"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJUAL LUKA DIATAS PIRING
Perubahan itu tidak datang dengan ledakan, melainkan merayap halus seperti kabut yang perlahan menutupi pandangan. Awalnya, Dina merasa sangat beruntung memiliki Rama. Pria itu adalah pelindung, sosok yang pasang badan saat Arsa mempermalukannya, dan pendengar yang baik saat ia menumpahkan luka masa lalunya. Namun, seiring berjalannya waktu, kenyamanan itu mulai berganti menjadi rasa sesak yang berbeda.
Rama, yang dulunya adalah manajer yang tenang dan bijaksana, mulai menunjukkan sisi yang tidak pernah Dina duga sebelumnya. Sifat "pahlawan" yang dulu dipuja Dina, perlahan bermutasi menjadi sikap yang sangat bossy dan dominan.
"Din, aku sudah bilang kan? Kamu nggak usah terlalu dekat sama Maulana. Dia itu cuma rekan kerja, dan dia nggak benar-benar paham situasimu seperti aku," ucap Rama suatu siang di kantin, nada bicaranya tidak lagi menyarankan, tapi memerintah.
Dina mengerutkan kening, mencoba tetap berpikiran positif. "Tapi Mas, Maulana itu sahabatku. Dia yang bantu aku waktu aku lagi jatuh-jatuhnya."
Rama meletakkan sendoknya dengan dentingan yang cukup keras, lalu menatap Dina dengan tatapan yang seolah-olah Dina adalah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. "Dina, dengerin aku. Di dunia ini, cuma aku yang benar-benar paham luar dalamnya kamu. Cuma aku yang tahu betapa hancurnya keluargamu dan betapa traumanya kamu. Orang lain? Mereka cuma kasihan atau cuma mau tahu urusanmu. Aku melakukan ini karena aku sayang kamu."
Kalimat "Cuma aku yang memahami kamu" menjadi senjata baru Rama. Setiap kali Dina mencoba mengambil keputusan sendiri—entah itu soal pekerjaan atau rencana mencari kos—Rama selalu punya cara untuk mematahkannya dengan alasan "demi kebaikan Dina".
Dina mulai merasa seperti burung yang baru saja keluar dari kandang bambu yang berisik, hanya untuk masuk ke dalam sangkar emas yang lebih sempit. Rama mulai mengatur jadwal makan siangnya, mengkritik cara Dina menghadapi ayahnya, bahkan mulai sering mengintervensi tugas-tugas General Affair Dina dengan alasan "memastikan Dina tidak kelelahan".
Suatu sore, saat Dina sedang mengobrol santai dengan Manda, Rama tiba-tiba datang dan langsung memotong pembicaraan mereka.
"Manda, maaf ya, Dina harus bantu aku cek laporan operasional sekarang. Kamu bisa lanjut nanti kan?" ucap Rama tanpa menunggu jawaban Manda. Ia langsung menarik kursi Dina dan mengajaknya pergi.
Manda hanya bisa melongo, sementara Dina merasa harga dirinya sedikit tercubit. Di depan rekan kerja lain, Rama mulai bersikap seolah-olah ia adalah pemilik penuh atas hidup Dina. Ia merasa menjadi segalanya—kekasih, atasan, pelindung, sekaligus satu-satunya hakim atas kebenaran hidup Dina.
Dina terduduk di meja kerjanya, menatap sapu tangan biru tua yang masih ia simpan. Dulu, kain itu terasa seperti pelindung. Sekarang, kain itu mengingatkannya pada sebuah genggaman yang mulai terasa terlalu erat hingga menyakitkan.
“Apakah ini yang namanya cinta? Atau aku hanya berpindah dari satu bentuk penindasan ke bentuk lainnya?” pikir Dina dalam hati.
Ia menyadari bahwa Rama mulai merasa berkuasa atas dirinya karena ia tahu segala "aib" dan kelemahan Dina. Rama menggunakan rahasia yang Dina ceritakan dengan jujur sebagai alat untuk mengontrolnya, seolah-olah tanpa Rama, Dina akan kembali menjadi gadis hancur yang tidak tahu arah.
Malam itu, langit Jakarta tampak muram, sisa gerimis masih meninggalkan jejak basah di kaca jendela kantor. Dina baru saja hendak merapikan mejanya ketika Rama muncul di ambang pintu ruangan General Affair. Senyumnya masih sama—teduh dan penuh wibawa—namun ada sesuatu dalam binar matanya yang membuat Dina merasa sedikit waspada.
"Pulang kerja kita ke rumahku, ya. Mamaku mengajak makan malam," ucap Rama tanpa nada bertanya, seolah itu adalah sebuah agenda yang sudah diputuskan secara sepihak.
