Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Duapuluhdelapan
"Kamu nih bicara asal ceplos saja!" ujar Cellsyia dengan tegas tapi suaranya terdengar pelan.
"Maaf, Kak. Lagian Kakak sendiri yang bilang menemukannya di tempat, terus aku sahut deh tempat sampah" balas Aleix, remaja lelaki tersebut mengusap pahanya yang bekas tamparannya tadi oleh sepupu cantiknya.
"Iya juga sih, terus yang salah siapa?" ucap wanita itu sambil menatap wajah sepupunya.
"Ya, Kak Cell sendirilah, yang salah!" bantah Aleix, dirinya tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Oh, jadi Kakak yang salah, hah!?" tatapannya garang menghunus remaja lelaki di depannya.
"Eh..ngg...nggak Kak, yang salah aku bukan Kak Cell. Hehehe, tadi aku cuman bercanda kok " kata Aleix disertai kekehan pelan.
"....." lalu wanita itu masih menatap dirinya.
"Kak, jangan melihatku seperti itu, takut loh aku" celetuk Aleix dengan terang-terangan.
Sedangkan pria bule itu setelah menghabiskan milkshake stoberi milik kekasihnya itu, lantas pandangannya mengarah terhadap dua orang yang sedang beradu tatapan berbeda.
Cellsyia, kekasihnya dengan tatapan tajam sementara itu Aleix tatapan yang memelas seolah kesalahan dalam perkataannya tadi dimaafkan oleh sepupu cantiknya.
"Hei, ada apa kalian ini? Apakah sedang berlomba tatapan? Aku ikut dong!" seru Aren, pria itu dengan mata berbinarnya sekaligus semangat.
Tiba-tiba sang kekasihnya dan remaja lelaki itu secara serempak menatap padanya, dia yang ditatap seperti itu merasakan canggung.
"E...aku tidak jadi ikut hehe..." kata Aren seraya tersenyum sampai terlihat giginya rapi.
"Mau ikut?" tanya Cellsyia.
Mendengar ucapan kekasihnya Aren terdiam sejenak.
"Ikut kemana, Sayang?" pria bule itu bertanya.
"Lomba melotot" jawab Aleix, kini dirinya ikut nimbrung percakapan satu pasang kekasih itu.
"Hah?" tampak Aren kebingungan.
"Lihatlah wajahnya itu? Menggemaskan rasanya aku ingin mengurung dirinya, astaga! Apa yang aku pikirkan" batinnya wanita bule itu berkata, lalu menggelengkan kepala, dan tanpa dirinya sadari wajahnya berubah memerah.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit?" Aren khawatir saat kekasihnya mendadak gelengkan kepala.
"Apakah kekasihnya pusing sama sepertiku?" pikirnya Aren.
"Sayang, pusing?" tanya Aren.
"....." namun kekasihnya terdiam dan tak menghiraukannya.
"Aku ini terlihat sakit, ya?" Cellsyia bertanya pada dirinya sendiri.
"Hei, kau" panggil sepupu cantiknya.
"Memanggil diriku, Kak?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Iya pada dirimu, memangnya selain kau siapa lagi?" mendengar pertanyaan itu justru Aleix menujuk ke arah kekasih sepupunya.
"Ku kira, kau memanggil kekasihmu itu" kata Aleix sambil melirik pada Aren.
"Tentu tidak" balas Cellsyia.
"Kenapa, Kak? Panggil aku?" Aleix bertanya.
"Kau lihat wajahku, wajah yang cantik ini terlihat sakit?"
"Hm..." Aleix berpikir, dirinya mendekatkan diri pada sepupunya tetapi segera ditahan oleh sepulu cantiknya menggunakan jari telunjuk telat di keningnya.
"Stop! Jangan mendekat!" titahnya Cellsyia.
Setelah memeriksa wajah sepupunya, Aleix mengucapkan perkataan yang membuat wanita itu terkejut.
"Wah, Kak Cell, kau begitu merah. Maksudku wajahmu merah sekali! Seperti tomat saja!" seru remaja lelaki itu
"Ka...kau!" kini Cellsyia tak bisa berkata-kata lagi.
"Kau pasti berbohong, ya!" tuduh wanita itu.
"No, no..." telunjuk terangkat tepat di wajahnya dengan digerakkan ke kanan dan ke kiri.
"Merah loh, itu! Nih lihatlah ke ponsel" remaja lelaki itu mengambil ponsel miliknya lalu mengarah ke kamera, dan memperlihatkan pada sepupunya.
"Noh, itu merah" ucap Aleix.
Bum
"What? Astaga naga!"