tidak langsung menjawab pertanyaan Alya. Dia memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan justru keheningan dari seorang mantan tentara seperti Rendra itulah yang memberikan jawaban yang jauh lebih menyakitkan ketimbang kata-kata. Mereka semua telah dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.

*BIP!*

Suara notifikasi elektronik dari mesin komputer kembali memecah ketegangan atmosfer di antara mereka. Rudi dengan cepat memeriksa layar. "Ada satu file audio lagi yang baru selesai didekripsi, Kapten."

"Putar sekarang," perintah Damar, tidak ingin melewatkan informasi apa pun lagi.

Rudi menekan tombol *play*. Suara desis statis yang sangat tebal terdengar selama beberapa detik awal melalui pengeras suara, sebelum akhirnya terdengar suara rekaman percakapan antara dua orang pria dengan intonasi suara yang sangat formal.

*"...Laporan terbaru menunjukkan subjek uji coba fase awal telah berhasil menjebol barikade distrik timur dan mulai menyebar ke area pemukiman padat penduduk,"* ujar suara pria pertama, nadanya terdengar sedikit tegang namun tetap terkontrol.

Beberapa detik kemudian, sebuah suara pria lain yang terdengar lebih berat, berwibawa, dan dingin menjawab melalui saluran komunikasi tersebut:

*"Perintah dari komando pusat tidak berubah. Aktifkan protokol pemutusan total. Tutup dan kunci seluruh akses keluar-masuk kota. Jangan biarkan satu pun kendaraan atau individu melewati garis batas karantina."*

Mendengar kalimat itu, seluruh anggota kelompok Damar langsung terdiam membeku.

*"Bagaimana... bagaimana dengan populasi warga sipil yang masih terjebak di dalam perimeter kota, Jenderal?"* tanya pria pertama, ada jeda keraguan yang tipis dalam suaranya.

Hening selama beberapa detik di dalam rekaman tersebut. Keheningan yang terasa sangat dingin, sebelum akhirnya suara sang jenderal kembali terdengar, datar tanpa emosi sedikit pun:

*"Biarkan mereka tetap di dalam. Keberadaan mereka di sana sangat berguna untuk mengukur tingkat efektivitas penyebaran virus dalam lingkungan urban yang padat. Laporkan setiap perkembangan mutasi sekunder secara berkala."*

*KLIK.*

Rekaman audio itu berakhir, menyisakan suara desis statis yang panjang sebelum akhirnya mati total.

Rania yang berada di pelukan Pak Rangga mulai terisak pelan, tubuh kecilnya bergetar karena merasakan ketegangan yang luar biasa dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Alya memalingkan wajahnya ke arah dinding, napasnya memburu menahan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.

Sementara itu, Damar bisa merasakan bagaimana amarah di dalam hatinya kini telah mencapai titik didih. Selama ini, mereka mengira bahwa mereka sedang berjuang melawan sebuah bencana alam yang malang, sebuah takdir buruk yang menimpa dunia. Namun kenyataannya jauh lebih menjijikkan dari itu. Mereka semua... seluruh penduduk kota ini, anak-anak, orang tua, wanita... semuanya telah didegradasi statusnya menjadi sekadar tikus putih di dalam labirin. Mereka sengaja ditinggalkan untuk mati, dikorbankan demi menutupi kegagalan dari sebuah eksperimen rahasia kaum elit.

Kapten Rendra menatap lantai beton di bawah kakinya dengan sorot mata yang sangat dingin dan tajam. Sebagai seorang pria yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam struktur militer, dia sangat mengenali jenis suara seperti itu. Itu adalah suara dari orang-orang yang duduk di balik meja kerja yang nyaman, orang-orang yang terbiasa menandatangani perintah pemusnahan massal ribuan nyawa hanya dengan satu goresan pena tanpa pernah mengedipkan mata. Dan kenyataan itu membuat perutnya terasa mual.

"Kapten..." bisik Damar perlahan, melangkah mendekati perwira paruh baya itu.

Rendra mengangkat kepalanya dengan lambat, menatap Damar.

"Lo... sejak awal lo sebenarnya sudah tahu sesuatu tentang proyek ini, kan?" tanya Damar dengan nada yang menuntut kejujuran penuh.

Ruangan itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang tegang. Semua mata kini tertuju pada Kapten Rendra, menunggu jawaban dari pria yang selama ini memimpin pergerakan mereka.

Rendra diam cukup lama, menimbang-nimbang kata yang tepat sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek. "...Dulu, sekitar satu tahun sebelum saya ditugaskan di distrik ini, saya memang pernah mendengar selentingan rumor di kalangan perwira tinggi mengenai sebuah proyek riset biologis rahasia yang diberi kode 'Genesis'. Tapi saat itu..." Rendra menjeda kalimatnya, wajahnya tampak mengeras. "...saya pikir itu hanya isu geopolitik biasa atau propaganda militer internal untuk menakut-nakuti pihak luar. Saya tidak pernah membayangkan kalau proyek jahanam itu nyata, dan dilakukan tepat di bawah kaki kita sendiri."

"Dan sekarang?" kejar Alya dengan nada suara yang menuntut. "Sekarang setelah Kapten melihat semua bukti ini dengan mata kepala sendiri?"

