Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Teka-Teki Batu Hitam Peninggalan Feng Bo [REVISI]
Latihan fisik sore berakhir saat matahari benar-benar tenggelam. Setelah makan malam yang penuh dengan obrolan riang Lin Yue tentang ambisinya menjadi kuat, suasana rumah akhirnya senyap. Huo Ting dan Lin Yue sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
Wang Yan duduk bersila di atas ranjangnya. Rasa pegal di otot lengannya terasa nyata—sebuah pengingat bahwa batu 25 kilogram tadi memang melatih fisiknya secara murni. Namun, pikirannya tidak berada pada ototnya, melainkan pada kotak persegi cokelat yang ia simpan di bawah ranjang. Ia menarik kotak itu keluar lalu membukanya.
Di dalam sana, terletak kristal hitam-keemasan dengan ukiran kaligrafi rumit merah darah. Ini adalah sisa dari Feng Bo yang tidak hancur oleh Bara Pelebur Jiwa kemarin malam.
Wang Yan mengambil kristal tersebut. Ia menatap kaligrafi merah yang rumit itu dengan saksama.
“Kemarin malam, kepalaku terlalu sakit untuk menganalisis ini,” batinnya. “Tapi sekarang, dengan energi spiritual, seharusnya aku bisa melihat sesuatu?”
Ia mencoba mengalirkan energi spiritualnya. Berbeda dengan saat ia masih manusia fana, kali ini ia bisa merasakan arus energinya merambat masuk ke pori-pori kristal. Namun, anehnya, energi itu hanya berputar-putar di permukaan, tidak menemukan pintu masuk ke inti kristal. Benda itu tetap diam, sedingin batu kali, seolah-olah seluruh kesadaran Feng Bo memang sudah benar-benar musnah tidak bersisa.
Wang Yan menghela napas lega dengan sedikit rasa penasaran, meletakkan kembali kristal itu ke telapak tangannya.
“Apakah Bara Pelebur Jiwa benar-benar menghapus esensinya, ataukah energi spiritualku masih terlalu rendah untuk memicu sisa memorinya ataukah kristal ini hanyalah sisa Feng Bo yang tak berguna?” gumamnya pelan.
Logika sarjananya mulai bekerja. Jika Kitab Agung Penipu Langit yang diberikan Feng Bo bekerja dengan cara mencuri energi alam semesta, maka kristal ini—sebagai wadah lama Feng Bo—apakah mungkin memiliki sifat penolakan yang sama terhadap energi spiritual biasa?
Ia teringat kembali pengorbanan yang ia lakukan kemarin malam. Segumpal darah yang ia muntahkan dan rasa lemas yang hampir merenggut nyawanya. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan: menghancurkan penyebab kematian ratusan orang sekaligus mendapatkan kunci untuk melindungi keluarganya.
Ia membungkus kembali kristal tersebut ke dalam kain, menaruhnya di dalam kotak, dan memasang segel baru yang lebih rapat.
...........
Keesokan harinya, Wang Yan memutuskan untuk membeli beberapa barang yang akan diperlukan olehnya, tetapi tidak pergi ke Paviliun Mahkota Xiong. Ia tahu betul bahwa tempat itu adalah pusat perdagangan besar yang sangat mencolok. Jika ia kembali ke sana untuk membeli barang-barang kultivasi dalam waktu singkat, identitasnya akan menjadi komoditas informasi yang cukup berharga.
Langkahnya justru membawanya ke sebuah distrik yang lebih tenang, di mana berdiri sebuah bangunan yang tidak terlalu besar bernama Paviliun Bunga Api. Tempat ini menjual berbagai macam barang kebutuhan bela diri secara umum, namun tidak memiliki sistem pengumpulan informasi seaktif Paviliun Mahkota Xiong. Bagi Wang Yan, ini adalah tempat yang sempurna untuk bergerak di bawah radar.
Begitu masuk, ia langsung disambut oleh seorang pelayan wanita muda bernama Xian Shui. Begitu melihat Wang Yan masuk, Xian Shui sempat tertegun. Paras Wang Yan yang tenang dengan aura kecerdasan seorang sarjana yang kini berpadu dengan ketegasan tubuhnya terlihat sangat tampan. Xian Shui merasa sedikit tergoda, pipinya merona tipis saat ia mendekat dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin.
“Selamat pagi, Tuan Wang,” sapa Xian Shui dengan nada suara yang lembut. “Suatu kehormatan melihat Anda di Paviliun Bunga Api yang sederhana ini. Apakah Anda sedang mencari inspirasi puisi baru?”
