NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Bermain Ludo dengan para antek-antek

Laura termenung di dalam kamar luasnya. Kanvas di depannya menjadi tidak menarik saat ini. Padahal, ia sangat mencintai kegiatan yang satu ini. Namun, gara-gara perkataan Ibunya tadi pagi, pikirannya jadi terpecah belah.

Ia meletakan kuasnya, membiarkan semua alat-alat lukisnya berserakan. Berjalan keluar kamar dan mencari seseorang yang bisa ia tanyai tentang keberadaan ke lima pengawalnya. Ia butuh hiburan saat ini.

“Pelayan Kim!”

Yang di panggil segera menoleh, berjalan cepat lalu sedikit membungkukkan badannya.

“Anda membutuhkan sesuatu, Nyonya?”

“Aku mencari Gabriel dan yang lainnya,” ucapnya.

“Pengawal Anda berada di paviliun belakang Nyonya—”

“Baiklah, terimakasih pelayan Kim!” potongnya dengan cepat.

Pelayan Kim memperhatikan punggung Nyonya mudanya dengan kernyitan heran. Langkah kaki Nyonya mudanya memang kecil, namun terlihat cepat dan lincah.

“Apa yang Nyonya bawa tadi?” gumamnya pada diri sendiri. Pria tua itu melihat sebuah kotak, tidak, lebih tepatnya kertas, semacam kertas karton abu-abu. Namun banyak corak-corak warna.

Ah, tidak ingin ambil pusing, pria tua itu kembali mengambil langkah untuk pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.

Sandal rumahan yang di kenakan Laura bersuara dengan nyaring di setiap lorong yang gadis itu lewati. Persetan dengan tatakrama yang di ajarkan Ayahnya untuk berjalan anggun, saat ini ia butuh hiburan agar isi dari kepalanya tidak meledak.

“Gabriel!” Laura melambaikan tangannya dengan semangat. Senyum senang terlukis indah pada wajah kecil Laura. Gadis itu berjalan dengan cepat saat melihat sesosok yang ia cari-cari sejak tadi.

Gabriel membungkukkan badannya, “selamat siang, Nyonya.”

“Hehe.. lihat! Aku membawa Ludo. Ayo bermain denganku. Oh ya! Di mana yang lain?” tanyanya tanpa basa-basi.

Gabriel sedikit tertegun melihat benda persegi di tangan Laura. Benda yang tadi sempat membuat Pelayan Kim kebingungan. Ia melirik ke arah pintu paviliun yang terbuka, di mana suara riuh rendah terdengar dari dalam.

​“Yang lain sedang berada di ruang tengah paviliun, Nyonya. Kami baru saja menyelesaikan latihan rutin,” jawab Gabriel dengan nada suara yang tenang namun sopan.

​Belum sempat Gabriel menawarkan diri untuk memanggil mereka, Laura sudah lebih dulu melangkah masuk dengan antusias.

​“Halo semuanya! Lihat apa yang aku bawa!” seru Laura saat memasuki ruangan.

Empat pria berbadan tegap lainnya seketika menghentikan aktivitas mereka. Hans yang sedang mengecek earpiece, Zero yang sedang beradu panco dengan Arlo, serta Owen yang tampak asyik membaca buku, semuanya serentak berdiri dan membungkuk hormat.

“Selamat siang Nyonya!” sapa mereka serentak. Suara berat mereka memenuhi ruang tengah paviliun.

“Nyonya, ada yang bisa kami bantu?” tanya Hans mewakili mereka semua.

“Tidak ada. Aku hanya bosan di kamar,” Laura menghempaskan diri di atas karpet bulu di tengah ruangan, lalu membentangkan kertas karton berwarna-warni itu dengan bangga. “Ayo main Ludo! Aku butuh hiburan agar pikiranku segar kembali.”

Arlo menaikkan sebelah alisnya, menatap benda-benda kecil yang mirip bidak catur di tangan Laura. “Ludo? Permainan anak-anak itu, Nyonya?”

Laura menyeringai penuh arti. “Ya! Dan siapapun yang kalah paling banyak, harus menemaniku menyelinap keluar lewat gerbang belakang malam ini untuk pergi bermain di wahana permainan tanpa sepengetahuan siapapun.”

Mendengar kata 'menyelinap', kelima pengawal itu saling pandang. Mereka tahu itu adalah pelanggaran protokol keamanan, namun melihat binar di mata Laura, mereka jadi merasa sungkan untuk menolak. Gabriel akhirnya menghela napas panjang dan duduk bersila di depan Laura.

“Baiklah, Nyonya,” ujar Gabriel sambil membenarkan posisi duduknya. “Tapi jika Tuan muda sampai tahu kami membiarkan Anda menyelinap, bukan hanya perkejaan kami yang hilang, tapi mungkin kepala kami juga.”

Laura tertawa renyah, mulai membagikan bidak-bidak berwarna itu kepada para pria besar yang kini terpaksa melingkar di atas karpet. “Tenang saja, Kakak Riel, semua sudah aku atur, tenang saja.”

Kakak Riel? Kelima ajudan berbadan besar itu saling tatap saat mendengar panggilan Nyonya mudanya pada salah-satu temannya.