Dina tertegun, tangannya yang memegang ponsel membeku. "Ke rumah Mas Rama? Malam ini? Kenapa mendadak, Mas?"
Rama melangkah mendekat, berdiri di depan meja Dina dengan tangan masuk ke saku celana. "Aku sudah menceritakan semuanya soal kamu. Soal masa lalumu, soal keluargamu, semuanya. Dan mereka senang aku kenal kamu, bahkan senang kita pacaran. Menurut mereka, masa lalumu itu bukan masalah. Benar, kan, kata aku? Cuma aku yang tahu cara menghadapi mereka buat kamu."
Dina merasa seperti ada air es yang baru saja disiramkan ke punggungnya. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena rasa bahagia. Ada rasa perih yang menjalar di dadanya—rasa dikhianati oleh kejujuran yang ia percayakan.
"Tapi kenapa Mas ceritakan sekarang? Dan kenapa harus semuanya?" tanya Dina, suaranya sedikit bergetar. "Itu cerita pribadiku, Mas. Itu luka yang aku titipkan ke kamu karena aku percaya kamu bakal menjaganya, bukan menjadikannya bahan obrolan di meja makan keluarga."
Rama mengerutkan kening, ekspresinya berubah menjadi sedikit defensif, seolah ia sedang menghadapi bawahan yang membangkang. "Karena supaya mereka memandang kamu lebih awal, Dina. Supaya mereka tahu betapa hebatnya kamu bertahan. Aku melakukan ini supaya mereka nggak kaget nanti. Kamu harusnya berterima kasih karena aku sudah membukakan jalan buat kamu."
Dina menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Ini adalah pola yang mulai ia kenali. Setiap kali Rama melakukan sesuatu yang dominan atau melampaui batas privasinya, pria itu selalu membungkusnya dengan kalimat "demi kebaikanmu". Masa lalu Dina yang hancur seakan-akan selalu menjadi alat bagi Rama untuk menunjukkan betapa "mulianya" dia sebagai kekasih.
"Aku nggak mau mereka menerima aku karena kasihan, Mas," ucap Dina tegas, meski suaranya serak. "Aku mau mereka mengenal aku sebagai Dina. Sebagai rekan kerja kamu, sebagai pacar kamu, sebagai manusia. Bukan sebagai 'gadis malang yang ditinggal ibunya' atau 'anak yang diusir ayahnya'. Mas Rama seolah-olah menjual lukaku supaya Mas kelihatan seperti pahlawan di mata orang tua Mas."
Rama menghela napas panjang, suara yang terdengar seperti rasa frustrasi yang dipaksakan. "Dina, kamu terlalu sensitif. Kamu itu punya trauma, makanya kamu selalu berprasangka buruk. Dengerin aku, di dunia ini nggak ada yang lebih mengerti kamu selain aku. Orang tuaku itu orang baik, mereka nggak akan mengasihani kamu kalau aku nggak kasih tahu betapa berharganya kamu di balik semua kehancuran itu."
Kalimat itu—di balik semua kehancuran itu—menusuk Dina lebih dalam daripada makian ibu tirinya. Di mata Rama, ia tetaplah sebuah objek yang "hancur". Sebuah proyek perbaikan yang harus dipresentasikan dengan data masa lalu agar orang lain bisa memaklumi kekurangannya.
"Mas... aku ini manusia, bukan barang rusak yang butuh surat keterangan dari kamu supaya bisa diterima orang lain," bisik Dina. "Kalau Mas benar-benar sayang, Mas harusnya membiarkan aku yang punya kendali atas ceritaku sendiri. Kapan aku siap cerita, itu hak aku."
Rama menggelengkan kepala, lalu melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Ia meletakkan tangannya di bahu Dina, sebuah gerakan yang dulu terasa menguatkan, tapi kini terasa seperti beban yang menindih.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita berangkat sekarang. Orang tuaku sudah menunggu. Kamu pakai baju yang sopan, senyum yang manis. Biarkan aku yang bicara nanti. Kamu cukup jadi pendampingku saja. Ingat, tanpa aku yang menjelaskan semuanya, mereka mungkin nggak akan semudah itu menerima latar belakang keluarga yang berantakan."
Dina menatap tangan Rama di bahunya. Ia teringat pada sapu tangan biru tua yang masih tersimpan di sakunya. Pria ini memberinya sapu tangan untuk menghapus air mata, tapi kini dia juga yang menjadi alasan air mata itu ingin jatuh kembali. Rama merasa menjadi segalanya—pintu masuk, pelindung, sekaligus penjara bagi jati diri Dina.