Wang Yan tersenyum tipis, menjaga jarak yang sopan. “Aku butuh buku teknik seni bela diri tingkat 1. Apakah tersedia?”
Mendengar hal itu, Xian Shui sedikit mengerutkan keningnya, namun matanya tetap menatap wajah Wang Yan dengan penuh minat. “Seni bela diri Kelas 1? Tuan Wang... maaf tapi barang seperti itu sangat jarang. Dan kami tidak memilikinya saat ini.”
Xian Shui menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada cerdik, “Sebenarnya, teknik Kelas 1 tidak terlalu langka, hanya saja paviliun kami sedang kehabisan stok. Jika Anda mencarinya di pelelangan besar, harganya akan sangat mahal. Mengapa Anda tidak mencoba memperebutkan harta seperti itu di lelang yang diadakan Paviliun Mahkota Xiong minggu depan saja?”
Wang Yan menatap Xian Shui dengan ramah. “Menunggu lelang itu terlalu lama. Berikan saja padaku teknik tingkat biasa yang tersedia sekarang,” tegasnya rendah hati.
Xian Shui sempat terperangah. Ia mengharapkan Wang Yan akan memaksakan diri mencari teknik tingkat tinggi demi harga diri, namun sarjana ini justru sangat rasional. Dengan rasa heran namun lega karena Wang Yan berniat membeli, ia mengambilkan buku-buku teknik seni bela diri kelas biasa.
Wang Yan membolak-balik beberapa kitab usang di depannya sebelum jemarinya berhenti pada sebuah buku dengan sampul kulit berwarna abu-abu pudar. Di sampulnya tertulis: Teknik Pedang Penebas Udara.
Secara teori, ini hanyalah teknik kelas biasa yang mengandalkan kecepatan ayunan untuk menciptakan tekanan angin kecil. Bagi kultivator biasa, teknik ini sering dianggap remeh karena daya rusaknya yang terbatas. Namun, bagi Wang Yan yang memahami prinsip aerodinamika dan titik lemah anatomi, teknik sederhana ini adalah fondasi yang cocok dan paling efisien untuk digabungkan dengan kekuatan yang ingin diraihnya.
“Aku ambil Teknik Pedang Penebas Udara ini,” ujar Wang Yan mantap.
Setelah memilih teknik yang sesuai, mereka berpindah ke aula persenjataan. Di sana, mata Wang Yan tertuju pada sebuah pedang panjang dengan sarung kayu hitam bermotif awan.
Saat jemarinya menyentuh gagang pedang yang dibalut kulit kasar, Wang Yan merasakan sensasi dingin yang merambat ke lengannya. Ia menarik bilah logam itu perlahan.
Sring!
Bilahnya terbuat dari baja hitam yang ditempa tipis namun padat, memberikan pantulan cahaya yang redup dan tidak mencolok. Wang Yan mengayunkannya pelan di udara; distribusi beratnya terpusat sedikit di atas gagang, memungkinkan pergelangan tangannya bergerak dengan fleksibilitas tinggi tanpa membuang banyak tenaga.
Tidak ada hiasan permata yang berlebihan. Hanya ada garis ukiran awan yang mengalir dari pangkal hingga ke tengah bilah, yang berfungsi sebagai parit kecil untuk memecah hambatan angin saat pedang ditebas.
“Keseimbangannya sempurna untuk pedang kelas biasa, yang menempa pedang ini benar-benar ahli dalam memberikan sentuhan kecil.” batin Wang Yan. “Ini bukan pedang untuk pamer kekuatan kasar, tapi senjata untuk eksekusi yang presisi.”
“Berapa total harga untuk gulungan teknik dan pedang ini?” tanya Wang Yan.
“Semuanya menjadi tujuh belas koin perak, Tuan Wang,” jawab Xian Shui.
Wang Yan segera menyerahkan koin perak tersebut. Namun, gerakan tangan Xian Shui saat menerima pembayaran itu mendadak membeku. Ia menatap pedang di tangan Wang Yan dengan ekspresi yang sangat terkejut.
“Tuan Wang... Jadi benar... Anda benar-benar sudah melangkah di jalan ini,” ujar Xian Shui keceplosan sambil menutup mulutnya. Suaranya terdengar serius dan penuh rasa tidak percaya.