“Eh... Hanya ada empat, tidak dapat bermain enam,” keluhnya. Pandangannya terangkat saat merasakan kesunyian di dalam ruang tengah paviliun itu. “Kenapa kalian menatapku begitu?”

“Nyonya panggilan Anda tadi...” lirih Gabriel.

Laura tersenyum manis. “Kenapa? Kamu tidak suka, ya?” sontak Gabriel menggelengkan kepalanya cepat.

“Bukan begitu, Anda tidak seharusnya memanggil saya Kakak. Saya hanya seorang pengawal—”

“Lalu?” potong Laura cepat. “Aku anak tunggal dari mendiang Ibuku. Aku tidak memiliki Kakak laki-laki maupun perempuan.” Laura mulai menyusun benda-benda kecil yang mirip bidak catur itu.

“Sebenarnya ada sih dua Kakak laki-laki. Cuma mereka hanya Kakak tiriku, mereka tidak menganggapku keluarga maupun Adik. Aku hidup seperti orang asing di rumahku dulu.” Laura bercerita tanpa memperhatikan raut wajah kelima ajudannya yang telah berubah sendu.

“Saat melihat kalian berlima, aku menantang suamiku agar menerima kalian semua. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang seorang Kakak... Jujur aku selalu iri saat dulu pulang kuliah ada seorang mahasiswi yang di jemput oleh Kakak laki-lakinya, hehe... Kakak laki-lakinya sangat menyayangi Adiknya. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya di lindungi oleh Kakak laki-laki..”

Laura tanpa sadar menceritakan sesuatu yang telah lama ia pendam.

Gabriel berdehem, tenggorokannya terasa tercekat. Ia menatap Laura yang masih sibuk merapikan karton Ludo dengan jemari kecilnya, seolah cerita pilu tadi hanyalah angin lalu. Sementara Arlo yang tadinya ingin melontarkan protes soal warna bidak, kini hanya bisa terdiam membeku.

“Nyonya...” suara Gabriel melunak, kehilangan nada kakunya. “Jika itu yang Anda inginkan, maka mulai detik ini, tugas kami bukan hanya sekadar melindungi aset atau Nyonya dari majikan kami.”

Gabriel menoleh ke arah teman-temannya yang lain. Hans mengangguk pelan dengan wajah serius yang kini tampak jauh lebih hangat.

“Nyonya tidak perlu iri pada mahasiswi itu lagi,” potong Hans dengan nada rendah namun mantap. “Anda tidak punya satu, tapi lima kakak laki-laki yang akan memastikan tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh sehelai rambut Anda tanpa melewati kami terlebih dahulu.”

Arlo berjalan mendekat, ia duduk di dekat Laura lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Nyonya mudanya. Tindakan yang sangat melanggar protokol keamanan, namun terasa sangat benar untuk saat ini.

“Benar, tidak peduli dengan protokol dan batasan kami antara atasan dan bawahan. Jika itu membuat Anda senang, akan kami lakukan!” seru Arlo mantap.

“Termasuk menyelinap keluar penthouse?”

Krik! Krik!

Suasana ruangan kembali senyap. Namun dalam sekejap suasana itu kembali cair saat suara tawa renyah milik Laura memenuhi udara di ruangan tersebut.

“Aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin mengorbankan kalian demi kesenanganku sendiri.” Mendengar hal itu, kelima ajudannya menghela nafas lega.

“Baiklah Nyonya, apakah ada aturan dalam permainan ini? Apa hukuman untuk seseorang yang kalah nantinya?” Hans mulai menyesuaikan duduknya.

“Karena acara menyelinap keluar tidak jadi, untuk setiap babak... yang kalah wajahnya harus di coret pakai spidol!” seru Laura sambil mengacungkan spidol hitam yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.

“Siapa yang mengocok dadu terlebih dahulu?” Owen bertanya.

Laura menimbang-nimbang, ia memperhatikan kelima pria itu lalu beralih pada kertas karton Ludo yang berada di antara mereka semua.

“Karena permainannya hanya bisa di lakukan oleh empat orang pemain, maka dari itu...” Laura menggantung ucapannya, mereka harap-harap cemas menunggu kelanjutan ucapan Laura.

“Dua orang dari kalian harus memasak. Aku lapar,” keluhnya sambil memegangi perut.

“Saya akan memasak, Nyonya!” Owen mengajukan diri. “Dulu saya sempat bekerja sebagai koki.”

Laura mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kakak Zero tolong bantu Kakak Owen untuk memasak. Walaupun Kakak Owen pernah menjadi koki, aku tetap ragu.” Laura menatap Owen dengan pandangan mengejek yang di buat-buat.

“Saya jamin Anda akan menyukai masakan saya,” ucap Owen penuh percaya diri.

“Jika begitu buatkan aku makanan terenak di dunia!” seru Laura dengan semangat.

“Siap Bos!” Zero dan Owen langsung saja berlalu meninggalkan ruang tengah.

“Karena Kakak Hans yang paling tua, maka Kakak yang mulai dulu.” Laura menyerahkan dadu pada Hans.

“Baiklah...” Hans mengambil dadu tersebut. “Siap-siap kalah, Nyonya.”

“Tidak akan!”

***

Halo-halo, salam hangat untuk para pembaca. Jangan lupa berikan komentar dan juga like untuk penyemangat author okay 😉

See you next chapter!

Senin, 13 April 2026

Published : 14 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!