Rendra menatap ke arah monitor komputer dengan ekspresi wajah yang sangat keras, matanya memancarkan tekad baru yang dingin. "Sekarang... saya tahu siapa musuh kita yang sebenarnya. Dan saya berharap saya memiliki kesempatan untuk menembak kepala orang yang menandatangani perintah itu."

Tiba-tiba—

*THUK.*

Suara langkah kaki berat itu kembali terdengar dari arah tangga atas. Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih dekat, seolah-olah makhluk itu telah berhasil melangkah melewati pintu besi yang miring.

Seluruh anggota kelompok secara refleks langsung mengangkat senjata mereka kembali ke posisi siap tempur.

*THUK.*

*THUK.*

Langkah kaki itu terdengar semakin turun mendekati undakan tangga bawah. Dan bersamaan dengan itu, sebuah suara gesekan yang panjang dan memilukan terdengar bergema di sepanjang dinding lorong tangga. Itu adalah suara dari kuku-kuku yang sangat besar dan tajam, sengaja digoreskan pada permukaan dinding beton hingga menimbulkan percikan suara yang mengerikan.

Rania mulai menangis dengan suara yang lebih jelas, menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik jaket tebal Pak Rangga. "Ayah... aku takut... mahluk itu mau turun..."

Tidak ada satu pun orang dewasa di dalam ruangan yang bisa menenangkan bocah itu dengan kata-kata bohong lagi. Karena saat ini, mereka semua bisa merasakan getaran udara yang sama. Makhluk yang sedang berjalan turun dari tangga itu... jelas-jelas bukan jenis *infected* biasa yang bisa mereka lumpuhkan hanya dengan satu atau dua tembakan di kepala.

Kapten Rendra langsung berbalik dan memberikan perintah evakuasi dengan gerakan tangan yang cepat dan tegas. "Kita tidak bisa bertahan di ruangan terbuka ini. Kita keluar dari sini sekarang juga melalui jalur belakang!"

"Data di dalam *drive* sudah selesai gue *copy* seluruhnya!" seru Rudi dengan cepat sambil mencabut paksa sebuah flashdisk logam dari port USB komputer dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.

"Bagus. Rudi, amankan benda itu dengan nyawamu. Semuanya, bergerak dalam formasi linier, jalan!" perintah Rendra sambil memimpin pergerakan kelompok menuju ke arah pintu keluar darurat di bagian belakang laboratorium.

Namun, tepat sebelum kakinya melangkah menjauh dari area meja konsol utama, pandangan mata Damar sempat melirik ke arah layar monitor komputer untuk yang terakhir kalinya. Dan pada detik itulah, jantungnya seolah-olah dipaksa berhenti berdetak oleh apa yang dia lihat.

Sebuah jendela perintah baru yang tersembunyi di dalam sistem tiba-tiba mengeksekusi dirinya sendiri di layar monitor, menampilkan sebaris kalimat pendek berkedip dengan warna merah darah yang mengerikan:

**PROTOTYPE SYSTEM: PHASE 2 SUBJECTS SUCCESSFULLY RELEASED TO THE URBAN AREA**

Damar mendadak membeku di tempatnya berdiri selama satu detik penuh, matanya membaca kalimat itu berulang kali seolah-olah otaknya menolak untuk memproses makna di baliknya.

"Damar! Apa lagi yang kamu tunggu?! Cepat lari!" teriak Alya dari arah lorong belakang, melambaikan tangannya dengan panik melihat Damar yang malah termenung di depan komputer.

Teriakan Alya seketika menyentak Damar kembali ke alam realitas. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan berlari kencang menyusul rombongan yang sudah mulai memasuki lorong evakuasi belakang. Namun, sebuah perasaan buruk yang sangat pekat kini mulai menghantui dan mencengkeram isi kepalanya.

*Fase dua?*

Jika ribuan makhluk mengerikan yang selama ini menguasai kota, yang sanggup mencabik-cabik manusia dalam hitungan detik, hanyalah hasil dari uji coba tahap awal alias Fase Satu... lalu monster mengerikan seperti apa yang baru saja dilepaskan ke permukaan kota dalam program Fase Dua ini?

Dan tepat ketika kaki terakhir dari anggota kelompok mereka berhasil menapak masuk ke dalam lorong penyelamatan di bagian belakang laboratorium—

*BRAAAAAAKKKKKKKKK!!!*

Sebuah suara ledakan struktural yang sangat dahsyat menggema dari arah area laboratorium utama yang baru saja mereka tinggalkan. Pintu baja tebal di bagian atas tangga akhirnya benar-benar jebol, runtuh menghantam lantai semen di bawahnya dengan dentang logam yang memekakkan telinga.

Hantaman itu langsung disusul oleh sebuah suara geraman panjang yang sangat melengking, penuh amarah dan rasa lapar yang primitif, menyebar ke seluruh sudut laboratorium bawah tanah hingga menyebabkan dinding-dinding lorong tempat mereka berlari terasa bergetar hebat.

Kapten Rendra langsung membalikkan tubuhnya setengah putaran di ambang pintu lorong, wajahnya menegang maksimal saat dia berteriak dengan kekuatan penuh dari paru-parunya:

"LARI! JANGAN ADA YANG MENOLEH KE BELAKANG! LARI SEKARANG JUGA!"

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!