NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 14: Keputusan Revan*

Telepon dari Bali datang lagi pagi itu.

Revan nggak langsung angkat. Dia biarin deringnya mati, terus matiin data.

Di luar, Jogja cerah. Terlalu cerah buat hari yang rasanya berat.

Meja 7 udah dibersihin, kopi pertama udah diseduh, tapi tangannya nggak berhenti gemetar.

Alya lagi di belakang, ngurusin laporan penjualan buku.

Mas Bayu duduk di pojok, baca koran lama, pura-pura nggak denger apa-apa.

Semua orang di kafe ini tahu: hari ini Revan harus jawab.

Tawaran dari _The Ocean Brew Bali_ udah kedaluwarsa minggu depan.

Kalau dia nggak bales “iya”, posisinya dikasih ke orang lain.

Gaji 28 juta, akomodasi, asuransi, kesempatan buka cabang di Ubud tahun depan.

Semua hal yang dulu dia mimpiin waktu masih kerja di chain cafe Jakarta.

Tapi Jogja nggak ada di brosur itu.

---

Jam 11 siang, Revan akhirnya nelpon balik.

Dia keluar ke halaman belakang, biar nggak kedengeran.

“Halo, Mas Adit,” katanya pelan.

“Gue pikir-pikir lagi. Gue nggak bisa ambil posisinya.”

Di ujung telepon ada hening 3 detik.

“Yakin, Van? Ini kesempatan sekali seumur hidup.”

Revan ngeliat ke arah pintu kafe. Alya lagi ketawa kecil sama karyawan karena tumpahin susu.

“Yakin,” jawabnya.

“Gue udah punya kafe yang gue nggak bisa tinggalin.”

Telepon ditutup.

Revan tarik napas panjang. Rasanya kayak ngelepas batu 20 kilo dari dada.

---

Dia masuk lagi jam 11.15.

Alya ngangkat kepala. “Lama banget. Ngapain aja di belakang?”

Revan nggak jawab langsung. Dia jalan ke meja 7, duduk, dorong satu amplop cokelat kecil ke depan Alya.

“Apa ini?” tanya Alya bingung.

“Buka aja.”

Di dalam amplop itu ada kontrak kerja Bali, dicoret-coret merah.

Di bagian bawah, tulisan tangan Revan:

> _Nggak diterima.

> Alasannya: gue udah punya tempat yang bikin gue pengen pulang.

> —R_

Alya baca itu dua kali. Terus ngangkat kepala, matanya udah basah.

“Kamu serius?”

Revan ngangguk. “Serius. Gue nggak mau nyesel 10 tahun lagi karena milih gaji daripada orang.”

Alya nggak nangis. Dia cuma napas panjang, kayak baru dilepas dari sesuatu yang nahan napasnya selama ini.

“Van, kamu nggak takut nyesel?”

Revan ketawa kecil. “Takut. Tapi gue lebih takut kalau gue pergi, terus balik, dan meja 7 udah kosong.”

Mas Bayu dari pojok nyela, “Anak muda sekarang mah bawaannya romantis. Gaji 28 juta ditolak demi kopi pahit.”

Tapi matanya berkaca-kaca.

---

Siangnya, karyawan pada tahu.

Ada yang tepuk tangan, ada yang cuma senyum lega.

Kafe jadi rame nggak karuan. Kayak semua orang ikut lega karena Revan milih tinggal.

Alya nggak banyak ngomong.

Dia cuma duduk di sebelah Revan, nyeduh kopi buat berdua, terus dorong satu ke arahnya.

“Jadi kamu nggak pergi?” tanyanya pelan, kayak masih nggak percaya.

Revan geleng. “Nggak. Kecuali kamu yang usir.”

Alya nyengir. “Nggak. Meja 7 butuh kamu. Gue juga.”

Revan ngangkat cangkirnya.

“Buat meja 7.”

Alya ikutin.

“Buat meja 7.”

---

Malamnya, setelah kafe tutup, mereka duduk di depan kafe.

Jogja dingin, tapi nggak dingin kayak waktu Revan pertama kali datang 8 bulan lalu.

“Kenapa kamu yakin banget?” tanya Alya.

“Bukan yakin,” jawab Revan.

“Tapi waktu gue di Bali 5 hari itu, gue nggak bisa tidur. Gue mimpiin kafe ini kebanjiran, Mas Bayu jatuh, kamu sendirian di meja 7.

Gue bangun jam 3 pagi, langsung pesen tiket pulang.”

Alya diem. Terus pelan-pelan nyandar ke bahu Revan.

“Gue nggak bakal bilang makasih. Kedengarannya kecil buat keputusan segede ini.”

Revan nyandar balik.

“Ngomong aja, ‘jangan pergi lagi’.”

Alya ketawa pelan.

“Jangan pergi lagi, Van.”

“Ngerti,” jawab Revan.

“Kecuali buat beli gula. Itu boleh.”

---

Besoknya, Revan bikin menu baru.

Namanya _Senja yang Tinggal_.

Kopi susu gula aren dengan taburan kayu manis. Katanya, “Manisnya buat kamu. Pahitnya buat gue. Tapi tetap enak kalau diminum bareng.”

Menu itu langsung jadi best seller minggu itu.

Di Instagram kafe, captionnya sederhana:

> _Kadang, keputusan terbaik bukan yang paling besar.

> Tapi yang bikin kamu bisa tidur nyenyak malam itu.

> —Revan & Alya_

Komentar masuk 2 ribu dalam 6 jam.

Sebagian besar cuma emoji hati.

---

Malam itu, Alya buka buku catatan Rani.

Halaman baru.

Dia tulis satu kalimat:

> _Hari ini, orang yang aku sayang milih tinggal.

> Jadi aku juga harus belajar tinggal dengan diriku sendiri._

---

*[Bersambung:

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!