NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.2k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 32

COME BACK

Kata-kata Emilio jatuh ke lantai marmer ruang tengah seperti peluru tanpa suara, hingga membuat hening ruangan itu. Tidak ada yang bernapas, tidak ada yang berkedip untuk sesaat.

“Tidak akan ada yang bicara pada Lorenzo. Karena dia tidak akan kembali lagi, dan selamanya.”

Emilio tidak menunggu reaksi usai mengatakannya. Dia berbalik, langkahnya pelan tapi berat, meninggalkan keempat orang itu yang membeku di sofa. Suara sepatunya menggema di lorong, lalu hilang ditelan pintu utama yang tertutup.

Baru setelah itu, udara kembali masuk ke paru-paru mereka.

Adriana yang pertama memecah sunyi. Dia tidak mencengkeram sofa atau panik. Dia hanya meletakkan gelas wiski di meja dengan pelan. Terlalu pelan.

“Apa maksud paman?” suaranya datar, tapi dinginnya menusuk. Matanya menyapu Vitorio, lalu berhenti di Monica seperti menilai.

Vitorio mengusap wajahnya. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Dia ikut menahan sesuatu yang tak bisa diungkapkan.

Matteo bersandar, menyalakan rokok dengan gerakan santai yang jelas dipaksakan.

Sementara Monica menunduk, kedua tangannya terkepal di pangkuan, bahunya bergetar pelan. Satu detik, dua detik, isak tangis yang tadinya tertahan kini lolos dari bibirnya.

“Ya Tuhan... Lorenzo...” bisiknya, getir. Dia menutup wajah dengan telapak tangan.

Adriana menatap wanita itu tak percaya. Tidak ada simpati di matanya, hanya observasi. Dia memperhatikan cara bahu Monica naik turun, mendengar jeda di antara isaknya.

Dari sela jemari Monica, dia melihatnya. Sudut bibir yang terangkat sepersekian mili, cepat dan hampir tidak terlihat, tapi itu cukup puas.

Adriana tidak bereaksi. Namun dia menatap tak suka dan hanya menyimpan informasi itu. Hingga ia berdiri, merapikan blazernya tanpa suara, lalu berjalan keluar begitu saja.

Langkahnya stabil, tidak berlari, tidak pula goyah. Hanya efisien.

Begitu pintu tertutup di belakang Adriana, isak Monica berhenti sempurna.

Dia mengangkat kepala. Matanya kering dan bening. Ia tersenyum tipis yang tidak lagi dia sembunyikan. Sembari mengusap air mata palsunya.

Monica menatap Vitorio, lalu ke Matteo. Suaranya rendah, jelas, dan penuh kemenangan yang tidak ditutup-tutupi.

“Tenanglah. Jangan pasang wajah seperti itu.” Dia merapikan helaian rambut yang jatuh ke pipi. “Kalau kabar itu memang benar...” Dia berhenti, menikmati kata-katanya sendiri sebelum melanjutkan.

“Maka kita menang.”

Vitorio menelan ludah. Matteo hanya tersenyum miring, menghembuskan asap rokok.

“Itu jika kabar tersebut memang benar.” balas Matteo terdengar tak percaya bila Lorenzo mati dengan mudah.

Sementara itu, di halaman rumah kedua temaram. Adriana baru menaiki satu anak tangga ketika Fabio muncul dari bayangan.

“Anda butuh sesuatu, Nona?”

Suara Fabio sontak membuat Adriana berbalik menatapnya. Sedang Fabio masih menatap tegas dan santai usai ia memberikan perintah pada anak buah lainnya untuk mencari kabar Lorenzo di Sisilia.

“Aria. Aku ingin memastikan kondisinya.” kata Adriana.

Fabio mengangguk. “Nyonya Aria sedang istirahat. Dokter bilang beliau tidak boleh diganggu. Stres bisa berbahaya untuk kandungan.”

Adriana menatapnya beberapa detik, lalu ia mengangguk faham dan beralih ke Fabio.

“Soal Lorenzo... Bagaimana kabarnya?” tanya iseng Adriana.

Fabio terdiam sejenak, rahangnya sedikit berkedut dan mengeras. “Masih belum pasti, Nona,” jawabnya akhirnya. Suaranya berat. “Kami belum menemukan jenazah. Ledakan itu tidak menyisakan banyak hal untuk diidentifikasi. Sampai saya melihat sendiri, Tuan Lorenzo belum mati.”

Adriana tidak menunjukkan kelegaan. Ekspresinya tidak berubah. Dia hanya mengangguk sekali nan pendek.

“Bagus. Temukan dia.” Dia menatap Fabio lurus. “Dan Fabio... Berhati-hatilah. Karena ada banyak orang di rumah ini yang berharap berita itu benar.”

Kalimatnya bukan peringatan emosional, fakta serta perintah.

Fabio menundukkan kepala sedikit. “Saya mengerti, Nona.”

Adriana berbalik tanpa kata lagi. Dia tidak masuk ke rumah kedua. Tidak ada gunanya jika Aria memang tidak bisa ditemui. Dia kembali ke mobilnya, ada hal lain yang harus dia urus di butiknya.

Sementara Fabio menatap diam kepergian Adriana.

...***...

VIP Room - De Santos Club

Asap cerutu dan aroma wiski mahal memenuhi ruangan. Musik dari lantai bawah hanya terdengar sebagai dentuman halus.

Vitorio bersandar di sofa kulit, kaki disilangkan. Di hadapannya, seorang pria berjas dengan cincin ruby di kelingking dan seorang wanita di usia lima puluhan yang cantiknya tidak luntur oleh waktu. Rambut disanggul rapi, gaun hitamnya elegan.

Mereka tertawa pelan, membahas saham, tanah di Monaco, dan kapal pesiar baru. Obrolan ringan para pemangsa.

Wanita itu menyesap champagne, lalu menoleh pada Vitorio dengan senyum mengundang. “Vitorio, sayang,” katanya, suaranya seperti beludru. “Dengan semua yang terjadi... kapan kau akan mengambil alih De Santos? Pembicaraan dan bualanmu itu sudah cukup lama kita dengar.” sindir wanita itu lembut.

Pertanyaannya menusuk, tapi disampaikan seringan bertanya cuaca. Sementara temannya yang pria hanya terkekeh, menunggu jawaban.

Vitorio terdiam. Dia memutar gelas wiski di tangannya. Es batunya berdenting, lalu dia tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.

“Mengambil alih?” ulangnya pelan. Dia menatap wanita itu. “Untuk apa terburu-buru?”

Dia meneguk wiskinya, lalu menaruh gelas itu di meja dengan tenang.

“Kalau aku mau semua itu, aku harus menyingkirkan banyak orang. Darah di mana-mana. Berantakan.” Dia mengangkat bahu. “Terlalu melelahkan.”

Wanita itu mengangkat alis, tertarik.

Vitorio menyeringai. “Lebih baik aku mengikuti alur permainannya saja. Biduk yang benar akan menang dengan sendirinya. Aku hanya perlu... menunggu di tempat yang tepat.”

“Sangat licik!” kata si wanita tadi menyeringai melirik si pria di sampingnya.

.

.

.

Waktu merangkak pelan. Makan malam sudah lewat, piring yang Teresa antar siang tadi tidak tersentuh karena Aria masih pingsan dan cukup lama saking syoknya dia.

Kamar itu gelap, hanya diterangi lampu tidur di nakas. Aria masih terbaring, napasnya teratur tapi wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di alam bawah sadarnya, dia terus berlari di antara puing-puing ledakan, memanggil nama Lorenzo. Dan perutnya sedikit keram.

Teresa sudah menyerah membangunkannya, memilih berjaga di kursi dekat jendela kamar.

Lalu, ada sentuhan. Hangat, kasar di beberapa bagian karena kapalan. Jemari itu menyapu pelan pipi Aria, menghapus jejak air mata yang mengering. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut Aria akan pecah.

Aria mengernyit. Di antara kesadarannya yang remang, aroma itu masuk. Tembakau, kayu cendana, dan sesuatu yang khas. Aroma yang selalu menempel di jas Lorenzo. Aroma yang menenangkannya— aroma rumah.

Matanya terbuka seketika.

Dan di sana, di tepi ranjangnya, dia duduk. Lorenzo terduduk.

Kemejanya kusut yang sama, ada goresan tipis di pelipisnya, dan sorot matanya lelah. Tapi dia nyata, dia hidup dan kink dia menatap Aria dengan tatapan datar yang biasa, tapi ada sesuatu yang melunak di sana.

Udara hilang dari paru-paru Aria untuk kedua kalinya hari ini. Tapi kali ini bukan karena sesak.

Berita siang tadi, ledakan. Tidak ada yang tersisa. Semua berputar di kepalanya.

“Lorenzo...” Namanya lolos seperti bisikan hancur.

Sebelum otaknya bisa memproses, sebelum dia bisa bertanya, sebelum dia bisa marah, tubuhnya bergerak sendiri. Reflek serta insting.

“Ya, ini aku.” kata Lorenzo yang masih sama dinginnya.

Aria tersentak bangun dan langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria itu.

Dia memeluk Lorenzo erat, sangat erat. Kukunya mencengkeram punggung kemeja pria itu, wajahnya terbenam di ceruk leher Lorenzo dan bahunya bergetar.

Tidak ada kata. Hanya isak tangis yang akhirnya pecah, membasahi kerah kemeja Lorenzo. Semua ketakutan, semua panik, semua rasa sesak sejak siang tadi tumpah di sana.

Lorenzo tidak langsung membalas. Dia hanya diam selama satu detik. Lalu perlahan, satu tangannya naik, melingkar di punggung Aria. Tangan lainnya menahan kepala Aria, membenamkannya lebih dalam ke bahunya.

“Aku di sini.” Bisiknya pelan di telinga Aria, suaranya serak.

Dan untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, dunia Aria berhenti berputar. Keduanya merasakan rumah masing-masing ketika bertemu setelah ketegangan.

...°°°...

Hai guysss!!!! Sekedar informasi saja uyyyy, bahwa aku sudah membuat Ig baru untuk visual novelku... Jadiiii setelah aku beritahu namanya, kasih lop-lop ya, aku lelah tahu membuatnya dan sangat disayangkan bila membuat yang baru, tapi mau bagaimana lagi ya kannn, supaya kalian bisa melihat dan membayangkan uyyyy

Udah itu aja, kalau udah selesai semuanya, aku kasih tahu yaa 😁

Jangan lupa tinggalkan jejak semangatnya!!!

Thanks and See Ya ^•^

1
🌸UmmiMasPutro🌸
masih nggak tega klo adriana metong thor
🌸UmmiMasPutro🌸
kapan bahagia nya Lorenzo dan aria
vnablu
Lorenzo semoga kamu sudah ada rencana yang matang untuk musuh-musuh mu itu biar kamu dan Aria selamat
Tiara Bella
sabar ya Aria memang begitu adanya....
Eci Rahmayati
kasiann sama " tersakiti oleh keadaan
Kinara Widya
Lorenzo sdh jujur...tp itu menyakitkan bagi Aria...persatukan mereka kak...
Kinara Widya
jangan2 vitorio sendiri yg merencanakan supaya Adriana celaka
Four.: ihhh kalau benar begitu kan jahat /Grimace/
total 1 replies
Tiara Bella
kirain Monica yg mati malah Adriana....
Tiara Bella: hbsnya orngnya nyebelin,ngeselin
total 2 replies
vnablu
thorrr apakah Adriana selamat nantiii emmm sedih deh cuma dia yg waras di antara mereka semua 😔
Four.: orang baik matinya cepet 😌
total 1 replies
vnablu
Andriana kasian banget nasib kamu punya ayah yang tidak perduli sama kamu dan punya bibi yang gila minta ampun... menyesal lah kau nanti Vitorio karena anak mu itu kecelakaan yang disengaja oleh Monica 😥😥
Four.: kasihan... kasihan... kasihan /Grimace/
total 1 replies
vnablu
ayoo double up thorrr
Four.: mohon bersabar 😁
total 1 replies
vnablu
nahhh mulai ni nenek ini beraksi membuat kekacauan apa lagi rencana yang selanjutnya yang dia akan jalani....apa itu hasil tes DNA tentang siapa ayah biologis anak yg dikandung Aria
Four.: ho, oh
total 1 replies
Tiara Bella
ganggu aja Monica ini....
Four.: mungkin ini kemenangannya 😁
total 1 replies
Kinara Widya
semoga Aria dan Loren baik2 saja
Four.: semoga aja /Sweat/
total 1 replies
Tiara Bella
Monica Monica km percaya sm peramal trs ya....
Four.: soalnya dia gak percaya sama aku 😌
total 1 replies
🌸UmmiMasPutro🌸
semoga kebalikan nya kan ramal it tdk semua benar😂
🌸UmmiMasPutro🌸: idih g lah yaw, perempuan licik kayak gitu g perlu di kasihani
total 4 replies
vnablu
aduhh firasat ku tidak enak nihh yaa thorr 😔😔
Four.: santai sajaaa hanya pemanasan kok /Chuckle//Grin/
total 1 replies
vnablu
aduhh aku takut kalau nanti Aria Lorenzo kenapa-napa dann anak yang dikandung juga .. mungkin Lorenzo atau Aria yang akan metong tapi mungkin anaknya akan menjadi pewaris De Santos sebenarnya 😥😥
Four.: hmmm mungkin aja /Sweat/
total 3 replies
sleepyhead
Gua pikir, mau di jedderrr langsung 🤭
Four.: jangan dong kasihan 😄
total 1 replies
vnablu
kasiann Matteo masihh dalam penjara tapi bagus jugaa dih biar berkurang satu pengacau.. dan Monica masih belum ada pergerakan ingin membuat rencana apa tapi Vitorio ini yg diam-diam ada sesuatu 😌😌🤔
Four.: ho,oh kan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!