Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Peringatan
Pagi itu, suasana di rumah Mela terasa lebih sibuk dari biasanya. Keranjang-keranjang hasil panen sudah tersusun rapi. Cabai dipisahkan, sayuran hijau diikat lebih rapi dari biasanya. Semua dipersiapkan dengan lebih teliti.
"Dia beneran datang tidak?" tanya Yati sambil melipat tas kainnya
Mela mengangguk. "Katanya, dia akan pagi."
Darmi menyilangkan tangan. "Kalau nggak datang, aku yang akan jemput dia ke kota."
Mela tersenyum kecil. "Dia bukan orang seperti itu, mbak. Kita tunggu sebentar lagi, dia pasti datang."
Dan benar saja, tidak lama kemudian, suara kendaraan berhenti di depan.
Dino turun dari mobil pick-up, melangkah santai sampai di depan rumah Mela. Matanya langsung menyapu keranjang-keranjang di depannya
"Sudah siap?" tanyanya.
Mela mengangguk. "Sudah. Semua sesuai yang kamu pesan kemarin."
Dino mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, dia mulai memeriksa beberapa sayur. Namun kali ini, ia tidak sekadar melihat tapi, juga memperhatikan.
"Lebih rapi dari kemarin," gumamnya.
Mela menjawab singkat. "Iya, Kami mencoba memberikan yang terbaik."
Dino mengangguk. "Bagus kalau begitu." Dino langsung meminta temannya mengangkut semua ke belakang mobil Pick-up. Dan, setelah semua sayuran selesai dimuat, Dino mengeluarkan uang pembayaran.
Dia tidak menawar, apalagi mengurangi pembayaran.
Mela menerimanya dengan tatapan tenang. Namun di dalam hatinya, ada perasaan lega.
"Besok, aku ambil lagi," ucap Dino. "Tapi, mungkin bisa kurang dari ini atau mungkin bisa lebih. Aku harus melihat, sayuran mana yang paling laku. Baru setelahnya, aku akan memesan lagi darimu."
Mela mengangguk. "Baik, kami pasti akan menyiapkannya."
Dino mengangguk dan segera pamit. Tidak ada percakapan panjang, maupun momen berlebihan.
Setelah mobil itu pergi, Yati langsung mendekat.
"Mel!"
"Ya?" Mela menoleh.
"Dia... Sepertinya bukan sekadar pembeli, ya?" bisiknya, menggoda.
Mela langsung menatap tajam. "Mbak Yati!"
Darmi tertawa kecil. "Sudah, sudah. Yang penting bayarannya lancar."
Mela hanya menghela napas. Namun, tidak membantah. "Ya sudah, aku mau ke pasar dulu," ucap Mela.
"Kami ikut," sahut Darmi dan Yati bersamaan.
Mela menutup pintu terlebih dahulu, sebelum bersama-sama membawa sisa hasil panen ke pasar seperti biasa.
Namun begitu mereka tiba, suasana terasa berbeda. Banyak tatapan, bisikan dan senyum-senyum tipis yang tidak tulus terlihat dari pedagang dan pembeli.
"Eh, itu dia datang."
"Oh, itu yang katanya sekarang sudah punya orang kota."
"Katanya, kemarin satu mobil sama laki-laki."
Langkah Mela tetap tenang namun, telinganya tidak bisa menutup rapat.
"Pantas saja cepat laku, rupanya ada cara lain."
Tawa kecil terdengar menusuk.
Yati langsung berhenti, menoleh kearah sumber suara. "Kurang ajar!" Yati hendak melabrak, namun Darmi menahan lengannya.
"Jangan sekarang."
"Tapi, mbak..."
Darmi memberi isyarat untuk diam lalu, kembali berjalan menyusul Mela yang terlihat tenang, sampai di tempat biasa.
Ia lalu menaruh keranjangnya, mulai menata sayuran, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, suara itu justru terdengar semakin jelas dan tajam.
"Katanya, dia yang goda duluan biar sayurannya diambil."
"Beneran?"
"Ya, wajar sih, janda."
Pergerakan Mela terhenti. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, menatap ke arah sumber suara. Ia tidak marah, tapi juga tidak tersenyum. Namun, tatapannya berubah dingin.
"Kalau mau bicara, langsung saja di depan saya," ucapnya tegas.
Sunyi.
Beberapa orang terdiam, tidak menyangka Mela akan bereaksi kali ini.
"Daripada bisik-bisik, takut salah dengar," lanjut Mela.
Seorang wanita yang tadi berbicara, mendengus kasar. "Kenapa memangnya? Tersinggung?"
Mela menatapnya lurus. "Enggak," jawabnya cepat. "Aku cuma mau pastikan, cerita kalian itu fakta atau karangan." Ia melangkah lebih mendekat.
Sunyi.
Wanita itu sedikit goyah dan masih mencoba bertahan. "Semua orang juga tahu kok."
Mela mengangguk pelan. "Kalau begitu, harusnya kalian bisa membuktikan omongan kalian. Karena, kalau semua itu fitnah, kalian bisa kena pasal pencemaran nama baik dan bisa masuk penjara beberapa tahun."
Beberapa orang mulai menegang. Rasa takut mulai terlihat dari wajah mereka.
"Aku itu jual sayur. Agar sayuran ku laku, ya aku cari pembeli," lanjut Mela dengan nada suara datar.
"Dan, orang yang kalian bicarakan tadi, dia beli karena kualitas." Ia berhenti sejenak. Tatapannya menyapu mereka semua. "Kalau ada yang mau coba cara yang sama, silahkan!"
Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
"Aku tidak tahu kenapa kalian senang sekali membicarakan ku. Aku mungkin masih bisa diam tapi, kalau orang yang kalian bicarakan tadi dengar dan tidak terima, kalian mau nanggung konsekuensi nya?"
Orang-orang yang tadi gencar membicarakan Mela, mendadak bungkam. Termasuk wanita yang tadi menantang Mela.
Mela menatap mereka satu persatu, lalu berbalik, kembali ke tempatnya. Ia duduk, melanjutkan pekerjaannya seolah tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.
Namun kali ini, suasana berubah. Tidak ada lagi tawa ataupun bisikan keras.
Darmi tersenyum tipis. "Pelan tapi, kena tepat ke jantung."
Yati mengangguk. "Ulu hati juga."
Mela tidak menjawab tapi, di dalam hatinya, ia tahu, ia tidak bisa menghentikan orang bicara tentangnya. Tapi setidaknya, peringatan kali ini bisa membuat mereka jera.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??