NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Diantara dendam dan cinta

Mobil sedan mewah itu melaju pelan memasuki gerbang besi raksasa yang tinggi dan kokoh, gerbang yang menjadi batas antara dunia luar dan kediaman keluarga Adhitama. Di balik pagar itu, terbentang taman luas yang tertata rapi, pepohonan rindang berumur puluhan tahun, dan sebuah rumah besar bergaya klasik megah yang berdiri angkuh di tengah hamparan rumput hijau. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, tapi simbol kekuasaan, warisan, dan sejarah panjang keluarga yang namanya disegani seantero negeri.

Di dalam mobil, suasana agak hening. Kirana duduk tegak di samping Arjuna, tangannya menggenggam erat tas kulit kecil di pangkuannya. Wajahnya tenang, tapi matanya tak lepas menatap bangunan besar itu. Tempat ini ... dulu dia sering datang ke sini bersama ayah dan ibunya saat masih kecil. Tempat di mana mereka tertawa, bermain, dan berjanji akan selalu bersatu. Dan tempat ini pula yang terakhir kali dia lihat sebelum tragedi itu memisahkan segalanya.

Rasa sakit lama kembali berdenyut pelan di dada. Kenangan bahagia bercampur dengan ingatan mengerikan tentang kehancuran, air mata, dan pelariannya yang menyedihkan.

Arjuna menyadari ketegangan di sisi kirinya. Dia mengulurkan tangan, menangkap tangan dingin Kirana, menggenggamnya erat dan hangat. Dia mengusap punggung tangan itu perlahan, seolah mengirimkan kekuatan lewat sentuhan itu.

"Kamu tidak wajib masuk kalau belum siap," bisik Arjuna pelan, suaranya lembut dan penuh pengertian. "Kita bisa putar balik sekarang. Tidak ada yang akan memaksamu."

Kirana menoleh, menatap wajah Arjuna yang terlihat khawatir. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Dia meremas tangan Arjuna sebagai tanda terima kasih, lalu tersenyum tipis namun mantap.

"Tidak. Aku harus masuk. Seperti kamu bilang ... aku bukan lagi gadis kecil yang lari sembunyi. Aku Kirana Wijaya. Dan aku berhak ada di sini, di tanah ini, di hadapan mereka. Dulu keluargaku adalah mitra terbesar mereka. Sekarang ... aku kembali sebagai orang yang berdiri sama tinggi denganmu. Aku tidak takut, Arjuna. Selama kamu di sisiku, aku siap menghadapi apa pun."

Arjuna tersenyum bangga, mencium punggung tangan Kirana sekilas.

"Bagus. Ingat satu hal saja. Apa pun yang terjadi di dalam sana ... kata-kata kasar, tuduhan, atau hinaan ... jangan ambil hati. Itu semua bukan cerminan siapa dirimu. Dan yang paling penting ... apa pun keputusan mereka, apa pun pendapat mereka ... keputusanku tetap satu: Aku memilihmu. Tidak ada yang bisa mengubah itu, bahkan ayahku sekalipun."

Mobil berhenti di halaman depan. Seorang pria paruh baya bergegas membukakan pintu. Arjuna turun lebih dulu, lalu dengan sopan mempersilakan Kirana turun. Langkah kaki mereka beriringan masuk ke dalam rumah besar itu, melewati lorong-lorong luas yang dingin dan penuh lukisan-lukisan leluhur keluarga Adhitama.

Aroma khas rumah tua yang bercampur wangi bunga segar dan kemewahan menyapa hidung Kirana. Aroma yang sangat dia kenal, aroma yang dulu terasa begitu hangat dan ramah, tapi hari ini terasa begitu dingin dan penuh ancaman.

Mereka sampai di ruang tamu utama yang sangat luas. Di sana, di kursi besar berbahan kayu jati ukir duduk satu sosok pria tua berwibawa. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya tajam menatap ke depan tanpa emosi berlebih. Itu adalah Haryo Adhitama, ayah dari Arjuna, kepala keluarga, dan pemimpin tertinggi Grup Adhitama. Di sebelahnya duduk istri mudanya, wanita anggun yang wajahnya terlihat dingin dan sulit ditebak.

Begitu melihat Arjuna masuk diikuti Kirana, tatapan tajam Haryo langsung tertuju pada gadis muda itu. Dari ujung kaki hingga kepala, dia meneliti Kirana dengan pandangan menyelidik dan curiga, persis seperti sedang menilai barang asing yang masuk ke wilayahnya.

Arjuna berhenti beberapa langkah di depan ayahnya, dia menegakkan badannya setinggi mungkin, menegaskan posisinya sebagai anak dan juga sebagai laki-laki yang siap membela pilihannya.

"Selamat siang, Ayah, Ibu," sapa Arjuna tenang namun tegas. "Maafkan kedatangan kami tanpa kabar sebelumnya. Tapi ada hal penting yang harus kusampaikan secara langsung. Dan ada seseorang yang ingin aku perkenalkan secara resmi pada kalian."

Arjuna melangkah sedikit ke samping, membiarkan Kirana maju selangkah ke depan. Kirana mengangkat dagunya, menatap balik tatapan tajam Haryo tanpa gentar, tanpa menunduk, persis seperti ajaran ayahnya dulu: Orang jujur tidak perlu menundukkan kepala.

"Ayah, Ibu ... ini Kirana Wijaya. Wanita yang kucintai. Wanita yang menjadi mitra kerjaku, Direktur Teknik di perusahaan kita. Dan wanita yang akan aku jaga seumur hidupku."

Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Hening yang berat dan menyesakkan.

Haryo tidak menjawab salam, tidak menyapa. Dia masih menatap Kirana lekat-lekat, matanya menyipit seolah sedang mencari jejak wajah yang sudah lama dia hapus dari ingatannya.

"Wijaya ..." suara berat Haryo terdengar rendah dan kasar, satu kata itu saja sudah mengandung muatan kebencian yang luar biasa. "Nama itu ... nama yang sudah lama tidak ingin aku dengar lagi di rumah ini. Nama yang seharusnya sudah musnah, hilang ditelan bumi, lenyap bersama dosa-dosa besarnya."

Jantung Kirana berdenyut sakit mendengar kata-kata itu. Dosa-dosa besar? Jadi begini cara mereka melihat ayahku? Begini cara mereka memandang keluarga Wijaya?

"Ayah!" tegur Arjuna cepat, nadanya meninggi karena tidak terima. "Jangan bicara sembarangan! Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dulu! Kau hanya mendengar satu sisi cerita saja!"

Haryo menggebrak lengan kursinya keras, wajahnya memerah menahan amarah yang tiba-tiba meledak.

"Akulah yang tahu segalanya, Arjuna! Akulah yang ada di sini saat itu! Akulah yang melihat bagaimana Arya Wijaya, sahabat yang aku percaya seumur hidup, menusuk dari belakang! Mencuri rahasia perusahaan, menjualnya pada musuh, dan hampir menghancurkan seluruh kekayaan yang dibangun kakekmu dengan keringat dan air mata! Dia pengkhianat! Dan semua keturunannya ... membawa darah pengkhianat itu!"

Haryo menunjuk lurus ke arah Kirana dengan jari gemetar penuh amarah.

"Dan kau ... gadis kecil ... kau berani sekali menampakkan wajahmu di sini? Berani sekali mendekati putraku? Berani sekali masuk ke perusahaan kami? Kau pikir aku lupa wajahmu? Wajahmu persis ibumu. Dan sifatmu ... pasti sama saja dengan ayahmu. Kamu datang untuk menghancurkan kami lagi? Datang untuk mencuri lagi? Apa yang kau inginkan dari Arjuna? Uang? Kekuasaan? Atau kau mau menghancurkan dia sama seperti ayahmu menghancurkan keluarga Adhitama dulu?!"

Tuduhan demi tuduhan dilontarkan tanpa ampun, tajam seperti pisau, menyayat hati Kirana yang sudah penuh luka itu. Di sudut mata Kirana, ada genangan air mata, tapi dia menahannya mati-matian. Dia tidak akan menangis di depan orang yang membenci keluarganya. Dia tidak akan memberi kepuasan pada mereka melihatnya hancur.

Kirana melangkah maju selangkah lagi, melewati Arjuna yang hendak menahannya. Dia menatap mata Haryo tepat ke manik matanya, suaranya bergetar namun lantang dan jelas.

"Pak Haryo ... Ayah saya tidak pernah berkhianat. Ayah saya adalah orang paling jujur, paling setia, dan paling mulia yang pernah ada. Dia rela memberikan nyawanya demi keluarga Adhitama. Dan kalau ada hal buruk yang terjadi dulu ... ada sesuatu yang disembunyikan. Ada kebohongan besar yang dibangun di atas kehancuran kami."

Kirana menunjuk dadanya sendiri dengan tangan gemetar.

"Aku datang ke sini bukan untuk mencuri. Aku datang bukan untuk menghancurkan. Aku datang karena aku ingin tahu kebenaran. Aku datang karena aku, percaya pada Arjuna. Dan aku datang untuk mengembalikan nama baik keluarga Wijaya yang ternoda oleh tuduhan tanpa bukti ini."

"Kebenaran?!" Haryo tertawa sinis, tawanya dingin dan mengerikan. "Kebenaran sudah mati bersama ayahmu, Nak! Dan kau ... kau pikir aku akan membiarkan anakku berhubungan dengan anak pengkhianat? Arjuna adalah pewaris tunggal. Dia calon pemimpin. Dia butuh istri dari keluarga terhormat, bukan sisa-sisa keluarga yang hancur dan penuh aib!"

Haryo menatap tajam ke arah Arjuna.

"Dengar baik-baik, Arjuna. Aku izinkan dia bekerja di perusahaan karena aku hormat kemampuannya. Tapi urusan pribadi ... itu beda lagi. Aku melarangmu berhubungan lebih jauh dengan gadis ini. Putuskan hubunganmu sekarang juga. Atau ... kau siap menghadapi konsekuensinya. Aku bisa mencabut segala hak warismu. Aku bisa mengeluarkanmu dari perusahaan. Aku bisa memutus semua aksesmu. Pilih: dia ... atau segalanya yang kau miliki, nama Adhitama, kekayaan, dan masa depanmu."

Suasana ruangan itu terasa seperti di kutub utara. Dingin, kaku, dan penuh tekanan besar. Ibu tiri Arjuna yang sedari diam saja, akhirnya buka suara dengan nada lembut namun menyakitkan.

"Benar kata Ayah, Arjuna. Kau sudah gila karena terpesona wajah cantiknya saja. Gadis ini membawa nasib buruk. Lihat saja, di mana pun dia berada, selalu ada masalah. Lebih baik kau jauhkan dia. Demi kebaikanmu sendiri, dan demi keamanan keluarga kita."

Arjuna diam sejenak. Dia menatap wajah ayahnya yang keras, wajah ibu tirinya yang penuh kepalsuan, lalu dia menoleh ke arah Kirana. Dia melihat ketakutan di mata Kirana, ketakutan bukan untuk dirinya sendiri, tapi ketakutan kalau Arjuna akan memilih kekayaan dan meninggalkannya.

Arjuna melangkah maju, berdiri di samping Kirana, merangkul bahu gadis itu erat, melindunginya sepenuhnya. Dia menatap ayahnya dengan tatapan yang sama tajamnya, tatapan anak yang sudah dewasa dan tidak mau lagi diperintah sembarangan.

"Ayah ... kau mengancamku dengan kekayaan? Dengan hak waris? Dengan nama besar ini?"

Arjuna tersenyum miring, senyum yang penuh kekecewaan dan ketegasan.

"Selama ini aku hidup di dalam kemewahan ini, aku pikir aku bahagia. Tapi baru belakangan ini aku mengerti ... bahwa semua uang, semua gedung, semua nama besar ini ... tidak ada artinya sama sekali kalau aku harus hidup dalam kebohongan. Tidak ada gunanya kalau aku harus mengkhianati hati nuraniku."

Arjuna mengeratkan rangkulannya di bahu Kirana, suaranya bergema kuat di seluruh ruangan.

"Ayah bertanya aku harus memilih? Pilihan itu sudah lama aku buat. Aku memilih Kirana. Aku akan selalu memilih Kirana. Tanpa ragu. Tanpa menoleh ke belakang."

Arjuna menatap ayahnya dalam-dalam.

"Ambil saja hak warisku. Ambil saja jabatan di perusahaan. Kunci saja semua pintu kekuasaan itu. Aku tidak peduli. Selama aku punya dua tangan yang kuat dan kepala yang berisi, aku bisa membangun semuanya dari nol lagi. Tapi satu hal yang tidak akan bisa aku bangun ulang kalau hilang ... wanita yang ada di sampingku ini. Wanita yang mencintaiku apa adanya, bukan karena uangku, bukan karena namaku."

"Dan ingat satu hal lagi, Ayah ..." Arjuna menunjuk dadanya sendiri. "Darah yang mengalir di tubuhku bukan cuma darah Adhitama. Di sini juga mengalir keberanian, darah kesetiaan, dan darah pembela kebenaran. Sama seperti darah Arya Wijaya yang dulu setia kawan sampai mati. Dan aku bersumpah ... aku akan buktikan. Aku akan cari tahu kebenaran masa lalu itu sampai tuntas. Dan saat hari itu tiba ... saat terbukti ayah Kirana tidak bersalah ... Ayahlah yang akan menyesal seumur hidup karena sudah menuduh orang sebaik ayah Kirana sebagai pengkhianat."

Haryo terdiam terpaku. Dia tidak menyangka anaknya yang biasanya patuh dan dingin, bisa berubah sekeras ini demi seorang wanita. Wajahnya merah padam antara marah dan kecewa.

"Kau ... kau berani melawanku? Demi dia?!"

Bersambung ....

1
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ita Xiaomi
Menguasai martial arts.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!