Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.
Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.
apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25.
Angin sepoy sepoy menerpa wajah Bela, dia memejamkan mata menikmati udara sore. tapi lama kelamaan dia bosan.
" pak kita dari tadi belum sampai-sampai loh, cepetin dong pak bawa motornya."
Arga yang memang sengaja melambatkan motor agar bisa berlama-lama dengan Bela hanya santai saja.
" ya kan kita harus menikmati pemandangan ini Bel, anggap aja kita lagi jalan jalan santai."
Bela memutar bola mata malas.
" tapi saya udah laper pak, kalo motor jalannya lama kaya gini, bisa bisa nyampe rumah saya malem.
Arga menoleh sebentar.
" kamu laper? mau kita makan dulu sebelum pulang?"
Bela langsung menggeleng cepat.
" ngga pak kasian bunda, pasti udah masak."
" bunda kamu ngga masak." Arga melihat ada kafe langsung membelokkan motornya.
" ih bapak sok tau banget." yang masih betah nangkring di motor.
" ya tau dong , kan bunda sama ayah kamu lagi pergi kondangan di kota sebelah... makanya aku antar kamu pulang."
" ko bunda ngga bilang ya." Gumam Bela.
Arga turun dari motor. " ayok mau makan ngga? mau aku tinggal?"
mereka masuk kedalam kafe lalu memesan makanan. sambil menunggu pesanan datang mereka berbincang bincang.
sela, pak samsul dan Ratna yang memang lebih dulu sampai di kafe.. awalnya sedang berbincang ringan kecuali sela yang hanya ngedumel.
" pih ini bu Ratna ngapain ikut sih. masa kemana mana di intilin terus." alisnya menukik, bibir nya maju beberapa centi dan tangan dari tadi sudah bersedekap dada.
yang di sindir langsung mendelik tidak suka. " heh bocah kencur. papih mu aja ngga protes kenapa kamu yang sewot."
" yaiyalah ngga protes, kalo papih protes yang ada ngga di kasih jatah lagi." dengus sela.
pak samsul berdeham. " nak jaga bicara kamu, ini di tempat umum."
yang hanya di balas decihan sela. sela malas melihat papih dan gundiknya bermesraan didepannya, dia iseng matanya melihat lihat sekitar kafe.
tanpa di sengaja sela melihat seseorang yang dia kenali.
" loh itu kan pak Arga. dia sama siapa itu? dari seragamnya sama kayak punya gue." lirih sela yang ternyata di dengar oleh Ratna.
mata Ratna langsung mengarah yang di lihat sela, dan ternyata benar. di sana ada Arga yang sedang berbincang dengan seorang gadis. posisi duduk Ratna paling pojok jadi ngga terlalu terlihat di bagian tempat duduk Arga.
giginya langsung bergemeletuk, tangannya mengepal erat di bawah meja.
saat gadis yang di sebrang menengok, terlihat jelas wajahnya. mata sela melotot, mulut nya terbuka.. dia terkejut. apalagi Ratna , mukanya sudah memerah menahan amarah.
" pih.. papih lihat deh meja yang di dekat jendela itu. itukan pak Arga trus yang di sebrang nya Bela pih, itu orang yang buat Bastian berpaling dari aku."
" yang bener kamu nak? mata papih ngga kelihatan soalnya." pak samsul sampai menyipit nyipitkan matanya.
" ih pakai dulu dong kacamata nya pih." geram sela. setelah di pakai pak samsul hanya menggangguk angguk.
" kayaknya mereka ada hubungan deh pih, masa mereka berduaan di kafe." matanya melirik sinis keberadaan Bela.
" mungkin tadi ada tugas sekolah berkelompok..bisa jadi pak Arga kebetulan emang lagi di kafe, siapa tau temenya lagi ada di toilet." bantah pak samsul.