Perjalanan menuju rumah Rama terasa sangat sunyi. Dina hanya menatap ke luar jendela bus kota yang mereka tumpangi—permintaan Rama agar mereka "merasakan kesederhanaan" seperti hari-hari awal mereka. Namun, kesederhanaan itu kini terasa seperti sandiwara yang diatur oleh sang manajer operasional.
Sepanjang jalan, pikiran Dina melayang. Ia teringat ucapan Manda tempo hari tentang bagaimana Rama mulai bersikap bossy. Ia teringat Maulana yang mulai menjauh karena setiap kali mereka mengobrol, Rama akan muncul dengan tatapan mengintimidasi.
Dina mulai menyadari bahwa Rama tidak sedang mencintainya. Rama sedang mengoleksi kerapuhannya. Dengan mengetahui semua titik lemah Dina, Rama merasa punya kontrol penuh. Rama merasa segalanya karena ia tahu Dina tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar.
"Mas," panggil Dina pelan saat mereka hampir sampai.
"Ya?"
"Aku mau kita sepakat. Malam ini, jangan bahas soal ibuku atau ayahku lagi. Biarkan kita bicara soal hobi, soal pekerjaan, atau apa pun yang normal. Bisa?"
Rama tersenyum tipis, sebuah senyum yang meremehkan. "Tentu, kalau menurutmu itu perlu. Tapi ingat, kalau suasananya jadi kaku karena kamu nggak tahu mau ngomong apa, jangan salahkan aku kalau aku mulai bicara soal latar belakangmu lagi untuk mencairkan suasana. Aku cuma mau yang terbaik buat kamu, Dina."
Dina memejamkan mata. Kata-kata itu terasa seperti jeratan yang makin kencang. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia telah berpindah dari satu bentuk penghakiman di rumah, ke bentuk kontrol yang lebih halus dan manis di tangan Rama. Rama adalah pria yang baik secara moral, tapi dia adalah seorang diktator dalam hubungan.
Malam itu, di rumah Rama yang megah dan hangat, Dina duduk di meja makan yang penuh dengan makanan lezat. Orang tua Rama menyambutnya dengan senyum yang sangat... santun. Namun, di balik senyum itu, Dina bisa merasakan tatapan yang berbeda. Tatapan yang biasanya diberikan orang saat melihat seekor burung dengan sayap yang patah.
"Dina, makan yang banyak ya. Rama sudah cerita banyak soal kamu. Kami benar-benar bangga ada anak muda sepertimu yang bisa bertahan di tengah kondisi... yah, kamu tahu sendiri maksud Tante," ucap ibu Rama sambil mengusap lengan Dina.
Dina tersenyum kaku. Hatinya menjerit. Ia ingin berteriak bahwa ia bukan sekadar "penyintas", ia adalah seorang profesional, ia adalah seorang penulis, ia adalah seorang teman yang baik. Namun, di meja itu, Rama sudah menyajikan "Dina si Gadis Malang" sebagai hidangan utama.
Rama menatapnya dengan bangga, seolah berkata, "Lihat? Mereka menerimamu karena aku."
Dina menatap piringnya dengan pandangan kosong. Malam itu, ia belajar satu hal penting. Cinta yang tulus tidak akan pernah menjadikan masa lalumu sebagai senjata untuk mengontrolmu. Cinta yang tulus tidak akan membuatmu merasa berutang budi atas sebuah penerimaan.
Saat makan malam berakhir dan Rama mengantarnya pulang, pria itu tampak sangat puas. "Sukses besar, kan? Mama dan Papa suka banget sama kamu. Mereka nggak masalah sama sekali soal latar belakangmu. Aku benar, kan?"
Dina hanya mengangguk pelan. Di bawah lampu halte yang redup, ia menatap Rama. "Mas Rama, terima kasih untuk makan malamnya. Tapi mulai besok, aku mau kita jaga jarak sedikit di kantor."
Rama terkejut, langkahnya terhenti. "Maksudnya? Kenapa?"
"Karena aku mau belajar berdiri di atas kakiku sendiri lagi, Mas. Tanpa harus merasa 'dikemas' oleh kamu supaya terlihat layak di mata orang lain. Aku menghargai cinta Mas, tapi aku nggak bisa kalau cinta itu berarti aku harus kehilangan suaraku sendiri."
Dina membalikkan badan, berjalan menuju rumahnya yang dingin. Malam itu, makian ibu tirinya terasa seperti suara biasa, tapi pengingat akan kontrol Rama terasa seperti alarm yang membangunkannya. Ia tidak akan membiarkan masa lalunya menjadi alat bagi siapa pun lagi—bahkan bagi pria yang katanya mencintainya.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib