NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi nasi goreng dan hati yang meleleh

Violet mendongak, menatap dagu tegas Arden yang masih mengeras. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Arden, mengabaikan tatapan tajam Danantya maupun wajah sembab Evara di pojok ruangan.

"Tuan Bos... jangan galak-galak begitu, nanti cepat tua loh," bisik Violet dengan nada manja yang hanya ia tujukan pada Arden. "Tuan Bos kan tahu kalau kami semua cuma khawatir. Evara memang agak gesrek, tapi niatnya kan baik mau nemenin Kak Danan."

Arden menghela napas berat. Ia melepaskan pelukan Violet sebentar, lalu memegang kedua bahu gadis itu. "Violet, ini bukan soal cepat tua atau tidak. Ini soal keselamatan. Di pelabuhan itu isinya bukan orang-orang yang bisa kamu ajak bercanda dengan sebutan 'Tuan' atau 'Kak'. Mereka itu berbahaya."

"Iya, Tuan Bos yang paling ganteng sejagat raya. Aku janji nggak bakal ulangi lagi, Evara juga janji, kan Va?" Violet menoleh ke arah Evara, memberi kode keras.

Evara Swastamita mengangguk cepat sambil mengusap hidungnya yang merah. "Iya, Kak Arden... maafin Evara ya. Evara cuma takut Kak Danan kenapa-napa."

Siasat Lavanya Purnama

Melihat situasi yang masih agak kaku, Lavanya Purnama melangkah maju. Sebagai yang paling dewasa secara pemikiran di antara geng gadis muda itu, ia tahu cara menenangkan para pria lulusan London ini.

"Kak Arden, Kak Danan, Kak Kenzo," panggil Lavanya dengan suara lembut yang menenangkan. "Bagaimana kalau kita semua makan malam di apartemen Violet? Aku yang masak. Kita butuh tenang sebelum menyusun strategi berikutnya untuk melawan Arjuna. Kalau perut lapar, pikiran pasti makin kacau."

Kenzo yang sejak tadi hanya diam sambil mengamati Avyana Hazel, akhirnya bersuara. "Lavanya benar. Kita nggak bisa mikir jernih kalau kondisinya tegang begini. Ayo, aku yang antar gadis-gadis ini pulang."

Avyana menatap Kenzo sebentar, lalu tersenyum tipis. "Makasih ya, Kak Kenzo, sudah bantuin tadi di pelabuhan. Kakak keren juga kalau lagi panik."

Kenzo berdehem, mencoba menyembunyikan rasa bangganya. "Lain kali jangan bikin saya panik, Avyana. Rambut saya bisa cepat putih."

Di Apartemen: Dapur yang Berisik

Satu jam kemudian, dapur apartemen Violet menjadi sangat ramai. Lavanya memimpin "operasi masak besar". Evara bertugas memotong bawang sambil sesekali mencuri pandang ke arah Danantya yang duduk kaku di meja makan. Avyana membantu menata piring, sementara Violet sibuk mengganggu Arden yang sedang mencoba membalas email di ruang tengah.

"Tuan Bos! Berhenti kerja dulu! Lihat nih, aku bantuin Vanya bikin sambal loh," seru Violet sambil menunjukkan jarinya yang terkena sedikit ulekan cabai.

Arden menutup laptopnya. Ia menarik tangan Violet dan memeriksa jari gadis itu. "Hati-hati, nanti matamu perih kalau kena cabai. Kamu itu memang nggak bisa diam ya?"

"Kalau aku diam, Tuan Bos nanti kesepian. Kan Tuan Bos suka yang berisik-berisik gemes begini," balas Violet sambil nyengir lebar.

Percakapan Antar Pria

Di meja makan, Danantya masih tampak terpukul. Sebagai pria yang terbiasa dengan kendali penuh, kejadian di pelabuhan tadi benar-benar merusak harga dirinya.

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Danan," ucap Arden yang kini sudah bergabung di meja makan. "Evara memang tipe yang sulit dikendalikan. Tapi dia menyelamatkan kita dari kejenuhan, kan?"

Danantya menatap Evara yang sedang tertawa bersama Lavanya di dapur. "Dia hampir celaka karena aku, Den. Aku nggak tahu apa yang bakal aku lakuin kalau tadi telat satu menit aja."

"Itu namanya cinta, Kak Danan!" sahut Evara tiba-tiba dari arah dapur sambil membawa piring nasi goreng. "Cinta itu emang bikin deg-degan, bukan cuma angka-angka di laporan Kakak."

Danantya terdiam, lalu perlahan ia mengambil sendok dan mulai makan. "Nasi gorengnya terlalu banyak cabai, Evara."

"Biar Kakak bangun dari mode robotnya!" balas Evara sambil duduk di samping Danantya tanpa permisi.

Langkah Hukum Arjuna

Di tengah suasana makan malam yang mulai hangat, ponsel Arden bergetar. Sebuah dokumen PDF masuk dari tim legal mereka. Arden membacanya dengan teliti, dan wajahnya kembali serius.

"Arjuna menggugat hak kepemilikan tanah di salah satu area proyek Bali kita," ucap Arden. "Dia menggunakan celah hukum dari sertifikat lama yang diduga palsu. Dia ingin menghentikan pembangunan kita lewat jalur pengadilan."

Violet meletakkan sendoknya. "Tuan Bos, itu tanah punya Papa kan? Papa punya semua surat aslinya!"

"Memang, tapi proses hukum bisa memakan waktu berbulan-bulan. Kalau pembangunan berhenti, investor kita di London bisa menarik modal mereka," jelas Arden.

Lavanya menatap mereka satu per satu. "Berarti kita nggak cuma butuh otot, tapi butuh bukti sejarah tanah itu. Violet, bukankah kakekmu dulu punya catatan harian soal pembelian tanah itu?"

Mata Violet berbinar. "Benar! Ada di gudang rumah besar Papa! Tuan Bos, besok kita ke sana ya?"

Arden menatap Violet, lalu tersenyum tipis sambil mengacak rambutnya. "Apapun untukmu, Tuan Putrinya Bos. Tapi kali ini, pengawalannya akan lebih ketat."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!