Sela langsung menggeleng keras, wajahnya memerah menahan emosi. "aku sering lihat mereka ngobrol berdua, sering banget! Bahkan tadi aku lihat Pak Arga menghampiri Bela di halte bus deket sekolah. Itu bukan hubungan guru dan murid biasa, Pih! Itu hal kotor! Kalau hal ini tersebar, nama sekolah kita pasti rusak, apalagi nama papih sebagai kepala sekolah. papih mau kan nama baik papih hancur gara-gara murid murahan kayak dia?"
Kata-kata Sela terasa seperti pisau yang diarahkan tepat ke titik terlemah Pak Samsul, gengsi dan jabatan. Raut wajah Pak Samsul berubah menjadi serius dan mengancam. Ia mulai berpikir. Jika benar ada hubungan terlarang antara murid dan guru, itu adalah pelanggaran fatal. Dan jika ia bisa mengungkapkannya, bukan tidak mungkin Bela benar-benar bisa dikeluarkan dari sekolah ini seperti yang diminta anaknya tadi.
"Kamu punya bukti nggak?" tanya Pak Samsul dengan suara rendah, matanya kini menatap tajam ke arah meja Bela yang di depan sana.
Sela tersenyum licik, rasa kesalnya perlahan hilang berganti dengan rasa puas. "Bukti bisa di cari dong, Pih. Kan papih kepala sekolah, pasti gampang banget buat pantau gerak-gerik mereka. aku yakin banget, kalau papih selidiki lebih dalam, pasti banyak banget aib yang ditutup-tutupi sama si Bela itu. Bukan cuma sama Pak Arga, sama Bastian juga dia manfaatin ketenarannya biar dilihat orang."
Rasa cemburu membuat mata dan hatinya buta, dia ngga peduli apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Pak Samsul mendengus kasar. "Oke, Papih pikirin. Tapi kamu jangan bertindak sembarangan dulu. Biar Papih yang atur semuanya. Kalau emang dia beneran bikin masalah, Papih sendiri yang bakal tendang dia keluar."
Hati Sela melonjak senang. Senyum kemenangan mengembang di bibirnya. Akhirnya, langkah pertamanya untuk menjatuhkan Bela sudah dimulai. Ia akan pastikan gadis itu kehilangan segalanya: teman-temannya, nama baiknya, bahkan sekolahnya sendiri. Tidak ada yang boleh lebih bahagia, lebih cantik, atau lebih diperhatikan daripada dirinya. Bela harus jatuh, dan harus jatuh jauh ke bawah.
Ratna sedari tadi hanya jadi pendengar setia, tanpa repot repot melakukan apapun. wanita yang Arga cintai bakal menderita tanpa dia turun tangan, senyum sinis tersungging tipis.
Sementara itu di meja Arga, mereka telah selesai menikmati makanannya.
" gimana enak?" yang langsung di angguki dengan cepat.
" mantep pol, makasih ya pak traktiran nya." nyengir Bela yang hanya di balas dengan usapan di kepalanya.
jantung Bela jedag jedug menerima perlakuan manis Arga, pipinya kembali bersemu merah, bibir nya menahan senyum.
" yuk pulang." ajak Arga yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
Bela langsung mengikuti dari belakang, sesampainya di parkiran motor.. Bela langsung mengingatkan.
" pak nanti bawanya jangan lama lagi ya, udah Sore banget nih. apa Saya aja yang bawa motornya?" Arga hanya terkekeh pelan.
" yuk naik, aku ngga bakal lama lagi bawa motornya." Bela langsung menaiki motor mio Arga, mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.
Matahari perlahan mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga kemerahan di ufuk barat. Cahayanya membias di wajah Bela dan Arga, namun bayang-bayang gelap perlahan mulai menjalar, bersiap menyelimuti kehangatan yang baru saja tumbuh kembali di antara mereka. Perjalanan pulang hari itu menjadi awal dari babak baru, di mana cinta yang perlahan tumbuh harus siap berhadapan dengan kebencian yang sudah lama tersimpan dan kini mulai bergerak diam-diam untuk menghancurkan segalanya.