Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kejar-kejaran di Kebun Jagung
Kebun jagung milik tetangga membentang dari belakang pagar sampai ke kaki bukit, seluas dua kali halaman rumah mereka dan setinggi dua kepala orang dewasa. Malam ini batang-batang itu terlihat seperti kolom-kolom batu di bawah cahaya bulan yang bersinar penuh tapi tersekat-sekat di antara dedaunan yang bergesekan dengan suara seperti bisikan massal.
Huang Shen berdiri di tepi kebun itu selama beberapa saat.
Dari dalam, terdengar suara tawa dari kiri, lalu kanan, lalu dari depan sekaligus, bergerak dengan cara yang tidak konsisten dengan satu tubuh yang bergerak dari titik ke titik.
Tanpa berpikir panjang pemuda itu masuk.
Batang jagung di kanan dan kirinya rapat, daunnya membelah wajahnya saat dia bergerak maju. Sementara di atas tanah, terdapat jejak yang tidak wajar dengan pola yang bergantian antara kedua kaki dan keempat titik kontak, seperti sesuatu yang terus berganti cara bergeraknya. Tatkala Huang Shen mengikutinya tiga langkah, jejak itu sudah berubah arah dan tawa itu terdengar lagi. Kali ini dari atas.
Saat Huang Shen mendongak. Di antara pucuk-pucuk batang jagung, ada sesuatu yang bergelantungan lalu melompat ke titik berikutnya sebelum dia bisa melihat dengan jelas. Batang-batang di sana patah bersamaan, suara daunnya berbeda dari suara angin.
Maka Huang Shen menutup matanya karena mata manusia, bahkan mata Inti Emas, masih bekerja berdasarkan cahaya dan arah. Di labirin seperti ini, dengan sesuatu yang bergerak tidak mengikuti pola manusiawi, mata menjadi alat yang paling tidak bisa diandalkan.
Kemudian Gerbang Iblis dalam Darah di dadanya menyala.
Resonansi bukan teknik menyerang. Asalnya dari cara Huang Shen menyerap Qi dari lingkungan sekitarnya, tapi dalam tiga tahun dia sudah menemukan sisi lain dari kemampuan itu. Manakala Gerbang terbuka dan mulai merasakan Qi di sekitarnya, getaran dari setiap makhluk hidup yang bergerak terasa seperti riak di permukaan air yang rata. Pohon tidak mengirim riak. Tanah tidak mengirim riak. Tapi sesuatu yang hidup dan bergerak mengirim getaran yang berbeda dari lingkungannya.
Di bawah kesadarannya, kebun jagung itu terasa seperti peta yang berbentuk dari getaran. Tikus di sebelah kiri, dua belas langkah. Seekor ular di bawah akar batang jagung tua, terdiam. Dan di tengah, dua puluh tiga langkah ke depan dan tujuh ke kanan, ada sesuatu yang terlalu besar untuk tikus tapi bergerak terlalu tidak beraturan untuk manusia biasa.
Huang Shen membuka matanya dan berjalan langsung ke arah itu.
Bocah itu berdiri di sebuah celah kecil di tengah kebun di mana beberapa batang jagung sudah dipanen lebih awal, meninggalkan ruang kosong selebar dua orang dewasa berdiri berdampingan. Punggungnya lurus tapi kepalanya menoleh ke belakang, ke arah Huang Shen, dengan sudut yang tidak mungkin dilakukan leher manusia biasa tanpa suara yang tidak menyenangkan.
Sedangkan matanya hitam pekat. Mulutnya terbuka sedikit, memperlihatkan gigi-gigi yang ada terlalu banyak di antara bibir atas dan bawahnya.
“Kak Huang Shen… .” lapisan pertama suara itu masih ada, samar, di antara yang lainnya. “Aku hanya mau bersama Nyonya Mu… tolong pergilah, Kak Huang Shen… biarkan kami hidup tenang.”
“Siapa yang mengirimmu?” cecar Huang Shen tanpa sedikitpun rasa takut.
Mulut bocah itu membuka lebih lebar sebelum tertawa.
“Bocah itu masih ada di dalam?”
Tawa itu pun berhenti. Kepala bocah itu memutar kembali ke posisi depan, terlalu pelan untuk kecepatan yang seharusnya dimiliki leher manusia. Matanya menatap Huang Shen dengan hitam yang tidak punya kedalaman.
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Adapun jawaban itu sendiri sudah menjadi jawaban. Huang Shen menggerakkan tangan kanannya.
Tinju Darah Penghancur Batu meluncur ke arah bocah itu dengan Qi penuh, merah gelap yang menerangi batang jagung di sekitarnya. Bocah itu segera menghindar ke kiri dengan gerakan yang tidak mengikuti fisika berat badan, seperti seseorang yang tidak sepenuhnya terikat pada gravitasi yang sama dengan yang lain.
Huang Shen sudah menduganya. Pukulannya yang pertama bukan untuk mengenai, melainkan untuk memetakan kecepatan dan arah preferensi gerakan.
Bocah itu bergerak ke kiri. Selalu ke kiri saat ada tekanan dari depan, dan Huang Shen mencatat ini.
Cakar Iblis muncul di kedua tangannya sekaligus. Merah pekat, jari-jarinya memanjang menjadi sesuatu yang sudah tidak bisa disebut jari biasa. Dia mengayunkannya ke kanan terlebih dahulu, ke arah yang tidak ada siapa-siapa, merobek beberapa batang jagung sekaligus.
Batang-batang itu jatuh, membuka celah ke kiri. Menghilangkan satu-satunya jalur yang biasa digunakan bocah itu untuk menghindar.
Sampai bocah itu terdesak ke sudut. Matanya yang hitam bergerak cepat, menghitung jalur keluar yang tersisa.