Wang Yan memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”
Xian Shui menelan ludah, sedikit ragu untuk berbicara. “Maafkan saya, Tuan. Hanya saja... ada seseorang yang juga berada di Paviliun Mahkota Xiong kemarin saat Anda membeli Daun Keberuntungan Maple. Orang itu mengenali Anda dan menceritakan kepada beberapa pedagang bahwa Sarjana Wang sedang membeli bahan kultivasi tingkat tinggi dengan harga lima koin emas. Kabar itu sudah menyebar di pasar sejak tadi pagi.”
Wang Yan tertegun sejenak. Ia memang menyadari pasang mata para penduduk kota sebelum ia kemari, ia tidak menyangka bahwa ada mata yang mengenalnya kemarin. Kebocoran ini bukan berasal dari jaringan informasi paviliun mahkota xiong, melainkan dari saksi mata yang kebetulan lewat.
Jika rumor ini sudah sampai ke telinga pelayan di sini, maka sudah pasti Keluarga Besar Hong juga sudah mengetahuinya. Bagi mereka, Wang Yan sebelumnya hanyalah seorang sarjana; mereka tidak bisa menindas Wang Yan yang hanya seorang manusia fana di muka publik. Sekarang Wang Yan yang telah berjalan di jalur kultivasi, ini akan memudahkan mereka untuk mengambil sesuatu darinya.
Dinasti Zhou memiliki otoritas kekuasaan yang berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya. Jika dunia luar yang kuat yang berkuasa, di dinasti Zhou terdapat sistem stabilitas yang ditekankan kepada seluruh penduduknya. Ini menjamin agar penduduk biasa ataupun praktisi bela diri tidak jomplang dan saling membutuhkan satu sama lain. Dan para kultivator tidak memiliki hak semena-mena untuk menghancurkan mereka yang bukan kultivator.
Wang Yan tetap mempertahankan ekspresi tenangnya, meski dalam hati ia terus mengalkulasi kemungkinan terburuk. Ia menyarungkan pedang hitamnya dengan sekali hentakan yang presisi, lalu menatap Xian Shui dengan senyum tipis yang tampak tulus.
“Kau terlalu berlebihan, Xian Shui,” ucap Wang Yan dengan nada santai, seolah rumor yang beredar hanyalah angin lalu.
“Semua barang ini bukan untukku. Ini semua untuk orang lain. Daun Keberuntungan Maple yang kubeli kemarin, juga pedang dan teknik ini, semuanya adalah pesanan untuk orang lain yang membutuhkan strategi keamanan. Hanya saja orang ini tidak bisa pergi dan aku yang menggantikannya.”
Xian Shui mengerjapkan mata, tampak sedikit ragu namun mulai mempertimbangkan penjelasan tersebut. “Jadi... bukan untuk Anda sendiri, Tuan Wang?”
“Tentu saja tidak,” bohong Wang Yan dengan lancar.
“Aku tetaplah seorang sarjana. Semua kebutuhan ini adalah strategi ku untuk orang itu. Lagi pula, siapa yang akan percaya seorang sarjana sepertiku tiba-tiba berani mengayunkan pedang... apalagi kita kan berada di Dinasti Zhou?”
Mendengar penjelasan yang masuk akal itu, ketegangan di wajah Xian Shui perlahan mencair. Ia mengangguk pelan, merasa sedikit bodoh karena sempat percaya pada rumor pasar yang bombastis.
“Benar juga. Maafkan kelancangan saya, Tuan Wang. Sepertinya orang-orang memang suka melebih-lebihkan cerita.”
“Tidak apa-apa,” ujar Wang Yan sambil mengisyaratkan pembayaran yang sudah ia letakkan.
Ia segera mengambil bungkusan kitab teknik dan pedang barunya. Setelah berpamitan singkat, Wang Yan melangkah keluar dari Paviliun Bunga Api dengan langkah yang tidak terburu-buru. Namun, begitu ia sampai di keramaian distrik yang lebih sepi, tatapannya berubah menjadi sangat tajam.
Alasannya tentang orang lain mungkin bisa membungkam mulut pelayan toko seperti Xian Shui untuk sementara, tapi ia tahu keluarga Hong tidak akan semudah itu tertipu. Mereka pasti akan mengirim seseorang untuk memastikan kebenarannya.
“Berlatih di rumah sekarang agak berbahaya dari mata orang-orang Keluarga Hong. Aku butuh tempat latihan yang jauh dari jangkauan mata orang-orang Keluarga Hong,” gumamnya sambil memegang erat kalung giok berbentuk bulan sabit yang melingkar di lehernya.
...